Jumat, 07 Desember 2012

Mataku, Padamu

Bismillahirrahmanirrahim..

ada yang berubah, jauh sepertinya.
entah menjauh entah mendekat, ia tak lagi sama.
seharusnya, cinta itu membuat mendekat
cinta itu membuat terikat

jika aku belum mampu merangkulmu
apa berarti aku tak mencintaimu?
sungguh berat sebenarnya
aku mencintaimu, sungguh
sempat kutangisi perubahanmu
sungguh, mataku, padamu

mungkin kau pikir aku menjauh darimu
menghindar darimu
dan seakan tak sempat melihatmu
tapi, sebenarnya, aku melihatmu
sungguh, mataku, padamu
terasakah seolah aku marah padamu?

bukan, aku marah pada diriku sendiri
harusnya kujangkau kau dari awal
bukan sekarang, ketika kau telah jauh tidak terkawal
ingin kucapai hatimu sekarang
sungguh, hatiku, padamu

tapi kenapa? kenapa, kenapa ia tak seindah dulu
aku perhatikanmu
aku lihat semuanya, aku sadari perubahanmu
aku LIHAT, aku SADAR
sungguh, mataku, padamu..

Jumat, 28 September 2012

Tanah, Gulma, dan Pohon


Bismillahirrahmanirrahim..

Aku gulma
Dia Pohon
Dan Kamu tanah

Harusnya gulma dan pohon adalah sepasang yang bisa mengerti.
Karena kami, tumbuh bersama seharusnya.

Harusnya, aku tinggal di tanah, suatu tanah yang lain.
Bukan di tanah yang jelas sudah ada penghuninya.

Yang jelas, pohon bukanlah satu yang bisa kita salahkan.
dia tumbuh subur di sana, karena memang ia bertempat di tanah itu.
Tapi gulma?

Ia datang tak diundang, dan tinggal walau tak diijinkan.

Lalu pohon. Ia tetap tumbuh.
Semakin rindang, dan kian hari semakin rimbun dengan buah.
Buah, yang rasanya, pahit. 
Pahit, karena sang tanah tak pernah memberi balasan nutrisi untuk sang tanaman yang sudah melindunginya dari panasnya matahari, dan ganasnya air hujan, yang bisa membuatnya longsor sewaktu-waktu.





Rabu, 08 Agustus 2012

Jika Aku Menikah (Sekarang)

Bismillahirrahmanirrahim..

Hmm serem ya judulnya. Serem karena bikin galau. Ssst. Udah ah, berapa kali kata galau terucap hari ini. Udah ya cukup. Kalo perasaannya yang galau gimana? Duuh, udah udah, cukup galaunya.

Entah kenapa gagasan ini tiba-tiba muncul.Sebelumnya udah sering juga ya posting soal nikah, jodoh dsb. hehe, lihat Jodohku part 1 dan 2, ada juga Malam Ming'galau', dan ada juga tulisan lain yang tersirat akan makna itu.

Sebenarnya gagasan ini muncul pas naik motor. Gara-gara suka kecanduan ngomong sendiri kalo lagi naik motor. Hehe, kadang suka malu sama motor sebelah, takut kedengeran monolognya. Dan biasanya isi monologku itu adalah dialog, di mana diriku sendiri menjadi pendengar bagi diriku sendiri. Haha, narsis nggak kesampaian begitu deh jadinya.

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).
Subhanallah, luar biasa ya. Kalo ngomongin ini jadi inget kakak sepupu saya. *ayo tho mas ndang nikah* *ndang nikah*

"Makanya to dhek, cariin tho.."
"Hmm, yaudah mas, coba ya." setelah itu aku segera mencarikan kandidat yang dirasa pas. Tapi ujung-ujungnya pasti..
"Gimana dhek? Udah mbok cariin tho?"
"Udah mas, tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi, kasian 'mbak'nya kalo sama mas." hehe, begitu terjadi berulang-ulang. Selalu merasa kakak saya kurang pantas dengan perempuan yang saya carikan. *makanya tho mas, memantaskan diri*
"Ah, kamu tu lho mesti gitu."
Tuh kan ngambek, "Ya gimana mas, habisnya kamu gitu og."
"Aah ayo to dheek, cepet, keburu dhek fahmi (keponakan beliau-red) bisa ngomong."
"Lha kok bisa sama dhek fahmi? Hubungannya?"
"Lha masak nanti dhek Fahmi ketemu aku, 'Pakdhe-pakdhe, kok sendirian, Budhe mana??' isin aku.."
"Hahaha, rasain."

Hmm, setelah dipikir-pikir, menikah itu memang nggak gampang. Cari pasangan lah, cari nafkah lah, cari rumah lah, cari gedung dan lain-lain. Kata Nurul, "Menikah itu nggak sesimple itu. It is not that simple." #iya iya ruul

Tetapi selalu saja ada rasa iri kalo datang ke lamaran, atau nikahan tetangga, kerabat, atau orang lain. Saking ngarepnya, sampai pernah ngechat si rieza (btw ni orang kenapa akun fb nya ilang ya?)

A : rizaaaaa, doain ya
R : doain apa?
A : besok lamaran hiks
R : haaaaah sumpah?? aku ga bs dibohongin ais skg mah -______-
A : iya beneran iih
R : mana calonmu?
A : bukan aku yang lamaran, tapi tetanggaku. ahahaha
R : dasar gila -____-

Terus kalo kebayang pengen nikah selalu inget kata-kata fathia, "Is, ntar tuh kalo kamu nikah ya, kita nggak bisa karokean lagi. Harus ngurusin suami yang pengen makan inilah, makan itulah. Cuci baju jadi tambah banyak aargh.. Kapan dolaneee.." #kowe ki lho dolan bae fath

Bener juga sih apa kata dia, tapi tetep aja "Tapi kan fath, nikahnya tuh biar halal dulu hubungannya. Tapi tetep ntar kita jalan sendiri-sendiri dulu. Aku di sini, suami di manaa gitu, suka suka dia lah mau ke mana." #jadi mikir, relationship macam apa itu ya.

"Tetep ngga bisa is. Ngga bisa. Nanti pasti bakalan ngurusin suami deh. Aaah, ayo dolan sik wae lah."
"Aah gapapa fath, aku dolan, tapi aku sudah bersuami kan ngga papa. Mainnya kan sama kamu ini." *ngotot*
"Yaudah sana nikah aja. Lha emang udah ada calonnya is?"
"Ya udah dong fath.."
"Wah, ya kalo gitu nikah aja.."
"Tapi belum dipertemukan sama Allah.. hahahaha."
"Dasar, yo wis lah. Yo karokean bae yo."
ckck, yang satu ngotot nikah yang satu ngotot karokean.

Yang tadinya sempet putus keinginan tiba-tiba jadi keingetan, "Aaah ais niih, nggak ikut Dauroh Pra Nikah, seru lho iss.." tiba-tiba Dinda (yang selalu aku cecar dengan kegalauan nikah) menunjukkan notulensinya pas lagi ada Dauroh pranikah itu.
Aaah, itu catetannya menarik bangeeet isinyaaa... "Tapi untung din aku nggak ikut. Coba aku ikut, ga kebayang kamu udah tak remet-remet jadi apa"

Terjadilah pertentangan batin di antara dua pilihan. Haha. Bukan pilihan sih, soalnya yang kemungkinan satunya belum akan terjadi dekat-dekat ini. Eh, tapi kan kita nggak pernah tahu bagaimana hari esok? Yasudah lah, untuk sekarang berdoa dulu, jadi inget kata mbak Dita
"Dhek, kalo pengen jodoh itu berdoanya dari jauh-jauh hari. Biar ngga telat dikasihnya."
Yadeh mba, nih langsung berdoa deh #dalamhatiberdoa

Aaah kalo kayak gini jadi inget lagu Separuh Aku
dengar larakuuuuu suara hati ini memanggil namamuu..
karena separuh aku.......

Minggu, 01 Juli 2012

Malam Ming'galau'


Bismillahirrahmanirrahim..
Juniii udah mau abis. Tapi bulan ini ga posting sama sekali. Hiks. Takkan kubiarkan.
Di hari terakhir bulan Juni ini alhamdulillah masih sehat, masih gendut, ginuk ginuk. #LHO

mumpung masih juni, ngepost dulu yak.
Aduuh, udah mau libur aja nih #anak sekolah udah pada libur ya?
Kita yang berstatus mahasiswa masih sibuk nih dhek. #berasa tua banget gue -__-

nih, mumpung malem minggu, galau dulu yuk.
Lihat judul di atas. Aneh yah? Hehe, habiiis galau nih. Nentuin judul aja galau ya :|

episode kali ini, adalah tentang survey kegalauan.
Pertanyaan survey kegalauan ini masih setema dengan posting sebelumnya, yakni jodoh.


"Pilih jodoh seprofesi, atau beda profesi?"
banyak jawaban yang kutemui. Yang paling sering. "Ya, terserah nanti sejodohnya siapa."
hiih. Bukan itu jawaban yang kuharapkan -__-

jadi aku ganti.
"Kalau boleh milih, terserah dirimu pokoknya, mau jodohnya siapa, nah, mau milih yang seprofesi, atau beda profesi?"

hahaha. Yes! Jadi Diam. Hening. Ngga jawab. Wooy! Tidur ya?!
Aku kan mau bikin galau. Bukan mau menghipnotis. #sudah2 ais, jangan jadi gaje gitu ahh

"Oooh. Tapi aku gak mau mendahului kehendak yang Kuasa."

"Grr. Kan seandainyaaaa. Lempar nih." tanganku ngumpet di belakang kepala, siap2 ngelempar.

Langsung aja ya, ke jawaban.
Jawaban pertama
"Aku pengennya ngga aja deh. Pengen punya jodoh penyanyi, kayak super junior, kalo ga siwon, donghae boleh juga. Kalo ga kan masih ada 8 lainnya."yayaya. Agak susah masuk ke akal.




Jawaban kedua
"Sebenarnya enggak. Tapi kalo seprofesi dan dia itu spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sih gak massalaaah."
oke, aku doain deh. Masuk akal kok.


Jawaban ketiga"Aku enggak. Mau sama anak lulusan FEB UGM." spesifik ya. Pengen dapet pengusaha tuh.









Jawaban keempat
"Aku enggaaak. Pengennya anak teknik. Huahahaha."
dari jawaban itu, entah kenapa banyak yang retweet. Heran -___-


yaa, setiap orang berhak memilih. Tapi kalo milih kira2 yaa. Yang jelas harus bisa membimbing kita masuk surga hehehe.
Atau teman2 ada yang ingin menambahkan jawaban? Agar semakin kaya keberagaman di antara kita #apasih.

#ais belajar dulu hayoo. Ntar juga ketemu kok.
: zzz. Iya iyaa

Selasa, 22 Mei 2012

Jodohku [?] part 2

Bismillahirrahmanirrahim..

melanjutkan dari yang part 1

Kemarin bahas apa ya? Oiya ILMU SEPASANG BIDADARI. Sebenarnya ada bukunya sih. Mengenai sepasang bidadari. Yang  bikin ya kang Ippho Santosa itu. Teringat kata salah satu dosen tadi waktu lecture, "Setiap orang itu diciptakan pasti ada pasangannya, nggak bakal sendirian kok. Kalo ada yang belum paling itu cuma perkara waktu. Makanya jangan suka GALAU. Ntar juga ketemu. Hahaha." Padahal beliau sedang menerangkan determinan kesehatan. Nyampenya kesitu masak haha, gapapa lah ya, intermezzo (perasaan orang-orang kalo ngasih intermezzo soal jodoh melulu yak -__-). Kebetulan duduk di depan, dan sedang sibuk menanggapi Dinda yang berulang kali nyeletuk, "Iss, ngantuuuuk.." dan persis di depan saya beliau bicara. Jadi lupa sama celetukan Dinda dan langsung berubah air muka, grr, langsung senyum-senyum lebih tepatnya ketawa #ketahuan suka galau wkwk.

Yak, lanjut, apa itu Sepasang Bidadari? Ya, jadi setiap manusia itu ada di bumi diciptakan sepaket dengan sepasang bidadarinya. Masih belum bisa nebak? Kasih clue lagi (yang ini mengutip dari kata-kata Kang Ippho Santosa) "Apabila Anda berhasil membuat sepasang Bidadari tersenyum, pastilah Yang Maha Membalas serta merta mengulurkan tangan-Nya untuk Anda."

Sudah tertebak? Yaudahlah ya. Daripada kelamaan hehe. Bidadari yang PERTAMA adalah orang tua kita. Lebih lengkapnya adalah ORANG TUA DAN DOANYA. Tuh gimana sekarang? Menyadari nggak kalau mereka adalah bidadari pertama kita? Bidadari itu sesuatu yang dikonotasikan sebagai sesuatu yang indah kan?  Sudahkah mengindahkan orang tua kita? #nasihati diri sendiri. Memang terkadang suka lupa bahwa makhluk terindah yang diciptakan untuk kita itu ada di sekitar kita. Pernah juga sebenarnya diingatkan oleh ibu tercinta tentang hal itu. Tahu lagi Malaikat Juga Tahu?

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri

Ini nih yang beliau katakan kepada saya, anaknya hehe. "Tuh lho, itu lagu ceritanya tentang ibu yang sayang sama anaknya. Tetapi malah, anaknya itu sibuk mikirin pacarnya. Padahal kan orang tua jauh lebih sayang ketimbang si pacar. Sadar tho nduk?" Aduh ibuuuk, pacaran juga enggak.. Katanya nggak boleh pacaran, ya aku manut (patuh-red) sama ibu -___-. Habis ancaman yang kau berikan mengerikan buk, kalau aku pacaran. Sebenarnya bukan cuma itu alasannya haha.

Yaudah lanjut. Mungkin part ini akan aku teruskan di postingan yang lain ya. Kebetulan ini kan membahas tentang jodoh hehe, fokus.

Sekarang ke bidadari yang kedua ya. Siapa bidadari kedua yaa?? Hayoo tebaaak?! Hehe, bidadari yang kedua itu, ya yang akan kita bahas sekarang. Yang jadi judul postinganku sekarang. Bidadari Kedua : Jodoh kita !

Sekali lagi, saya bukan mau menjadikan blog ini sebagai web biro jodoh ya^^.

Seperti yang sudah kita bahas di part 1. Sekarang, kita ini sedang menunggu datangnya Bidadari yang Kedua #kecuali untuk pembaca yang sudah menikah ya. Bukan bidadari kedua namanya, tapi *piiiiip* itu diluar kuasa saya hehe.

Kita tidak pernah tahu siapa dan kapan kita akan bertemu jodoh kita. Tapi kita bisa berusaha 'memilih' jodoh kita hehe. Mau milih nggak?? Pasti milihnya yang BIBIT, BEBET, BOBOTnya unggul kaan? Caranya?
kata Kang Ippho lagi niih ehehe.

  1. Memohon kepada Yang Maha Menilai, berdoa sebanyak-banyaknya. Yakin deh, usaha ini nggak akan sia-sia.
  2. Memantaskan diri. Pernah dengar?

"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." (QS. An-Nur:26)

Itu dia maksudnya. Mau yang baik? Ya jadi baik dulu. Kalo masih kurang baik? Yah, dapetnya segitu-segitu juga lah ya. Nggak mau kaaan??
Jadi, misalnya ini, ibarat ranking, kita masih ranking 10, tapi nih, calon jodoh kita udah ranking 6. Makanya, kita belum dipertemukan dengan beliau oleh Allah, karena kita masih dirasa belum pantas mendampinginya. Jadi, kalo mau cepet, ya cepet juga memperbaiki diri hehe, kira-kira begitu #nasihati diri sendiri [lagi].

Kasih intermezzo lagi deh (ini dari pembicara yang sama waktu latihan kepemimpinan). “Saya selalu menyertakan foto ini di setiap slide saya.” Menunjukkan foto pernikahan seseorang, “Ini teman saya yang perempuan. Teman saya ini sering banget berantem sama teman laki-laki saya yang berdiri di sebelahnya.” Tahu maksudnya? Ya, teman beliau yang dulunya suka berantem itu, sekarang jadi SUAMI ISTRI! 


Senin, 21 Mei 2012

Jodohku [?]

Bismillahirrahmanirrahim..

Waah bulan mei!
Dan baru sempat posting sekarang. Kemarin kemana ajaaah? #sok sibuk
tapi, target tetap harus dijalankan. Posting, tetap harus dilakukan.
Yak, terkesima dengan judul di atas? Kayak judul lagu ya. Tapi postingan ini bukan mau membahas lirik lagu itu yaaa. Hehe, emang agak bikin mupeng itu judul. Ya kan ya kan? Tuh kan senyum. Eciee, jangan-jangan udah punya calon.

Tapi, jangan mengira, postingan kali ini akan membuat blog ini jadi biro jodoh ya. Hiks.

Haha, tiba-tiba ingin bicara soal jodoh, soalnya sudah banyak teman yang (sepertinya) mulai memikirkan hal ini, meskipun kami, baru semester DUA! Atau justru karena kami baru semester awal, jadi pikiran suka ke mana mana? #nunjuk diri sendiri, tuh jadi ketahuan, ais pikirannya suka kemana manaaah

Tetapi, ada faktor lain juga kook.. Entah kenapa di semester DUA ini, sebagian besar teman memilih untuk menjadi DUA. Bukan dengan membelah diri ya. Maksudnya adalah, banyak couples terbentuk di semester dua ini. Intinya banyak yang jadian di semester ini, dan yang (dikira) hampir jadian pun lebih banyak. Kalo udah gitu, langsung nyeletuk ke temen sebelah, "Ntar jangan kaget ya kalo aku sama si A, B, atau C." saking banyaknya prevalensi 'unpredictable couples' di kelas.

Jadi inget, kemarin sewaktu ikut pelatihan kepemimpinan, salah seorang pembicara pernah berkata mengenai jodoh. Nah lho? Kepemimpinan kok nyampe ke jodoh? Jadi begini, sebenarnya sang pembicara hanya memberikan intermezzo, so, bukan materi utamanya hehe.
Beliau bilang begini, "Kalian tahu, bagaimana saya bisa sama beliau?" nunjuk fotonya sama sang istri tercinta, (karena di salah satu slidenya ada foto beliau bersama sang istri) "Saya dulu bilang sama temen saya, suatu saat nanti, saya pasti NIKAH sama orang itu (istrinya-red)!" Terlihat yakin banget kan, dari nada beliau menyatakan pernyataan itu. Tetapi teman sang pembicara cuma menanggapinya dengan enteng. Gurauan saja, mungkin begitu menurut sang teman. Tapi buktinyaa?? Sekarang sang Pembicara itu dengan bangga mempersembahkan... WANITA ITU MENJADI ISTRINYAA!! #lebay



Hayo teman-teman sendiri gimana? Ahaha, sudahkah menunjuk mangsa, eh calon ma[ng]sa depan? Wkwk Kalo udah begitu, pikiran pun mengalami dilatasi #eyaak, "Apakah ada orang yang juga menunjukku dan mengatakan kalimat indah itu?" Tau kan kalimatnya yang mana?

Hehe, lucu juga kan ya, kalo berkhayal, ada orang yang menunjuk dengan yakin ke arah kita, kalau kita bakal jadi jodohnya. Eyaaak, siapa yang pengeeeen??? #pada rebutan angkat tangan

Hmm, sebenarnya sah-sah aja kok, mengutip kata kang Ippho Santosa, di mana teman saya yang bernama Robi'ah Al Adawiyyah aka Wiwi begitu menyukai tausyiah beliau, Kang Ippho mengatakan bahwa kita sekarang sedang menunggu Bidadari KEDUA kita. Hmm, okay, dijelaskan dulu, pernahkah teman tahu tentang ILMU SEPASANG BIDADARI?

Hayooo, tahu nggak?? Terus siapa bidadari yang pertama?

#to be continued

Minggu, 22 April 2012

Orientasi

Bismillahirrahmanirrahim
Sebenarnya agak galau malam ini. Teringat pertanyaan murabbiyah, ketika liqo' kemarin. "Bagaimana kondisi umat muslim, dewasa ini?" Aku hanya berkata, menuliskan, bagaimana kesalku, akan segala kesalahpahaman yang terjadi, antara umat Islam, dengan Diennya, dengan kitabnya, dengan Rasulnya, bahkan dengan Rabbnya. Bahkan, sebenarnya kekesalanku ini, kutujukan untuk diriku sendiri.

Mungkin, perbedaan status jadi membuat kita berbeda orientasi
perbedaan status bisa membuat kita berbeda paradigma

tetapi, bukankah kita punya misi yang sama?
kita punya pedoman yang sama
kita punya tujuan yang sama *seharusnya

pertambahan pengalaman membuat perbedaan itu semakin kentara
pertambahan usia mungkin juga jadi salah satunya
tetapi, aku juga pernah berpikir sama denganmu
lalu, kenapa aku tak bertindak sama denganmu?
karena aku tahu, dan harusnya kau juga tahu
tak ada anjuran untuk lakukan hal itu
di pedoman yang kita yakini bersama kebenarannya

bersikap frontal tak mungkin kulakukan
berkata bahwa kau salah, itu juga tak benar
karena aku, pernah salah
bahkan lebih sering darimu

apa aku hanya iri?
Allah, ampuni kami atas segala pemikiran yang bukan-bukan ini
Jagalah kami dalam naungan cinta-Mu
karena kami yakin, takkan pernah ada istilah Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, ketika itu hanya kami tujukan PADAMU

Sabtu, 14 April 2012

Ampun, dok.. Saya Ngantuuuk -___-

Bismillahirrahmanirrahim..
29 Maret 2012
Sudah sekian lama tidak update postingan.
Haha, di sela-sela baca-baca materi-materi (aduh, apa-apaan sih ini) yang nggak masuk-masuk buat DK besok, mending posting dulu lah ya hahaha.
Yah, hari ini alhamdulillah sudah melewati Ujian Tulis Knowledge ke-4 dan belum tahu hasilnya akan separah apa. Begitu liat soal, langsung muncul pertanyaan, "Ini REMEDNYA KAPAAAAAN.." udah ngitung-ngitung hari kapan jadwal remed, dan akankah memotong liburan untuk menutup blok BSHB ini ckckck.
Tenang AIS, blok BSHB masih 2 minggu lagi, yah, seminggu lagi lah ya. 'Tinggal' ujian identifikasi yang materinya segudang, sama skill lab kok zzzz. Oya, sama UTK ke 5. Semoga udah itu aja, gausah pake paket plusplus (baca: remed). (ini tertanggal 29 Maret 2012, wkwk)

Belakangan ini, jadwal kuliah sangat monoton. Kuliah-praktikum, DK-kuliah-praktikum, kuliah-DK-praktikum. Cuma berputar di area itu. Tapi, perputaran itu cukup bikin kita kewalahan.
Jadi suka begadang di malam hari. Paginya, mata merah, hidung penuh dengan mukus (lendir-red #gaya banget ya hahaha), tenggorokan gatel. Yah, jadi berasa mau FLU.
Kalo udah flu, mau ngapa-ngapain ngga enak. Sebenarnya flu tidak begitu menjadi masalah. Yang jadi masalah, ada suatu penyakit yang susah sekali disembuhkan. Penyakit ini baru akan muncul, ketika suasana kelas mulai hening. Ketika tangan ini baru saja menorehkan tanda tangan di lembar absen, wkwk. Ketika tatapan mata, mau tak mau harus mengarah ke depan. Ketika layar di depan sudah menunjukkan slide-slide 'menarik' yang harus kami pelototi, hmm. Penyakit itu semakin memuncak ketika, ada suara, "Assalamu'alaikum Warahmatullahi, wabarakatuh."
Tiba-tiba, bukannya menjawab salam, respon yang aku lakukan adalah, refleks mengantuk. Eyaaak..
Berbagai carapun sudah aku lakukan demi menghilangkannya.. Tapi, bukan AIS namanya jika tidak menemukan cara biar ngga ngantuk. Hahahaha. Bukan maksud sombong nih. Tapi, kreatif itu perlu supaya kita bisa bertahan wkwk. Mau tahu khaaan?? Yuk, the chap and the cuuzz... chapcuuzz (wkwk,tuh khan jadi alay)




  1. Duduk DI DEPAAAAN 

    Orang sukses duduk di depan. Itu kata-kata motivator waktu ikut ESQ jaman SMA. Ya, emang ngga ada salahnya kok. Akhirnya, aku mencoba untuk duduk di depan. Sebenarnya, aku sering di depan karena suka kesiangan. Yang kosong tinggal bangku depan, yaudah mau tak mau duduk di sana deh. Lama kelamaan, seakan-akan udah jadi kursi keramat. Orang-orang itu aja pasti yang selalu duduk di depan. Yah, biasalah, udah kultur, wkwk. Akhirnya sering duduk depan deh. Sebenarnya, duduk di depan bukan ngebikin kita nggak ngantuk, tapi, membuat kita untuk tidak boleh mengantuk! jadi, mengantuk itu tetap saja terjadi. Sebenarnya bisa dibilang, cara ini cukup gagal, hmm, belum cukup ampuh maksudnya, untuk membuat kita terhindar dari rasa kantuk.

  2. MINYAK KAYU PUTIH! 
    Yang ini terobosannya afika, bintang iklan piip. Haha, enggak ding, ini mantan temen sekamar. Hiks, ini terobosan ngga tahu maksudnya nyiksa, apa biar kita nggak ngantuk haha. Begini caranya. Ketika kita benar-benar sudah nggak kuat membuka mata dan berkonsentrasi, minyak kayu putih ini bisa menjadi andalan. Bukan hanya ketika perut kembung, mules, atau kepala sedang pusing. Jadi, buka tutup minyak kayu putih. Bolak-balik botol yang sudah dibuka, tapi bagian yang terbuka ditutup dengan jari. Nah, minyaknya kan di jari tuh, nah, oleskan minyak itu ke area sekitar mata. di bawah mata atau di atas. Tapi lebih pengaruh yang di bawah mata. Mau tahu efeknya? Pertama, mata jadi kedip-kedip ngga jelas dan ngga bisa melek. Ngga ngantuk sih, tapi ngga bisa MELEK. Haha, tapi kan berhasil ngga bikin ngantuk #ngeles aja kayak bajaj.. Kedua, temen sebelah jadi masang muka prihatin, dan cuma bisa bilang, "Kamu ngga papa kan? Emang matamu mules yah? Kok dikasih Minyak kayu putih?" #pasang muka sedih. Afikaaaa... caramu seolah membuatku menjadi seorang pesakitan huks.  
  3.  
  4. Ngeliatin temen yang lagi ngantuk juga
    Yang ini usulannya Dinda. Berasa senasib seperjuangan nih. Yah, namanya juga teman sejawat, ya nggak? Segala yang kita alami, pasti, terkadang dialami yang lain. Kalo ada yang nggak mah, itu perkara waktu #haha, nyari temen banget nih. Tapi, kadang, cara ini jadi hiburan tersendiri buat kita. Apalagi cara ini cukup ampuh, kalo di sebelah tempat dudukku itu Diyan. Wehehe, sering banget ngantuk, dan kadang pas dia yang nggak ngantuk, aku yang ngantuk, ini apesnya. Efek negatif kan, ngantuk emang selalu nular, bahkan sebelum sumbernya ngantuk duluan. Trus, jadinya abis itu aku yang nularin diyan. Haha, intinya Diyan sumber ngantuk, wkwk, ngga ding. Aku tularkan tips aneh bin ajaib dari Dinda itu ke Diyan, alhasil Diyan suka thingak-thinguk ke belakang, padahal kita sering duduk di depan. Untung, di baris kedua ada mangsa. Ngeliatin sebentar, trus liat ke depan. Ajaib, ngga ngantuk! Tapi jadi nggak konsen sama SLIDE hiks. Pas aku lagi ngantuk dan di sebelahnya pun, aku yang jadi mangsa. Selesai kuliah, dia bilang, "Makasih ya is, tadi pas kuliah aku jadi ngga ngantuk, hahahaha!" hiks, makin apes.
  5. PIJETAN
    yang ini dari Nurul. Waktu itu ngga kebagian duduk di depan #tumben. Duduk di baris nomer tiga dweh. Sebenarnya sekarang nyesel, karena materi kuliah pas itu asik banget. Tapi, apa boleh buat, kenyataannya aku sempet ketiduran 10 menitan, ngantuk banget!! Nah, habis tidur, sebenarnya, masih ngantuk banget, tiba tiba nurul nepuk nepuk pundak. "Is pegel banget nih, pijetin doong.." Yah, daripada ngga ada kerjaan mendingan aku tepuk-tepukin tuh pundaknya si Nurul. Alhasil, lumayan ngga ngantuk, tapi tangan pegel. Fiuuh..
  6. MAKAN atau MINUM SESUATU
    yang ini caraku. Haha, lebih seringnya makan permen. Lebih seringnya permen kopi. Lebih seringnya permen *piiiiiip sensor ahaha. Tapiiii, lagi-lagi ini permen efeknya cuma sementara. Cuma pas permennya lagi ada di mulut. Kalo udah abis, ngantuknya ada lagi. Alhasil, satu kali kuliah, bisa abis 5-10 permen. wkwk, yang ini lebai, palingan cuma 15 buah#glek? Boros banget ya? Ya, mau tahu caranya biar ngga boros? Minta temen sebelah. Temen sebelah ngga bawa permen? SEBARKAN TIPS INI, pasti besoknya dia bawa permen. Nah, minta deh ke dia. ahaha, jahaat. Masih nggak ngefek juga? Makan sesuatu yang lebih besar. Makan roti, atau yang lain. Makan temen sebelah juga boleh. Makan meja dosen juga boleh kalau mampu, silakan.
    1. Banyak pengorbanan ya haha. Emang sih masih belum teruji klinis tips-tips di atas. Yaa, buat lucu-lucuan aja. Mau dicoba semua silakan, ngga juga ngga papa. Silakan dipilih, yang paling ampuh gimana menurut Anda. Secara, setiap orang kan punya cara masing-masing. Tapi, kalo masih ngga ngefek juga dan memang benar-benar ngga kuat, yah, cuma ada satu cara biar ngga ngantuk yaitu
  7. TIDUR
    ini cara terakhir mengatasi ngantuk. Kalo aku, tidur lima menit di kursi, abis itu setelah bangun tiba-tiba ilang ngantuknya. Karena keinginan kita sudah terpenuhi ketika sudah tidur. Tetapi, kadang berubah juga. Kadang jadi ngga ngantuk, tapi lebih sering tambah ngantuk. Dilematis sekali.


namuun, apa daya, gaya gravitasi seakan menarik kelopak mataku untuk senantiasa mengarah ke bawah.. Ujung-ujungnya tidur juga. Yah, mau gimana udah ngantuk, ya obatnya cuma tidur. Tetapi, sekali lagi teman-teman, kalau mau mencoba silakan. Mungkin malah ada yang mau menambah tips? Silakan ditunggu tips tambahannya hehe. Semoga bermanfaat :)



SEMANGAT!

Bismillahirrahmanirrahim..
hiks, bulan april udah masuk pertengahan aja, dan progress blog masih gitu-gitu aja. Padahal selalu menargetkan paling ngga seminggu sekali ada postingan, huwaa.. Dasar nggak tepat waktu :(

Yasudahlah ya, sebenarnya postingan ini juga bukan berasal dari diri sendiri, alias masih copas dari tetangga hehe. Udah nelat, copas lagi, maaf :(.
copasan ini juga bukan sesuatu yang panjang dan menarik, karena ini cuma kutipan kalimat yang aku temukan di kala bergalau ria. Haha, kebetulan ini juga merupakan tugas dari Bu Menteri Kesehatan wkwkwk, engga ding.. Bu Menteri PSDM maksudnya. Hehe, buat mba Indri, aku doain tuh :P. diaminin yak haha.
Nah, daripada ini cuplikan kalimat cuma nganggur di folder, lebih baik kan disebarluaskan. Tapi, karena tugasnya cuma nyari 7 buah, ya aku cuma ngutipin 7 buah, ehehe. Silakan dinikmati, karena cukup bagus, bisa juga diterapkan di kehidupan sehari-hari :)


  • Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang di idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan - Mario Teguh. 
  • Berhati-hatilah dengan pikiranmu, sebab mereka akan menjadi kata2. Berhati-hatilah dengan kata-katamu, sebab mereka akan menjadi kebiasaan. Berhati-hatilah dengan kebiasaanmu, sebab mereka akan menjadi karakter. Berhati-hatilah dengan karaktermu, sebab ia akan menentukan nasibmu.
  • Masalah adalah rahmat yang tidak kita sukai, agar kita meninggalkan yang kita sukai tetapi yang tidak baik bagi kita. Sayangnya, hanya sedikit dari kita yang mengetahui bahwa masalah adalah batu pijakan yang menjadikan kita pantas bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan di tempat-tempat yang naik. 
  •  Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah. 
  • Ujian kehidupan itu tidak lebih sulit daripada ujian anak Sekolah Dasar, karena kita tidak dilarang untuk bertanya kepada teman, menyontek atau meniru, ataupun minta bantuan orang. Jadi, kenapa harus takut menghadapi ujian dalam kehidupan? 
  • Percayalah semua masalah dan rintangan yang kita hadapi bukanlah untuk melemahkan kita. Justru ini akan menjadikan kita lebih kuat, lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih sabar dan lebih beriman. 
  • Jika Cobaan sepanjang Sungai, maka Kesabaran itu seluas Samudra. Jika Harapan sejauh Hamparan Mata memandang, maka Tekad mesti seluas Angkasa membentang. Jika Pengorbanan sebesar Bumi, maka Keikhlasan harus seluas Jagad Raya. 
  • Waktu akan terasa lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu panjang bagi yang gelisah, dan terlalu pendek bagi yang bahagia. Namun Waktu adalah keabadian bagi yang mereka mampu bersyukur.

Hehehe, bagaimana sekarang? Sudah nggak galau kan? Apa malah tambah galau? hiks, gagal dong. Ya sudah, maaf yah, baru bisa posting hal yang seperti ini. Tetapi, semoga bermanfaat :)

Kamis, 15 Maret 2012

5 Wanita 1 Lelaki



Kami duduk bersimpuh mengelilingi
bejana yang kami isi dengan air mata kami.

Hingga bejana itu penuh, dan tak sanggup menerima 
luapan air yang hampir menumpahkan semua isi bejana.

Wanita pertama berdiri
mengacungkan tangan seraya berkata, "Harus ada bejana lagi!"


Sambil mengusap air matanya, wanita kedua berucap, "Kenapa tak kau saja yang pergi membelinya?"

Wanita pertama kembali duduk, namun tak mengindahkan ucapan wanita kedua.


"AKU??" jawab wanita pertama setelah ia merapikan duduknya.
Wanita kedua menunduk. Tak berani ia menatap wanita pertama itu.


"Kita masih terus menangis! Tak mungkin bejana ini mampu menampungnya!" wanita ketiga berkata di ujung tangisnya.

Terdengar suara tangis yang lebih keras. Ialah wanita keempat. 

Aku semakin meringkuk di sudut. Akankah mereka kembali menuntutku? Atau haruskah aku menawarkan diri dengan sukarela? Karena aku wanita kelima.
Karena hanya bejana itu yang kami butuhkan, demi menanti seseorang. Demi menanti 1 lelaki. 

taken from : Aisyah Aulia Wahida (facebook) 

Minggu, 11 Maret 2012

All day in room

Bismillahirrahmanirrahim..

Sebenarnya malam ini harusnya belajar anatomi buat praktikum besok.. Tapi, posting dulu lah yuaa. Refresh setelah seharian berkutat dengan tugas terstruktur dan materi diskusi kasus.

Yak, hari ini luar biasa sekali. Hari minggu yang membuatku benar-benar kram leher. Bangun jam setengah 5 pagi, sholat subuh, kemudian tak terasa, lihat jam udah jam 6 aja -____-. Sholat subuhnya 1 setengah jam? Enggak lah ya. Sholatnya 10 menit, trus bergeser dari sajadah ke kasur #efekkamarsempit. Wakakak, salah kamarnya dong, letak buat sholat cuma 5 senti dari kasur. #Eyaaaak, ngga boleh gitu ais!

Trus, kram lehernya kenapa? Gara-gara tidur? Enggaaaaaaaakkk!!! Kan belum selesai...
Bangun jam setengah 6 bikin sport jantung. Harusnya lebih siang, biar tidurnya agak lamaan. Zzz, gara-gara kalau udah bangun jadi inget tugas numpuk, ya gitu deh. Eyaaak, langsung geser 30 senti ke meja lipat alias meja belajar #inimejamaksabangetdeh
Berantakan banget yaah hahaha
Pake ada galonnya segala lagi. Itu sempit banget soalnya, kawan!

Setelah beralih ke posisi serius, langsung buka laptop sama BPM (Buku Panduan Mahasiswa). Ngelirik tugas terstruktur, dan segera mengerjakan. Tugas ini harus segera disetor kepada editor jam 10 pagiii!!
Hmm, jangan kira tinggal nyari bahan aja. Zzz, baca buku referensi anatomi  fisiologi berbahasa Inggris, buka BPM, baca kamus, dan cling... jam 8 tugas itu pun selesai... Yah, meskipun begitu, pekerjaan ini membuat leherku 'cleng-cleng'an. Tapi alhamdulillah, legaaaa...

Pepatah mati 1 tumbuh seribu memang berlaku di mana-mana. Begitu pula dengan tugas. Selesai satu, seribu tugas menunggu... Hahaha, semangat kaka.... Habis selesai TTK alias tugas terstruktur kelompok, ngebut mandi. Sebenarnya pagi itu sempet punya rencana mau ke GOR SATRIA ikut senam aerobik. Tapi, bayangan tugas nimpuk, eh numpuk, tekad itu tak terlaksana.
Habis mandi, selesaikan urusan, ngleseh lagi di depan meja. Ngebut nyari materi diskusi kasus. Dari jam 9 sampai jam 11 duduk di depan laptop, bikin kepalaku serasa mau lepas dari leher. Geser lagi dikit ke kasur. Nglendotin bentar itu kepala di kasur, trus bikin tugas lagi deh. Alamaak...

Perutku mengerut. Lambungku serasa mau menyusut. Tidaaak, aku kelaparan. Aduh, baru inget, belum sarapan. Dari tadi bangun pagi, cuma wara-wiri dari 'meja' ke kamar mandi. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamar. "Aiiss..." wah ada mba Indri.
"Ais, minta nomernya Luri ddoongs.."
"Oh iya mba, ada kok." aku kirimkanlah nomer luri ke beliau. Terus beliau mulai mengetik sms. Jadi Luri itu salah satu pedagang eh, warung makan yang enak. Bisa delivery lagi.
"Yah, ais, sebutin aja nomernya deh. Hehehehe" Yah embaak, oke deh..
"Eh, ternyata aku punya nomernya Luri looh.." jangan-jangan itu nomer yang aku kasih ke kamu tadi mbak -__-'
Ddrrt ddrtt... Balesan dari Luri datang.
"Maaf mbak, hari minggu Luri TUTUP.." Eyaaak, makin putus harapan nih perut. Dibilangin pesen ke Pak Yanto aja mbak..
Pesen ke Pak Yanto alhamdulillah endak tutup. Tapi, lamaaaaa banget. Pesen jam 11, makanan dateng jam setengah 1..
Makan kilat. Terus langsung sholat Dzuhur. Abis sholat ngejogrog lagi di depan meja maksa. Jam 1, kepala nggak kuat. Tidur 1 jam nggak papa kali ya.. Jam 2 bangun. Langsung buruan ke kamar mandi. Ngurusin rendaman cucian yang belum sempet disentuh dan dikucek dari tadi pagi. Makan aja kilat, nyuci juga aku bikin kilat deh. Setengah jam rampung. Tauk deh itu cucian bersih apa enggak. Tapi udah aku gosok-gosok pake sikat koookkk..
Setengah 3. Setrika. Hahaha, panas-panas gitu. Terpaksa. Besok Senin mau pake apa kalo nggak setrika. Semangat yo aiss...jam setengah 4 selesai. Mandi, siap-siap ada liqo. Apa itu? LIQO itu mentoring. Hehe, yah semacam sekumpulan anak galau ruhiyah, tapi belum tentu pas lagi galau juga sih, yang sedang mengadakan suatu kajian bab agama Islam. Lumayan lah hiburan. Akhirnya, bisa keluar dari kamar, meskipun tugas DK belum juga selesai.

Manajemen waktu memang harus diatur sedemikian rupa. Ini aja aku sempet ngeblog hihihi. Padahal belum belajar anatomi sama sekali. Yaudah deh, pamit dulu. Besok diterusin lagi kalau sudah lowong. Hikmah yang bisa diambil adalah, aturlah waktu, kalau perlu dibikin jadwal. Kalau nggak sempet, bisa pake to do list yang penting-penting aja. Itu cukup membantu mengurangi stress kok. Supaya kita nggak lupa sama apa yang sudah atau belum kita kerjakan. Jadi yang sudah dikerjakan nggak menuh-menuhin otak :) Seperti ini misalnya..
tulisannya agak lecek. Tapi yang penting manfaatnyaa hohohoho

Selasa, 06 Maret 2012

Apa yang membuatmu berubah? part 1

Bismillahirrahmanirrahim..


Assalamu'alaikum kak, gimana kabarnya? Lama tidak bertegur sapa.


Kak, masih ingat tidak padaku? Meskipun kita tak pernah dekat, tapi senang rasanya aku bisa mengenalmu.
Masih ada bayangannnya di otakku, ketika kau tergopoh-gopoh mencari temanku.


Tetapi, karena tak kau temukan dia, kau pun bertanya padaku, di mana orang yang kau cari berada.
Maaf, kak, saat itu, aku pun tak tahu di mana dia.
Kau berkata bahwa kau harus segera menemuinya, karena kau bilang, kau tak punya waktu lagi selain hari itu.
Kuarahkan mataku pada sesuatu yang kau bawa.
Sebuah buku.
Saat itu, kau putuskan untuk menitipkan buku itu yang ternyata adalah untuk temanku, padaku.

Tapi, saat aku melihatmu pertama kali, aku tertarik dengan penampilanmu.
Kostum yang kau kenakan sebenarnya biasa saja, seperti yang lain.
Setelan putih abu yang melekat dengan anggun di tubuhmu.
Namun, ada yang aneh.
Kenapa kau kenakan jilbab dobel, kak?
Memangnya kau tak kepanasan?
Semua orang tahu, di tempat ini, udara sangat panas.
Tapi, kenapa kau begitu?
Aku tertarik awalnya.

Tetapi, kini, kenapa kau tak seperti dulu saat aku mengenalmu pertama kali??
Aku tak melihat keanggunan lagi setiap aku melihatmu... Maaf kak, tapi itu yang aku rasakan.
to be continued...

Minggu, 04 Maret 2012

Polisi Lagi... Polisi Lagi... part 2


Siapa polisi itu??
Bukaaan, bukan Saeful Bachri, waktu itu beliau juga belum booming kok. Bapak polisi bilang, "Yaudah mbak, dianter ke rumah sakit aja, bisa ke rumah sakit Bunda atau PMI. Tapi, mbak bawa SIM dan STNK kan? Mana mbak?" Pak polisi lagi-lagi nodong SIM sama STNK, untung bawa, coba kalo ngga, alamat ditilang lagi niih.. Tiba-tiba nih, ada Bapak-Bapak nyeletuk, "Pak Polisi, mbaknya nggak salah. Yang salah Pak becaknya, mau belok kanan ngga liat belakang dulu." Tapi, tetap saja, mau yang salah aku atau siapa, harus ada yang nganter Bapak Becak ke Rumah Sakit.
Bapak Becak dianter sama temennya yang tukang becak naik becak, aku sama Dinda naik motor. Bapak korban udah jalan duluan, kami ketinggalan. Tapi, karena ngga tahu di mana itu rumah sakit, sempet nyasar. Akhirnya nanya deh, ke Bapak yang lagi kerja bangun rumah.

Sampai di rumah sakit. Bapak becak langsung dijemput perawat, dibawa ke ruang Bedah Minor. Apa banget nih. Katanya sih, karena mereka mengira ini korban kecelakaan, akhirnya, mereka meletakkan Bapak tersebut di Ruang Bedah Minor yang ada lampunya di atasnya. Aku keluar lagi, ngurus bapaknya yang ngenter tadi. Karena kasihan bapaknya juga mau cari duit, akhirnya kubiarkan pergi. Tadinya mau aku suruh nungguin sampe Bapak Korban selesai dirawat, tapi, kasihan juga. Akhirnya aku bayar deh biaya pengantaran, dan membiarkan beliau pergi.

Dinda ngurus administrasi. Bolak-balik dari Ruang Bedah Minor, ke loket administrasi.
"Ini mbak, diisi dulu. Nama Bapaknya siapa Mbak?"
"Waduh, ngga tahu Bu. Coba, saya tanya dulu." Ke ruang bedah minor, "Pak Muhardi, Bu."
"Usianya?" balik lagi ke Ruang Bedah Minor.
"Bapaknya Ngga tahu usianya berapa Bu.. Katanya 70an gitu, Bu."
"Alamatnya deh, mbak. Kalo nggak sekalian KTPnya." zz baliiik lagiii..
"Kecamatan Kembaran, Bu. Bapaknya ngga bawa KTP bu."
"Nama orang tuanya?" zzzzzzz, tuh ibu-ibu pengen aku remet-remet. Nanya kok nggak sekalian aja...
"Yaudah deh, bu. Apa aja yang perlu saya tanyain ke Bapaknya? Biar ngga usah bolak balik." -____-

Selesai urusan administrasi, ngeliatin bapaknya lagi dirawat. Lukanya ditutupin eh, diobatin sama perawat. Setelah itu, aku capek, pindah ke ruang Tunggu.
"Nih, is lecet.."
"Haaah?? Dind??? Kok nggak bilang??? Ya Allah... iya, sampai sobek celanamu.. Aku ganti deh..."
"Ngga usah is, ngga papa kok. Lagian aku beli celana ini cuma 25 ribuan." Dinda...Dinda... celana trainingnya sampai sobek di bagian dengkulnya.

Dokternya datang. Masih muda, kulitnya putih, mata sipit. Kayak anak boyband gitu. Tapi, judesnya minta ampuuun. "Mbak, itu bapaknya dibeliin minum, beliau agak dehidrasi." Mukanya datar banget, lebih tepatnya agak jutek. Yaudah deh, manut aja.Kayaknya jaman dulu Pak Dokter ngga lulus blok PDSKE (blok komunikasi efektif), makanya jutek. Setelah itu, kata perawat harus nunggu setengah jam, buat diobservasi. Apakah terjadi gegar otak ringan atau tidak. Sambil nunggu, kita ngajak bapaknya ngobrol.

"Maaf, ya pak, saya tadi juga agak bingung, soalnya bapak nggak ngeliat belakang. Saya mau berhenti, tapi di belakang saya juga ada motor.."
" Maaf juga ya mbak, saya juga salah, Maklum sudah tua." 
Bapaknya pun bercerita tentang anak-anaknya, istrinya, dan lain-lain. Yang bikin agak miris adalah, bapaknya sudah agak sepuh, dan tangannya agak tremor.

Masa observasi selesai. Alhamdulillah, bapaknya nggak kenapa-napa. Tibalah waktu pembayaran. Hmm, karena di rumah sakit swasta, biaya cukup mahal. Sekitar 150 ribuan lah, lupa tapi hehehe...
Kemudian, aku dan Dinda kembali ke pos polisi untuk mengambil SIM dan STNK. Kami sekalian nganter bapaknya ikutan. Bapaknya naik becak. Kita cariin becak lagi deh. Bukti, kalau kita sudah melaksanakan perintah pak Polisi.
"Lain kali hati-hati pak. Kalau mau nyebrang liat belakang dulu." kata pak polisi ke bapak korban
Selesai perkara. Aku ke Bapaknya tukang becak lagi. "Pak, gimana? Mau dianter sampai rumah atau ke Pasar Wage lagi aja?"
"Ke pasar wage aja mbak. Saya minta ganti rugi juga, mbak. Saya kan ngga bisa narik selama seminggu, Saya minta 200 ribu aja cukup mbak."
Waduuh. Pikir-pikir 200 ribu itu banyak lo. Mana nggak bawa uang. Uangku udah abis buat ngganti biaya perawatan. Akhirnya, bernego agak sengit dengan bapaknya. Membela diri, kalau kita itu perantau, nggak punya duit, udah mau pulang kampung, dan sebegainya.
"Maaf pak, kita nggak punya uang, saya cuma bisa ngasih segini. Lagian juag tadi saya udah ngganti biaya pengobatan. Bapak juga cuma lecat-lecet kok. Nggak sampai seminggu libur narik." DEAL. Aku cuma ngasih 50 ribu. Itu juga minjem uang PSDM. Tapi, tenang, udah aku balikin kok sekarang. Tiba-tiba...
"Mbak Aisyah, sini deh." terdengar suara memanggil dari dalem pos polisi., "Tadi mbak Aisyah ngasih bapaknya uang ya?"
"Iya pak. Bapaknya minta ganti rugi,"
"Berapa?"
"50 ribu, pak."
"Ikhlas?"
"Alhamdulillah ikhlas." Tadinya agak nggak rela. Tapi, setelah bilang kalimat itu. tiba-tiba plooong.. Makasih Pak Polisi ^^
"Yaudah, lain kali ngga perlu mbak. Toh, mbak juga udah bayar biaya perawatan rumah sakit. Lagian, mbak juga nggak salah kok."
"Oh, iya pak. Makasih.."
Cabut dari pos polisi. Yah, ada pelajaran yang bisa diambil. Jangan mau diperas siapapun. Meskipun memang bapaknya kasihan, tapi tetep aja bisa merugikan aku, sebagai pihak yang tidak terlalu bersalah, hehe.
Karena sudah siang, dan masih harus ke bank, serta mengantri dan bla-bla-bla, aku akhirnya ngga jadi pulkam hari itu. Akhirnya aku pulang kampung leesokan harinya, hiks ...

Polisi Lagi... Polisi Lagi...

Bismillahirrahmaanirrahim..

Sebenarnya ingin berbagi pengalaman. Siapa tahu bermanfaat. Kejadian ini terjadi tanggal 9 Januari 2012, pukul 10.12. Wkwk, untuk jamnya saya cuma mengira-ira, lupa tepatnya jam berapa, tapi yang jelas jam segituan lah.
TETAPIII, sebelum menceritakan kronologi kejadian, cerita kejadian sebelumnya yaaah hahaha.
Kebetulan, hari itu ulang tahunnya salah satu teman kosan, yakni Yahdiyani Razanah a.k.a Diyan. Wkwk, maaf yan, hadiahku belum nyampe ke kamu ya hahaha *belum ngado maaf ya hiks. Jadi, aku dan Fathia bermaksud memberi kejutan, tapi, sederhana aja, cuma disiram pake aer. Trus udah, abis itu, aku sekalian mandi. *maaf yan, perayaan ulang tahunmu nggak banget hahaha

Abis itu, rencana mau ke kosan Dinda, lalu pergi ke Bank. Nabungin uang PSDM yang masih di aku. Abis nabungin uang, rencana mau pulang kampung hari itu juga. Udah kangen rumah haha, maklum masih libur waktu itu. Sekarang mah, udah masuuk TT. Tetapi, rencana tinggallah rencana hiks.

Di kosan Dinda, agak lama, nungguin Dinda bukain pintu gerbang kosan 2 menit. Gara-gara hape Dinda kalo di SMS ngga bunyi, baru bunyi kalo ditelpon. Baru tau kenyataan itu pas LKMM kemarin juga zzz.
"Pantes, kalo di SMS ga bales-bales", kataku.
Kata Dinda, "Makanya telpon ajaa".
Hissh, "Mana punya pulsa akuu," protesku.
Dia jawab lagi, "Makanya beli pulsa di aku. Sekarang aku jualan pulsa lhooo..." tuh kan, ngga nyambung, malah promosi.
Abis dibukain gerbang, ngga langsung berangkat. Tapi, aku lupa ngapain dulu gitu. Pokoknya, sambil nungguin Dinda aku main The SIMS 2 yang ada di laptopnya dia. Sumpah, ini mainan nguji kesabaran banget. Loadingnya, lelet banget. Cuma mau action ngomong aja pake nunggu 15 menit biar muncul tulisannya. Zzz, pantes, orang yang punya aja gitu *wkwk, maaf dind ^.^v, tapi kan yang penting namamu udah aku cantumin di blogku huahaha.

Akhirnya Dinda selesai siap-siap. Tapi, mainan the SIMSku ngga selesai. Yang ada, aku udah pasrah banget sama kelemotan itu mainan. zz, padahal sebenernya asik lho. sik asik sik asik mainan the sims #nadanya ayu tingting. #plaaak, apasih ais ngga jelas.

Keluar dari gerbang, ngga ada masalah. Keluar dari gang, sedikit masalah. Jalannya agak curam naik, sekitar 75 derajat kemiringan kali yak. Gara-gara ngebonceng orang, jadinya harus pake gigi 1. apalagi Dinda yang aku boncengin, huahaha. Jadi begini kronologinya.
Jalanan udah mau naik, di perjalanan, jalannya berlubang penuh kerikil dan digenangi air. "Bisa kan Ais?"
"Bisa, Dind, Insya Allah. Udah kuat kok."
Pas udah hampir ke puncak, aku lupa, "Aduuh, masih gigi 2. Gimana nih?" harusnya udah gigi 1, kalo ngga, ngga bisa ke puncak zzz. Mau berhenti, ntar melorot ke belakang, tapi kalo mau ngurangin, harus nggak digas motornya.
"Aduuh, nggak kuat Dind.." aku mendesah, sambil tetep ngegas. Tapi, mungkin Dinda nggak dengeer hiks.
"Ayoo, AIS PASTI KUAAAT... AIS PASTI BISAAAA!!" Tapi, pas Dinda ngomong gitu, motorku melorot, hiks. Dan apa yang dilakukan Dinda? Bukannya turun dia malah tetep duduk nangkring di jok, padahal aku udah nggak kuaat... hosh hosh hosh. Tetapi, energi postif dari Dinda membuatku tetap bisa melangkah ke depan #glek, itu udah sekuat tenaga ngegas bentar, terus berhenti ngegas, dikurangin ke gigi 1. tapi sempet meloroot juga. Hahaha, jangan dibayangin, soalnya kalo diliat lucu banget kondisinya.

Masalah kecil, selesai. Perjalanan dilanjutkan. Masih biasa. nggak ngebut kok. tapi, pas di depan kompleks Pasar Wage.. kejadian itu terjadi.... Masalah BESAAAAR
Sebenarnya masih asik ngobrol sama Dinda, tapi aku masih fokus liat ke depan. Terus, tiba-tiba ada pak becak yang mau ke arah kanan, ke arah kompleks pasar wage gitu. Tapi, aku udah keburu di belakang bapaknya, niatku, aku mau nrabas bapaknya, biar aku aja yang lewat dulu, karena waktu itu, motorku agak ke arah tengah jalan, tetapi, aku gak sempet nglakson untuk ngasih tau bapaknya biar berhenti sebentar, buat biarin aku lewat, Alhasil, bapaknya tetep nggenjot itu becak, dan akhirnya, AKU NABRAK bapak TUKANG BECAK.

Sesaat setelah nabrak, aku menyeimbangkan motorku, Dinda, untung nggak jatuh. Motorku juga untung Alhamdulillah nggak sampe lecet-lecet. Terus, karena sadar udah stabil, maskipun masih shock, aku jalan terus. Aku jadi lupa kalo abris nabrak orang. Kirain bapaknya akan baik-baik saja, tetapi ternyata..
"Mbaaaak... Woyyy, jangan lariiii..." aku liat di spion, ada sesosok terkapar di aspal, dengan becak terbalik di sampingnya. Glek, bapaknya gemetaran di aspal. Aku langsung puter balik.

Parkir di tempat seadanya, terus ke arah bapaknya. Becaknya udah diamankan, tapi, bapak becak masih bertanya-tanya, "Becakku piye, becakku piye...(becakku gimana, becakku gimana...)". Berdiri diam, bingung mau ngapain. Speachless. Bapaknya udah tua banget. Aku liat di kaki bapaknya. Berdarah. Nggak, biasa aja, aku nggak takut sama darah kok, wkwk. Tapi, kayaknya, bapaknya cuma lecet-lecet sedikit. Mungkin beliau agak shock. Begitu pula dengan aku dan Dinda. Hiks..

Akhirnya, tanpa sadar, di sebelahku ada bapak Polisi. Apakah Saeful Bachri??
To be continued... 

Sabtu, 25 Februari 2012

MARI BELAJAR BAHASA JAWA

Bismillahirrahmanirrahim..

Yuk, lagi aktif posting nih. Hahaha, tapi, karena tidak ada inspirasi tentang apa yang akan diposting, jadi mau copas aja deeh hehe, pisss...

Tapi, maaf banget nih, saya lupa sama sumber dari postingan ini, tapi yang jelas, ini lucu sekali, meskipun kadang agak kasar.
jadi begini, saya hanya ingin menceritakan kebanggaan saya sebagai orang Jawa TULEN. Kenapa TULEN? Karena saya adalah keturunan dari seseorang yang bernama Kakek Martodhikromo. Itu nama kakek saya. Hahaha. Jawa BANGET THO? Tapi tenang, wajah saya kearab-araban kok *kabur, hampir dilempar sandaaal..
 Nah, saking bangganya saya sama JAWA, kebetulan saya mendapatkan suatu yang menarik tentang bahasa Jawa yang belum diketahui banyak orang. apa itu? Check THIS OUT!!!

copas dari sebuah grup:
School of Oriental and African Studies (SOAS) London, menetapkan bahasa Jawa sebagai bahasa wajib dipelajari mahasiswanya.

Karena berdasarkan Summer Institute for Linguistics (SIL) Ethnologue Survey 2011, penutur bahasa Jawa di dunia ternyata berjumlah 77,75 juta orang, lebih banyak daripada penutur bahasa Korea yang sebanyak 76,5 juta orang maupun bahasa Perancis yang hanya... sebanyak 76 juta orang.
...
Kemudian, berdasarkan penelitian, penggunaan bahasa Jawa lebih efektif dibandingkan bahasa Inggris sekalipun, setidaknya dalam 29 contoh berikut:
1. walk slowly on the edge (side) of the road = mlipir.
2. fall backward and then hit own head = nggeblak.
3. got hit by a truck that is moving backward = kunduran trek.
4. talk too much about unimportant thing = cangkeman.
5. smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it = mblonyo.
6. going without notice/permission = mlethas.
7. taking the longer way to get to the destination = ngalang
8. riding an old bicycle = ngonthel.
9. falling/ tripping forward (and may hit own face = kejlungup.
10. side effect after circumcision = gendhelen.
11. hot pyroclastic cloud rolling down a volcano = wedhus gembel.
12. a small, sharp thing embedded inside one's skin = susuben/ ketlusupen.
13. spending a lot of time doing nothing =mbathang.
14. feeling uncomfortable because there is something that smells bad = kambon.
15. things getting out from a container accidentally because of gravity = mbrojol.
16. get hit by thing collapsing on top of one's head/ body = kambrukan
17. drinking straight from the bottle without using glass, where whole bottle tip gets into the mouth = ngokop.
18. cannot open eyes because something is shining very bright = blereng.
29. cannot hold bowel movement = ngebrok.
20. something coming out from one's rear end little by little = keceret/ kecirit.
21. hanging on tightly to something in order to be inert = gondhelan.
22. falling/ tripping accidentally because of a hole = kejeglong.
23. doing something without thinking about the consequences = cenanangan.
24. being overly active carelessly = pecicilan.
25. feeling unwell because of cold temperature = katisen.
26. making too much noise, disturbing other people= mbribeni / mblebeki.
27. tripping over accidentally caused by wires, cloths, gowns etc. = kesrimpet.
28. being alone (or with a companion) in the corner of a place/ room doing something suspicious= mojok.
29. pretend to be homeless, no money and never take shower=nggembel

BUAT YANG MAU BELAJAR BAHASA JAWA, bisa menggunakan postingan di atas sebagai KAMUS SINGKAT. HAHAHA. Kabuuurr aah

Ada lomba cerpen niih!!!



Bismillahirrahmanirrahim...

hehe, lagi-lagi posting. Sebenarnya postingan ini cuma buat memberi info saja, ada lomba menulis cerpen lo. Nama lombanya MJEDUCATION Storiette Competition 2012.

Lomba ini bisa diikuti sama kita-kita yang masih kalangan pelajar. Karena tujuan dari lomba ini adalah untuk memperingati HARI PENDIDIKAN NASIONAL.

Emang sih, Hardiknas masih lama, tapi, justru itu, infonya dari sekarang biar bisa siap-siap buat nulis cerpen untuk ikutan lomba ini. Seru loh, hadiahnya menarik deh ^^

So, ayo teman-teman yang berminat bisa ikutan daftar, cara daftarnya plus panduan segala macem tentang lomba ini bisa diliat di MJ Education website

Ayo pada ikutan yaaaaah ^^

Kamis, 23 Februari 2012

Mengapa Kita Semakin Berbeda

Bismillahirrahmanirrahim..
hehe posting lagi. sebenarnya mau posting puisi, tapi aku kasih tau dulu latar belakang puisi ini yah.
Puisi ini dibuat karena ada lomba baca puisi tingkat SMA. Tingkat SMA 3 maksudnya. Jadi yang ikutan ya anak smaga semuaa. Hehe. Nggak usah kaget gitu ah, wkwk. bukan lomba baca puisi tingkat Kota ini.
kebetulan, yang mengadakan adalah ROHIS smaga. Mantan organisasiku dulu. Waktu itu kebetulan kelas 3 SMA, jadi sudah tidak didapuk menjadi pengurus harian.
Lupa, sebenernya lomba ini buat memperingati apa. Tapi, yang jelas, anak holometabola nggak ada yang mau ikutan lomba ini. Grrr. ada yang pinter baca puisi, tapi males bikin puisinya. FYI, lomba ini adalah lomba kreasi dan baca puisi. Jadi, yang mbaca puisi, juga harus yang nulis puisi. Eh, maksudnya, yang nulis puisi, juga harus membacakannya di lomba tersebut.
So yaudah deh, karena nggak mau kena denda gara-gara nggak ikutan lomba, aku terpaksa bikin puisinya. Tapi, aku nggak mau yang jadi pembaca. Akhirnya Khairunnisa Hanan Yancadianti lah yang diutus menghadiri lomba ini.
Ini puisinya, rada gimana gitu. Yah, orang setengah jam jadi ya gini deh -_____- apalagi endingnya agak nggak ketata wkwk

Mengapa Kita Semakin Berbeda
Wahai saudaraku,
Aku lihat, kini kiasan tentang kita sudah berbeda
Apa yang berubah?
Kita masih punya agama!
Bukankah kita akan selalu yakin, kalau Tuhan itu ADA?
Kalau Allah itu ADA?


Wahai saudaraku,
Aku lihat, kini semangat perjuangan kita di jalan ini semakin berbeda
Apa yang berubah?
Kita masih diberi nikmat oleh-Nya!
Bukankah itu seharusnya membuat kita semakin mengokohkan keyakinan kita?


Wahai saudaraku,
Aku lihat, kekuatan keyakinan kita semakin ambruk saja
Apa yang berubah?
Kita masih punya ALLAH !
Bukankah kita di sini untuk beribadah kepada-Nya?


Wahai saudaraku,
Aku sedih, kini kita mulai sering merasa hidup ini tidak adil
Apa yang berubah?
Segala kesulitan ini bukanlah ketidakadilan ALLAH,
Tapi, ujian apakah kita sudah cukup kuat iman
Bukankah hidup tidaklah selalu mudah?


Wahai saudaraku,
Aku tahu, bagaimana dan apa saja yang kau alami,
Karena, bukan hanya kau, tapi juga aku
Apa mungkin, karena niat kita sudah tidak bersih?
Apa mungkin, karena dunia ini melebihi apa yang akan kita alami nanti?


YA ALLAH !
Jauhkan kami dari segala keraguan tentang-Mu
Ampuni kami atas segala kelemahan iman ini
Tunjukkan kepada kami bagaimana jalan yang Kau ridhoi
Amin amin, ya robbal alamin


*karena Hanan yang ikutan lomba, jadi pengarang puisi ini pun di'alias'in. Haha, maksudnya, dipindahkaryakan #glek, apa maksudnya? makin nggak jelas. Ya pokoknya gitulah. Tetapi ternyata, pas aku melihat database hasil lomba, kelasku jatohnya ada di daftar kelas yang kena denda. Whaaat?? Kata teman-teman juga, Hanan menghilang pas lomba. Lho?? Nan, kamu kemana?? Pas Hanan aku tanyain, dia malah bilang, "Lha aku nggak tahu og, kalau ada lombanya." HANAAAAN?? zzzz tapi, untungnya kelasku nggak jadi didenda. Hahaha, adeknya takut kali yah mau minta denda ke kakak kelas ^^

Kamis, 09 Februari 2012

Salam PWT (Tilang yang 'Asik')


Bismillahirrahmanirrahim..
Sudah lama tidak posting mengenai kehidupan nih hehehe. Padahal sudah hampir setengah tahun mengalami perubahan hidup yang cukup signifikan. Alhamdulillah, kali ini, ingin menceritakan pengalaman, ketika sudah berganti status. Bukan status relationship yah, itu mah masih sama aja, hehe masih lajang, alhamdulillah.
Mahasiswa. Sebelumnya sudah ada posting mengenai itu, ya. Tetapi, itu bukan pengalaman pertama. Ada pengalaman yang cukup menarik. Terutama dengan kota (atau desa?) yang menjadi domisiliku saat bersatatus mahasiswa.
Menghabiskan masa SMA di kota besar, yaitu Semarang, membuatku jadi suka hidup yang simple-simple saja. Maklum, di kosanku waktu SMA dulu, sangat gampang kalau mau mengakses fasilitas yang cukup mewah (?). sebenarnya tidak bisa dibilang mewah-mewah banget juga sih. Tapi, hal ini tidak bisa ditemui di rumahku, di desa. Contohnya, mau beli buku, gampang. Tinggal keluar gang, belok kiri, sampai deh. Mau belanja kebutuhan bulanan apalagi, tinggal pilih, mau ke Hyp**mart, itu belok kanan, atau Carre***, belok kiri (tapi agak jauh, hehe). Butuh internet? GAMPANG. Tinggal nyalain laptop, terus tekan tombol wifi. Tunggu sesaat. Cari sinyal yang namanya DINBUDPAR. Tanpa password, tinggal connect. Parah bangeeet, mau download film, yang gedenya sampai 700 MB atau lebih, nggak nyampe 1 jam, ckck.
Tetapi, sekarang, kehidupan berubah. Setelah hampir 2 bulan menghabiskan waktu di rumah, tanggal 6 September 2011, aku harus ke PURWOKERTO. Sebenarnya sebelumnya sudah sempat ke sana untuk mengikuti OSPEK UNIVERSITAS, dan OSPEK FAKULTAS. Tetapi, belum ada pengalaman menarik. Jadi, skip aja ya hehehe.
Keadaan itu memaksaku untuk bertualang wkwk. Maksudnya mencari tempat belanja bulanan hahaha. Karena kebetulan kampusku ini terisolir dengan jurusan lain, jadi, fasilitas yang kami dapatkan tidak sama dengan yang didapat mahasiswa dengan universitas yang sama denganku, hiks. Jadilah aku dan teman-teman yang lain harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mendapatkan barang-barang yang kami butuhkan, hmm.
Lanjut, hari itu, sehari selepas masa ospek selesai, tanggal 11 September jam 2 siang, aku dan teman satu kos memutuskan untuk refreshing. Hahaha, kami bukan pergi ke mall, (karena tidak ada mall :3 ataupun bioskop, karena nggak bisa diandalkan nih bioskop, hiks), jadilah kami pergi ke apa ya namanya, mungkin sejenis toserba ‘like a mall’. Judulnya MORO. Kami berlima naik motor. Tapi bukan hanya 1 motor ya, ada 3 motor, aku lupa susunannya, pokoknya aku sendiri, nggak ngeboncengin siapa-siapa.
Sebelum berangkat aku sempat bilang,“Di, itu lampu motormu kok nyala sih. Hahaha, dimatiin doong.” Akhirnya Diyan mematikan lampunya. Tetapi, ternyata, hal itulah yang membuat kami semakin terperosok, eh, terjerumus, eh, apa ya, pokoknya itulah yang membuat nasib kami semakin buruk.
“Lalala…lalala..lalala..” hati-hati aku menaiki motorku. Tidak ada firasat buruk. Sampai akhirnya, di depan ada lampu merah. Tenaaaang, kami sadar kok kalau ada lampu merah. Tapi, ada hal lain yang membuat kami tertimpa nasib buruk. Oh ya, FYI, kami bertiga berhenti tepat di depan marka sebelum lampu merah secara berjejaran, tetapi ternyata, hal itulah yang membuat kami menjadi perhatian dari pihak yang memerhatikan.
“Mbak-mbak silahkan minggir ke sana ikut saya.” Seorang bapak menaiki motor gedhe tiba-tiba menghampiri kami bertiga. Waduh, kita salah apa??
“Mbak, bawa SIM dan STNK?” bla..bla..bla.. entah perasaanku kabur atau gimana tiba-tiba aku sudah berada di dalam pos polisi, hiks.
Di dalam kami dijelaskan, ternyata, kami melanggar marka yang ada di jalan. Marka yang harusnya untuk pengemudi yang mau ‘belok kiri jalan terus’ itu. Tapi, jujur, kami bertiga tidak melihat ada garisnya. Beneraaan!!! Garisnya udah BLUUR!!!
“Maaf, pak, kami minta maaf. Bener deh, pak.” kata Diyan (si protagonis).
Tapi, aku bilang, “Loh, pak, itu garisnya udah ilang. Gimana kami bisa ngeliat pak. Ya mana tahu kalau kita ngelanggar?” di satu sisi ada yang sudah mengalah, tapi, aku masih nggak terima (Jadi di sini aku jadi pemain antagonisnya). Sedangkan si Viny sama Fika yang pembonceng jadi tritagonis, yang bingung mau ngikut yang mana. Satu lagi, si Fathia, agak ngotot pengen di pihakku, tapi juga agak bingung (kayaknya).
Entah mimpi atau gimana, tiba-tiba aku bilang,“Lho pak, itu ada juga yang ngelanggar.”
Tiba-tiba bapaknya bilang,“Mbak, mencari kesalahan orang lain itu memang gampang. Mbak, saya itu bukan orang pinter yang bisa nyari kesalahan orang banyak. Tapi, justru itu, saya juga ndak mau suka nyari-nyari kesalahan orang lain mbak.”
“Laah, brarti SAYA BODOH pak??” GUBRAK!! Aku kenapa coba. Waktu itu, benar-benar terbayang kalau aku ini habis makan durian kebanyakan. Jadi mabuk durian dan ngomong jadi ngelantur nggak jelas, zzz.
“Mbak ini, masih pada kuliah ya?” sebelumnya kami sudah sempat senggol-senggolan, “Ssstt, pokoknya jangan sampai Bapaknya tahu kita ini mahasiswa jurusan ini. Bisa berabe, baru aja selesai ospek udah bikin masalah." Tetapi, ternyata pesan itu tak tersampaikan ke temanku yang duduk paling tengah. Zzzz, DIYAAAN, kamu dari MANAAAAAH?? Waktu tadi kita senggol-senggolan, kamu lagi kesenggol APAAAAH?? Memang sih, Diyan nggak sengaja di skip waktu ada senggol-senggolan. Kirain dia denger, lah, ternyata…
“Iya pak.”
“Ooooh, jurusan apa?”
“Jurusan kedokteran pak.” Dalam hati pengen tereak, Diyaaaaan!! 
Yaudah, alhasil bapaknya tahu, kita anak mana, kampusnya di mana. Tiba tiba bapaknya nyambung.
“Oh, ya, istri saya juga orang kesehatan juga. Beliau ngambil S2 di bidang kesehatan juga kok, dek. Jadi, kita masih bisa saudaraan ya.” Pak? Saudaraan cuma karena sama-sama belajar hal yang sama? Yaudah, deh, ndak apa-apa, toh kita juga sesama muslim saling bersaudara.
“Naaah, itu dia pak. Karena kita bersaudara, makanya tolonglah pak, jaga silaturahmi. Jadi tolong, Pak...” Diyan meminta belas kasihan. Aku udah nggak mood ngomong sebenernya. Udah hampir setengah jam diceramahin sama Bapaknya.
Pokoknya, hari itu, aku lupa ngomong apa aja sama Bapak Polisi itu. Tetapi, sepertinya Bapak itu paling marah sama aku. Namaku ditulis paling pertama di SLIP penilangan. “Yaudah Mbak Aisyah sidang aja ya. Ini tanggalnya, nanti STNK bisa diambil waktu sidang. Mbak Aisyah ada dua pelanggaran, yang pertama meLANGGAR GARIS, yang kedua TIDAK MENYALAKAN LAMPU.” Aku pengen teriak beneran, DIYAAAAAAAN!!!. Dan alhasil kami bertiga punya kasus penilangan yang sama. Kita dikasih surat tilang buat ngganti STNK yang disita.
Sebetulnya sebelumnya udah usaha mau titip aja, ke Bapak Polisi, nanti, bapaknya yang dateng waktu Sidang, tapi kita bayar 100 ribu dulu. Kembalinya bisa diambil waktu sidang. Tapi, sama aja, STNKnya tetap aja disita. “Titip ajalah, PAK. STNK kita yang bawa…” tapi Pak Polisi tetap tidak mau. Yasudah kami putuskan sidang.
Subhanallah yah, pak Polisi di PWT (PURWOKERTO) hebat. Yah, meskipun akhirnya sidang juga, tapi ndak papa deh, jadi pelajaran, kalau sidang itu ternyata menyenangkan. Hahaha, menyenangkan kalau datangnya pas SIDANG UDAH SELESAI, alias terlambat. Soalnya pas hari Kamis tanggal 29 September 2011 itu kita ada kuliah jadi nggak bisa bolos cuma buat sidang, nelat deh. Tapi, justru karena telat itu, urusannya jadi gampang. Hehehe, tinggal duduk, bayar denda, selesai. STNK kembali di tangan. Tapi ya kalau bisa sih, JANGAN TELAT. Oh ya, selalu pilih jalur yang jujur juga. Karena uang kita kan jadi masuk ke KAS NEGARA. Tapi, yang jelas, jangan SUKA MELANGGAR dan BIKIN PAK POLISINYA BETE. :)

Jumat, 03 Februari 2012

Goes To Special 'Party'

Masih suasana liburan, tetapi, pagi itu, aku mandi lebih awal dari biasanya. Hari ini, ada acara di sekolah adikku, yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Dengan bis, mungkin sekitar 45 menit baru sampai di sana. Dan bayangkan, tiap hari adikku harus menempuh perjalanan selama itu hanya untuk sampai di sekolah, dengan usianya yang masih 10 tahun. Luar biasa ya, hehe. Lalu kenapa adikku harus sekolah jauh-jauh? Apa tidak ada sekolah yang lebih dekat?
Kujawab dulu pertanyaan kedua, hmm, sebenarnya banyak sekolah yang lebih dekat dengan rumahku, dan salah satunya ada mantan SD-ku dulu. Lalu, kenapa tidak di sana saja? Seiring dengan bacaan ini, juga akan jelas kok, kenapa adikku memilih sekolah yang sangat jauh itu.

Pagi itu, aku dan ibuku sudah bersiap-siap untuk segera tancap ke sekolah adikku. Adikku sendiri sudah berada di sana sejak hari Minggu. Mau bantu-bantu katanya, menyiapkan tratak, sapu-sapu, dan lain-lain. Adikku menginap di asrama yang dikhususkan untuk para murid yang rumahnya jauh, dan cuma akan dapat capek kalo wira-wiri rumah-sekolah. Tuh kan, ternyata banyak yang senasib dengan adikku, tetapi mereka lebih memilih menginap di asrama yang disediakan. Lalu kenapa mereka juga memilih bersekolah di tempat yang jauh??
Pukul 7.30, kami menunggu bis yang akan mengantar kami ke sekolah adikku. Jangan bayangkan kami akan naik bis yang ber-AC dan ada monitornya di masing-masing kursi ya, hehe, maklum di desa. Kami harus naik bis ekonomi, yang berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Apalagi jika pagi hari, kami harus rebutan tempat dengan bakul yang dibawa oleh para penjual yang baru kulakan dari pasar. Bercampur bau gorengan, asap rokok bapak perantau, serta suara-suara cerewet para ibu penjual yang tengah ‘ngerumpi’ di bis. Dan, bayangkan lagi, adikku harus berhadapan dengan situasi tersebut setiap hari. Sekali lagi, luar biasa ya? Hehehe.

Setelah lebih dari setengah jam menunggu, bis keong itu akhirnya datang juga. Kenapa bis keong? Jalannya itu loh, Astaghfirullah.. kecepatannya kurang dari 20 km/jam sepertinya. Lalu kapan kami bisa sampai di sekolah adikku?? Kamipun tetap naik ke bis itu. Masih untung, Alhamdulillah, aku dan ibuku dapat tempat duduk, di bagian depan, dekat sang sopir. Meskipun aku dan ibuku tidak duduk bersebelahan, karena tempat duduk yang kosong hanya kursi sebelah. Jadi, aku dan ibuku duduk depan-belakang. Tapi, beruntungnya ibuku duduk di sebelah seorang perempuan yang ternyata adalah kenalan beliau. Sedangkan aku? Aku duduk di sebelah mas-mas perantau yang tengah memangku tas besar dan mengenakan jaket kulit. Bukan masalah sebenarnya, tetapi tiba tiba datang penumpang, yakni dua bapak-bapak yang duduk di sebelahku. Kok bisa? Namanya juga bis ekonomi, karena aku duduk di bagian depan, jadi ada jalan di tengah antara tempat dudukku dengan kursi sebelahnya, dan tidak dijadikan lalu-lalang penumpang -kecuali yang duduk paling depan jika mau turun- yang tepat disitu juga ditaruh jok. Jadilah aku diapit pria-pria berjaket gelap yang membawa barang-barang berat di pangkuan mereka.

Jalanan sepi, tetapi bis berjalan sangat lambat. Jadi ingat pepatah yang sering dikatakan para sopir transportasi umum, “ANDA butuh WAKTU, KAMI butuh UANG!” dasar, jadinya kita yang rugi kan. Pantas saja banyak orang yang lebih memilih transportasi pribadi, karena banyak sarana transportasi umum yang suka seenaknya sendiri. Kulihat jam tangan, sudah pukul 8.20. Tetapi, kami masih sangat jauh dari tujuan kami. Kalau bis ini jalannya masih seperti ini, mungkin kami akan terlambat sampai di acara adikku itu. Terkantuk-kantuk aku naik bis yang lelet ini. Aku tak berani memejamkan mata, karena aku diapit 3 pria. Mana bis ini selalu oleng ke kanan-kiri lagi, yah, karena kami tengah menuruni jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Hampir aku mabuk darat dibuatnya. Tetapi, mataku, selalu mengarah untuk menutup, tak kuat menahan gravitasi.

Bis ini semakin melambat bahkan berhenti. Pemberhentian pertama (selain menurunkan penumpang dan menaikkan tentunya) karena harus berganti sopir. Yang kedua, ternyata ada salah satu jalan ambles. Di mana kami harus bergantian dengan kendaraan dari jalur sebaliknya untuk melewati jalan tersebut. Di sebelah jalan ambles itu ada JURANG yang entah seberapa kedalamannya. Sekali lagi, bayangkan! Adikku harus melewati jalan yang mengancam jiwa itu setiap hari. Apalagi sekarang sedang musim hujan, yang kadang membuat jalan licin. Dan asal tahu saja, di samping jalan yang lainnya adalah hutan yang terdapat satwa dilindungi di dalamnya, antara lain, macan, yang kapan saja siap turun ke jalan raya, hmmm.
Sambil miring ke kiri-kanan, mataku pun terpejam. Aku TIDUR. Huuah, kebiasaan burukku ini memang tak bisa hilang. Hobi banget sama yang namanya tidur. Kata teman, aku ini ‘PELOR’, begitu nempel, langsung molor. Dimanapun itu, kalau kepalaku sudah nyaman, tiba-tiba dari ujung rambut hingga kaki pun ikut-ikutan nyaman. Kalau sudah begitu, jadilah aku tertidur.
Tiba-tiba ada guncangan. Kupikir ada sesuatu yang buruk terjadi. Tetapi, ternyata, “Ayo nduk, siap-siap, udah hampir sampai.”

Hmm, kulihat jalan, sepertinya ini masih jauh dari sekolah adikku. Benar, akhirnya aku harus berdiri tergencet dalam waktu cukup lama, semakin tergencet karena banyak penumpang yang naik. Karena aku dan ibuku hendak turun, jadi kami berada di dekat pintu. Naasnya, ternyata banyak penumpang yang menyetop bis ini. Alhasil banyak yang bergelantungan di pintu, aku jadi merasa bersalah. Tetapi, akhirnya, kami sampailah di tempat tujuan.

Setibanya di sana, ada beberapa orang berpakaian seragam polisi. Kupikir akan ada acara karnaval, tetapi ternyata, lebih dari itu...
to be continued :)

Selasa, 31 Januari 2012

Ibu, BEM, dan HIDUP MAHASISWA!

Baju putih itu baru saja aku pakai tadi pagi hingga sore. Besok pun aku harus kupakai kembali dengan padanan rok yang sama. Hitam-Putih. Perasaanku jadi semakin kelabu dengan warna yang akan kukenakan dengan intensitas yang cukup sering di 2 hari ke depan. Hari-hari di mana aku masih disebut sebagai MAHASISWA BARU. Tentu saja, bukan hanya aku yang akan mengenakan ‘kostum maba’ itu. Istilahnya, sepanjang mata memandang, hanya warna kelabu itu yang akan menjadi santapan mataku, tentu saja selain batik, pakaian khas kakak-kakak yang sudah masuk di kampus ini sebelum kami.
“HIDUP MAHASISWA!” sesekali suara itu diteriakkan saat sepanjang pagi hingga siang, ketika penjabaran materi sedang berlangsung. Aku belum paham dengan kata-kata ‘hidup mahasiswa’ itu. Kenapa, dulu waktu aku masih menjadi siswa SMA, SMP, atau SD belum ada kata-kata penyemangat seperti itu. Ada lagi yang berbeda dari semangat kemahasiswaan ini. Adanya lagu yang ‘katanya’, setiap mahasiswa dari universitas apapun hafal dengan lagu ini. TOTALITAS MAHASISWA. Mungkin harusnya dulu juga dikenalkan dengan kata-kata ‘HIDUP SISWA!’ atau ‘HIDUP MURID!’ dan dibuatkan lagu penyemangat berjudul ‘TOTALITAS SISWA’.
“Kali ini akan dibacakan tata tertib untuk pelaksanaan masa Orientasi Mahasiswa 2011.” Kata seorang kakak di depan. Dengan rapi sudah kusiapkan catatan yang sudah kuhias dengan kalimat penyemangat di sela halamannya. Tetapi, tiba-tiba suara berubah. Hawa tegang merasuk ke dalam tulang-tulangku. Tiba-tiba waktu terasa begitu lambat mengalun. Yang kudengar hanya suara derap sepatu, dan kalimat yang terucap dengan volume yang sangat keras. Aku paksakan ragaku masih ada di sana, meski jiwaku dan pikiranku, mungkin sudah melayang ke tempat antah berantah.
Kutulis semua kata-kata yang diucapkan. Kata-kata penyemangat yang ada di sela halaman sudah bertumpuk dengan tulisan semrawut. Aku tak sempat mengambil kertas lain, sedangkan kertas itu sudah penuh dengan tulisan. Yah, aku paksakan menulis, meskipun aku sendiri tak bisa membaca lagi apa yang aku tuliskan saat itu. Yah, Ais, semangatlah, “HIDUP MAHASISWA” kataku dalam hati. Meskipun keringat dingin mengalir di ujung leherku, meskipun tegang dan anganku kemana-mana, kukuatkan tanganku menulis dan kakiku berdiri menegak di sana.
###
Mahasiswa. Selepas ospek, kata tambahan ‘baru’ di belakang kata mahasiswa sudah hilang. Kini saatnya aku mencari jati diriku sebagai mahasiswa. Di berbagai materi di ospek kemarin sudah dijelaskan, bahwa organisasi itu penting. Bahwa organisasi itu sangatlah diperlukan bagi mahasiswa. Meniru kata kakak-kakak, mau jadi mahasiswa kupu-kupu, atau kura-kura?
Teman, tahu arti kupu-kupu, kan? Bukan serangga dengan sayap indah yang sering berkeliaran di taman bunga yang aku maksud. Kupu-kupu adalah kepanjangan dari kuliah pulang, kuliah pulang. Wah bahagianya aku, jika seperti itu. Dulu semasa aku masih jadi murid SMA, sulit sekali rasanya pulang sekolah langsung pulang. Ada saja kegiatan, entah itu hanya main, les, ada kegiatan kelompok belajar, atau sesekali jika ada rapat di organisasi yang aku ikuti.
“Dek, gimana jadi mahasiswa?” tanya salah seorang kakak sepupuku, sebut saja Andi, ketika aku online di salah satu situs jejaring sosial.
“Gimana apanya, kak? Ya gitu lah, so so..”
“Looh, kamu harusnya mulai mencari, dek.”
“Mencari? Mencari apa, kak?” Otakku berputar, mencari ilmu? Ya iyalah. Mencari uang? Lulus aja belum gimana bisa cari uang? Ooh, mungkin dengan berwirausaha, ya bisa kucoba mungkin kak, jika ada waktu. Oh, aku tahu, mencari jati diri mungkin. Kalo itu sih pasti kak, ini lagi processing, bingung mau jadi kupu-kupu atau kura-kura, kataku dalam hati.
“Ya mencari jodoh laaah..” APA? MENCARI J-O-D-O-H?? Mahasiswa semester 1 sudah mau mencari jodoh? Aaargh, tidak. Ada-ada saja orang itu. Buktinya, kakak sepupuku itu tak dapat juga setelah lulus dari Universitas, yang berarti dia sudah bukan mahasiswa lagi tentunya. Dan setiap kali menghubungiku, selalu pertanyaan, “Adakah temanmu yang masih single?” terlihat di monitor atau terdengar di telingaku.
“Ya, makanya jangan ulangi kesalahan yang sama.” Saat kubilang bahwa dia saja yang sudah bertahun-tahun mencari tak dapat juga.
Aduuh, kupikir-pikir lagi nasihat itu. Cari jodoh? Tidak, aku bukan penggemar Wali, kak. Aku baru saja ingin mewujudkan esensi dari kata HIDUP MAHASISWA. Kalau aku justru mencari jodoh, lalu bagaimana aku bisa menghidupkan kalimat HIDUP MAHASISWA ini pada diriku sendiri?
“Ya, entar dulu lah, kak. Masih mau jadi mahasiswa dulu.”
Hidup Mahasiswa. Jika ada kalimat seperti itu, apakah berarti aku harus jadi politisi? Tiba-tiba tersirat gagasan itu setelah aku chat dengan kakak sepupuku. Apakah mahasiswa harus selalu menjadi barisan terdepan ketika ada permasalahan di kasta tertinggi di Indonesia ini? Selama ini, aku menganggap, permasalahan negara ini hanya dapat diselesaikan oleh pihak berwenang yang duduk di gedung megah dan menumpang mobil mewah itu.
“Mahasiswa selalu begitu. Mereka memang kritis, tapi, kadang harus ada pengendali semangat mereka yang menggebu-gebu. Tidak semuanya harus dilakukan dengan berdemo. Masih ada cara lain.” Kata ibuku ketika melihat berita di tv. Kebetulan aku mendengar kalimat ampuh itu diucapkan berkali-kali dengan tangan mengepal ke atas. Hidup Mahasiswa. Hidup Mahasiswa.
Mau ikutan BEM, Isti? kutulis pesan itu kepada temanku, Isti, yang dulu semasa SMA adalah penggiat salah satu organisasi besar di SMA. Sudah kutebak jawabannya saat itu. Pasti jawabannya IYA.
Drrt..rrt..rrt. Hapeku bergetar. Tetapi, bukan SMS dari temanku yang kudapat, melainkan dari kakak tingkatku. Hidup Mahasiswa! Kami dari BEM bla bla bla… dan seterusnya. Sekali lagi, kalimat itu diawali dengan kata HIDUP MAHASISWA.
Drrt..rrt..rrt. Hapeku kembali bergetar. Dari Ibu. Nduk, kamu belajar yang bener ya di sana. Kamu kuliah buat cari ilmu, ndak usah neko-neko yang kayak di tv. Kalau bisa ya ndak usah ikut macem-macem. Ibu dan Bapak selalu mendoakanmu dari sini. Air mukaku berubah. Baru saja ingin kuputuskan menjadi mahasiswa kura-kura, yakni kuliah rapat, kuliah rapat, tetapi, ada ganjalan lain yang harus aku hadapi. Dan itu berasal dari ibuku sendiri.
“Ndak usah ikutan demo, kalau ada demo. Belajar aja, ibu takut kamu kenapa-napa.” Iya bu, kataku. Mungkin kalau demo, unjuk rasa dan sebagainya, aku tak akan ikut. Karena aku sendiri juga takut. Takut diculik, takut dibacok.
“Kalau bisa ya ndak usah ikut macem-macem.” Bagai ada petir yang menggelegar di depan mataku. Degup jantungku menaik. Ibu, ingin kuteriakkan kalimat Hidup Mahasiswa di depan beliau, tapi tersendat di kerongkongan. Kupikir itu terlalu ‘lebay’.
“Aku insya Allah ikut BEM kok, Ais.” Jawaban itu mengalir dari mulut sahabatku yang memang aktivis itu. Yah, apa aku salah tanya orang? Aku benar-benar bingung saat itu. Haruskah aku ikut organisasi eksekutif yang ada di kampusku, atau kudengarkan nasihat ibu. Tapi, sisi hatiku melakukan pembelaan, Ibu kan bilang supaya aku ngga usah ikut yang macem-macem, BEM kan ngga macem-macem, kalo yang macem-macem itu yang suka nongkrong ngga jelas di kampus tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat dan berbuat maksiat. HIDUP MAHASISWA!
“Menurutku, bergerak itu ngga harus melalui BEM, kok, Ais. Masih banyak organisasi intra kampus lain yang bisa kamu ikuti kalau kamu memang merasa belum yakin di BEM. Kalo saya sih, nggak ikutan BEM, Ais. Saya lebih memilih organisasi keagamaan saja. Tapi, kalau Ais mau di BEM, dan memang berniat bergerak dan berdakwah di sana, ya ndak papa Ais, saya dukung.” Jawab Bagas, mantan ketua ROHIS, organisasiku yang dulu aku ikuti waktu SMA ketika kutanya pendapatnya tentang kegalauanku masuk BEM atau tidak. Aku semakin bingung dengan pendapatnya.
“Udaah, nyari jodoh aja dek. Susah amaat. Sekalian cariin aku jodoh. Hahaha..” kata kak Andi, ketika kulihat namanya di situs itu mencetuskan satu percakapan. Hiih, ini lagi. Yang diributin jodoh melulu.
“Iya, kak. Ini juga udah dapet kok. Tinggal nunggu 3 tahun lagi. Weeeek.” Jawabku, tak mau lama-lama menggalau soal jodoh dengannya.
“Haii Aiiss! Gimana, udah memutuskan untuk ikut BEM? Mau ikut yang fakultas atau Universitas?” Isti, temanku yang aktivis dan kebetulan sedang online itu menanyaiku.
“Belum isti, baru mendaftar. Yah, mungkin sekarang aku berusaha yang terbaik dulu buat seleksinya. Jika memang jalanku di organisasi itu, ya insya Allah, aku jalani. Tapi, kalau memang bukan, ya berarti emang ada organisasi lain yang membutuhkanku, is.” Kataku sok bijak. Tetapi, aku baru sadar, kenapa nggak kepikiran dari kemarin, sih?!
###
Tes tertulis sudah kulewati. Tinggal wawancara. Ini dia puncak kegalauanku. Aku paling gugup menghadapi tes wawancara. Apalagi sebelum hari H wawancara, tiba-tiba badanku kurang bisa diajak kompromi. Aku jatuh sakit! Aku langsung berpikir, “Ya Allah, apakah ini bentuk pelarangan dari-Mu untukku agar aku tak usah ikut BEM?”
“Susulan aja ya, dek. Aku udah bilang sama menterinya, kok. Nanti kamu ikut susulan wawancara ini, bareng sama yang lain, yang belum bisa ikutan juga.” Kata kakak tingkatku. Baiklah, mungkin dengan susulan, aku bisa mendapatkan hasil terbaikku. Dengan kondisi fisik yang lebih baik, mungkin hasilnya juga akan lebih optimal.
Wawancara aku hadapi dengan kikuk. Berkali-kali kegugupanku membuat sang interviewer menurunkan dan menaikkan suhu AC ruangan, “Adek gugup ya? Terlalu dingin ya, dek? Santai aja ya, dek.” Tidak hanya itu kesalahan yang aku buat, tidak hanya sekali kakak-kakak itu melontarkan pertanyaan yang sama hanya agar aku paham dengan apa yang mereka maksudkan. Karena kegugupanku, otakku hampir tak bisa mencerna kalimat dari mereka yang sebenarnya, padahal jika diungkapkan dalam kondisi biasa, akan berbeda kenyataannya.
Seminggu setelahnya, pengumuman pun ditempel. Karena aku memang sedang tidak berada di kampus, jadi aku tak bisa melihat langsung. Namun, kakak kosanku sudah melihat hasilnya. Meskipun dengan berat hati ia memberi tahuku hasilnya, karena sebenarnya dia ingin aku melihat hasilnya itu dengan mata kepalaku sendiri. “Tapi, ya sudahlah, dek. Aku kasih tau aja ya. Kamu, kamu, emm, lolos kok.” Haaah? Dengan jawabanku yang begitu ngawur pada saat wawancara? Ya, baiklah, mungkin inilah saat yang tepat untukku mengatakan HIDUP MAHASISWA!