Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2016

Bagaimana Bertahan

Assalamualaikum!!

Seperti biasa, postingan kali ini tidak jauh-jauh amat dari galau haha. 

"Nduk, kalau bapak dan ibuk sampai saat ini masih bertahan bukan karena cinta, tapi karena bagaimana bertahan saling mengalah satu sama lain."

Terus saya jadi mikir, kalau awalnya bukan karena cinta? Bisa juga nggak? Di salah satu buku yang saya baca, cinta murni itu bisa bertahan paling lama 4 bulan, sisanya ya itu tadi, bagaimana pertahanan masing-masing. Ada lagi sumber lain, kalau rumah tangga itu bisa bertahan karena kekuatan cinta masing-masing itu paling lama 4 tahun. Sisanya? Ya bagaimana si suami dan istri mempertahankan keseimbangan alias homeostasis kehidupan rumah tangganya.

"Kamu kok bisa sih pacaran 3 tahun? Nggak capek dikuntitin terus sama pacar?" Jiwa bebas (alias jomblo) saya sering bertanya-tanya. Coba saja, setiap hari pasti menghubungi (pengen juga sih ada yang ngehubungin, haha), tapi pasti ada kalanya capek juga kan? Misalnya, kamu dicemburuin atas dasar suka main sama lawan jenis, capek kan? Nggak merdeka..

"Ya kita sih prinsipnya percaya satu sama lain, karena kita LDR, pasti nggak bisa saling mengawasi. Cemburu itu pasti ada, ya tapi ditakar laah.. Jangan seenaknya juga. Kamu jangan-jangan gegara jomblo jadi suka main sama cowok yaa? Terus ngerasa ga bebas gitu kalo nanti dikekang? Haha dasar."

"Nggak juga, aku sih ga masalah kalau nanti memang harus dipantau, tapi ya jangan lebay juga. Misalnya aku nggak ngapa-ngapain tapi dicurigai ngapa-ngapain. Nggak ada toh orang yang suka dituduh? Apalagi kalau dituduh berkali-kali. Nggak suka lah."

"Kamu kan juga tukang marah-marah, haha. Jangan-jangan nanti partnermu juga ga tahan kamu marah-marahin terus tanpa alasan."

"Hmm.. ya sebisa mungkin nanti aku marah-marah tapi ada alasannya. Seremeh apapun alasannya. Haha, sama aja bikin capek ya, kalau kayak gitu."

"Iyaa.. intinya sama-sama berusaha, jangan cuma mintanya yang enak-enak aja."

Yasudahlah, masalah bertahan atau enggak nanti aja deh, memulai aja belum sanggup 



Selasa, 01 Maret 2016

All Iz Well

Assalamualaikum!

Don't you ever feel like, you have a big expectation for someone, but the person did something that makes you want to scream, "Oh my God! Shame on you!!" Yeah, this post is about "Aku membencimu dengan sepenuh hatiku" series, haha. You will see my other post about me hating someone with this kind of title.

"Hem, are you hating, or ehm loving someone?"
"I've ever heard that the distance between love and hate is just short. Even the scientist prove it!"
"Really?"

Yeah, but maybe you can read the explanation by yourself, hehe, want to explain that, but not now. Something happen with both of my heart and head. My head keep spinning and my heart keep aching.

"How could you be like that, huh?"
"When someone said that he/she was ready doing something but he/she ended up doing nothing, what do you think?"
"Hem, but I wanna ask you something before I tell my opinion about that. Are you sure that he/she really didn't do anything?" 
"Aaaaah. not really know. I'm just crying for no reason."
"Ok. Why are you crying?"
"Hm. just cry, I can't think straight right now. Just like Rachel Platten said, wrecking ball inside my brain. Many things already happened. And maybe will be happened. Worry for a future, worry if I would feel something called 'di pehapein'."
"Omoo.. I ask you once again. Are you sure that he/she really didn't do anything? Maybe he/she needs more time to do the preparation?"
"Okay, but why he/she said that he/she was ready before? What does he/she mean, haaaaaah?! Heemmm, let's end this random conversation. Keep calm, I'm ALRIGHT. Just like Ranchodas Chanchad said, All izz well. Bye."


Nb: lagi random nih, maaf ya haha. 
Someone said, "Dibalik kata haha, dalam setiap curhatan sedih atau tangis, tersimpan huhu yang mendalam."

Rabu, 24 Februari 2016

Tentang Menikah

Assalamualaikum!

Mumpung libur saatnya galau. Beberapa orang terdekat saya udah banyak yang persiapan menikah dan sudah menikah. Teman seangkatan saya sudah banyak yang menikah. SAHABAT saya, bentar lagi juga menikah. Sahabat yang mana? Tunggu tanggal mainnya.

Menikah itu bukan balapan, siapa cepat di dapat. Bukan gitu. 
Nanti kalo udah ada jodohnya juga dateng sendiri.
Yaa, kan dia sudah dipertemukan dengan jodohnya, tunggu waktu aja.

Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang selalu diucapkan setiap ada kawan yang menikah. Menghibur sih, tapi rasa geregetan tetap ada. Haha, nggak ikhlas banget ya kalau begini.

Seperti percakapan saya dengan seseorang yang hampir menikah berikut ini.
A (aisyah) dan S (Seseorang)
A : lihat ada chat baru di line. Dikirimin foto. FOTO rangkaian pernak-pernik semacam sovenir. 
      IIIH APAAN TUH? SOVENIR?!
S : Cuma ini yang bisa aku lakukan..
A : dalam hati langsung tertekan. 
Pas ketemu langsung, seseorang ini nggak mau ngenalin calonnya ke saya. Gaya emang. "Yaa, semoga dilancarin sampe hari H ya. Nggak nyangka ya, ternyata kamu ngeduluin aku."
Sambil gaya-gaya manis manja agak malesin gitu dia teriak, "Iiih jangan sampai Hari H doang dooong.. Sampe selamanya gituu.." Sumpah ini bocah pengen banget dikuncir mulutnya pake karet nasi goreng.
Sebenarnya sudah ada sahabat saya yang lain yang udah menikah, di awal tahun ini. Namanya Diah Ayu Kurniasari, tim 'kemenyek' jaman SMA. Maafin aku nyuu, ga dateng di nikahanmu hiks hiks. Sedih rasanya. 

Ada lagi, dua teman sekelompok koas saya sudah tunangan, alias taken, dan salah satu diantaranya akan menikah dalam rentang waktu tahun ini. Ya, menikah muda itu nggak salah sih. 
source : temanbercerita.tumblr.com

Begitu mengingat persiapan yang masih kurang sampai saat ini, saya jadi mundur lagi. Kepikiran kalau misal suatu saat nanti saya sudah punya anak, terus anak saya menanyakan beberapa hal. Tapi saya nggak bisa menjawab dengan baik. Kyaaaa. jadi ibu itu susah lho.. *udah cari imam dulu sana.

Selasa, 20 Oktober 2015

Mencintai Harapan (part 2)

Assalamu'alaikum!

Dis is another story about mencintai harapan. Yuk direnungi yoook.

"Eh, kamu kenal si X, nggaak?"
"Lah, kamu udah nggak kagum lagi sama yang suka duduk di bangku kayu depan taman kampus itu?"
"Hehe, dia ilang mulu sih!"
"Dasar ababil, si X yang temen KKN-nya si Y nggak sih?"
"Loh, aku malah nggak tau kalo dia temen KKN-nya Y."
"Terus kamu tau dia dari mana?"
"Ngeliat waktu wisuda. Terus baca di buku alumni kalo IPK-nya cumlaude. Yaaaaa pinter ya dia! Padahal kan jurusan dia susah tuh dapet IP segitu." jurusan apa? jurusan sesuatuuuuuh that have something connected with ***** haha
"Haah? Yang mana sih? Kok aku nggak nyadar?"
"Aku punya mata elang tauk. Bisa liat orang yang kagumable, eh adorable. Sekarang dia abis lulus ke mana ya? Jangan-jangan dia balik ke kampung terus nggak ke sini lagiii..."
"Yah elah. Tuh di buku alumni ada nomernya kan? SMS orangnya tanya dia lagi di mana. Sekalian catet alamatnya, kirim surat kek, paket kek ke rumahnya. Eh tapi dia udah punya patjar loh."
"Dih, kenal aja kagaaaak. Oh iya? Pantesan pas abis wisuda dia gandeng perempuan."
"Ampuun, bisa-bisanya ya eloh. Ibunya kali tuh. Ngapaiiin coba elo suka sama orang gak kenal gitu. Emang dia ganteng ya?"
"Enggak. Tapi... pinter doang kali ya. Pesona orang pinter itu nggak pernah pudar tauk wakakak. Eh orang yang digandeng cewek kecil kurus berkerudung gitu."
"Iya tuh, mbak patjar tuh. Suka tuh sama yang jelas-jelas aja kenapa sih. Jelas jomblonya, jelas kalo kamu kenal. Jaaaan jaaan." 

"Seleranya yang kecil-kecil gitu, ya. Oke aku kurusin badan abis ini."
"Ini bocah, cari jodoh buka semata ngurusin badan doang. Berdoa, sholat, belajar, selesaiin tuh koasnya dulu."

"Emang kamu nggak mau pas koas ada yang merhatiin? Aku mau nyambi lah gapapa."
"Sanggup hamil pas koas kayak mbak A? Ntar kecapekan risiko abortus loh."
"Doain aku makanya, aku mau berusaha nih. Umur udah 20plusplus. Eh tapi yang tadi jangan dipikirin ya. Itu hanya fatamorgana semata."
"Yang mana? Yang cowok alumni itu? Iye iyee. Elu mah bosenan orangnya, gueh juga ngerti keleus."
***

Yaampun itu orang plin plan banget ya. Bisa gitu ganti-ganti objek. 
Itu sekali lagi contoh tentang mencintai harapan. Maksudnya adalah, ketika kita fokus pada harapan yang kita tumbuhkan, bukan tentang objek yang kita tuju. Makanya objeknya bisa ganti-ganti. Karena harapan seseorang bisa ganti-ganti juga haha.

Oya, saya mau ngucapin semangat dan sukses buat Rieza Amalia S.T. yang masih fokus cari pengalaman, tapi tetep di Semarang aja. Sama si Adila Ashari S.E., juga sih, yang tadi malam sudah lighten up my spirit, dat sometimes goes down to the earth wkwk. Teman-teman ambisius ex smaga yang dulu pernah berjuang bersama menghadapi kejamnya ujian praktek, ujian nasional, ujian sekolah. Cuma kurang si Anindita Henindya, S.Si, yang ditunggu kabarnya nggak muncul2. Aku doain kamu dapet suami pembalap (kenapa? bisa baca di postingan ini). Ga nyangka dari dulu kalian lah yang bikin blog aku berisi sesuatu ga penting sampe sekarang isinya masih ga penting. Sekarang kita sudah punya nama tambahan masing-masing, aku terharu gaeeeesssss :'(. Kalian lagi sibuk cari kerja, dan aku masih dua tahun lagi menyelesaikan program profesi, oke deh kalian meninggalkanku fiks.

Ini postingan random abis. Udah lah ya, saya mau merenungi tugas yang nggak jadi-jadi dari kemarin. 

Oya, nyambung dari dialog di atas, semoga selepas lulus, buat si X yang saya nggak ngerti juga lagi di mana sekarang, sukses ya. Wahaha ditungguin tuh sama orang ababil di atas.

Selasa, 21 Januari 2014

Kalau Ubah dengan Hati dulu, Boleh?

Bismillahirrahmanirrahim..

Bisa dibilang ini #latepost banget hehe.
Sebenarnya, judul ini sudah dipersiapkan dari tahun lalu untuk menjadi sebuah postingan. Tapi, GAGAL!
Seakan-akan udah setahun gitu ya nyiapin tulisan ini. Cuman kelewatan pas ganti tahun aja.

"Is, kemarin aku liat dia jalan sama seseorang. Di acara *menyebutkan suatu acara konser* berduaan coba. Nih, aku fotoin buktinya!"
"Oiya?? Emang berduaan doang? Berangkat berdua? Terus pulang berdua juga? Boncengan?!" Berapi-api saya mengomentari fakta ini. Setelah saya liat fotonya sih, emang iya. Niat gitu ya, temen saya sampe motoin gitu. Mungkin dia kesel juga kali ya.

Stop! Kalian menyukai lelaki yang sama? Apa jadinya ya, kalau sepasang orang yang berteman menyukai orang yang sama
Kalau kita menyukai orang yang sama, itu artinya kita memang berteman bukan? Saya Kokyu-Shiritsu Bakaleya Koukou
Itu kalimat yang dikatakan Saya Kokyu kepada Shingyouji Fumie hehe. Out of topic, kembali lagi ke bahasan pertama.

Yauda sih, emang kalo berangkat berdua kenapa? Pulang bareng kenapa? Kalau boncengan kenapa? Hak-hak dia kan? Toh juga mereka udah dewasa. Gitu.
Itu teriakan dari lubuk hati saya yang agak dalam. Kalau teriakan dari lubuk hati saya yang paling dalam, hal yang dilakukan itu sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran dari yang saya tahu. *kalau fakta ini dilanjutkan, postingan ini jadi postingan yang sangat tendensius. jadi saya stop ya.*

Dari Abu Sa’id AlKhudri Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu dan jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman (Dikeluarkan oleh Imam Muslim Rahimahullahu)
Mengubah dengan tangan, sebenernya saya bingung caranya gimana untuk perkara ini. Mengubah dengan lisan, sudah saya coba sih. Tapi saya nggak kuat.. Nggak kuat takut nanti malah jadi bersilat lidah terus jadi saya yang kalah, hehe.

Makanya, saya coba ubah dengan hati dulu. Tapi, wait! ....jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman. 
Saya jadi berpikir, apa saya hanya membuat-buat alasan kalau saya tidak mampu dengan dua cara sebelumnya? Wallahu'alam. Belum menemukan jawaban juga. Hanya pikiran saja sih postingan ini. Belum ada solusi.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Suatu Siang, di Suatu Kota


Bismillahirrahmanirrahim..

Tak pernah saya begitu mencintai suatu kota, sampai saya menginjakkan kaki di sana. Cuma sebentar, tapi benar-benar berkesan.

Siang itu, saya hanya mampir sebentar di kota itu, untuk sholat dhuhur, lalu kemudian melanjutkan perjalanan. Udara di sana dingin, sejuk sekali. Terbayang, suatu saat akan tinggal di sana, bersama dengan keluarga di masa depan. *aaamiiin*

Entah, memang baru perjalanan kali ini melewati jalur tersebut dan mampir di kota itu. Memang dulu sempat punya relasi dengan kota itu, tapi, sesaat, terus usai. Sekarang sudah tidak begitu dekat. Ada sih, saudara yang tinggal di sana, tapi, ingin sekali suatu saat saya juga bisa tinggal, dan bermukim di sana.

Tapi, hampir sebulan ini sudah tiga kali aku lewat kota itu, alhamdulillah. Saat melewatinya, seakan ada yang harus ditemui di sana. Tapi, sayangnya saya tak tahu itu siapa. Entah, sepertinya hati terlalu terikat dengan kota itu.

Kota itu bukan kota besar, dan bukan kota yang sering dipromosikan di televisi. Tapi, sekali lagi entah, tautan hati menuju ke sana begitu kuat. Entah, mungkin suatu saat impian untuk tinggal di sana bisa terwujud. Jika tidak, ya berarti memang bukan di sana tempat yang tepat untuk saya..