Kamis, 02 Juli 2015

Cerpen : Menciptakan Kehilangan


"Maka sesungguhnya setiap hati pasti merasakan kehilangan. Sebagaimana setiap jiwa pasti merasakan mati. Mungkin kau belum merasakannya, karena kau belum mengetahui bagaimana nikmatnya menemukan."

Berkali Lesa mengernyitkan dahi, dan berujung pada kesebalan. "Kenapa sih itu lagi! Rumit deh. Ntar juga kalau tiba saatnya ketemu!"


"Jodoh lagi ya? Memang puisi dia tak jauh dari tema itu. Puitis kan?" Celetuk Dika, lelaki jangkung yang kini duduk tepat di samping Lesa.

"Dik! Ngagetin aja. Puitis sih puitis, tapi dari 100 naskah, 87 di antaranya melulu tentang itu. Kan bosan!"

"Yaa, dia target pembaca yang dia cari, kan memang usia-usia rentan untuk menikah. Bukannya tulisan dia itu bertujuan untuk menguatkan hati-hati yang merasa kosong karena tak kunjung dapat jodoh?"

"Dika, menguatkan dari mananya? Itu justru membuat pembaca semakin menggebu memikirkan hal itu. Lalu sibuk membayangkan nanti jodohnya seperti apa. Itu justru melemahkan!"


"Tergantung pembacanya dong berarti, Les. Ada yang berusaha menguatkan diri untuk mempersiapkan kedatangan cinta, ada yang persiapannya hanya sampai pada tingkat pikiran, seperti apa yang kau bilang." Dika menyeruput minuman, yang baru Lesa sadari, itu minuman miliknya yang belum sempat Ia minum dari kemarin, "Les, kok aneh sih rasa minumannya."

"Hahaha," Lesa terbahak, "Dik, tergantung peminumnya, kok. Rasanya biasa aja kok, harusnya enak malah. Tapi karena gelas itu aku biarkan dari kemarin, dengan isi yang sama, ya jadinya mungkin seperti apa yang kau rasa."

Dika terbatuk, Ia ingin muntah, tapi belum sempat ia mengomel, Lesa menimpali, "Ya sama seperti tulisan, kalau isinya sama terus nggak ganti-ganti, lama-lama penikmatnya jadi nggak suka."

"Memangnya kamu sudah baca keseluruhan isi naskahnya? Jangan-jangan kamu baca kutipan pengantarnya aja. Kamu kan juga belum minum minuman itu, buktinya masih penuh gelasnya." 

"Dik, nanti juga sembari aku bekerja, aku juga tahu isinya. Tapi dari kutipan pembukanya aja udah begitu, bikin males tau nggak."
"Iya deh, yang udah jomblo 23 tahun, hahaha. Kamu belum pernah mengalami asam garam dunia percintaan sih."

"Dih, situ juga jomblo. Jomblo abis diputusin. Nggak usah sok ngatain deh. Gini-gini aku juga pernah kali suka sama orang, meskipun ujung-ujungnya jadi nggak suka lagi. Males lama-lama. Ohya, biasanya orang-orang kalau habis putus suka belum bisa move on ya? Kenapa sih? kan udah bertekad mau mutusin, kenapa nggak move on? Bilang masih cinta kek, padahal kan konsekuensi dari putus itu kayak..."

"Les!" Dika menepuk pahanya dan bangkit. "Aku mau keluar beli es buah. Kamu sembari mikir deh, apa jawaban dari pertanyaanmu. Okay?" Dika pergi meninggalkan meja kerja Lesa setelah sebelumnya menjentikkan jari kepada gadis yang baru bekerja di kantor itu 3 bulan. Mulutnya pahit setelah ia meminum minuman Lesa yang aneh itu. 
Karena cinta itu aneh, Ia membuat berjuta orang bahagia ketika menemukan. Tapi, ia memberi kesempatan kepada orang-orang itu untuk menciptakan kehilangan. Mereka sendiri yang memutuskan untuk tak lagi bersama, dan mereka-lah yang merelakan diri merasakan pahitnya kehilangan.

Maka, jangan biarkan kau bahagia menemukan namun dengan cara yang salah. Pun berujung pada kebahagiaan, tapi cara yang salah tak pernah dibenarkan. 


"Kenapa kata hubung ada di depan kalimat semua sih......" gerutu Lesa. Ia pun merasa harus membenahi naskah yang baru saja Ia baca.


"Makanya Les, jangan jadi copy editor terus, naik pangkat kek. Tapi tulisan Bung Tegar itu bagus lho." Lesa kaget, tiba-tiba lelaki itu sudah ada di belakangnya, "Tadi penjual es buahnya tutup, jadi ngga bisa beli deh."

"Diik! Ngagetin mulu, kau. Bagus sih, tapi tetep aja menurutku itu melemahkan. Capek aku Dik, ngomongin cinta mulu. Kenapa sih chief ngasih tulisannya yang ini? Huh! Udah ah, aku mau kerja lagi. Bisa-bisa disemprot chief kalo aku tak segera merampungkan tugasku."

6 komentar:

  1. ciee haha biasanya cerpen itu cerminan penulisnya :p
    btw ini ada lanjutannya mbak? bagus kok ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, biasanya begitu..
      Duh jadi malu dikomen sama penulis ulung niihh.

      Rencananya sih ini cuma cerpen aja, nggak ada lanjutannya haha. tapi liat nanti deeeh wkwk

      Hapus
    2. aamiin aja deh.

      lihat nanti itu kapan?

      Hapus
    3. setelah bung okky follow blog saya buahahaha

      Hapus
  2. keren ceritanya, di tunggu kelanjutanya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah jika sempat yaa dan ada inspirasi :)

      Hapus

need your support :)