Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2019

Day 2 - Apakah Aku Cukup Kuat?

Assalamualaikum!

Yeaah, memasuki hari kedua dalam upaya 30 hari bercerita. Hari ini mau cerita random saja ah. Sebenernya kemaren juga cerita random. Mungkin besok juga, atau bahkan besoknya lagi, hingga 30 hari tiba, wkwkw.

Di tahun 2019 ini, kehidupanku sepertinya semakin ruwet. Kurang bercanda kali, ya.

"Kadang tuh kita perlu serius dalam bercanda. Bener-bener bercanda maksudnya. Nggak ada niatan untuk bicara yang serius." Eh apa sih maksudnya?

Jujur, karena menghadapi dunia kerja (yang akhir-akhir ini terasa begitu nyata nuansanya di hati, halah) membuatku jadi punya pandangan yang berbeda dalam berbagai hal. Kemarin waktu jaga IGD shift siang, aku jaga dengan salah satu  senior yang dikenal sangat humble. Sampai aku tiba di suatu pembicaraan yang cukup serius, mengenai 'penjatuhan karir seseorang dengan sengaja'

"Saya beneran disalah-salahin. Dibilang suka terlambat, susah diajak bekerja sama dengan tim."
Waktu itu aku cuma jadi pendengar pasif, karena ada orang lain yang memang terlihat aktif mendengarkan, "Saya sampai dipanggil sama pemimpin direksi karena laporan salah seorang pekerja itu. Saya cuma mikir, wong ya dia suka kerja bareng di shift yang sama dengan saya, kok ya nggak ngerasain sendiri saya seperti itu atau tidak. Bisa dicek absennya dulu gitu, tanyain rekan kerja yang lain, apa iya saya sampai begitu."

Padahal yang aku rasakan selama bekerja dengan beliau, beliau ini orangnya ramah senyum, nggak pernah menjatuhkan orang lain, dan sangat mau membantu orang lain, kesannya tulus gitu. Itu juga bukan aku doang yang bilang, beberapa rekan kerja setim juga setuju dengan sifat beliau yang ini.

Apakah dunia kerja sekejam dan sejahat itu? Kalau kata beliau sih, kenapa sampai beliau diperlakukan seperti itu, karena pada saat itu adalah fase dimana pengejaran 'jabatan' untuk orang yang seangkatan dengan beliau. "Saya nggak pernah punya ambisi buat gimana-gimana. Ya makanya sampai sekarang di saat mereka sudah ada di jajaran direksi, ya sudah saya mah di tatanan sini-sini aja."

Hmm... apakah benar-benar akan seperti itu? Apakah aku yang polos ini bisa melaluinya? Apakah aku cukup kuat?




Sabtu, 05 Oktober 2013

Kebutuhan Khusus [?]

Bismillahirrahmanirrahim

"Memilikinya meski tak sempurna itu berkah. Membersamainya meski tak sempurna itu indah. Membuka mata kami, bahwa hati itu harus peduli. Membuka mata kami bahwa banyak orang di luar sana yg juga tak sempurna, tapi tak juga mendapat kasih sayang serupa. Berkebutuhan khusus itu bukan cela, tapi ia adalah sumber ilmu, sumber pengharapan yang juga sama, bahkan terkadang lebih banyak ilmu yang ia bagi kepada kami, kepada orang-orang di sekitarnya.."

Kali ini ingin membahas tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Apa itu anak berkebutuhan khusus (ABK)?

Dahulu, istilah ABK belum digunakan, yang biasa digunakan untuk menyebut anak-anak ini adalah anak cacat, atau anak luar biasa. Saya tidak setuju dengan istilah yang pertama. Memang, mereka tidak sempurna, tetapi, memberi mereka sebutan itu, yah, rasakan sendiri jika Anda yang harus dipanggil dengan sebutan itu. Istilah kedua, yakni anak luar biasa, masih digunakan untuk menyebut lembaga pendidikan yang khusus memfasilitasi mereka. Mereka memang tidak biasa, tetapi 'luar biasa'.

Berkebutuhan khusus menurut saya istilah yang cukup mending. Ya, mereka memang memiliki kebutuhan yang berbeda. Tergantung pada 'kekurangan' apa yang mereka miliki. Secara fisik, ataupun secara mental, anal-anak ini memang dinilai memiliki kekurangan, tapi, jika merasakan interaksi dengan mereka secara langsung, akan lebih banyak pelajaran yang kita ambil, dibanding bertemu orang yang 'normal'.

Salah satu cita-cita saya nanti adalah mendirikan yayasan yang memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus ini. Mengapa saya begitu peduli dengan masalah ini? Ya, sekali lagi, jika kita merasakan interaksi dengan mereka secara langsung, lebih banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Saya setiap hari selalu berhadapan dengan anak 'istimewa' ini. Dari bangun tidur, hingga bangun tidur keesokan harinya. Adik saya adalah salah satu anak 'istimewa' ini.

'Kekurangan' yang dia miliki, justru membuat keluarga kami jadi lebih istimewa. Dari kecil, saya selalu dididik oleh ibu saya untuk tidak malu memiliki adik istimewa ini. "Orang-orang di luar sana belum tentu mampu menghadapi 'ujian' dan 'tantangan' ini nak." Seolah, beliau menanamkan, keluarga kami mampu, dan akan dengan leluasa melapangkan hati menerima 'tantangan' ini. Sekali lagi, yang diajarkan oleh ibu saya untuk menghadapi adik istimewa saya ini adalah, tetap perlakukan dia seperti orang biasa, ajak dia bicara seperti kau mengajak bicara orang lain.

Ibu saya tidak pernah menyembunyikan keberadaan adik saya ini, sehingga kami sudah biasa menerima tatapan aneh dari orang-orang yang baru bertemu. Itu sudah biasa, kami sudah kebal. Dan bahkan sejak awal, dari awal, saya tidak pernah malu, dan tidak pernah merasa keberatan dengan keberadaaan adik saya. Entah mengapa, kelapangan hati yang Allah berikan untuk saya sudah hadir sejak awal dia lahir (adik saya ini lahir waktu saya kelas 2 SD).

Apa pernah saya mengalami fase 'diolok-olok' oleh orang lain? Ya, pernah, tentu saja. Sampai saat ini saya masih ingat dengan peristiwa itu, saat itu saya kelas 5 SD kalau tidak salah. Dan orang itu hampir sebaya dengan saya, hanya berbeda dua tahun di bawah saya. Hampir saya tonjok mukanya waktu dia mengolok adik saya, dan bahkan mengolok saya juga! Tetapi, saat itu ibu saya yang berada agak jauh dari saya menatap saya dan tersenyum, seolah bilang; "Biarkan saja, bertengkar hanya akan menambah masalah.." Alhasil, waktu saya pulang ke rumah, saya langsung menangis sejadi-jadinya, di depan ibu saya. Tetapi saya lupa apa yang ibu katakan kepada saya, sampai pada akhirnya saya tidak pernah menonjok muka orang itu, hingga sekarang :)

Adik saya ini punya satu keahlian, lho. Adik saya mampu menari, padahal dia memiliki kesulitan dalam mendengar. Bagaimana mungkin ia bisa menari mengikuti irama musik, padahal pendengarannya sendiri kurang? Ya, pernah saya melihat pertunjukkannya sekali, saat dia dan teman-temannya menari, ada sesosok wanita di belakang penonton yang mengarahkan gerakan adik-adik yang tengah menari di depan. Ya, mereka memang tidak mendengar, tapi mereka mampu merasa bagaimana ketukan irama lagunya.

Saya begitu takjub melihat guru yang tengah mengarahkan gerakan adik-adik itu. Sampai saat saya bertemu dengan guru adik saya ini, bersama dengan guru adik saya yang lain, entah, mereka ini adalah orang-orang luar biasa. Sungguh, kesabaran mereka tentu kesabaran tingkat tinggi, yang tidak semua orang mampu menjangkau kemampuannya.

Ini hanya ilustrasi, ini bukan adik saya, hehe
Di kabupaten saya, Ibu Bupati begitu concern dengan keberadaan anak kebutuhan khusus ini. Di beberapa perayaan tertentu di ibukota kabupaten, adik saya selalu diundang untuk memeriahkan acara. Bahkan adik saya pernah membaca puisi juga, lho. Judulnya, eh, judulnya apa ya? Hehe, lupa. Inti isi puisinya adalah, 'Kami (anak berkebutuhan khusus) juga butuh pendidikan, dan sarana pendidikan yang sama seperti orang lain pada umumnya.' Kata adik saya setelah ia membaca puisi itu, "Mbak Ais, bapak ibu (penonton-red) yang nonton  semuanya malah nangis waktu aku baca puisi." Jelas lah dik, orang saya aja nangis waktu kamu mempraktekan baca puisimu itu di rumah. 

Ya, membersamainya meski tak sempurna itu indah. Membuka mata kami, bahwa hati itu harus peduli. Membuka mata kami bahwa banyak orang di luar sana yang juga tak sempurna, tapi tak juga mendapat kasih sayang serupa. Tetapi adik saya menjadi salah satu yang beruntung, berlimpah kasih dari kami keluarganya. Jika bukan kami, lalu siapa lagi? Kamilah yang diberi amanah ini oleh Allah, kamilah yang harus bertanggung jawab dan jika mampu, kami ingin bertemu kembali di Jannah-Nya. Aaaamiiin :)

Ini adik saya, Rahma, tapi ini waktu masih kecil

Jumat, 05 April 2013

Malaikat Juga Tahu, Another Paradigm



Bismillahirrahmanirrahim..

Postingan ini kupersembahkan untuk seseorang yang kucintai. Dan beliau juga mencintaiku. Tapi, kadang, aku tak sadar kalau aku mencintainya, dan tak sadar juga kalau dia mencintaiku #paraah


Lelahmu...jadi lelahku jugaBahagiamu...bahagiaku pastiBerbagi takdir kita selaluKecuali tiap kau jatuh hati

Lihat liriknya, resapi artinya. Bisa menangkap apa artinya? Kalau kata teman sih, "Aku liat di video klip, itu tentang anak autis kan? Yaah, paling tentang gimana anak autis itu diberi kasih sayang, tapi dia nggak sadar."

Kataku juga begitu. Tapi, seseorang yang kucintai itu memaknainya sebagai kalimat yang berbeda. Apalagi pas jatuh di lirik "Kecuali tiap kau jatuh hati."

Orang yang kucintai itu bilang sama aku, "Kalau awalnya memang lelahmu, akan jadi lelahku juga. berbagi takdir pun juga. Tapi, saat kamu jatuh hati, semuanya jadi berubah."

Kali ini hampir habis dayakuMembuktikan padamu ada cinta yang nyataSetia hadir setiap hariTak tega biarkan kau sendiriMeski seringkali kau malah asyik sendiri

Lihat lagi liriknya. Dapat mengambil sisi yang berbeda? Orang yang kucintai itu, sekali lagi bilang. "Coba nyanyiin. Aku sudah mencintaimu, tapi kamu sadar nggak? Bahkan meninggalkanmu pun aku tak tega. Tapi, kamu justru pergi, saat kamu jatuh hati."

Karena kau tak lihatTerkadang malaikat tak bersayapTak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Lihat lagi liriknya. Perhatikan maknanya. Orang yang mencintaiku itu bilang kembali padaku, "Coba bandingkan, kasih sayang siapa yang lebih besar? Orang yang kamu jadikan sebagai pilihan hatimu, atau AKU?"

Hampamu tak kan hilang semalamOleh pacar impian, tetapi kesempatanUntukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati

Lihat lagi, sudah paham? Orang yang kucintai dan mencintaiku itu bilang, "Aku percaya, pasti cintaku lebih sejati padamu. Malaikat juga tahu, aku kan jadi juaranya." 

Teman-temanku, tahu nggak siapa yang bicara seperti itu padaku?
Dialah yang bersusah payah bertaruh nyawa, pada tanggal yang sama dengan hari ulang tahunku. Belasan tahun lalu.

Hmm, meski bilangnya waktu itu agak ngotot padaku, tapi semua yang ia bilang padaku sepenuhnya benar. Aku bahkan tak berani memotong, dan mengelak kebenaran itu. Ia mengajakku berpikir, sudahkah aku memberi balasan untuknya? Yang bahkan takkan pernah bisa dibalas olehku.

Bukan maksudnya untuk meminta balas budi padaku, tapi, hanya meminta cinta. Bukankah setiap orang tua punya harapan yang baik untuk setiap buah hatinya?

Beliau memang tidak sempurna. Terkadang menyebalkan, tapi begitu menyedihkan jika harus berpisah terlampau lama dengannya. 

Yuk teman-teman, kita masih normal kan? Kita bukanlah anak yang acuh kan? Tanpa bermaksud mengecilkan saudara-saudara kita yang mungkin tidak sempurna, hingga ia tak mampu menangkap kasih sayang orang di sekitarnya, seperti kata temanku di awal tadi, yuk kita buktikan cinta kita. 

Oh iya, sudah menangkap apa maksud kata-kata ibuku di awal kan? Siapa yang dijadikan bandingan kasih sayangnya? Sudahkah kita menempatkan siapa selayaknya yang lebih kita cintai? Tentu hierarki pertama tetaplah Allah dan Rasul-Nya :)

Kamis, 04 April 2013

This!

I lost my spirit, now.
But, if i have to jump with you, it will come back to me
just still hanging, i'm on your side.
i will go to your harmony.
and speak out the rhythm
just still hanging, i'm going with you.
though you clearly said, you will leave first
i will make this
THIS!

Timbun Semangat

Bismillahirrahmanirrahim



Harus berulang kali kehilangan semangat.

Mungkin karena aku tak pernah menimbunnya.

Tapi ternyata. Bukan itu caranya.

Semangat itu harus selalu diperbarui, bukan hanya mencadangkan, dan mengambilnya ketika butuh.

Kyaaaaa. Semangaat!

Untukmu, untukku.

Selasa, 19 Februari 2013

Antara Lawak dan Ujian [1] part 1


Bismillahirrahmanirrahim..

Setelah sekian lama hibernasi, akhirnya muncul lagi. Tenang, kali ini bukan mau bicara soal jodoh kok, belum ada minat lagi, tapi, ngga janji juga tema itu ngga bakal dibahas lagi keesokan bulannya hehe^^
Sekarang, mau bahas tentang ujian, bukan ujian hidup, tapi ujian beneran! *emangnya ujian idup bukan ujian beneran -_-

Hmm, jadi, perkenalkan, kami mahasiswa, pasti riweuh kalo yang namanya ketemu sama ujian. Apalagi, kami, saat saya menulis ini, sedang bertemu dengan blok yang luar biasa sibuknya, blok DMS *DermatoMusculoSceletal*

Bisa dibayangkan kah? *agak nggak kebayang* Yaudah, ngga usah dibayangin juga sih. Sekarang mau cerita soal ujiannya aja ya. Ada beberapa kekonyolan mahasiswa kedokteran waktu menjalankan pendidikan selama ini. Salah satunya kekonyolan waktu ujian, termasuk saya.

Oke, dijelaskan dulu ya, salah satu ujian yang paling bikin kita agak keringat dingin dan gemetaran sebelum masuk ruang ujian adalah ujian SOCA. Apalagi bagi yang belum pernah mengalami SOCA. Apa itu SOCA? SOCA adalah ujian yang bikin gemeteran dan keringet dingin sebelum kita masuk ruang ujian. Eh, udah dijelasin ya? Ya maap, selain itu ujian ini adalah ujian yang dianggap sebagai ujian IMAN kita sebelum masuk hari ujian. Apakah sholat kita rajin (bagi yang muslim) ataukah ibadah kita sehari-hari sudah dilakukan dengan baik (bagi yang selain muslim, ya, hehe). Kok bisa? Yah, entah, kadang meskipun udah belajar mati-matian dan yakin bakalan lulus, ternyata hasilnya…. Ya, ujian ini unpredictable sekali, TERKADANG. 

Kadang belajar cuma sedikit, tapi ternyata hasilnya, LULUS.. yah, kita pun berasumsi, teman kita yang beruntung itu, udah rajin banget berdoa, dan hasilnya, dimudahkan waktu ujiannya. Hmm, wallahu’alam.
Jadi, SOCA ini adalah ujian, di mana sistemnya adalah sistem presentasi, kepanjangannya Student Oral Case Assesment. Namanya aja udah ketebak ya, gimana ujiannya. Sistematikanya adalah 

Karantina, bersama teman-teman sejawat >> masuk ke ruang tunggu, tanda tangan, absen  >> lari ke meja soal >> kerjakan soal dengan menulis di transparansi (waktu 7 menit)>> lari ke ruang ujian >> presentasikan hasil jawaban kita (7 menit)

Gampang kan? Gampang sih, yang susah kadang soalnya (buat yang nggak belajar tentunya, tapi, lain lagi buat yang belajar, tapi ternyata soalnya yang keluar bukan yang dipelajarin -_-. Jadi, masalahnya bukan udah belajar atau belum, tapi udah berdoa dapet soal yang bisa dikerjain atau belum.
Lalu soalnya sebenarnya gimana sih? Soalnya itu dianggap seperti kita sedang dihadapkan dengan pasien. Jadi, kasusnya, contoh ya.. “Seorang pasien datang dengan keluhan bla-bla-bla, dst…. Biasanya pertanyaannya itu apakah diagnosis anda tentang penyakit tersebut, mekanisme terjadinya penyakit, satu lagi, apa obat atau terapi yang bisa diberikan. Nah, ujian di blok kemarin, saya menemukan suatu keganjalan, dengan jawaban saya waktu soal TERAPI ini. Cuplikannya seperti ini ....
[to be continued]

Rabu, 06 Februari 2013

Gagal Donor

Bismillahirrahmanirrahim..
Saling tolong menolong merupakan hal yang harus kita lakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Niat menolong orang lain merupakan suatu kebaikan. Ya kan? Ya kan? Baru niat saja sudah dicatat oleh malaikat, apalagi kalau sudah melakukan. Betul? Ya betul sekali #prokprok
Kita semua tahu, donor darah merupakan salah satu kebaikan yang tiada taranya. Bagaimana tidak, kita bisa menyelamatkan nyawa orang lain dengan darah kita (jika Tuhan mengizinkan). Ada orang kehilangan banyak darah karena terjadi sesuatu padanya, ia bisa menggunakan darah kita untuk mengganti darah yang hilang (berasa iklan minuman isotonik). Selain itu, kita bisa menjaga kesehatan kita, karena dengan mendonorkan darah, darah yang kotor akan dikeluarkan dari dalam tubuh (berarti penerima darah menerima darah kotor dong? Wah, itu di luar kapasitas saya, hehe)
Namun, ketika aku, eh saya ingin mendonorkan darah, selalu saja ada hal yang membuat saya selalu gagal. Segalanya hanya bersisa pahala niat. Itupun jika niatnya bener.  Bayangkan, dari 4 kali mencoba, 4 kali pula kegagalan menerpa. Sungguh, itu di luar kekuasaan saya.
Kegagalan #1
Kelas 1 SMA. Ada pengumuman dari interkom di kelas. “Hari ini ada donor darah di basecamp PMR. Bagi yang ingin mengikuti silakan mendaftar kepada ketua kelas masing-masing.”
Aku tertarik. Aku bersama temanku pun mendaftar. Saat itu usia kami 15 tahun. Pokoknya intinya aku dan teman sebangku mendaftar.
“Eh, tapi kan kita belum 17 tahuuuun…”
“Emang harus 17 tahun ya?” aku bertanya dengan rasa penasaran. Sungguh mati aku jadi penasaraaaan, kenapa donornya harus tujuh belaaaass, yoo digoyaaang!
“Iya, aiisss…!” temanku tak kalah ngotot. Kita ngobrol sambil adu besar-besaran otot biseps.
Tetapi, ujung-ujungnya kita tetap ngotot. Ngotot ikut donor, biar bisa ngeceng di tempat donor sama kakak-kakak kelas yang ganteng. Imbasnya, ketika antri di sana pas sudah di depan ibu dari PMI, ditanyain, “Usianya berapa dhek?” kita jawab,“15 tahun buuu.” Ibu itu mengernyitkan kening, “Petugaasss… mereka masih di bawah umuuurr!!”
Gagal. Gagal total. Donornya gagal, tapi tenaang, ngecengnya tetep jalan.
Kegagalan #2
Kelas 2 SMA. Sebenarnya yang ini masih di bawah umur juga. Usiaku masih 16 tahun soalnya. Tapi ngotot tetep pengen ikutan donor darah. Masuk ke basecamp PMR. Di sana sudah ramai antrian. Di depan mas-mas PMI (yang ini ganteng deh [?]) ditanyain, “Usianya berapa dhek?” kita jawab, “16 tahun maaasss.” Si mas menjawab dengan lembut, “Yaudah deh, coba ditimbang dulu berat badannya yaa..” kita-kita agak terpesona, terdiam dan tak tahu harus berbuat apa. Sungguh, wajahnya mengalihkan dunia kami. “Wooy dheek, nimbang dulu gih sanaah!” waduh, baru inget kalo disuruh nimbang.
Merem melek nggak jelas waktu ditimbang., dalam hati kepikiran, “Aduh, berat badanku berapa yaah? Jangan-jangan aku obesitas nichh..” tuh kan alay, gara-gara merem melek sih..
“Empat puluh tiga, is.” Waw, lumayan lah yaah.
“Ya mas, tadi udah nimbang, berat badan saya empat puluh tiga kilogram.”
“Waduuuh, maaf dhek, berat badannya harus di atas 45 kg, kamu tidak memenuhi, maaf ya.” Pupus sudah harapan disuntik sama mas-mas ganteng. Aduuh, niat donornya ngeceng melulu nih. Gagal maning-gagal maning.
Kegagalan #3
Ada donor darah lagiii… Sekarang kelas 3 SMA. Usia cukup. Berat badan cukup. Tinggi badan cukup. Wajah menarik. Ayo lanjutkan donor. Semangat donor darah!
Sebenarnya hampir gagal mau ikutan donor kali ini. Karena ada jam tambahan dari pagi sampai sore, jadi tidak sempat ikut donor darah yang notabene dimulai dari jam 8 dan selesai jam 12 siang. Tapi karena niat tak terkalahkan, jadi tetap ngotot ke tempat donor darah. Kali ini tempatnya di UKS. Sudah sore, sehingga antrian pun tidak padat. Hahaha, kuasai medaan.. kali ini ndak bisa ngeceng, karena sudah jadi angkatan tua, hiks.
“Dhek, masih bisa donor kan ya?”
“Oooh, masih mbak, masiiih. Tunggu dulu ya mbak..”
“Eh, kamu duluan ya, nanti aku di belakangmu.” Kita malah saling tunjuk sebelum donor. Akhirnya para lelaki jagoan memutuskan donor duluan. Pas giliran perempuan, ada beberapa yang sudah berhasil. Nah, tepat satu orang lagi di depanku, tiba-tiba mas-mas PMI berkata, “Waah, maaf mbak, kantong darahnya sudah habis.. kita cuma bawa sedikit kantong hari ini.. Jadi mbak nggak bisa donor dulu. Maaf ya mbak..”
GAGAL LAGIII GAGAL LAGIII.. Yang ini alasan paling nggak bisa aku terima. Masak cuma gara-gara kantong habis nggak jadi donor, hiks. “Eh, mbak, ini sudah diambil lagi kantongnya. Masih ada kantong nih mbak.”
Sudah menyerah mas, sudah. SUDAH. Jadi agak uring-uringan nih. Mau masnya bilang masih ada 10 ribu pun, udah ilfeel aku. Hahaha, gaya banget, padahal sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam, AKU TAKUT sama jarumnya yang guedeee bangett..
Kegagalan #4
Donor darah @Alun-Alun. Aku baca tulisan itu di dinding kamar teman kuliahku. Waah.. asikk.. donor darah lagii..
“Iya lhoo, itu kalo kamu donor dapet souvenir tempat makan yang terkenal itu lhoo. Yang mahal banget..”
“Dapet Souvenir?? MAUUU..”
Berangkatlah kami ke sana. Timbang berat badan, cukup. Isi formulir sudah. Sehat walafiat. Tekanan darah, normal. Sekarang nih, cek Hb (Hemoglobin). Cuuss.. sakitnya minta ampun, haha, enggak ding, lebay. Darahku menetes dengan deras, aargh. Dengan lincah sang perawat mengambil sampel darahku tersebut. Kemudian ia teteskan darah yang sudah diambil ke suatu larutan. Lihat apa yang terjadi..
“Waduuh, Hb nya nggak cukup dheek.. Bentar, coba lagii..” Aku pun ikut-ikutan melongok-longok apa yang terjadi di larutan biru itu.
GAGAL MANING. Aku gagal. Aku gagaaaal hiks.
Tapi, walaupun gagal, hadiah tetap di tangan *tercium niat busuk.
“Silakan ambil souvenir di sebelah sana ya mbak.” Aku segera menuju ke arah yang ditunjuk. Aku ambil souvenirnya. Aku kemudian melihat di dalam goody bag yang diberikan panitia ada sebentuk kotak makanan. Haaah kecil bangeet. Tapi, tak apa-apalah, lumayan, dapat souvenir gratis hahaha.

Sabtu, 26 Maret 2011

Ternyata ini Jalankuu :D

Masih ingat dulu waktu kecil selalu protes, meskipun cuma di dalam hati, tapi sekali pernah kuutarakan ke ibu tercinta.
"Buat apa sih pake JILBAB?"
Lihat sepupu-sepupu yang lain pada bebas main, tanpa harus memakai penutup kepala yang bernama jilbab itu. Rasanya malees banget kalau pake jilbab, dulu waktu kecil mesti menhgindar kalo udah mau dipakein jilbab.
"Buk, mbak Risa aja nggak pake kerudung, kok aku pake?" tanyaku waktu aku masih umur 3 tahun. Padahal sepupuku itu lebih besar dari aku, tapi kenapa malah anak kecil kayak aku yang disuruh pake jilbab.
"Soalnya Budhe nggak pake jilbab, nduk.." alasan yang menurutku nggak mutu. Tapi, aku nggak pernah bisa bantah apapun yang keluar dari mulut ibu atau bapak. Selalu aku cuma bisa terima. Padahal, aku pernah lihat seorang ibu yang pake jilbab, tapi anak perempuannya enggak. Dan harusnya, saat itu aku bisa bantah dengan bukti itu. Tapi, nyatanya? Tetep nggak bisa.

Dulu, waktu aku masih jadi anak semata wayang, tiap malem aku selalu minta beliin ice cream conello. Dan kalo aku mau pergi, harus PAKE JILBAB. Aku selalu nggak mau, meskipun cuma di dalam hati. Entah kenapa, sepertinya aku sudah diprogram untuk tidak membantah kedua orangtuaku, meskipun aku membenci apa yang mereka lakukan. Dan itu berlaku sampai sekarang, sampai aku berumur 17 TAHUN. Tapi, pernah suatu kali aku bilang, "Buk, nggak usah pake ya? Kan aku udah pake jaket, pake kerudung jaket ngga apa apa kan?" waktu itu aku berumur sekitar 4 tahun. Dan, baru sekali, keinginanku itu diloloskan, padahal aku cuma duduk di motor dan nggak kemana-mana, karena yang beli ice cream ibuku. Jadi tetep aja, nggak ngaruuh --"

Waktu TK, aku pake jilbab kalo hari Jumat doang. Padahal, khusus untuk anak ibuku (baca: aku) harus setiap hari pake. Yah, gara-gara aku nakal, kebetulan sekolah TKku cuma pake jilbab hari Jumat, hari lain terserah. Tetapi, sekali lagi, khusus aku, aku harus pake tiap hari! Cuma, karena aku bandel, yaudah dari rumah pake jilbab, sampe sekolah DICOPOT! ckck ASTAGHFIRULLAH ..

Lulus TK (sebenernya aku nggak lulus TK, karena aku TK cuma satu tahun, wkwk. Yah, bahasa kerennya aksel :P, tapi, aku nggak punya ijazah TK hehe). lanjut ke SD. Hari pertama masuk, aku pake baju muslim, bukan baju seragam. Aneeh, tapi itu ibuku yang mau, dan aku nggak bisa bantah. Dan, karena aku TK cuma satu tahun, alhasil, aku ketemu kakak kelas TKku, yang ternyata malah lebih muda dari aku RAHMANIA PRAHARDANI. Dan sampe sekarang orang itu masih menjadi my bestiee,, haha kangen kamu NIK! wkwk. waktu SD, aku lebih parah. Berseragam merah putih dengan lengan dan rok pendek dengan kerudung lebar dan kaus kaki panjang. Beda sendiri. Selama 5 tahun, belum pernah ada yang menyamaiku dengan 'kostumku" itu. Sampai akhirnya wkatu aku kelas 5, ada seorang anak kelas 1 SD, yang memaksa orang tuanya supaya dibolehin pake jilbab. Aneh, ini aku yang dipaksa aja nggak mau, "Dek, dek, kenapa nggak kamu aja yang jadi anaknya ibukku?" Pikirku jaman dulu.

Beranjak ke SD, ternyata aku tambah bandel. Tanpa sepengetahuan ibukku, aku melepas jilbab waktu pelajaran OLAH RAGA. ckck, nakal bandel, apapun namanya. Dan yang terpenting adalah, AKU MENTHEL (baca: kemayu) SEKALI saat itu. Misalnya, kalo hari ini ada jam OR, dari pagi, rambutku sudah kukuncir sedemikian rupa, jadi waktu OR, aku terlihat bagus, eh, maksudnya cantik. Sebenarnya, guru OR-ku protes,"Loohh, mbak Ais kok kerudungnya dicopot?" dan alasanku paling nggak mutu sedunia,"Iya, pak, takut nanti jilbabnya kotor, soalnya kan pasti keringetan, Pak."

itulah kenakalanku yang paling nakal selama hidupku, insya Allah, nggak lagi lagi deeh

lanjut ke SMP #to be continuueed :P

Jumat, 21 Januari 2011

Seperti Dibenci

it has been long time .........

Udah lama banget nggak posting lagi. eh, udah ganti tahun aja --"Entah kenapa beberapa hari ini, aku merasa aku dibenci oleh seseorang. Sebenernya ngga cuma beberapa hari sih, tapi, mungkin hampir setengah tahun. Sebenernya aku juga ngga tahu what is the true reason this person hates me so much (mungkin bisa juga ini perasaanku doang sih ..)Nggak tau ini aku yang suudzon, atau aku yang mawas diri. Tapi yang jelas setiap orang pasti berusaha buat jadi orang baik di mata semua orang. Jujur aku nggak mau beda-bedain orang. Tapi kok dia bersikap kayak gitu sama aku, aku juga nggak tahu aku salah apa.

Akhirnya aku jadi sering bertanya-tanya sendiri apa iya aku sering bersikap menjijikkan (baca:membuat orang lain benci). Yaudah, aku teliti lagi, apa iya aku ini sok imut, apa iya aku ini sok baik. Tujuanku tu cuma satu, merubah persepsi orang itu tentang aku. Udah, JUST IT.

Tapi, masih aja belum ketemu apa yang aku cari. Lha wong yang aku pengen tahu tu kok dia bisa kayak gitu ke aku? Emang aku salah apa sih sama dia?? Bisa-bisa abis waktuku cuma mikirin kayak gini. tapi ya masak iya aku harus nanya sama dia,
"Kamu tuh kenapa sih? Kok kayaknya benci banget sama aku?!" sambil marah-marah nggak jelas gitu?

Udah sekarang aku mikir lain lagi. Mungkin dia mau lebih segan sama aku, karena aku berbeda. Oke segan gapapa, tapi menganggapku seperti yang lainnya juga bisa kan? kenapa harus mbeda-mbedain gitu sih? Yah, aku juga ngga berharap dia bercanda-bercanda ke aku (baca: at least ngajak ngomong aja deh --). yah, dan juga ngga berharap orang yang kumaksud itu membaca blog ini juga sihh.

"Yaudah laah, tetep semangat aja deh, bukan berarti dia membencimu is, mungkin ada sesuatu yang dia yakini sebagai batas-batas berteman denganmu :)"


Akhirnya aku jadi sering bertanya-tanya sendiri apa iya aku sering bersikap menjijikkan (baca:membuat orang lain benci). Yaudah, aku teliti lagi, apa iya aku ini sok imut, apa iya aku ini sok baik. Tujuanku tu cuma satu, merubah persepsi orang itu tentang aku. Udah, JUST IT.
Tapi, masih aja belum ketemu apa yang aku cari. Lha wong yang aku pengen tahu tu kok dia bisa kayak gitu ke aku? Emang aku salah apa sih sama dia?? Bisa-bisa abis waktuku cuma mikirin kayak gini. tapi ya masak iya aku harus nanya sama dia, "Kamu tuh kenapa sih? Kok kayaknya benci banget sama aku?!" sambil marah-marah nggak jelas gitu?

Udah sekarang aku mikir lain lagi. Mungkin dia mau lebih segan sama aku, karena aku berbeda. Oke segan gapapa, tapi menganggapku seperti yang lainnya juga bisa kan? kenapa harus mbeda-mbedain gitu sih? Yah, aku juga ngga berharap dia bercanda-bercanda ke aku (baca: at least ngajak ngomong aja deh --). yah, dan juga ngga berharap orang yang kumaksud itu membaca blog ini juga sihh.

"Yaudah laah, tetep semangat aja deh, bukan berarti dia membencimu is, mungkin ada sesuatu yang dia yakini sebagai batas-batas berteman denganmu :)"


Udah sekarang aku mikir lain lagi. Mungkin dia mau lebih segan sama aku, karena aku berbeda. Oke segan gapapa, tapi menganggapku seperti yang lainnya juga bisa kan? kenapa harus mbeda-mbedain gitu sih? Yah, aku juga ngga berharap dia bercanda-bercanda ke aku (baca: at least ngajak ngomong aja deh --). yah, dan juga ngga berharap orang yang kumaksud itu membaca blog ini juga sihh.
"Yaudah laah, tetep semangat aja deh, bukan berarti dia membencimu is, mungkin ada sesuatu yang dia yakini sebagai batas-batas berteman denganmu :)"

Kamis, 18 November 2010

The Wonderful LI(O)VE

hawa-hawane aku dadi menye menye kii --

Hm, lanjut. Sekarang, karena bingung mau posting apa, tapi tetep pengen posting, jadi, aku posting ini aja deh.

Bingung mau mulai darimana, soalnya kalo langsung capcus, kesannya menye menye banget. mm, apa ya? Oke, kita semua tahu kan, kita pasti pernah ngerasain yang namanya falling in love. Dan, kadang, sialnya orang yang kita falling in love-in (FIL-IN) itu, orang yang ga pernah kita duga sebelumnya, ckck tuhkan jadi menye menye.

tapi, cinta itu tetep ada langkah langkahnya (atau bisa dibilang prosedur amannya) nah, kadang yang kita alamin adalaah :

  1. Mancing-mancing supaya ada obrolan yang mengarah ke orang itu. Mau baik atau buruk, nggak penting, yang penting kita ngomongin orang itu.
  2. Nyuri-nyuri waktu, supaya bisa ketemu (at least ngeliat dari jauh laah) orang itu. Apalagi kalo orang yang kita fil-in itu nggak kenal sama kita. Mending liat dari puncak gunung aja deh.
  3. Next step is, cari tahu hal hal yang berihwal langsung dengan orang tahu. Looking for his/her account in cyberworld, actually. Biasanya sih, kalo nggak gitu, nggak puas. Dan ini biasanya dilakukan oleh orang yang tidak kenal dekat dengan personality yang di FIL-IN itu.
  4. Lain lagi kalo udah kenal deket. Bisa jadi, langsung ke pendekatan. Ini, kalo orangnya nekat dan kurang pengetahuan AGAMANYA.
  5. Biasanya step yang ini sih, udah terserah sama yang lagi FIL, jadi, aku udah nggak ngambil part lagi deh, takut salah.

tapi, nggak sedikit loh, orang yang menyimpan perasaannya. HAHA, maybe I am including for this category. Dan, banyak juga orang yang mengekspresikannya lewat tulisan yang MENYE MENYE. kayak gini juga nih (kayaknya kalo ini nggak terlalu #menyenangkan diri sendiri)
sebenarnya, aku punya beberapa saran sih, untuk orang yang sedang jatuh cinta. Intinya, MENAHAN DIRI, supaya kita nggak terjerumus lebih jauh ke LEMBAH DOSA (kok aku dadi sok alim ngene ya)

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (Al-Israa' :32)
Sudah jelas bukan? Bukaaaan. Loh, loh, nggak gitu maksudnya. Jadi gini, MENDEKATI ZINA aja nggak boleh, gimana zina?
Berarti nggak boleh jatuh cinta doong? Ya nggak gitu juga kalik, karena cinta itu FITRAH MANUSIA yang sudah pasti akan dijalani seluruh manusia di muka bumi ini. Nah, khusus untuk cinta kepada lawan jenis ini, lebih ribet lagi. Untuk itu, kita harus mampu menahan diri kita sendiri. Buat orang yang mampu menahan diri ini, bisa dikategorikan orang YANG HEBAT!

So, let's get THE WONDERFUL LIVE with A WONDERFUL LOVE
!
Caranya?

  • Mendekatkan diri kepada TUHAN YANG MAHA KUASA, ALLAH SWT, dengan begitu, kita bisa menguasai diri kita sendiri.
  • Memperbanyak kegiatan yang bermanfaat, jadi, kita nggak sering ngelamun dan langsung mengucapkan kata-kata yang ada di setiap sinetron,"APA INI YANG DINAMAKAN CINTA?" idiiih, kok alay ya?
  • Berpositive thinking (what's the relation?) ya pokoknya dengan positive thinking, kita bisa jadi a better person in the future.
  • Bergaullah dengan orang-orang yang berada di lingkungan yang ikhsan. Sebenarnya inilah faktor yang paling utama menentukan karakter kita, jadi, pilih mana yang baik buat dunia akhirat kalian. Tapi, jangan juga terus menjudge orang lain yang kurang sesuai dengan kebaikan menurut AGAMA.
Masih banyak faktor-faktor lain, dan langkah-langkah lain yang bisa kita ambil manfaatnya. Tetep jadi REMAJA YANG SYAR'I !