Jumat, 28 Juni 2013

Menunggu

Bismillahirrahmanirrahim

.....
 menunggu, bisa dimanapun, bahkan disinipun. Aku tetap menunggu

 

esok mungkin datang, mungkin tidak. aku mampu menatap matamu dari jauh, tapi, menunggu lebih kupilih
 
 
aku lari keluar, masih juga tak kudapati sosokmu. esok, esok esok, atau ketika ku masih ada berpijak di bumi


 aku berpaling. tenang, aku masih menunggumu, dan tak akan berubah, hingga waktu yang indah itu tiba :)

Rabu, 17 April 2013

Aku Membencimu dengan Sepenuh Hatiku (2)

Bismillahirrahmanirrahim.





Aku tutup lagi buku biru itu. Esok, entah kapan, akanku baca lagi tulisan kebencianku kepada sosok itu. Entah benci atau tidak, yang jelas aku sedang merasa tak suka padanya, hari ini.

Aku tutup lagi buku biru itu. Esok, entah kapan, akanku tulis lagi cerita kebencianku pada sosok itu. Entah benci atau tidak, yang jelas aku sedang merasa tak suka padanya, hari ini.

Aku tutup lagi buku biru itu. Inginku, aku tulis penantian yang damai dan belum berujung ini, di sini. Entah datang padaku atau tidak, yang jelas aku pernah merasa hatiku cenderung kepadanya.

Aku tutup lagi buku biru itu. Inginku, aku baca kisah indah yang pernah ada di sana, dengan senyum yang tak kunjung usai. Entah kurasakan atau tidak, yang jelas aku pernah merasa bahagia ketika merasakan kerinduan padanya.

Aku baca, namun kemudian aku tutup lagi. Aku tutup, kemudian aku baca lagi. Aku tutup, kemudian aku tuliskan lagi.

Ada suka, tapi lebih banyak benci.
Ada benci, tapi terkadang suka.

Menjauh, mungkin sekarang yang benar. Membencimu, mungkin sekarang yang kurasakan.
Ini lain cerita, lain manusia, lain situasi.


Tetapi, kisahku masih sama, Aku Membencimu dengan Sepenuh Hatiku

Jumat, 05 April 2013

Malaikat Juga Tahu, Another Paradigm



Bismillahirrahmanirrahim..

Postingan ini kupersembahkan untuk seseorang yang kucintai. Dan beliau juga mencintaiku. Tapi, kadang, aku tak sadar kalau aku mencintainya, dan tak sadar juga kalau dia mencintaiku #paraah


Lelahmu...jadi lelahku jugaBahagiamu...bahagiaku pastiBerbagi takdir kita selaluKecuali tiap kau jatuh hati

Lihat liriknya, resapi artinya. Bisa menangkap apa artinya? Kalau kata teman sih, "Aku liat di video klip, itu tentang anak autis kan? Yaah, paling tentang gimana anak autis itu diberi kasih sayang, tapi dia nggak sadar."

Kataku juga begitu. Tapi, seseorang yang kucintai itu memaknainya sebagai kalimat yang berbeda. Apalagi pas jatuh di lirik "Kecuali tiap kau jatuh hati."

Orang yang kucintai itu bilang sama aku, "Kalau awalnya memang lelahmu, akan jadi lelahku juga. berbagi takdir pun juga. Tapi, saat kamu jatuh hati, semuanya jadi berubah."

Kali ini hampir habis dayakuMembuktikan padamu ada cinta yang nyataSetia hadir setiap hariTak tega biarkan kau sendiriMeski seringkali kau malah asyik sendiri

Lihat lagi liriknya. Dapat mengambil sisi yang berbeda? Orang yang kucintai itu, sekali lagi bilang. "Coba nyanyiin. Aku sudah mencintaimu, tapi kamu sadar nggak? Bahkan meninggalkanmu pun aku tak tega. Tapi, kamu justru pergi, saat kamu jatuh hati."

Karena kau tak lihatTerkadang malaikat tak bersayapTak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Lihat lagi liriknya. Perhatikan maknanya. Orang yang mencintaiku itu bilang kembali padaku, "Coba bandingkan, kasih sayang siapa yang lebih besar? Orang yang kamu jadikan sebagai pilihan hatimu, atau AKU?"

Hampamu tak kan hilang semalamOleh pacar impian, tetapi kesempatanUntukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati

Lihat lagi, sudah paham? Orang yang kucintai dan mencintaiku itu bilang, "Aku percaya, pasti cintaku lebih sejati padamu. Malaikat juga tahu, aku kan jadi juaranya." 

Teman-temanku, tahu nggak siapa yang bicara seperti itu padaku?
Dialah yang bersusah payah bertaruh nyawa, pada tanggal yang sama dengan hari ulang tahunku. Belasan tahun lalu.

Hmm, meski bilangnya waktu itu agak ngotot padaku, tapi semua yang ia bilang padaku sepenuhnya benar. Aku bahkan tak berani memotong, dan mengelak kebenaran itu. Ia mengajakku berpikir, sudahkah aku memberi balasan untuknya? Yang bahkan takkan pernah bisa dibalas olehku.

Bukan maksudnya untuk meminta balas budi padaku, tapi, hanya meminta cinta. Bukankah setiap orang tua punya harapan yang baik untuk setiap buah hatinya?

Beliau memang tidak sempurna. Terkadang menyebalkan, tapi begitu menyedihkan jika harus berpisah terlampau lama dengannya. 

Yuk teman-teman, kita masih normal kan? Kita bukanlah anak yang acuh kan? Tanpa bermaksud mengecilkan saudara-saudara kita yang mungkin tidak sempurna, hingga ia tak mampu menangkap kasih sayang orang di sekitarnya, seperti kata temanku di awal tadi, yuk kita buktikan cinta kita. 

Oh iya, sudah menangkap apa maksud kata-kata ibuku di awal kan? Siapa yang dijadikan bandingan kasih sayangnya? Sudahkah kita menempatkan siapa selayaknya yang lebih kita cintai? Tentu hierarki pertama tetaplah Allah dan Rasul-Nya :)

Kamis, 04 April 2013

Pendewasaan Hati-Bersikap dengan Si Cablak

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini edisi pendewasaan hati yang kedua. Hmm, semoga sudah semakin dewasa dibanding episode sebelumnya hihi

Jujur nih, sebenarnya, bukan aku yang pantas membuat postingan ini. Tapi, orang lain yang dekat denganku, atau mungkin malah nggak dekat denganku. Kenapa? Karena yang cablak itu justru diriku sendiri :p

Tapi apa salahnya mencoba, iya nggak? HAHA

Oke, cablak, apa sih artinya?


Paham? Sebenernya aku sendiri juga nggak begitu yakin penggunaan kata cablak itu gimana. Yang jelas, bahasa cablak ini digunakan buat manusia-manusia yang dengan 'sangat jujur' mengutarakan pendapatnya mengenai sesuatu. Anda juga seperti ini? Berarti Anda CABLAK!

Haha, enggak juga sih. Memang ada batasan-batasan, kapan seseorang dibilang cablak, kapan dibilang terus terang. Kalo menurut aku sendiri, cablak itu adalah ketika ia mampu dengan sangat jujur mengutarakan pendapatnya, bahkan di saat yang tidak tepat *jahat ya aku*

"Eh, kamu mirip sama donghae!"
"Siapa tuh?" jawab orang lain (bukan yang dituduh mirip donghae)
"Itu looh.. Personilnya super junior!"
"Sopoooooo kuwi (siapaaa ituu)"
"Wis tho, percoyo karo aku (Sudaaah laah, percaya sama aku), dia itu mirip banget sama donghae tauk!" #maksa. Dan orang yang aku bilang mirip itu cuma tersenyum. no comment -_-

Kalo yang tadi menurutku bukan cablak, tapi terus terang hihi. Ini adalah percakapanku waktu SMA dengan seorang teman, wkwk. Dia masih inget nggak ya kalo aku bilang mirip donghae, hmm. Dan sebenernya yang aku tuduh mirip donghae ini kata beberapa teman nggak mirip -_-. Tapi tenang, aku bilang kamu mirip kok #lhaterus.

"Pertanyaan gitu doang aja ditanyain!" anggap aja namanya hyfu.
"Lho emang kenapa? Kan aku emang nggak tahu..." si teman yang anggap saja bernama uhfy
"Ya ntar nanya aja sama yang lain, yang kira-kira tahu. Nggak usah pake tanya ke beliau segala. Emang beliau punya waktu?"
"Lho, jelas-jelas beliau sendiri bilang kok, There is no stupid question!"

Oke, sudah nangkep? Menurutku ini yang dibilang cablak. Beberapa orang mungkin punya pemikiran sama dengan si Hyfu ini. Tapi, tentu banyak yang lebih memilih untuk diam dan tidak mengatakan isi hatinya kan? Takut menyakiti hati teman, sih, kalo alasanku. Alasanmu?

Ya, pengertian cablak menurutku adalah ketika kita tanpa pikir panjang mengatakan sesuatu yang ada di pikiran kita, tapi kemudian tidak memikirkan bagaimana perasaan orang yang kita ajak bicara. Hmm, kalo kita berperan jadi si Uhfy, apa ya kira-kira reaksi yang tepat?

A. "Kamu kok gitu sih. Kan aku juga pengen tahu. Iya deh, aku tahu kamu pinter."
B. "Emang kamu tahu jawabannya apa? Apaan coba?"
C. "Pertanyaan gitu doang? Maksudmu apa sih?" dengan nada menggebu.
D. "Ehm. Iya ya? Emang akunya kali ya, yang tadi nggak merhatiin. Habis, aku bener-bener nggak ngerti."

Sebenernya, nada dan bentuk ekspresi itulah yang penting dalam menanggapi orang-orang seperti ini *anggap saja menghadapiku*. Jujur sejujur-jujurnya, aku ini terkadang suka kelepasan bicara, ngatain orang ini begini-lah, ngatain dia begitu-lahh. Yaah, mohon maaf teman-temaaan :'(

Kalo dari aku sih, sabar aja menghadapi orang-orang seperti ini. Bukan berarti kamu jadi makhluk yang kalah, dan tidak seksi karena mengalah saat bertemu dengannya, tapi inilah yang membangun keragaman dalam bermasyarakat :p.

Oya, salam juga buat teman-teman yang merasa dirinya cablak, yuk sama-sama *sama aku juga* kurangi sifat itu. Mari berpikir sebelum berbicara, berpikir sebelum berkomentar. Pastikan tiga hal ini terpenuhi
Apakah itu benar
Apakah itu baik
Apakah itu penting ketika kamu mengatakannya. Dan orang itu membutuhkannya.

Sekarang sih, aku sedang proses menuju itu. Yuk bersama berproses :)
*tumben postinganku bermutu :p*

This!

I lost my spirit, now.
But, if i have to jump with you, it will come back to me
just still hanging, i'm on your side.
i will go to your harmony.
and speak out the rhythm
just still hanging, i'm going with you.
though you clearly said, you will leave first
i will make this
THIS!

Timbun Semangat

Bismillahirrahmanirrahim



Harus berulang kali kehilangan semangat.

Mungkin karena aku tak pernah menimbunnya.

Tapi ternyata. Bukan itu caranya.

Semangat itu harus selalu diperbarui, bukan hanya mencadangkan, dan mengambilnya ketika butuh.

Kyaaaaa. Semangaat!

Untukmu, untukku.

Selasa, 19 Februari 2013

Antara Lawak dan Ujian [1] part 2



Di ruang karantina, “Aduh deg-degan nih”. “Aduh, soalnya apa ya?”. “Aduh, aku lupa obat buat penyakit X nih, apa ya?” dan berjuta aduh-aduh lainnya. Tapi seenggaknya, kalo aduhnya masih diruang karantina sih, masih bisa dicari jawabannya. Lain kalo aduhnya udah di ruang presentasi.

“Satu, dua, tiga, empat, $%^$#^^%$#^%&^%#@, sepuluh, masuk ke ruang tunggu!” tunjuk salah satu petugas ujian. Hiks, dan akhirnya aku masuk di rombongan ini, Kayak mau manasik ya, rame-rame begitu.

“Eh, tadi obat buat panu apaan?” “Aduh, lupa…”

“Kriiiiiiinggggg!!” tanda waktu dimulainya mengerjakan soal, lari ke meja soal, kerjain sepenuh hati. Dari pas lihat soal sih, kayaknya kasusnya osteoporosis primer tipe 1 (keren ya ahai)

“Kriiiiiiiinggggg!!” tanda waktu masuknya mahasiswa ke ruang presentasi. Di sana sudah disediakan OHP dan seorang penguji. Dan jangan salah, jika Anda beruntung, Anda akan melihat salah seorang teman Anda tengah memasang muka miris, di ruangan itu, di depan penguji, karena belum selesai menjawab (biasanya lebih sering bengong karena ngga tahu mau jawab apa) tapi waktu yang disediakan sudah habis, dan tibalah waktu saya untuk masuk, dan memotong pembicaraan mereka berdua –penguji dan mahasiswa, yang tengah asyik ‘bercengkrama’.

Jadi memang sistemnya giliran, sepuluh orang pertama yang dipanggil, dia akan masuk ke ruang karantina yang kedua, sebelum masuk ke medan perang, sebelumnya di medan perang sudah ada yang berjuang terlebih dahulu, jadi giliran gituu.

Tiba waktu saya masuk ke ruang presentasi, sebelumnya saya melihat seorang teman saya yang keluar dari bilik yang akan saya masuki ini sudah tersenyum riang. Apa-apaan nih maksudnya? *sigh* Tapi, saya tetap bulatkan tekad. Saya putuskan untuk masuk *yaiyalah ngga masuk ngga dapet nilai kaliik :hammer: *. Begitu masuk, penguji saya adalaah parap papapa I’m lovin it #themesongmcd. Penguji saya ini terkenal banyak meluluskan mahasiswa, tapi ya nilainya ngga maksimal *katanya*.

“Duuuh, padahal aku sama dokter ‘ini’ lhoo.. tapi masih ngga lulus jugaa huhu.” Ini komentar yang saya ingat  sering dilontarkan teman-teman tentang dosen yang satu ini. Kok beda ya sama pernyataan di atas? Tapi yasudah lah, yang penting saya percaya diri dengan apa yang saya ketahui puahahaha.

Lanjutkan. Pertanyaan pertama, sudah terjawab. Kedua sudah. Ketiga sudah. Keempat sudah. Kelima sudah. Keenam sudah. Bilang aja ya udah semua -__-. Tapi setelah itu, kami para mahasiswa punya pertanyaan wajib yang harus kami tanyakan sesudah menjawab soal. “Masih ada yang kurang, dok?” tanya saya dengan nafas megap2 karena kehabisan napas, setelah menjawab soal dengan bertubi-tubi. Tapi, mereka profesional sekali, bisa mengerti apa yang saya katakan meskipun bahasanya acak adul. Dan ada bermacam-macam jawaban biasanya.

#1 “Oke, coba nomer 1, 4, 5 dilengkapi.” Yang ini baik hati sekali ya :D

#2 “Hmmh.. *sigh* yang mana ya, kok kayaknya semuanya kurang ya dhek. Coba dilengkapi dari awal” waah, ini buaaaiiik banget, memberikan kesempatan kita punya nilai jauh lebih baik *tapi kadang jadi nangis darah*

#3 “Tadi kamu tuh ngomong apa sih dek? Saya nggak ngerti. Coba diulang dari awal. Yang runtut gitu lho *pasang muka sedih*.” Yang ini baik juga sih, mengingatkan kita, bahwa kita sedang gaje.

#4 “Menurut kamu ada yang kurang nggak?” yang ini nih, menjebak sooobb.. Kayak cowok lagi minta maaf sama pacarnya terus pacarnya bilang, “Menurut kamu, kamu salah apa hah?” kira-kira kayak gitu perasaannya.

#5 “……….” Biasanya kalo ada jawaban ini, mahasiswa cuma bisa bersuara memecah keheningan, “oh, emmh. Eerr… emmh……” akhirnya bunyi “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg” lah yang memecahkan kesunyian antara dua sejoli ini.

#6 “Ya, udah cukup.” Jangan seneng dulu meeen. Banyak suara mengatakan, ujung-ujungnya, meskipun kalimat ini diucapkan dengan enteng, bisa jadi kita akan bertemu lagi dengan ujian ini, masih dengan blok yang sama *baca: remed.

Dan nggak jarang jawaban ini muncul, biasanya karena sang penguji sudah memahami, kalo otak kami sudah mampet, ngga bisa berpikir jernih lagi
#7 “Yaudah, dilengkapinya besok lagi aja ya dhek. Besok bisa aja kita ketemu lagi.” Yang ini, udah jelas, fix, paten. Dapet remidi soobb :’(

Kebetulan, kalo pas saya sih, enak-enak aja. pertanyaan pertama. Spesifik, jelas, dan tidak dibuat-buat #apasih ais ngga jelas lagi.

Kebetulan yang harus saya tambahkan itu adalah mengenai terapi nonmedikamentosa (terapi selain obat) untuk osteoporosis.

“Emh, iya dok, mungkin ibu harus makan-makanan yang tinggi akan kalsium. Kemudian tidak boleh melompat-lompat. Melakukan gerakan yang terlalu mendadak. Melakukan aktivitas secukupnya, terutama lebih sering di luar ruangan, agar mendapat sinar matahari. Jangan berjalan terlalu melenggak lenggok.: Tapi tahukah sodara-sodara? Apa yang saya lakukan pas kalimat itu terucap? Tiba-tiba pinggul saya berlenggak lenggok secara involunter!

“Eh, bentar dhek, oh gitu ya. Berarti penderita osteoporosis ngga boleh jadi model ya? Nggak boleh kemayu ya?” sambil terkikik pelan setelah melihat gerakan involunter saya. Terus jadi mikir, ngapain ibu-ibu osteoporosis jadi model?

“Eeh, ehm.. i.. iya dok.. ngga boleh terlalu berlebihan tetapi maksudnya, misalnya gini dok..” >> dan ini saya praktekkan! Masya Allah..
Beliau terkikik lagi. Dan suasana mendadak sunyi kemudian, “Yasudah oke dhek. Sekarang ayo tambahin lagi yang lain. Ada yang belum lho..”

“Duh, apa ya dok? Ehmm.. err.. oh… eehmm..”

“Kriiinggggggg!!!!” "eh, iya makasih dok, maaf dok ngga selesai. Makasih dok, Mari.." *buru-buru ngibrit ke pintu keluar.* 7 menit yang horor itu sudah berlalu!

Beruntungnya saya kali ini adalah, ini adalah blok yang luar biasa padatnya. Dan, tentu saja ngga mau mengulang ujian lagi dong.. Semoga LULUS! Itu doa kami semua. Dan tibalah waktu pengumuman. Eh, jangan sedih, pengumuman lulus atau ngga lulus itu biasanya cuma beda beberapa jam saja dengan jam ujian remidinya. Misalkan ujian remidi hari jumat jam 8 pagi, maka pengumumannya akan dikeluarkan hari kamis, jam3 sore. Ngga tentu juga sih, tapi seringnya begitu! Hsshh..

Ya begitulah teman2 pengalaman saya dan mereka. Masih ada lagi kok, tenang aja. Tapi ini dulu deh yang dirilis yaak hahaha.

Antara Lawak dan Ujian [1] part 1


Bismillahirrahmanirrahim..

Setelah sekian lama hibernasi, akhirnya muncul lagi. Tenang, kali ini bukan mau bicara soal jodoh kok, belum ada minat lagi, tapi, ngga janji juga tema itu ngga bakal dibahas lagi keesokan bulannya hehe^^
Sekarang, mau bahas tentang ujian, bukan ujian hidup, tapi ujian beneran! *emangnya ujian idup bukan ujian beneran -_-

Hmm, jadi, perkenalkan, kami mahasiswa, pasti riweuh kalo yang namanya ketemu sama ujian. Apalagi, kami, saat saya menulis ini, sedang bertemu dengan blok yang luar biasa sibuknya, blok DMS *DermatoMusculoSceletal*

Bisa dibayangkan kah? *agak nggak kebayang* Yaudah, ngga usah dibayangin juga sih. Sekarang mau cerita soal ujiannya aja ya. Ada beberapa kekonyolan mahasiswa kedokteran waktu menjalankan pendidikan selama ini. Salah satunya kekonyolan waktu ujian, termasuk saya.

Oke, dijelaskan dulu ya, salah satu ujian yang paling bikin kita agak keringat dingin dan gemetaran sebelum masuk ruang ujian adalah ujian SOCA. Apalagi bagi yang belum pernah mengalami SOCA. Apa itu SOCA? SOCA adalah ujian yang bikin gemeteran dan keringet dingin sebelum kita masuk ruang ujian. Eh, udah dijelasin ya? Ya maap, selain itu ujian ini adalah ujian yang dianggap sebagai ujian IMAN kita sebelum masuk hari ujian. Apakah sholat kita rajin (bagi yang muslim) ataukah ibadah kita sehari-hari sudah dilakukan dengan baik (bagi yang selain muslim, ya, hehe). Kok bisa? Yah, entah, kadang meskipun udah belajar mati-matian dan yakin bakalan lulus, ternyata hasilnya…. Ya, ujian ini unpredictable sekali, TERKADANG. 

Kadang belajar cuma sedikit, tapi ternyata hasilnya, LULUS.. yah, kita pun berasumsi, teman kita yang beruntung itu, udah rajin banget berdoa, dan hasilnya, dimudahkan waktu ujiannya. Hmm, wallahu’alam.
Jadi, SOCA ini adalah ujian, di mana sistemnya adalah sistem presentasi, kepanjangannya Student Oral Case Assesment. Namanya aja udah ketebak ya, gimana ujiannya. Sistematikanya adalah 

Karantina, bersama teman-teman sejawat >> masuk ke ruang tunggu, tanda tangan, absen  >> lari ke meja soal >> kerjakan soal dengan menulis di transparansi (waktu 7 menit)>> lari ke ruang ujian >> presentasikan hasil jawaban kita (7 menit)

Gampang kan? Gampang sih, yang susah kadang soalnya (buat yang nggak belajar tentunya, tapi, lain lagi buat yang belajar, tapi ternyata soalnya yang keluar bukan yang dipelajarin -_-. Jadi, masalahnya bukan udah belajar atau belum, tapi udah berdoa dapet soal yang bisa dikerjain atau belum.
Lalu soalnya sebenarnya gimana sih? Soalnya itu dianggap seperti kita sedang dihadapkan dengan pasien. Jadi, kasusnya, contoh ya.. “Seorang pasien datang dengan keluhan bla-bla-bla, dst…. Biasanya pertanyaannya itu apakah diagnosis anda tentang penyakit tersebut, mekanisme terjadinya penyakit, satu lagi, apa obat atau terapi yang bisa diberikan. Nah, ujian di blok kemarin, saya menemukan suatu keganjalan, dengan jawaban saya waktu soal TERAPI ini. Cuplikannya seperti ini ....
[to be continued]

Senin, 11 Februari 2013

Tokoh #1: Al-Zahrawi, dari Dokter Ahli Bedah hingga Penemu Pewarna Rambut


Bismillahirrahmanirrahim...

Waah, sudah lama bersemedi, pengen memberikan suatu postingan yang baru nih, hihi. Kebetulan sedang kosong, nah kali ini pengen mengulas tentang ilmuwan Muslim yangg ada di dunia, dan berperan besar dalam kehidupan kita sekarang ini. Kali ini, giliran Bapak Ahli Bedah yang terkenal di seantero dunia. Yuk mari kita lanjuut ;)
Ternyata, banyak kaum muslim tidak menyadari, salah satunya saya, bahwa sebagian besar peralatan yang kita gunakan di bidang kedokteran sekarang ini merupakan pengembangan dari penemuan yang menakjubkan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim sejak zaman dahulu. Salah satu dokter Muslim yang dikenal sangat berjasa di kedokteran, terutama dalam ilmu Bedah adalah seorang dokter bernama Al Zahrawi. Sekitar tahun 1000 M, Dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun! Wooww, eh subhanallah :)
Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi 
Bapak Kedokteran Bedah
Salah satu jasa dokter yang memiliki nama lengkap Abu Al-Qasim Khalaf ibn Al-Abbas Al-Zahrawi ini adalah perannya dalam membuat alat bedah. Peralatan bedah modern yang sering digunakan saat ini, banyak yang memiliki desain yang sama sesuai yang dibuat oleh dokter yang terlahir pada tahun 936 M di kota Al-Zahra, sebuah kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol. Pisau bedah, gergaji tulang, tang, gunting halus untuk bedah mata dan sebanyak 200 alat ciptaannya hingga saat ini masih digunakan oleh para ahli bedah modern.
Inovasi lainnnya yang beliau temukan adalah ketika Al Zahrawi ini menggunakan larutan usus kucing untuk dijadikan benang jahitan, sebelum beliau menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dokter Al Zahrawi ini jugalah yang diketahui telah melakukan operasi caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan. Penemuan catgut, yaitu alat yang digunakan untuk jahitan internal yang dapat melarutkan diri secara alami juga dilakukan oleh ilmuwan yang sering disebut sebagai Abulcasis, The Father of Surgery ini. Penemuan ini terjadi nggak disengaja lho saudara-saudara, jadi ceritanya, beliau tengah melihat seekor monyet yang nggak sengaja menelan senar kecapinya. Nah, lalu? Kebetulan senar kecapi ini juga digunakan  sebagai bahan untuk membuat kapsul obat pada saat itu, karena senar ini memiliki kemampuan untuk dapat melarutkan diri secara alami. Prinsip inilah yang mengantarkan Bapak Zahrawi ini menemukan hal tersebut.
Beliau terkenal sampai abad ke-21 lho, dan sudah mewariskan sebuah kitab bagi peradaban dunia dengan judul Al-Tasrif– Al-Zahrawi. Di kitab ini, Al Zahrawi dengan bahasa yang rinci tetapi lugas ini menjelaskan tentang berbagai ilmu kedokteran, antara lain, ilmu bedah, orthopedi, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Selain ilmu kedokteran, Al Zahrawi juga  berperan besar dalam dunia kosmetik. Banyak produk kosmetika yang berkembang sekarang ini yang merupakan hasil karya dari Al Zahrawi. Deodoran, hand lotion, dan pewarna rambut misalnya, ketiga benda tersebut  merupakan hasil tangan dingin ilmuwan Muslim yang satu ini.
Bapak Abulcasis ini memilih kota Cordoba sebagai tempat mengabdikan ilmunya. Beliau ini sebenarnya keturunan Anshar yang akhirnya menetap di Spanyol. Kota Cordoba ini jugalah kota yang dipilih Al Zahrawi ini untuk mengembangkan penemuannya di ilmu bedah dan bidang lain. Sehingga, menurut Will Durant, seorang penulis dan ahli sejarah berkebangsaan Amerika, mengatakan bahwa orang-orang Eropa pada zaman dahulu jika ingin melakukan operasi, mereka akan berkunjung kota ini
Popularitas Al-Zahrawi sudah dikenal di seantero Eropa. Hingga akhirnya banyak pelajar yang khusus datang ke Cordoba untuk mempelajari ilmu kedokteran dari beliau. Bahkan pada masa kejayaannya, Cordoba memiliki sekitar 50 rumah sakit yang menawarkan pelayanan yang prima. Beliau amat sangat fenomenal lho pada masanya. Banyak ilmuwan pada masa itu yang berguru pada beliau. ”Prinsip-prinsip ilmu kedokteran yang diajarkan Al-Zahrawi menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di Eropa,” ujar Dr. Campbell dalam History of Arab Medicine.

Rabu, 06 Februari 2013

Gagal Donor

Bismillahirrahmanirrahim..
Saling tolong menolong merupakan hal yang harus kita lakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Niat menolong orang lain merupakan suatu kebaikan. Ya kan? Ya kan? Baru niat saja sudah dicatat oleh malaikat, apalagi kalau sudah melakukan. Betul? Ya betul sekali #prokprok
Kita semua tahu, donor darah merupakan salah satu kebaikan yang tiada taranya. Bagaimana tidak, kita bisa menyelamatkan nyawa orang lain dengan darah kita (jika Tuhan mengizinkan). Ada orang kehilangan banyak darah karena terjadi sesuatu padanya, ia bisa menggunakan darah kita untuk mengganti darah yang hilang (berasa iklan minuman isotonik). Selain itu, kita bisa menjaga kesehatan kita, karena dengan mendonorkan darah, darah yang kotor akan dikeluarkan dari dalam tubuh (berarti penerima darah menerima darah kotor dong? Wah, itu di luar kapasitas saya, hehe)
Namun, ketika aku, eh saya ingin mendonorkan darah, selalu saja ada hal yang membuat saya selalu gagal. Segalanya hanya bersisa pahala niat. Itupun jika niatnya bener.  Bayangkan, dari 4 kali mencoba, 4 kali pula kegagalan menerpa. Sungguh, itu di luar kekuasaan saya.
Kegagalan #1
Kelas 1 SMA. Ada pengumuman dari interkom di kelas. “Hari ini ada donor darah di basecamp PMR. Bagi yang ingin mengikuti silakan mendaftar kepada ketua kelas masing-masing.”
Aku tertarik. Aku bersama temanku pun mendaftar. Saat itu usia kami 15 tahun. Pokoknya intinya aku dan teman sebangku mendaftar.
“Eh, tapi kan kita belum 17 tahuuuun…”
“Emang harus 17 tahun ya?” aku bertanya dengan rasa penasaran. Sungguh mati aku jadi penasaraaaan, kenapa donornya harus tujuh belaaaass, yoo digoyaaang!
“Iya, aiisss…!” temanku tak kalah ngotot. Kita ngobrol sambil adu besar-besaran otot biseps.
Tetapi, ujung-ujungnya kita tetap ngotot. Ngotot ikut donor, biar bisa ngeceng di tempat donor sama kakak-kakak kelas yang ganteng. Imbasnya, ketika antri di sana pas sudah di depan ibu dari PMI, ditanyain, “Usianya berapa dhek?” kita jawab,“15 tahun buuu.” Ibu itu mengernyitkan kening, “Petugaasss… mereka masih di bawah umuuurr!!”
Gagal. Gagal total. Donornya gagal, tapi tenaang, ngecengnya tetep jalan.
Kegagalan #2
Kelas 2 SMA. Sebenarnya yang ini masih di bawah umur juga. Usiaku masih 16 tahun soalnya. Tapi ngotot tetep pengen ikutan donor darah. Masuk ke basecamp PMR. Di sana sudah ramai antrian. Di depan mas-mas PMI (yang ini ganteng deh [?]) ditanyain, “Usianya berapa dhek?” kita jawab, “16 tahun maaasss.” Si mas menjawab dengan lembut, “Yaudah deh, coba ditimbang dulu berat badannya yaa..” kita-kita agak terpesona, terdiam dan tak tahu harus berbuat apa. Sungguh, wajahnya mengalihkan dunia kami. “Wooy dheek, nimbang dulu gih sanaah!” waduh, baru inget kalo disuruh nimbang.
Merem melek nggak jelas waktu ditimbang., dalam hati kepikiran, “Aduh, berat badanku berapa yaah? Jangan-jangan aku obesitas nichh..” tuh kan alay, gara-gara merem melek sih..
“Empat puluh tiga, is.” Waw, lumayan lah yaah.
“Ya mas, tadi udah nimbang, berat badan saya empat puluh tiga kilogram.”
“Waduuuh, maaf dhek, berat badannya harus di atas 45 kg, kamu tidak memenuhi, maaf ya.” Pupus sudah harapan disuntik sama mas-mas ganteng. Aduuh, niat donornya ngeceng melulu nih. Gagal maning-gagal maning.
Kegagalan #3
Ada donor darah lagiii… Sekarang kelas 3 SMA. Usia cukup. Berat badan cukup. Tinggi badan cukup. Wajah menarik. Ayo lanjutkan donor. Semangat donor darah!
Sebenarnya hampir gagal mau ikutan donor kali ini. Karena ada jam tambahan dari pagi sampai sore, jadi tidak sempat ikut donor darah yang notabene dimulai dari jam 8 dan selesai jam 12 siang. Tapi karena niat tak terkalahkan, jadi tetap ngotot ke tempat donor darah. Kali ini tempatnya di UKS. Sudah sore, sehingga antrian pun tidak padat. Hahaha, kuasai medaan.. kali ini ndak bisa ngeceng, karena sudah jadi angkatan tua, hiks.
“Dhek, masih bisa donor kan ya?”
“Oooh, masih mbak, masiiih. Tunggu dulu ya mbak..”
“Eh, kamu duluan ya, nanti aku di belakangmu.” Kita malah saling tunjuk sebelum donor. Akhirnya para lelaki jagoan memutuskan donor duluan. Pas giliran perempuan, ada beberapa yang sudah berhasil. Nah, tepat satu orang lagi di depanku, tiba-tiba mas-mas PMI berkata, “Waah, maaf mbak, kantong darahnya sudah habis.. kita cuma bawa sedikit kantong hari ini.. Jadi mbak nggak bisa donor dulu. Maaf ya mbak..”
GAGAL LAGIII GAGAL LAGIII.. Yang ini alasan paling nggak bisa aku terima. Masak cuma gara-gara kantong habis nggak jadi donor, hiks. “Eh, mbak, ini sudah diambil lagi kantongnya. Masih ada kantong nih mbak.”
Sudah menyerah mas, sudah. SUDAH. Jadi agak uring-uringan nih. Mau masnya bilang masih ada 10 ribu pun, udah ilfeel aku. Hahaha, gaya banget, padahal sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam, AKU TAKUT sama jarumnya yang guedeee bangett..
Kegagalan #4
Donor darah @Alun-Alun. Aku baca tulisan itu di dinding kamar teman kuliahku. Waah.. asikk.. donor darah lagii..
“Iya lhoo, itu kalo kamu donor dapet souvenir tempat makan yang terkenal itu lhoo. Yang mahal banget..”
“Dapet Souvenir?? MAUUU..”
Berangkatlah kami ke sana. Timbang berat badan, cukup. Isi formulir sudah. Sehat walafiat. Tekanan darah, normal. Sekarang nih, cek Hb (Hemoglobin). Cuuss.. sakitnya minta ampun, haha, enggak ding, lebay. Darahku menetes dengan deras, aargh. Dengan lincah sang perawat mengambil sampel darahku tersebut. Kemudian ia teteskan darah yang sudah diambil ke suatu larutan. Lihat apa yang terjadi..
“Waduuh, Hb nya nggak cukup dheek.. Bentar, coba lagii..” Aku pun ikut-ikutan melongok-longok apa yang terjadi di larutan biru itu.
GAGAL MANING. Aku gagal. Aku gagaaaal hiks.
Tapi, walaupun gagal, hadiah tetap di tangan *tercium niat busuk.
“Silakan ambil souvenir di sebelah sana ya mbak.” Aku segera menuju ke arah yang ditunjuk. Aku ambil souvenirnya. Aku kemudian melihat di dalam goody bag yang diberikan panitia ada sebentuk kotak makanan. Haaah kecil bangeet. Tapi, tak apa-apalah, lumayan, dapat souvenir gratis hahaha.

Selasa, 05 Februari 2013

Untuk yang di seberang sana [1]

Bismillahirrahmanirrahim..

Apa kabar teman?
Kita masih teman kan?
Aku ragu bahkan jika kau masih ingat wajahku atau tidak.

Entah, aku selalu mengingat setiap detil yang aku lakukan dan itu tersangkut padamu. Padahal itu sangat jarang sekali terjadi.

Bertemu pun tak pernah.
Akrab pun tak pernah.
Kenalan pun, tak pernah.

Apa kabar kau disana?
Pasti kau sedang sibuk.

Aku tak tahu mengapa aku bisa begitu jelas mengingatmu, padahal tak sekalipun aku bicara padamu.

Entah yang ketemui tadi malam itu engkau atau bukan.
Entah yang memberiku sepasang benda itu engkau atau bukan

Tapi, ragu itu masih ada, ragu menjemputmu, dan ragu mengingatmu.

Jumat, 07 Desember 2012

Mataku, Padamu

Bismillahirrahmanirrahim..

ada yang berubah, jauh sepertinya.
entah menjauh entah mendekat, ia tak lagi sama.
seharusnya, cinta itu membuat mendekat
cinta itu membuat terikat

jika aku belum mampu merangkulmu
apa berarti aku tak mencintaimu?
sungguh berat sebenarnya
aku mencintaimu, sungguh
sempat kutangisi perubahanmu
sungguh, mataku, padamu

mungkin kau pikir aku menjauh darimu
menghindar darimu
dan seakan tak sempat melihatmu
tapi, sebenarnya, aku melihatmu
sungguh, mataku, padamu
terasakah seolah aku marah padamu?

bukan, aku marah pada diriku sendiri
harusnya kujangkau kau dari awal
bukan sekarang, ketika kau telah jauh tidak terkawal
ingin kucapai hatimu sekarang
sungguh, hatiku, padamu

tapi kenapa? kenapa, kenapa ia tak seindah dulu
aku perhatikanmu
aku lihat semuanya, aku sadari perubahanmu
aku LIHAT, aku SADAR
sungguh, mataku, padamu..

Jumat, 28 September 2012

Tanah, Gulma, dan Pohon


Bismillahirrahmanirrahim..

Aku gulma
Dia Pohon
Dan Kamu tanah

Harusnya gulma dan pohon adalah sepasang yang bisa mengerti.
Karena kami, tumbuh bersama seharusnya.

Harusnya, aku tinggal di tanah, suatu tanah yang lain.
Bukan di tanah yang jelas sudah ada penghuninya.

Yang jelas, pohon bukanlah satu yang bisa kita salahkan.
dia tumbuh subur di sana, karena memang ia bertempat di tanah itu.
Tapi gulma?

Ia datang tak diundang, dan tinggal walau tak diijinkan.

Lalu pohon. Ia tetap tumbuh.
Semakin rindang, dan kian hari semakin rimbun dengan buah.
Buah, yang rasanya, pahit. 
Pahit, karena sang tanah tak pernah memberi balasan nutrisi untuk sang tanaman yang sudah melindunginya dari panasnya matahari, dan ganasnya air hujan, yang bisa membuatnya longsor sewaktu-waktu.





Rabu, 08 Agustus 2012

Jika Aku Menikah (Sekarang)

Bismillahirrahmanirrahim..

Hmm serem ya judulnya. Serem karena bikin galau. Ssst. Udah ah, berapa kali kata galau terucap hari ini. Udah ya cukup. Kalo perasaannya yang galau gimana? Duuh, udah udah, cukup galaunya.

Entah kenapa gagasan ini tiba-tiba muncul.Sebelumnya udah sering juga ya posting soal nikah, jodoh dsb. hehe, lihat Jodohku part 1 dan 2, ada juga Malam Ming'galau', dan ada juga tulisan lain yang tersirat akan makna itu.

Sebenarnya gagasan ini muncul pas naik motor. Gara-gara suka kecanduan ngomong sendiri kalo lagi naik motor. Hehe, kadang suka malu sama motor sebelah, takut kedengeran monolognya. Dan biasanya isi monologku itu adalah dialog, di mana diriku sendiri menjadi pendengar bagi diriku sendiri. Haha, narsis nggak kesampaian begitu deh jadinya.

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).
Subhanallah, luar biasa ya. Kalo ngomongin ini jadi inget kakak sepupu saya. *ayo tho mas ndang nikah* *ndang nikah*

"Makanya to dhek, cariin tho.."
"Hmm, yaudah mas, coba ya." setelah itu aku segera mencarikan kandidat yang dirasa pas. Tapi ujung-ujungnya pasti..
"Gimana dhek? Udah mbok cariin tho?"
"Udah mas, tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi, kasian 'mbak'nya kalo sama mas." hehe, begitu terjadi berulang-ulang. Selalu merasa kakak saya kurang pantas dengan perempuan yang saya carikan. *makanya tho mas, memantaskan diri*
"Ah, kamu tu lho mesti gitu."
Tuh kan ngambek, "Ya gimana mas, habisnya kamu gitu og."
"Aah ayo to dheek, cepet, keburu dhek fahmi (keponakan beliau-red) bisa ngomong."
"Lha kok bisa sama dhek fahmi? Hubungannya?"
"Lha masak nanti dhek Fahmi ketemu aku, 'Pakdhe-pakdhe, kok sendirian, Budhe mana??' isin aku.."
"Hahaha, rasain."

Hmm, setelah dipikir-pikir, menikah itu memang nggak gampang. Cari pasangan lah, cari nafkah lah, cari rumah lah, cari gedung dan lain-lain. Kata Nurul, "Menikah itu nggak sesimple itu. It is not that simple." #iya iya ruul

Tetapi selalu saja ada rasa iri kalo datang ke lamaran, atau nikahan tetangga, kerabat, atau orang lain. Saking ngarepnya, sampai pernah ngechat si rieza (btw ni orang kenapa akun fb nya ilang ya?)

A : rizaaaaa, doain ya
R : doain apa?
A : besok lamaran hiks
R : haaaaah sumpah?? aku ga bs dibohongin ais skg mah -______-
A : iya beneran iih
R : mana calonmu?
A : bukan aku yang lamaran, tapi tetanggaku. ahahaha
R : dasar gila -____-

Terus kalo kebayang pengen nikah selalu inget kata-kata fathia, "Is, ntar tuh kalo kamu nikah ya, kita nggak bisa karokean lagi. Harus ngurusin suami yang pengen makan inilah, makan itulah. Cuci baju jadi tambah banyak aargh.. Kapan dolaneee.." #kowe ki lho dolan bae fath

Bener juga sih apa kata dia, tapi tetep aja "Tapi kan fath, nikahnya tuh biar halal dulu hubungannya. Tapi tetep ntar kita jalan sendiri-sendiri dulu. Aku di sini, suami di manaa gitu, suka suka dia lah mau ke mana." #jadi mikir, relationship macam apa itu ya.

"Tetep ngga bisa is. Ngga bisa. Nanti pasti bakalan ngurusin suami deh. Aaah, ayo dolan sik wae lah."
"Aah gapapa fath, aku dolan, tapi aku sudah bersuami kan ngga papa. Mainnya kan sama kamu ini." *ngotot*
"Yaudah sana nikah aja. Lha emang udah ada calonnya is?"
"Ya udah dong fath.."
"Wah, ya kalo gitu nikah aja.."
"Tapi belum dipertemukan sama Allah.. hahahaha."
"Dasar, yo wis lah. Yo karokean bae yo."
ckck, yang satu ngotot nikah yang satu ngotot karokean.

Yang tadinya sempet putus keinginan tiba-tiba jadi keingetan, "Aaah ais niih, nggak ikut Dauroh Pra Nikah, seru lho iss.." tiba-tiba Dinda (yang selalu aku cecar dengan kegalauan nikah) menunjukkan notulensinya pas lagi ada Dauroh pranikah itu.
Aaah, itu catetannya menarik bangeeet isinyaaa... "Tapi untung din aku nggak ikut. Coba aku ikut, ga kebayang kamu udah tak remet-remet jadi apa"

Terjadilah pertentangan batin di antara dua pilihan. Haha. Bukan pilihan sih, soalnya yang kemungkinan satunya belum akan terjadi dekat-dekat ini. Eh, tapi kan kita nggak pernah tahu bagaimana hari esok? Yasudah lah, untuk sekarang berdoa dulu, jadi inget kata mbak Dita
"Dhek, kalo pengen jodoh itu berdoanya dari jauh-jauh hari. Biar ngga telat dikasihnya."
Yadeh mba, nih langsung berdoa deh #dalamhatiberdoa

Aaah kalo kayak gini jadi inget lagu Separuh Aku
dengar larakuuuuu suara hati ini memanggil namamuu..
karena separuh aku.......