Selasa, 02 Januari 2018

Jangan Jadi Gendut!

Assalamualaikum!
Haiii sudah lamaaa tidak bersuaaa..

Iya nih, lagi sibuk memadatkan diri, dengan kegiatan yang cenderung memadatkan badan. Makan, tidur, nonton drama, tidur lagi, makan lagi... Muteeeer aja disitu..

Alhasil, tak disangka tak dinyana, saat iseng timbang berat badan, BB saya naik 15 kg dibandingkan saat SMA dulu.. ckckck.

Setelah saya amati, dan saya pikirkan matang-matang, kenapa hal tersebut bisa terjadi, saya mendapatkan suatu kesimpulan. Saya ini termasuk orang yang sangaaat cuek dengan penampilan, terutama dulu, waktu masih awal-awal kuliah. Karena itulah saya cuek mau makanan apa aja diembat. Pengalaman semasa SMP saya jadikan patokan, badan saya nggak bisa gemuk waktu SMP, segitu-segitu aja meskipun makannya banyak. Namun, percayalah, era sudah berubah, makanan bermutasi, kemudian badan saya ikut bermutasi. Sekarang yang terjadi kebalikannya, makan sesedikit apapun, tetap gendutlah hasil akhirnya.. 

Gendut ini ingin segera saya akhiri.. "Loooh, kenapa Is? Kok sekarang jadi pemerhati penampilan gini?"

Awalnya sih karena capek juga dibilang, "Diet Is makanya, badan udah gemuk gitu.."
"Yaampun iiiis, gendut bangeeet.." Dan emang ketika saya melakukan pengukuran Body Mass Index, body saya udah termasuk ke OBESITAS. OH MY GOD!!

Seketika saya merasa badan terasa berat, terus kepikiran, pantesan jadi sering ngantuk.. Suka males jadinya kalau mau ngapa-ngapain, pokoknya multiple banget deh keluhannya. Apalagi dengan riwayat penyakit yang saya kantongi, saya jadi takut kena diabetes, hipertensi, dislipidemia, dan puncaknya bisa sindroma metabolik*.. oh nooo!!

Apaan sih sindroma metabolik itu? Sebenarnya ada beberapa kriteria diagnosis dari pengertian si sindroma metabolik ini. Namun, kalau menurut NCEP (National Cholesterol Education Program, ini lembaga punya Amerika) sindroma metabolik ini merupakan sekelompok kelainan metabolik, baik lipid (lemak) maupun non-lipid (non-lemak) yang merupakan FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER, yang terdiri dari obesitas sentral, dislipidemia aterogenik (kadar trigliserida tinggi, tapi kadar HDL rendah), hipertensi, dan kadar glukosa darah tidak normal. Bentar-bentar, kamu abis ngomong apaaa iss??

Hehe, oke-oke, kita perjelas dulu yaa, kriteria diagnosis untuk sindroma metabolik, kalau nanti ada yang perlu diperjelas, bisa saya tambahin lagi penjelasannya. Sebenarnya untuk kriteria sindroma metabolik ini juga ada yang menurut WHO, namun hingga kini, kriteria dari NCEP-ATP III inilah yang mudah dilakukan untuk para klinisi dalam mendiagnosis sindroma metabolik. Setidaknya 3 dari 5 syarat terpenuhi dari kriteria berikut ini:

  1. Obesitas Sentral : Pria >102 cm | Wanita > 88 cm, nah, namun kriteria ini mengalami modifikasi, hal ini karena terdapat perbedaan ukuran lingkar pinggang 'normal' berdasarkan etnis. Sooo, kalau Anda orang Asia, maka lingkar pinggang yang memenuhi syarat obesitas sentral adalah > 90 cm untuk pria, dan untuk wanita > 80 cm
  2. Trigliserida :  ≥150 mg/dl
  3. Kolesterol HDL : Pria < 40 mg/dl | Wanita < 50 mg/dl (kolesterol HDL ini yang dinamakan kolesterol baik)
  4. Tekanan darah : ≥ 130 mmHg / ≥ 85 mmHg
  5. Glukosa darah puasa : > 110 mg/dl
Gimanaaa? Sudahkah teman-teman memenuhi 3 kriteriaa? Oiya, bahkan saya sempat mengikuti kuliah DrdrWara Kushartanti, M.S. dari FIK UNY, beliau mengatakan bahwa, sekarang sindroma metabolik bisa 'dilihat' hanya dari ukuran lingkar pinggang saja lho. Karena hal tersebut menggambarkan juga bagaimana gaya hidup kita yang apa-apa dimakan haha. Gimana, bahaya nggak? Langsung deh pada ngukur lingkar pinggang masing-masing yak.

Kalau ais gimana lingkar pinggangnyaa? Psssst... masih normal, kalau saya orang Amerika, buahaha. Kalau orang Asia udah lebih dooong? Yups, makanya harus mulai mengurangi ukuran lingkar pinggang nih. 

Oiyaaa, kemarin aku juga sempat cek kolesterol lewat darah yang ditusuk di jari loh. Terus hasilnya lumayan bikin kaget sih, hasilnya 225. Hayooo, itu berarti yang diukur apaa? trigliserida yaa? atau Kolesterol HDL? Nah alat itu mengukur kolesterol total teman-teman. Loh, kok beda lagi?

Trigliserida dan kolesterol itu termasuk lemak yang beredar di dalam tubuh. Dua jenis lemak ini punya fungsi yang berbeda, kalau trigliserida nanti bisa diolah jadi energi, sedangkan kolesterol yang disimpan nanti bisa jadi bahan untuk menyusun sel-sel tubuh atau hormon. 

Naah, kalau mau kadar trigliserida, bisa dilakukan dengan tes laboratorium. Jadi perlu tes lebih lanjut, apalagi kalau sudah pernah dilakukan tes dengan alat cek darah digital (yang pake jari itu) terus hasilnya lebih dari 200 mg/dl.

Trusss, katanya kan big is beautifuul? katanya ada penelitian yang menunjukkan gendut itu lebih bahagia daripada orang kurus? Hmmmm, ini baru membahas masalah gendut dari sisi kesehatan sih. Kalau masalah gendut vs kurus, nanti beda lagi ya pembahasannya. Oiya, bukan berarti kurus itu lebih sehat juga ya. Asal kebutuhan kalori sehari terpenuhi, hmm nanti lain kali kita bahas lagi.

Oiyaa, postingan ini insyaAllah masih bersambung, terutama membahas bagaimana sih supaya kita nggak kena sindroma metabolik ini. Apalagi beberapa temen saya yang sempet cek kolesterol dengan keluhan yang nggak terlalu berat, menunjukkan angka kolesterol lebih dari 200. Jadi, ternyata perlu pengawasan ekstra ketat yaa untuk masalah kolesterol ini. Ditunggu yaaa :)


Kamis, 28 Desember 2017

Akibat Kebanyakan 'Nyinyir'

Haaaai, assalamualaikum!

Udah lama nggak posting ya huhu, maapkeun. Lagi sibuk nih. Sibuk beralih profesi dari mahasiswa jadi Netijen Jaman Now! (itu terhitung profesi gak ya? wkwk)

Semenjak terombang-ambing antara status yang tidak jelas ini (mahasiswa bukan, tapi belum kerja juga), saya jadi terlalu sering beraktivitas di media sosial. Terutama semenjak mengganti akun instagram yang tadinya fake account jadi official account, jadi sering folo-foloan sama temen-temen asli di dunia nyata yang punya akun instagram. Tadinya saya emang cuman aktif sebagai kepoers (sampai sekarang juga masih kepoers sih), tapi sekarang saya sudah aktif jadi commenters (tukang komen maksudnya, mah). Ah masak sih? Nggak pernah tuh lihat ais jadi tukang komen di instagram?

Hahahaha. Komenter di sini maksudnya komentator offline gitu. Jadi nggak berbentuk ketikan nyata. Apalagi didukung dengan kelengkapan amunisi berita-berita nggak penting yang saya peroleh dari akun-akun gosip, yang memiliki berjuta nama, mulai dari lambe_sisa, lambe_pedes, dan lain-lain.

Astaghfirullah, dosa nggak sih follow-follow akun macam itu? Mendingan follow instagram @retnohening, yang isinya celotehan dedek pinter kirana. Yaaa, dibilang dosa sih iya dong, isinya ghibah semua sih. Dan inilah awal mula hobi saya yang lama-kelamaan jadi keahlian yang saya miliki, keahlian nyinyir.

Sebenarnya arti kata nyinyir apaan sih?
Ini nih, kalo menurut KBBI
sumber : kbbi.web.id
Berarti sama aja kayak cerewet doong? Yaa, istilahnya sama aja kayak kalo ada foto 'yang minta banget dikomen', terus mulut kita nggak tahan buat mengulang-ulang isi pikiran yang ada di kepala kita, "Iiiiih, kok gitu sih, masak fotonya alay gitu!"

Atau kita bisa pakai dari sumber lain, seperti di bawah ini 
yang ini sumbernya dari kbbionline.com
Nah, yang ini penggunaannya lebih cocok ya. Bakat nyinyir saya sebenarnya sudah ada dari sejak sekolah SMA. Bayangin aja, di sekolah temenannnya sama yang kalo ngomongin orang udah jago banget, ngalahin pembawa acara silet. Bakat ngomong nyelekit udah tertanam semenjak SMA. Pas SMP sih saya seringnya diem, dan manut-manut aja. Pas SMA udah semakin keliatan mbelingnya hahaha. 

Sebenarnya kebanyakan nyinyir juga negatif sih. Kalau ngeliat orang lain jadi rasanya adaaaaa aja yg bisa dikomenin. Jadi gampang iri kalo kata saya mah. Kalau udah iri sama dengki, itu mah udah ga boleh ya. Misalnya lihat orang prestasinya keren, bukannya termotivasi, malah jadinya, nyinyir, "Iiih, kayak gitu doang mah, aku juga bisa kali. Gampang!" Walhasil jadi meremehkan orang lain kan. Padahal ukuran orang lain kan belum tentu sama kayak ukuran yang kita gunakan. Bisa saja dia memulai sesuatu dari yang awalnya sangaat sulit buat dia, dan sekarang sudah bisa berhasil kan suatu kebanggaan buat dia.

Ada kalanya juga orang lain yang mengupload sesuatu di akun instagramnya tujuannya bukan buat pamer semata, tapi untuk memori dirinya sendiri. Penting lho ini. Apalagi buat orang-orang yang mudah lupa kayak saya. Salah satu tujuan saya nulis di blog itu juga karena alasan semacam ini. Ada bagian dari hidup saya yang bisa dikenang suatu saat nanti oleh diri saya sendiri. Ini looh, ais jaman masih suka nulis, tulisannya masih layak baca kok, nggak kayak sekarang.. hahaha.

Sebenarnya dari tulisan ini ada beberapa tujuan yang ingin saya capai. Yang pertama, yaaa beneran pengen tobat, nggak nyinyir-nyinyir lagi. Someone told me kalo keseringan nyinyir, nanti jadi pribadi yang nggak pedean, karena takut dinyinyirin sama orang lain, seperti halnya diri ini yang suka nyinyirin orang lain. Lagian nyinyir terus juga nggak baek kan yeee, jadi gampang iri kayak yang tadi udah saya bilang sebelumnya.

Selain itu, tulisan ini juga buat trigger saya, biar bisa nulis lagi. Hahaha, agak kejauhan ya. Ini adalah tulisan kesekian yang bridging-nya kejauhan, dari nyinyir trus bisa nulis lagi. Anyone can relate? Yaa berkaitan dengan rasa pede itu sih, pengen kayak dulu lagi, mau nulis apapun yaaa bodo amat, yang penting nulis aja. Pengen banget bikin tulisan yang bermanfaat buat diri sendiri, buat jadi reminder untuk ais di masa yang akan datang. 

Oiyaaa, pengen salam juga buat temen saya si aicah, alias Aisyah Apriliciciliana yang katanya pengeeeen jadi penulis. Da kamu mah udah bisa nulis jeung, cuma belum keliatan aja. Aku barusan aja kepo blog dia di sini atau ketik link ini https://aprili-ciciliana.blogspot.co.id/.

Udah aah, nanti ais nulis lagi yaaaa, mau nonton drakor dulu. bubyeeeee


Jumat, 28 April 2017

Tentang Komentar

Tulisan kali ini saya tujukan untuk para penulis artikel di luar sana. Yaaa, hobi saya itu baca berita di L***TODAY yang jadi headline news. Judul yang dibuat itu selalu menarik saya untuk mengklik tautan tersebut. Pokoknya sampai semua tautan saya baca!

Pekerjaan orang ga punya kerjaan ya gini ini. Haha, terus dilanjutkan ke kolom komentar. Kadang isi berita nggak penting, karena yang lucu itu komentar-komentar para pembacanya. Salah satu tipikal judul tulisan di website berita ini adalah “Upload Foto Dengan Sang Tunangan, Netizen Salfok dengan Motif Piring Di Belakangnya!” Nih ya, saya udah tau, ini berita pasti cuma memuat 1 foto yang diupload sang artis, terus dilanjutkan dengan komentar dari pengguna sosmed tentang foto itu. “Ihh, itu kok Piringnya motif kura-kura.” Sorry to say, nggak ada manfaatnya buat pembaca!

Nah, nanti akan ada komentar di website berita tersebut. Jadi intinya adalah, komentar untuk narasi yang menceritakan tentang komentar. Haha, bikin pusing deh, tapi nggak bikin pinter.

Kembalikan waktu 2 menitku!
Unfaedah

Beberapa contoh komentar yang memenuhi kolom komentar untuk berita tersebut. Lalu, nanti akan ada pembaca yang akan komentar, “Ini kan memang rubrik entertainment, ya emang begini beritanya. Kalau cari yang manfaat ya cari rubrik lain!”

Wait? Maksudnya? Laaah, menurut saya pun, berita itu nggak entertain sama sekali tuh. Isinya malah ngomongin orang. Saya sebenarnya ingin meminta tolong kepada para penulis artikel di web-web ‘gitu’ untuk menyajikan tulisan yang berbobot. Atau seenggaknya bikin pembacanya bisa mengambil manfaat gitu.

Sebenarnya kan media online itu sama saja seperti media cetak kan? Seharusnya ketika mengupload suatu tulisan, yaa, setidaknya ada riset yang dilakukan untuk menyajikan berita tersebut. Perasaan kalau saya baca tabloid isinya selalu berdasarkan wawancara atau riset-riset dulu gitu. Tetapi, belakangan tulisan-tulisan ini berkurang sih, meskipun masih ada. Tulisan macam gini sumber risetnya cuma dari instagram aja, hmm.

Saya kan juga pengen pinter kakak-kakak penulis. Tetapi saya apresiasi sih, ada beberapa tulisan (sekarang jadi lumayan banyak) yang bersumber dari website-website bermanfaat, dan ada pengetahuan baru yang akan saya dapatkan kalau baca tulisan itu. Hehe.


Oiya, ada beberapa komentar menarik yang membuat saya tergelitik, misalnya, “Tipikal orang indo sekarang gini ya, sukanya nyinyir.” Ini bukan saya yang bilang lhoo, suer! Kemudian saya menemukan kosakata baru, yakni, JULIT. Ini apa lagi artinya hahah.

kamusslang.com
Kosakata ini saya dapatkan gara-gara suka ngintip-ngintip akun gosip (astaghfirullah, istighfar ukhti. Taubatlah!). Gara-gara kurang kerjaan gini saya jadi suka melakukan suatu yang tidak bermanfaat dan cenderung dosa, ckck

Yaa, intinya cuma pengen jadi pembaca yang cerdas sih. Mungkin bisa dimulai dari pembaca ya, kurang-kuranginlah baca artikel nggak bermutu gini. Maka ketika minat baca berita sejenis itu turun, mungkin lama-lama akan hilang kebiasaan menuliskan berita sejenis ini. Sip!

Kondangan Lagi!

Assalamualaikum!

Waah sudah lama sekali nggak posting… Alasannya masih sama kok, males haha. Padahal ya sebenarnya nggak sibuk-sibuk banget kok.

Mau update dulu ah, kebetulan libur panjang kemarin saya mampir ke Rembang, kondangan ke tempat Isti Noor Masita. Istiii? Iyaaaa Isti NIKAH. Teman galau zaman SMA, tapi sebenernya Isti ga pernah galau sih. Saya aja yang galau, haha. Kaderisasi ROHIS yang merangkap anak MPK ini waktu SMA ini luar biasaaaa banget. Jadi kan temen saya ada berbagai macam jenis gitu. Temen kalo lagi ga jelas itu si Rieza, kalo lagi jelas, ya si Isti ini.

Makanya mumpung libur, saya bela-belain datang ke Rembang, perjalanan dari Semarang lumayan sih, sekitar 4 jam (Yaampun Isti, sekolahmu jauh juga ya dari rumahmu… dulu saya juga ngekos sih, tapi perjalanan ke rumah paling sekitar 2,5 jam). Karena saya bukan orang Semarang, saya naik motor dulu dari rumah ke Semarang untuk kumpul di rumah Ay. Berangkat dari rumah pagi-pagi, sekitar jam 6an. Sampai Semarang jam 8an, lalu si Ay ngambil mobil ke Banyumanik dulu, karena akhirnya kami memutuskan untuk carter mobil buat ke Rembangnya.

Di rumah Ay akhirnya saya ngobrol-ngobrol dulu sama Mamanya Ay soalnya Ay lagi ambil mobil, dan saat itu Mamanya Ay menceritakan fakta mencengangkan…. Nanti aja deh ceritanya, belum berhak ngasih tau haha. Terus datanglah Papeke ke rumah Ay. Waaaa, Papeke ini orangnya businesswoman sejati. Keren banget lah pokoknya Papeke ini. Papeke ini juga udah lamaran, tinggal nunggu tanggal. Tapi katanya masih bingung mau tahun ini atau tahun depan. Tahun ini aja Paaaaps! Ngapain lama-lama hihi. Waaah udah lama banget nggak ketemu Papeke tapi dia masih sama aja kayak dulu. Katanya saya juga masih kayak dulu waktu SMA. Iiiih bisa aja deh haha!

Oya, kembali ke nikahannya Isti. Akhirnya Ay datang juga sama sepupunya bawa mobil yang dicarter. Kami berangkat ke Rembang dari Semarang sekitar jam 10 pagi. Sampai Rembang sekitar jam 2 siang, padahal acaranya Isti cuma sampai jam 2. Walhasil sampe sana udah sepi hahaha.. Tapi kami masih ketemu penganten sih, meskipun pengantennya udah mau ganti baju wkwk. Ceritanya ketika kami sampai, kami duduk di kursi tamu depan pelaminan. Terus ada seorang laki-laki wara wiri pakai baju putih (baju penganten-kayaknya) tapi udah bersandal jepit haha. Kemudian kami berpikir, sepertinya itu suaminya Isti, deh. Lalu, lelaki ini menghampiri kami bertiga, “Temannya Isti ya?” Kami mengiyakan, “Sebentar saya panggilkan dulu ya, Istinya tadi lagi ganti baju di atas.”
Taraaaa, akhirnya Ibu Midzi alias Isti datang. Waaa, baju penganten bernuansa putih pink, cantiiiik banget. Aslinya memang sudah cantik, penyabar lagi. Isti ini kerennya luar dalam, cantik fisik dan cantik hati hihi. Emangnya kamu is… Ups, kan lagi memperbaiki diri, yaa wajar kadang kalo nggak penyabar hahaha. Terus biasa ya, ibu-ibu rempong gitu kalo ketemu, selfie dulu, baru ngobrol-ngobrol. Kami selfie di tempat yang agak gelap gitu jadi nggak keliatan ya mukanya, apalagi yang item manis kayak saya ini (narsis dulu boleh ya).

“Isti ketemu sama suaminya gimana Is?” tanya Papeke
“Ya gitu deh.. (sambil malu-malu gitu si Isti haha). Sebenernya udah lama tahu, tapi ya nggak kenal. Terus akhirnya ketemu pas lagi KKN.”
“Ooooh.. KKNnya bareng Is? Woow..”
“Iya.. KKN nya bareng..”
Terus, si Papeke nanya lagi, “Terus Isti sama suami abis KKN itu langsung suka Is? Udah tau orangnya kayak gimana nggak Is?”
“Jadi kemarin khitbahnya itu Januari.. terus April ini nikah..”
“Waah cepet ya Iss….”
“Iyaaa, makanya buru-buru banget nyiapinnya..” si Isti ini sekarang juga sedang menempuh pendidikan profesi di kedokteran gigi UGM, yaa kebayang ya gimana sibuknyaaa..
Si Papeke nanya lagi, “Terus pas abis KKN itu gimana Is? Udah tau orangnya kayak gimana? Udah tau kalau suka?”
Sampe si Isti akhirnya bilang, “Nanti Ais sama Ay jelasin ke Papeke yaaaa…” Hahaha si Isti udah pusing duluan. Papeke masih sama aja kayak dulu waktu SMA. Piissss Papps haha.

Oya, ada fakta menarik dari pernikahan Isti ini, sambil menikah, mereka juga meluncurkan Buku loooh. Ternyata memang suaminya Isti ini penulis. Di depan terlihat ada X-Banner yang menuliskan profil dari kedua mempelai, saya sempat baca yang profilnya suaminya Isti ini, ternyata sudah menerbitkan 11 buku! #prokprok

Dan di awal pengambilan souvenir, saya sempet mengenali salah satu among tamunya.. Kok kayak kenal yaa… terus akhirnya saya iseng bilang, “Ini ndak Fayla…?”

“Ehh, seeekkk… Kamu kan.. kamu kaan, Aiss thooo?” Ealaaah.. si Fayla ini gingsule ilang, jadinya saya sempat nggak mengenali haha. Si Fayla ini sahabatnya Isti masa kuliah di FKG UGM.

“Ais sudah berkeluarga atau beluum?” Ternyata, souvenirnya adalah buku tulisan sepasang suami istri ini. Kalau belum berkeluarga dapatnya yang Jombloisme, kalo yang udah berkeluarga dapat Revivalisme.

“Terus aku apa doong?” tanya Papeke, di antara dua dunia sih dia, jomblo enggak, berkeluarga juga enggak. Haha.

Terus ternyata mba Indi juga lagi di rumaah.. Mba Indi ini kakak perempuannya Isti yang jadi role model saya semasa SMA, mbak Indi ini udah lulus jadi dokter dan mantan anak FK Undip dulu. Makanya dulu saya mati-matian berjuang biar masuk FK Undip. Tapi, namanya rezeki….. Allah yang menentukan hehe. Mbak Indi lagi hamil looh, hamilnya besaaar, sampai saya kira kembar.


Kami cerita-cerita hingga sore tibaaa.. Sekitar jam 4 kami pamit dari rumah Isti dan kembali ke semarang. Karena sore, dan sampai semarang malam, akhirnya saya dan Papeke menginap di rumah Ay. Di sana kami cerita-cerita lagi sampai tengah malam. Yaaa, namanya Ibu-ibu kalau girls night ya begini. 

Ini harus banget foto aku dipasang? Taraaa inilah buku souvenir pernikahan Isti

Ini pembatas bukunya, sepertinya kalimat quotesnya beda-beda deh setiap buku. Sangar!

Sebenarnya ada cerita yang pengeeeen saya bagi. Tapii, nunggu bulan Mei deh, hehe, soalnya yang punya cerita baru mau publish bulan Mei. Oke sekian tulisan random saya kali ini, kapan kapan saya sambung lagiiiii

Jumat, 28 Oktober 2016

Review Film: Catatan Dodol Calon Dokter

Bismillahirrahmanirrahim..

Beberapa penikmat film di Indonesia mungkin sudah mendengar akan ada film yang berjudul Catatan Dodol Calon Dokter, yang merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama. Novel ini ada 3 jilid kalau tidak salah, tapi untuk kali ini, saya nggak akan bahas bukunya. Yaaa, karena saya juga udah lupa-lupa ingat sama isinya, karena, saya baca ketiga jilid Cado-Cado ini dari dapet minjem hahaha.

Cado cado ini ditulis oleh dr. Ferdiriva Hamzah, Sp. M (sekarang udah spesialis boook) haha, dan dari sekilas baca bukunya beliau ini, orangnya kocak banget, rada sedeng buahaha. Awal baca bukunya yang pertama (waktu itu saya masih SMA kalo nggak salah) nggak nyangka kalau dokter muda itu pengalamannya lucu banget. Saya dulu dapet minjem dari kakak mentoring saya waktu SMA, mba dr. Indi Himma yang dulu kuliah di FK Undip. Berkat beliau, saya pengen masuk kedokteran Undip, meskipun jadinya nyampe ke Unsoed (wehehehe).

Isi dari buku Cado Cado ini membahas tentang berbagai pengalaman lucu dr. Riva bersama rekan seperjuangan semasa koasnya. Pengalaman-pengalaman beliau ini ternyata nggak jauh beda sama yang saya dan teman-teman alami waktu koas. Sampai ada istilah, "Koas itu masa menyenangkan, tapi tidak untuk diulang."

Adegan pembuka film ini ketika seorang ibu menangis di hadapan seorang pasien (suami-nya) yang terbatuk batuk dan menggunakan 'seikat' perban di kepalanya, yang terdapat bekas darah. Kemudian, datang seorang berjas putih (sepertinya dokter) yang berkata, "Maaf, kami sudah berbuat banyak, namun suami ibu mengalami kanker paru-paru...(abis itu saya lupa dokternya bilang apa)" sesaat kemudian muncul suara, Itu kok ada perban sampe darahnya nembus-nembus ke perban, emang nggak ada betadine (dan lagi-lagi saya lupa naratornya bilang apa -_-).

Selanjutnya ada sekumpulan koas, termasuk Riva, dan beberapa koas lain, ada Budi, Evie, Hani, Cilmil, Kresno, Uba, dan satunya lagi saya lupaa... Mereka diperkenalkan satu persatu sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Yang paling membekas di otak saya adalah Hani (dia ini cowok lhoo), karena aksen Inggrisnya yang excallent (ini cara ngomongnya begini banget deh haha) dan yang menthelnya minta ampun. Kresno your selaiva (he means saliva haha) isn't higienis. Kalau begini saya pengen baca bukunya lagi dan menceritakan gimana koplaknya karakter-karakter koas sedeng ini. 

Ceritanya di film, mereka adalah koas yang sedang menjalani stase bedah, dan berada di bawah supervisi seorang profesor yang diperankan oleh Adi Kurdi. Sebenarnya nggak niat mau spoiler, tapi yaa bisa ditebak dari trailernya bahwa, film ini memiliki nuansa romance. Dari awal saya sempat antisipatif, sepertinya film ini nggak akan sengocol bukunya alias nggak worth it buat ditonton secara khusus. Tapi, karena ditraktir yaaa mau-mau aja deh nonton haha. Yap, sesuai dengan trailer, ada kisah cinta segitiga antara Riva, Evie, dan Vena. Padahal kalau di bukunya, nggak ada tuh, drama-drama begini. Yeah, sorry to say, sebenernya saya nggak terlalu senang dengan jalan ceritanya. Harapan simple saya setelah orang nonton film ini (terutama untuk yang bukan kalangan medis) bisa tahu gimana beratnya jadi koas, meskipun yaa berat juga sih (lah gimana sih is). 

Tapi di sini ada beberapa poin yang saya bisa bilang, yaaa good joblah. Di mana ada adegan bergunanya seorang koas bedah yang mampu mendeteksi adanya kelainan di mata seorang pasien paska kecelakaan lalu lintas. Ya, inilah sebenarnya tugas seorang dokter, yang mampu mengintegrasikan ilmunya, periksa pasien itu harus head to toe, jangan mentang-mentang lagi stase tertentu, terus periksa pasiennya cuma sesuai dengan stase yang dijalani, bukan secara holistik. Kemudian ada adegan heroik juga di mana Evie mampu menyelamatkan seorang anak yang mengalami trauma inhalasi, dan harus melakukan cricoidektomi darurat (tindakan insisi kulit, fasia, dan membran krikotiroidea, lalu selanjutnya dipasang pipa di trakea, tujuannya untuk membuka jalan nafas pada pasien dengan gawat nafas).

Sejujurnya film ini dikemas dengan bentuk drama yang terlalu banyak, komedinya tidak terlalu banyak seperti di buku. Kisahnya pun dibuat berbeda dengan bukunya. Tetapi, seenggaknya tujuan untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa proses untuk menjadi dokter itu penuh dengan perjuangan dan pelajaran hidup, tercantum laah di drama ini. Ada beberapa hal yang mirip sama koas alami siih, ya antara lain seperti berikut:
1. Adegan mengikuti konsulen (dokter spesialis) saat visit (setelah sebelumnya koas melakukan pemeriksaan yang disebut sebagai follow up), terus ditanya-tanya di depan pasien tentang penyakit atau diagnosisnya. 
2. Adegan koas dimarah-marahin konsulen, karena kesalahannya. Yaaaa, kalau lihat di film ini, hal tersebut beneran kejadian loooh. Bentakan yang menggema di ruangan dan bikin keringat dingin, mulut kaku tak bergerak, kepala nunduk tak mau ngangkat, kaki pegel akibat berdiri berkepanjangan, sariawan karena kurang vitamin C, mata merah kena asap knalpot, eh kok jadi ngelantur sih.
3. Adegan jadi asisten operasi (ada yang cuma lihat operasi berlangsung, ada juga yang langsung berdiri di sebelah konsulen dan benar-benar bertindak sebagai asisten operasi, meskipun palingan cuma bantuin suction, netes-netesin air, ngelap darah yang nyemprot, but that's such a great thing when we did it!)
4. Adegan jaga IGD. Di film ini ada tokoh Kresno yang percaya sama hal klenik, dan bikin jampi-jampi, supaya pasien waktu Riva jaga rame banget. Di kalangan koas, ada sebutan koas wangi dan koas bau. Koas wangi itu, setiap dia jaga, maka pasien baru bisa dipastikan sedikit, atau bahkan ngga ada sama sekali. Kalau koas bau, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, bisa nggak tidur semaleman kalo lagi jamal (jaga malam) gegara pasiennya datang terus. Dan konon katanya, yang punya kekuatan wangi atau bau ini nggak cuma koas, bahkan residen (dokter umum yang sedang menempuh pendidikan spesialis), konsulen juga bisa saja punya predikat bau atau wangi.
5. Ada satu hal yang di film ini selalu terjadi di semua koas di seluruh Indonesia, yaitu, teriakan KOAAAAASSS! yang menggema di seantero bangsal rumah sakit. 

Meskipun di sini, nggak ada tuh koas yang harus berangkat pagiiii banget (jam 3 pagi misalnya) terus bangunin pasien pagi-pagi buat diperiksa tensi dan ditanya-tanya seputar keluhannya (ini yang namanya follow up).

Akhir kataa, buat yang penasaran sama film ini, silakan ditonton. Kalau yang penasaran banget sama gimana kehidupan koas, yaaa, bisalah tonton film ini. Ada sekelumit kisah koas malang yang memperjuangkan cita-citanya demi jadi seorang dokter. Oke deeh segini aja, ini reviewnya agak nggak niat sih yaa haha, selamat menonton! 

Rabu, 26 Oktober 2016

Pertemuan Absurd Calon Pengantin

Harusnya judulnya pertemuan sama Pengantin Baru, tapi waktu kita ketemu masih jadi calon siiih... Yaudah haha. Ucapin selamat dulu ya sama Mrs. Septana, yang menikah 9 September lalu. Maapinnn zaaa nggak dateeng.. yaaaa Congratulation for your wedding!

Sudah lama nggak bersua sama Rieza alias Mrs. Septana ini selalu bikin kangen. Bahkan kalo saya nyempetin ke Semarang, cuma buat ketemu sama anak ini, doang! Ngeluyur nggak jelas, dan terakhir ketemu kemarin waktu sebelum pernikahan dia, cuma buat nganterin beli seserahan, sama belanja kardigan yang bentuknya nggak jelas.

Denger cerita Rieza dilamar itu bikin sedih, hahaha. Sedih kok si Rieza alela mini jaman SMA dapet jodoh duluan. Zaa, kita kan ke mana-mana bareng, kok kamu duluin aku siiih!!! Kalau mau tahu kisah cinta anak absurd ini mending baca blognya aja deh, aku nggak berhak cerita-cerita kan ya zaaa haha.

Awal pertemuan, janjian dulu.
"Zaa besok uwe ke Semarang, pokoknya kamu harus nemuin aku!" Ini anak kalo dichat Line nggak langsung bales, soalnya Line-nya di turn off notificationnya. Nggak kunjung bales, saya tetep nekat ke Semarang, janjian macam apa nih, sepihak gini haha.

Intinya saya udah jalan ke Semarang (situasi saya berangkat dari Boja, kurleb 45 menit kalo dari Semarang). Nekat, nggak ngerti kalo nggak ketemu dia, ya harus ketemu.

"Iiiih motor aku dipinjem sama 'dia' niih. Aku ga bisa ke mana-mana." dari dulu manjanya nggak ketulungan.
"Yaudah minta anterin aja, lagian ada BRT juga keleeeus. Biasanya juga eloh naik BRT."
Dalem hati, udah jauh-jauh saya bela-belain, dia harus mau berkorban, enak aja hahaha.

Ini sebenarnya pertemuan kedua sama Rieza sebelum rencana pernikahannya. Pertemuan pertama ini nggak kalah absurd juga. Kami janjian bertemu di Masjid Baiturrahman depan simpang 5 terus lanjut jalan-jalan ke CL, makan di Shibuya Express, dan biasa, pilih menu paling irit. Sempet selfi biar ada bukti lagi bareng, tapi gara-gara kamera kita nggak ada yang bagus, hasilnya jadi bikin enek. "Yaudah makan aja yuk za, susah banget mau poto doang." Inilah yang menjadi alasan, pertemuan kami nggak ada dokumentasi yang proper. 

Sebenarnya di pertemuan pertama ini, saya sama keluarga, tapi Bapak-Ibuk-Adek berpisah sama saya, karena saya mau main sama Rieza, wkwk, jadi keluarga jalan-jalan ke tempat lain. Setelah makan, kemudian kami ke Gramedia, mengenang masa-masa SMA wakakak. Selanjutnya sekitar jam 8 malam, kami memutuskan untuk pulang. "Pulang yuk za, aku dah dicariin sama Ibuku." Saya lupa sih siapa yang dicariin duluan,tapi intinya saya sudah mau dijemput untuk selanjutnya pulang.

"Etapi, kamu pulang sama siapa za? Dijemput sama 'itu' yaa? Namanya siapa sih zaaaa, kasih tauuu.."
"Nggak maaau.. udah yuk pulang, kita berpisah.." Selanjutnya kami berpisah di depan gerbang gramedia. Saya jalan ke luar ke arah jalan Pandanaran, karena janjiannya dijemput di jalan. Saya nyebrang, dan terus jalan ke arah simpang 5, dan akhirnya diam nunggu di depan gedung galeri Indosat kalau nggak salah. Ibu bilang sudah otewe tapi kok nggak sampe-sampe ya.. Alhasil saya nunggu di jalan kayak orang ilang. Tapi dari kejauhan, ada orang jalan kaki mendekat ke arah saya, dengan cara jalan yang familiar. 

"Aiiis!! Kok kamu nunggu di sini siiih?" Sambil badan orang ini loncat-loncat nggak jelas.
"Ehh.. Riezaaa hahaha, samaaa..." Eh iya ternyata si Rieza ini jalan sama si 'itu'nya. Akhirnya saya dan pria penjemput Rieza berkenalan, tapi saking terkesima (antara terkesima dan pengen ngekek, ngetawain si Rieza) saya nggak fokus ke pria ini. Cuma saya perhatiiin wajahnya sebentar terus lirik ke Rieza lagi.
"Yaudah, Is. Aku tungguin aja deh, kamu. Daripada kamu ntar ilang diculik orang. Gelap tauk."
Akhirnya saya dan Rieza ngekek-ngekek di pinggir jalan kayak orang gila, tapi pria penjemput Rieza ini nunggu di mobil. Di mana mobilnya parkir tepat di depan saya, wahahaha. 

"Nih makan, kamu tuh lhooo, kok nunggunya disini tooo." Sambil Rieza menyodori saya dengan sari roti pemberian dari calonnya Rieza.

"Wakakakak, gapapa deh za, aku nggak tahu namanya, tapi aku tahu mukanya weeeeek."

Pertemuan pertama berakhir bahagia buat saya ngetawain Rieza hahahaha. Dasar, sukanya rahasia-rahasia sih. Selanjutnya pertemuan absurd kedua setelah saya paksa-paksa, akhirnya dia naik BRT ke jalan pemuda. Kami bertemu di Paragon.

"Kamu jangan ke mana-mana ya, di Musholla aja."
"Iyaa, uwe udah di musholla dari lebaran tahun kemarin -_- ."
Setelah ketemu makhluk ajaib ini, saya perhatiin dari atas sampe bawah.. Baju coklat, rok coklat, kerudung ijo.. dapet inspirasi dari manaaaa ini anak.

"Apa liat-liat? Udah kayak pohon belum? Hari ini aku mengusung konsep back to nature." wakakakak geblek ini anak, gilanya nggak ilang-ilang padahal udah mau nikah. 

"Eh aku punya voucher calais beli 1 gratis 1 looh.." Si Rieza ini kalo makan di luar iritnya minta ampun, jajan yang enak dikit atau mahal nggak jauh-jauh dari kata gratisan. Ini konsep yang perlu ditiru sih emang. Dari zaman SMA kalo saya jajan gorengan hampir setiap istirahat, dia paling cuma ngikut jalan ke kantin. 

Setelah itu kami lanjut ke matahari. Belanja baju haha. Ada diskon beli 2 gratis 1 membuat saya kalap nyari 3 buah baju dengan merk sama sambil berhitung. "Zaa, tapi ini ukurannya beda-beda, di aku muat nggak ya?" Setelah ngubek-ngubek hampir 2 jam, akhirnya 3 baju itu saya kembalikan. "Yaudah lah, aku beli sweater yang abu tadi aja, baju-baju yang tadi susah nyari pasangan jilbabnya..."

Si Rieza kebingungan nyari kardigan yang oke, dan ini udah mendekati waktu sore. "Zaaa, buruan, nanti aku ga bisa pulang ngga ada BRT neeeeh.." Rencana mau pulang ke Boja naik BRT, meskipun serem juga sih, karena BRT nya itu nggak nyampe rumah mbah, tapi nanti mesti naik bis umum mini lagi. Kalau siang-siang sih oke aja, nah kalo maghrib? hiks hiks..

Akhirnya kami cau ke DP mall nyari seserahan, jalannya jauh juga sih. Tapi karena kelaperan akhirnya kami makan dulu sebelum belanja lagi. Baru kali ini diajakin beli seserahan, ternyata barangnya macem-macem juga. Si Rieza beli sisir (apaan coba sisir buat seserahan, katanya sih sisirnya sisir yang yahud gitu), sprei, parfum, sabun.. Ooooh jadi seserahan itu begini thoo..

Dan benarlah, kita selesai belanja sampai maghrib. Sampai di halte BRT, ramaaai banget. Kata bapak-bapak BRT juga sempat ada kemacetan, jadi BRT nya akan ada yang delay. Cemas banget nggak bisa pulang, si Rieza juga udah diburu-buru sama Papa Agus (ayahnya Rieza) buat cepetan pulang. BRT ke jurusan rumahnya Rieza nggak dateng-dateng padahal belum sholat maghrib juga.. Tahu gitu sholat maghrib di Ahlil Jannah-nya smaga. Akhirnya setelah sekian lama, BRTnya Rieza sampai juga, daaaan bye bye Rieza, sampai jumpa lagiiii.

Terus nasib saya gimanaa? Haha itu part yang nggak usah diceritain aaah, biar jadi rahasia saya aja :p. Tapi saya pulang dengan selamat kok, berkat seseorang, wkwk makasih yaaaaa :)


Selasa, 25 Oktober 2016

Ambil Sikap, Sekolah atau jadi Ibu Rumah Tangga?

Bismillahirrahmanirrahim..

Sekali lagi, kisah galau akan saya ungkapkan di sini. Jika kawan-kawan tahu, hari Senin tanggal 24 Oktober 2016 kemarin merupakan hari Dokter Nasional. Terus, kenapa?

Ya, kemarin diadakan aksi damai oleh Dokter di beberapa wilayah Indonesia, dalam rangka memperingati hari Dokter Nasional ke 66 ini. Inti dari aksi damai ini adalah menolak adanya prodi DLP (Dokter Layanan Primer).

Lalu apa sih, DLP ini? Dari penjelasan beberapa orang yang saya dengar, DLP ini adalah program pendidikan dokter berkelanjutan yang setara dengan spesialis, yang akan ditempuh selama 2 tahun, setelah seseorang lulus dari pendidikan profesi dokter umum dan sudah melalui program internship. Lalu, apakah DLP ini merupakan salah satu bentuk spesialis?

Menurut UU no 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran pasal 8 ayat 3, Program dokter layanan primer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kelanjutan dari program profesi dokter dan program internsip yang setara dengan program dokter spesialis.” 

Berdasarkan pengakuan dari Wamenkes, Prof. Dr. Dr. Ali Ghufron Mukti M.Sc.,Ph.D., hadirnya dokter spesialis layanan primer pada lini pertama BPJS Kesehatan diharap dapat mematangkan kembali para dokter umum dalam peranannya sebagai dokter keluarga. Dokter layanan primer dianggap bisa menjawab tantangan di dunia kesehatan masa mendatang sehingga proses rujukan dari dokter umum ke dokter spesialis menjadi lebih terstruktur. 

Apa sih bedanya DLP dengan dokter umum? Kompetensi DLP ini akan lebih tinggi dibandingkan dokter umum biasa. Okay, jadi seperti ini, semua dokter umum memiliki standar minimal kompetensi yang harus dikuasai, di mana standar ini tercantum di SKDI (Standar Kompetensi Dokter Indonesia), oya, ini ada beberapa perbedaan, contohnya saya ambil dari materi sosialisasi DLP

diambil dari http://www.pusat2.litbang.depkes.go.id/pusat2_v1/wp-content/uploads/2015/12/Materi-sosialisasi-DLP-Kabadan-PPSDM.pdf
Nggak ngerti ya? Saya juga haha oke, intinya, DLP harus mampu menguasai kasus-kasus tersebut, yang jika kasus ini dihadapi oleh para dokter umum, maka mereka akan merujuknya ke dokter dengan kompetensi yang lebih tinggi. 

Lalu, wajibkah semua dokter mengikuti program DLP ini? Kalau saya tidak salah dengar, tempo hari sempat ada diskusi panel dengan Prof. Dr. Dr. Ali Ghufron Mukti M.Sc.,Ph.D di kampus saya, dan beliau mengatakan bahwa, program ini tidak wajib, melainkan 'pilihan'. 
diambil dari http://www.pusat2.litbang.depkes.go.id/pusat2_v1/wp-content/uploads/2015/12/Materi-sosialisasi-DLP-Kabadan-PPSDM.pdf


Fiuuh.. Hanya pilihan saja kok, nggak wajib. Kalau wajib, bisa kewalahan kita, sekolah mulu, kapan prakteknya? Bisa dilihat dari bagan di atas ya, pada era pendidikan kedokteran saat ini, untuk jadi dokter umum saja, sudah menghabiskan waktu 7 tahun... Horor ngga seeeh? Ini lebih horor dibanding kisah dosen Gaib yang kakinya nggak napak di tanah *cry*

Daaaan, yang lebih horor lagi adalah.. Ketika era DLP ini suatu saat 'mau tidak mau' menyingkirkan para dokter-dokter umum yang sudah menghabiskan 7 tahun dalam hidupnya untuk belajar, dan masih 'dianggap' kurang kompeten. Sedih nggak sih... Apalagi, nantinya dokter yang bisa bekerja sama dengan BPJS ini adalah DLP.

Yaaa sama saja sih.. dokter umum akan tergerus zaman, dan entah bagaimana akan bertahan.. Saya sebagai koas biasa saja (yang nggak pinter2 amat, dan nggak ngerti nasib saya ketika jadi dokter nanti akan gimana) merasa sedih dengan kenyataan ini. Mau tahu yang lebih sedih lagi?

Dua hari lalu saya ngobrol dengan kakak tingkat yang sudah disumpah dokter. Beliau memulai pendidikan sarjana Kedokteran mulai tahun 2010, 4 tahun kemudian, tepatnya bulan September 2014 mulai menjalani kehidupan koas, hingga sekitar bulan Juli 2016. Oke, habis sudah 6 tahun yaa. Selanjutnya, bulan Agustus 2016, beliau mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia, di mana hasil kelulusan diumumkan satu bulan kemudian, yakni bulan September 2016. Alhamdulillah lulus one shoot, bulan Oktober beliau di sumpah sebagai seorang Dokter Umum. Waaah, udah lulus, udah bisa praktek dooong? Tunggu duluu.. Kan masih ada internship 1 tahun.. Waah, selanjutnya bisa internship terus bisa praktek dooong? Tunggu dulu.. Antrian internship itu juga lama.. Kalau di sumpah bulan Oktober, maka akan Wisuda Dokter bulan Desember, terus baru bisa internship bulan Februari. Haaaaah lama bangeeeet! Jadi jarak antara sumpah dengan internship bisa hampir setengah tahun!

Oke, jalur ini hampir mirip dengan yang akan saya lalui. Intinya, tahun Februari 2018 saya baru bisa internship, dan selesai jadi dokter umum tahun 2019. Ya Allah, merinding nggak sih.. Mending saya teriak-teriak liat brankar jalan sendiri daripada begini!

Ini kalo sekarang saya hamil, sampai nanti jadi dokter umum yang sudah dapat SIP dan STR (artinya sudah bisa praktek) anak saya udah bisa jalan, udah bisa ngapa-ngapaiin, atau mungkin udah masuks SD hiks hiks... Tapi... Ais.. kamu belum bisa beli susu buat anakmu loooh.. mau dikasih makan apaa? rumpuuut?

Tak tahulah, mau dibawa ke mana.. Ada yang mau usul? Sekolah terus atau.. Yaudah belajar dulu sana, ini tugas dari kemarin ngga jadi-jadii *crying on the shower*


Mencari Tahu Namamu

Mencari tahu namamu, kini tak semudah mencari peniti di tumpukan jarum pentulku.

Tampak berbeda, di antara hiasan yang sebenarnya tugas mereka sama.


Menghimpun kabar darimu, kini tak semudah menghimpun untaian kusut benang-benang jahitku.

Memusingkan memang, tapi aku tak frustasi, karena benang itu ada di genggamanku.


Memilih cerita tentangmu, kini tak semudah memilih aksesoris yang akan kugunakan hari ini.

Karena mereka selalu ada di hadapanku, membiarkan aku memilih di antaranya.


Baiknya memang kutunggu, namamu ada di tempat yang tepat

Baiknya memang kutunggu, kabarmu sampai ke telingaku

Baiknya memang kutunggu, ceritamu terkisah padaku


NB: long time no write, jadi ngepost sesuatu yang random haha. Belum produktif lagi... aduuuh aisnya lagi malees~~