Tampilkan postingan dengan label pendewasaan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendewasaan hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2019

Bahagia - Menutup Internship


"Harap tanggal sekian - sekian - sekian pukul 14.00 seluruh peserta mengumpulkan tugas, dan absen beserta logbook berisi 400 kasus. Tanggal ....."

Baca jarkom rasanya udah deg-degan, dan kepikiran, banyak target yang belum kekejar, tapi waktu sangat sempit. Belum juga belajar buat ACLS bulan ini, emang itungannya aku nekat ikut bulan ini, mepet-mepet sekali dengan penyelesaian internship dan sangat berkaitan dengan deadline-deadline yang sudah kutunda berkali-kali (ini aja ngetiknya sambil bikin laporan, karena nyicil absen belum bisa soalnya absen ketinggalan di tempat rantau).

Tapi, kok rasanya bahagia ya? Enggak cemas? Ah karena internship mau usai kali, makanya senang?

Jujur, sebenarnya cemas juga, karena banyak target yang belum terselesaikan berkaitan dengan tugas internship. Tetapi, ada hal yang membuatku bahagia. Dua hari yang lalu, aku mendapatkan kabar yang cukup menenangkan dan menyenangkan hati. Apa sih, apa, apaaaaa.....??

Sepertinya aku belum cukup siap bercerita disini (wkwk setelah bolos 30 hari bercerita sekian hari). Aku hanya ingin mengingatkan diri, bahwa momentum itu terjadi beberapa saat sebelum tulisan ini dibuat. Rasanya bahagia, meskipun sampai ditanya berkali-kali oleh sang pemberi kabar, "Kamu seneng nggak?" Mungkin dia merasa responku tidak cukup terlihat bahagia. Tapi, sungguh, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasakan bahagia dan lega dalam 1 waktu yang sama.

Meskipun kemarin aku berbuat salah kepada sang pemberi kabar, dia tetep sabar, dan mau melanjutkan semua proses. Eh, beneran mau kan? Harus mauuuu.....


Memang benar, kata sang pemberi kabar kalau aku harus merenung. Tapi, sungguh, aku bahagia, meskipun belum terlihat cukup bagimu. "Aku seneng kok, seneeeeeeeng bangeeeeeet........ Bismillah semoga aku bisa berubah jadi lebih baik lagi."

Aamiiin. Aku lanjut ngetik laporan yah, sungguh senangnya hatikuuuuu.



Kamis, 03 Januari 2019

Day 2 - Apakah Aku Cukup Kuat?

Assalamualaikum!

Yeaah, memasuki hari kedua dalam upaya 30 hari bercerita. Hari ini mau cerita random saja ah. Sebenernya kemaren juga cerita random. Mungkin besok juga, atau bahkan besoknya lagi, hingga 30 hari tiba, wkwkw.

Di tahun 2019 ini, kehidupanku sepertinya semakin ruwet. Kurang bercanda kali, ya.

"Kadang tuh kita perlu serius dalam bercanda. Bener-bener bercanda maksudnya. Nggak ada niatan untuk bicara yang serius." Eh apa sih maksudnya?

Jujur, karena menghadapi dunia kerja (yang akhir-akhir ini terasa begitu nyata nuansanya di hati, halah) membuatku jadi punya pandangan yang berbeda dalam berbagai hal. Kemarin waktu jaga IGD shift siang, aku jaga dengan salah satu  senior yang dikenal sangat humble. Sampai aku tiba di suatu pembicaraan yang cukup serius, mengenai 'penjatuhan karir seseorang dengan sengaja'

"Saya beneran disalah-salahin. Dibilang suka terlambat, susah diajak bekerja sama dengan tim."
Waktu itu aku cuma jadi pendengar pasif, karena ada orang lain yang memang terlihat aktif mendengarkan, "Saya sampai dipanggil sama pemimpin direksi karena laporan salah seorang pekerja itu. Saya cuma mikir, wong ya dia suka kerja bareng di shift yang sama dengan saya, kok ya nggak ngerasain sendiri saya seperti itu atau tidak. Bisa dicek absennya dulu gitu, tanyain rekan kerja yang lain, apa iya saya sampai begitu."

Padahal yang aku rasakan selama bekerja dengan beliau, beliau ini orangnya ramah senyum, nggak pernah menjatuhkan orang lain, dan sangat mau membantu orang lain, kesannya tulus gitu. Itu juga bukan aku doang yang bilang, beberapa rekan kerja setim juga setuju dengan sifat beliau yang ini.

Apakah dunia kerja sekejam dan sejahat itu? Kalau kata beliau sih, kenapa sampai beliau diperlakukan seperti itu, karena pada saat itu adalah fase dimana pengejaran 'jabatan' untuk orang yang seangkatan dengan beliau. "Saya nggak pernah punya ambisi buat gimana-gimana. Ya makanya sampai sekarang di saat mereka sudah ada di jajaran direksi, ya sudah saya mah di tatanan sini-sini aja."

Hmm... apakah benar-benar akan seperti itu? Apakah aku yang polos ini bisa melaluinya? Apakah aku cukup kuat?




Rabu, 02 Januari 2019

Sepertiga Setahun Kemarin "Menjelang Akhir Internship"

Assalamualaikuum!

Wah, sudah setahun saya tidak menulis blog. Sepertinya sudah semakin kaku tangan dan jiwa ini untuk menuliskan isi pikir. Salah satu revolusi (why? salah kali! bukannya resolusi?) 2019 saya adalah kembali menulis. Senangnya ketika kembali menulis adalah saat menumpahkan cerita hari ini, atau hari-hari sebelumnya, dan menjadi kenangan yang membahagiakan ketika membacanya kembali. Baik itu kenangan yang sedih atau kenangan yang menyenangkan. Eh, kenapa kenangan yang sedih malah membahagiakan? Karena hatiku senang, aku sudah pernah dan mampu melalui masa terberat dalam hidupku! 😊                                                                                                           

Oiya sekedar informasi, aisyah sudah hampir selesai melewati fase internship! Hehe, loh sudah selesai tho koasnya?! Iya dong! Kemana ajaaaa...

Iya, gara-gara nggak pernah nulis jadi begini deh. Maafkan aku blogku.. Sesungguhnya ini sedang minta maaf kepada diri sendiri, karena jadinya tidak pernah ada momen yang diingat dan direfleksikan melalui tulisan selama beberapa tahun terakhir. Bagaimana deg2annya menghadapi ujian akhir menjadi dokter, dan masa-masa menunggu sebelum akhirnya internship, dan sekarang tiba di masa internship sudah mendekati usai. 

Baiknya aku mulai dari mana dulu? Tujuannya adalah untuk mencatat memori yang lalu dan pernah dialami, jadi nggak sepi amat hidupku ini, udah ngga pernah baca, nulis pun nggak pernah πŸ˜•

Yaa di masa internship yang tadinya aku nggak berharap ini ada, lalu kini berubah menjadi rasa terimakasih, karena ternyata pengalaman yang cukup banyak muncul ketika fase ini. Menghadapi hiruk pikuk tanggung jawab dunia kerja yang mulai terasa nyata.

Jadi masa internship itu akan dijalani selama 1 tahun, dan akan dialami oleh semua dokter umum fresh graduate. Ndak tau sih kalo ada yang ndak ngalamin, tapi setahuku peraturannya kita harus melewati itu dulu untuk selanjutnya menjadi 'dokter beneran'. Loh sekarang nggak dokter beneran tho? Hmm, selama internship kita belum dapat STR (Surat Tanda Registrasi) definitif, namun dapat STR internship, yang menandakan kita masih internship. Lalu selain itu, kita baru dapat SIP (Surat Izin Praktek) di dua tempat khusus kita internship, jadi kita belum boleh praktek selain di dua tempat internship kita. Jadi menurut temen-temen gimana tuh? Dokter beneran nggak?

Nah kita dapat dua tempat praktek itu di mana saja? Jadi selama 1 tahun internship, kita akan mengalami 3 stase, yang pertama IGD, bangsal (rawat inap), dan puskesmas. Untuk urutannya bisa diputar-putar, karena tergantung dengan kelompok internship, jadi satu gelombang internship (kita singkat aja jadi iship yaa) akan dibagi 3 kelompok untuk mengisi rotasi 3 bagian tersebut. Mari kita mulai cerita dari sudut pandangku yaa.

Aku kebagian rotasi pertama di rawat inap, alias bangsal. Selama 4 bulan pertama internship, kami (aku dan rekan sekelompok) akan ditugaskan berjaga di ruangan rawat inap. Kami bertanggung jawab untuk mengatasi kegawatan atau keluhan-keluhan pasien yang sudah 'turun' ke ruangan, pasien-pasien ini bisa berasal dari mana saja. Bisa dari IGD (Instalasi Gawat Darurat) atau dari poliklinik spesialis. Nggak seperti di sinetron-sinetron atau drama 'bilang aja putus' (nama samaran) yang masuk rumah sakit tiba-tiba langsung masuk ke ruangan rawat inap, sudah diinfus dan bla-bla. Atau positive thinking aja yaa, mereka skip episode pas di IGD-nya (rata-rata karena kecelakaan atau pingsan). 

Banyak hal yang dilalui, mulai dari desas-desus kamar jaga dokter adalah bekas ruangan rawat inap yang horor. Tapi, selama di sana sih, tidak kutemui adanya kebenaran dari desas desus itu. Alhamdulillah tidur nyenyak, meskipun kadang harus siap bangun malam jika ada telepon dari ruangan rawat inap. Kalau dari segi kasus medis, yaa, banyak hal yang aku dapat selama menjalani tugas di sini. Mulai dari kegawatan karena ada pasien yang henti nafas, apalagi malam hari, dan harus siap-siap tenaga untuk resusitasi jantung dan paru, dalam rangka mengembalikan fungsi tubuh dari pasien itu agar tetap hidup. Yaa, nggak jarang juga berakhir dengan sedih, karena kehendak Allah yang kemudian terjadi. Bagaimana melatih diri memberikan "bad news" kepada pasien dengan cara yang baik, namun juga tidak menjanjikan hal yang muluk-muluk. Kita hanya menjanjikan upaya yang maksimal, sisanya, tetap Allah yang menentukan. 

Nggak cuma kasus medis sih yang menarik. Kadang ada kasus psikiatris yang memang cukup menyedihkan, dan kadang membuatku sebagai pihak ketiga merasa iba. Di tempat kami iship, istilah gangguan jiwa bagi para warga adalah istilah yang sangat tabu, dan bisa jadi membuat hilangnya trust dari keluarga kepada para tenaga medis. Keluarga pasien bisa akan sangat marah ketika tahu bahwa pasien ini direkomendasikan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater. Padahal sebenarnya pada dasarnya mungkin pasien ini butuh konseling untuk kesehatan jiwanya. Oiya, gangguan jiwa bukan semata-mata hanya berputar pada gangguan jiwa yang oleh orang awam kadang disebut sebagai 'gila', di dunia medis, bisa kita sebut skizofrenia, di mana ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mendiagnosis seseorang dengan gangguan jiwa macam ini. Gangguan kecemasan berlebih, gangguan penyesuaian diri, juga termasuk gangguan jiwa loh, eh tapi ini kita bahas di lain kesempatan aja yaah.

Yang ingin aku bahas untuk pembahasan kali ini adalah sepertiga waktu selama setahun kemarin. Menjalani hari-hari yang cukup stressful, karena pada akhirnya bruxismku kembali kambuh. Duh-duh apa itu bruxism? Bisa baca di sini yaa, belum sempat jelasin hihi.

Namun, di sini, aku ternyata belajar banyak. Menjadi dokter itu nggak semudah bayangan. Ada banyak aspek yang perlu dipelajari, yang tidak hanya berkaitan dengan ilmu saja, tapi berkaitan dengan aktualisasi diri ke masyarakat. Ada kasus lain yang menarik. Ada seorang anak usia 13 tahun, mengalami kejang. Lalu kemudian singkat cerita, aku menduga anak ini mengalami epilepsi. Namun, demi pemeriksaan lebih lanjut, pasien ini perlu dirujuk ke dokter spesialis saraf, untuk pemeriksaan penunjang, misalnya elektroensefalografi atau EEG untuk memeriksa gelombang otaknya. Namun si ibu bersikeras untuk membawa anaknya ke paranormal, karena beliau merasa anaknya ini 'ketempelan'. Dari sekian banyak pemeriksaan yang aku dapati memang ada kelainan dari segi medis, jadinya kubujuk ibu ini untuk tetap menjalani proses medis dalam mengobati anaknya. Dan pada akhirnya, ibu ini setuju untuk menjalani proses tersebut, alhamdulillah.

Belajar banyak hal untuk tetap memberi pasien informasi yang berhak pasien ketahui, agar bisa mengambil keputusan yang logis, dan sesuai dengan kebutuhan pasien, bukan kebutuhan dokter saja. Duuh acak adut ya tulisankuu... Tapi nggak papa ais, besok-besok perbaiki lagi ya. Mungkin 30 hari bercerita bisa jadi titik tolak memperbaiki blog ini. Tetap semangat menulis, Ais!                                                                                    

Jumat, 28 April 2017

Tentang Komentar

Tulisan kali ini saya tujukan untuk para penulis artikel di luar sana. Yaaa, hobi saya itu baca berita di L***TODAY yang jadi headline news. Judul yang dibuat itu selalu menarik saya untuk mengklik tautan tersebut. Pokoknya sampai semua tautan saya baca!

Pekerjaan orang ga punya kerjaan ya gini ini. Haha, terus dilanjutkan ke kolom komentar. Kadang isi berita nggak penting, karena yang lucu itu komentar-komentar para pembacanya. Salah satu tipikal judul tulisan di website berita ini adalah “Upload Foto Dengan Sang Tunangan, Netizen Salfok dengan Motif Piring Di Belakangnya!” Nih ya, saya udah tau, ini berita pasti cuma memuat 1 foto yang diupload sang artis, terus dilanjutkan dengan komentar dari pengguna sosmed tentang foto itu. “Ihh, itu kok Piringnya motif kura-kura.” Sorry to say, nggak ada manfaatnya buat pembaca!

Nah, nanti akan ada komentar di website berita tersebut. Jadi intinya adalah, komentar untuk narasi yang menceritakan tentang komentar. Haha, bikin pusing deh, tapi nggak bikin pinter.

Kembalikan waktu 2 menitku!
Unfaedah

Beberapa contoh komentar yang memenuhi kolom komentar untuk berita tersebut. Lalu, nanti akan ada pembaca yang akan komentar, “Ini kan memang rubrik entertainment, ya emang begini beritanya. Kalau cari yang manfaat ya cari rubrik lain!”

Wait? Maksudnya? Laaah, menurut saya pun, berita itu nggak entertain sama sekali tuh. Isinya malah ngomongin orang. Saya sebenarnya ingin meminta tolong kepada para penulis artikel di web-web ‘gitu’ untuk menyajikan tulisan yang berbobot. Atau seenggaknya bikin pembacanya bisa mengambil manfaat gitu.

Sebenarnya kan media online itu sama saja seperti media cetak kan? Seharusnya ketika mengupload suatu tulisan, yaa, setidaknya ada riset yang dilakukan untuk menyajikan berita tersebut. Perasaan kalau saya baca tabloid isinya selalu berdasarkan wawancara atau riset-riset dulu gitu. Tetapi, belakangan tulisan-tulisan ini berkurang sih, meskipun masih ada. Tulisan macam gini sumber risetnya cuma dari instagram aja, hmm.

Saya kan juga pengen pinter kakak-kakak penulis. Tetapi saya apresiasi sih, ada beberapa tulisan (sekarang jadi lumayan banyak) yang bersumber dari website-website bermanfaat, dan ada pengetahuan baru yang akan saya dapatkan kalau baca tulisan itu. Hehe.


Oiya, ada beberapa komentar menarik yang membuat saya tergelitik, misalnya, “Tipikal orang indo sekarang gini ya, sukanya nyinyir.” Ini bukan saya yang bilang lhoo, suer! Kemudian saya menemukan kosakata baru, yakni, JULIT. Ini apa lagi artinya hahah.

kamusslang.com
Kosakata ini saya dapatkan gara-gara suka ngintip-ngintip akun gosip (astaghfirullah, istighfar ukhti. Taubatlah!). Gara-gara kurang kerjaan gini saya jadi suka melakukan suatu yang tidak bermanfaat dan cenderung dosa, ckck

Yaa, intinya cuma pengen jadi pembaca yang cerdas sih. Mungkin bisa dimulai dari pembaca ya, kurang-kuranginlah baca artikel nggak bermutu gini. Maka ketika minat baca berita sejenis itu turun, mungkin lama-lama akan hilang kebiasaan menuliskan berita sejenis ini. Sip!

Selasa, 25 Oktober 2016

Mencari Tahu Namamu

Mencari tahu namamu, kini tak semudah mencari peniti di tumpukan jarum pentulku.

Tampak berbeda, di antara hiasan yang sebenarnya tugas mereka sama.


Menghimpun kabar darimu, kini tak semudah menghimpun untaian kusut benang-benang jahitku.

Memusingkan memang, tapi aku tak frustasi, karena benang itu ada di genggamanku.


Memilih cerita tentangmu, kini tak semudah memilih aksesoris yang akan kugunakan hari ini.

Karena mereka selalu ada di hadapanku, membiarkan aku memilih di antaranya.


Baiknya memang kutunggu, namamu ada di tempat yang tepat

Baiknya memang kutunggu, kabarmu sampai ke telingaku

Baiknya memang kutunggu, ceritamu terkisah padaku


NB: long time no write, jadi ngepost sesuatu yang random haha. Belum produktif lagi... aduuuh aisnya lagi malees~~




Selasa, 26 April 2016

Dahulu, Tak Begini

Assalamu'alaikum!

Kalau aktif medsos, sekarang sedang jamannya foto, "Maafkan aku yang dulu." Ada dua foto yang dijejerkan. Yang satu foto masa baheula, yang sebelahnya foto masa kini, semacam foto before and after. Tentunya, foto masa kini lebih cetaaar dibanding foto jaman dulu, yang dulunya kucel bin kumal, the current mode is trendi dan gahol. Katanya sih foto jenis ini bisa bikin orang menyesal mutusin pacarnya dulu.

Dari ig Bapak Instagram Indonesia, @ridwankamil

Foto ini mempermudah para mantan mengkepo orang yang dulu pernah dekat dengannya, hahaha. Inget jaman kuda gigit besi mukanya kayak apa, dan sekarang cantik/gantengnya bikin deg-degan *tsaah*. Random pengen ikutan bikin, tapi apa daya, nggak mampu. Kenapa nggak mampu? Pertama, nggak punya mantan, siapaaaa juga yang mau liat. Kedua, foto jaman dulu posenya nggak nguatine reeeek. Malu deh malu... Ketiga, nggak ada perubahan signifikan dari jaman dahulu dan jaman sekarang. 

Ada sih perubahan, begitu ngecek foto jaman dahulu yang didominasi penampakan wajah dari samping. The first, sebelum negara api menyerang, jerawat nggak panen kayak sekarang. Yang paling bikin shock adalah masalah chin. Dulu, jaw line-nya udah kayak orang korea *lah pede amat lu is*, sekarang? Boro-boro. Udah double chin. Yaampun cyiiiiin!!!

"Aiss, kok kamu melebar sih sekarang?" komentar salah satu temen SMA dengan muka kaget. Entah kaget, entah puas ngeledekin, hahaha. 
"Iya, stress nih, kebanyakan makan, kebanyakan tidur. Jarang pulang, Kurang kasih sayang. Sering dicampakkan, terlampau lama sendirian." hiyaaaa pen pulaang salim bapak ibuk adek!

Kembali ke bahasan pertama, mengenai foto before and after yang ngehits ini. Manfaat dari adanya foto ini adalah bikin susah move on orang-orang yang terlanjur lihat penampakan rekan yang dulu mungkin, ehem, digebet. Dulu kan waktu SMP dia gendut. Ih kok sekarang kekar dan tinggi gitu siiih! Atau pernyataan lain yang bikin gagal move on, Loh, dulu kan dia dekil, sekarang beauty banget, liat tuh, alisnyaaa!!

Yaa, namanya juga manusia, manusia itu adalah makhluk dinamis. Dinamis dari segi fisik, apalagi masalah hati. Makanya hati manusia itu sangat mudah dibolak-balik, dan terombang-ambing, ceileh. Ini postingan random banget, bridging-nya agak kejauhan, antara masalah foto dan hati. Yaudah sih gapapa ya, namanya juga manusia.

Hai hati, kalau bingung, tanyalah, tanya kepada sang Pemilik Hidupmu. Dia tak pernah meninggalkanmu, sedetik pun. Kalau kau merasa ditinggalkan, sebenarnya bukan Dia yang pergi, tapi kamulah yang bergerak pelan, menjauh.

Semoga minggu ini berlalu dengan indah yaa, mau ujian nih, mohon doanya!
Teruntuk kamu yang saya hubungi cuma pas mau ujian aja, maaf yaaaaa. Nanti aku sering-sering ngehubungin kamu kok, my honey, Rieza Amalia :p

Rabu, 24 Februari 2016

Tentang Menikah

Assalamualaikum!

Mumpung libur saatnya galau. Beberapa orang terdekat saya udah banyak yang persiapan menikah dan sudah menikah. Teman seangkatan saya sudah banyak yang menikah. SAHABAT saya, bentar lagi juga menikah. Sahabat yang mana? Tunggu tanggal mainnya.

Menikah itu bukan balapan, siapa cepat di dapat. Bukan gitu. 
Nanti kalo udah ada jodohnya juga dateng sendiri.
Yaa, kan dia sudah dipertemukan dengan jodohnya, tunggu waktu aja.

Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang selalu diucapkan setiap ada kawan yang menikah. Menghibur sih, tapi rasa geregetan tetap ada. Haha, nggak ikhlas banget ya kalau begini.

Seperti percakapan saya dengan seseorang yang hampir menikah berikut ini.
A (aisyah) dan S (Seseorang)
A : lihat ada chat baru di line. Dikirimin foto. FOTO rangkaian pernak-pernik semacam sovenir. 
      IIIH APAAN TUH? SOVENIR?!
S : Cuma ini yang bisa aku lakukan..
A : dalam hati langsung tertekan. 
Pas ketemu langsung, seseorang ini nggak mau ngenalin calonnya ke saya. Gaya emang. "Yaa, semoga dilancarin sampe hari H ya. Nggak nyangka ya, ternyata kamu ngeduluin aku."
Sambil gaya-gaya manis manja agak malesin gitu dia teriak, "Iiih jangan sampai Hari H doang dooong.. Sampe selamanya gituu.." Sumpah ini bocah pengen banget dikuncir mulutnya pake karet nasi goreng.
Sebenarnya sudah ada sahabat saya yang lain yang udah menikah, di awal tahun ini. Namanya Diah Ayu Kurniasari, tim 'kemenyek' jaman SMA. Maafin aku nyuu, ga dateng di nikahanmu hiks hiks. Sedih rasanya. 

Ada lagi, dua teman sekelompok koas saya sudah tunangan, alias taken, dan salah satu diantaranya akan menikah dalam rentang waktu tahun ini. Ya, menikah muda itu nggak salah sih. 
source : temanbercerita.tumblr.com

Begitu mengingat persiapan yang masih kurang sampai saat ini, saya jadi mundur lagi. Kepikiran kalau misal suatu saat nanti saya sudah punya anak, terus anak saya menanyakan beberapa hal. Tapi saya nggak bisa menjawab dengan baik. Kyaaaa. jadi ibu itu susah lho.. *udah cari imam dulu sana.

Minggu, 01 November 2015

Tentang Memaafkan

Assalamu'alaikum!

Kembali lagi, sebelum minggu kesepuluh tapi masih belum dapat jadwal ujian miniceex (ujian pasien). Sedih, karena belum dapat pasien yang sesuai T.T
Semoga minggu kesepuluh sudah bisa ujian eah, doakan saya :').

Sekarang mau mengulas tentang zaman-zaman di mana saya masih galau. Sekitar semester 5-6. Banyak hal yang bikin galau, dari mulai pas waktu itu sudah mendekati semester akhir. Tapi enggak ding, sampai sekarang saya aja masih galau wkwk.

cuplikan status jaman galau puahaha.
Itu status tahun 2013, entah kenapa keingetan, terus berusaha mengkepo2 status sendiri. Ga jelas emang. Ohya, salah satu kemampuan luar biasa saya adalah kemampuan mengkepo, yang sudah diakui oleh Aisyah Apriliciciliana Aryani, teman KKN saya tercinta, tersayang, terILOVEYOU sampe tumpeh tumpeh. Jadi, bagi kamu yang berurusan dengan saya, saya bisa kepo kamu sampai kuota saya abis. Tetapi saya lupa, apa yang menjadi penyebab saya bikin status itu. Seinget saya sih, itu status buat orang lain, bukan buat saya. Bicara memang gampang, tapi praktek selalu susah. Di situ saya bilang, kalau memaafkan masa lalu seseorang yang mungkin enggak sesuai dengan prinsip kita, namun sekarang ia sudah berubah, maka orang tersebut pantas mendapatkannya. Tapi.... 

"Jadi, Ais susah ya memaafkan orang yang dulunya, ehm, misalnya nakal, ga alim kayak Ais?"
"Woy siapa yang bilang aku alim, hah? Kalau dia udah tobat mah, nggak papa. Aku juga tidak sebaik yang kamu pikirkan." tapi, kalau boleh milih sih... milih yang emang udah nggak nakal dari awal, kan aku gak pernah nakal, haha.

Jadi ingat waktu diskusi dengan mbak mentor kemarin, yang juga tentang memaafkan. Mbak mentor saya ini staff pengajar di salah satu boarding house, katanya sih santrinya itu anak-anak yang awam, ada sih siswa yang berasal dari keluarga ustadz, tapi yang awam juga banyak.

Misalnya, ketika seorang anak berkelahi dengan temannya, pasti ada alasan di balik itu semua. Sebagai orang tua, atau pembimbing, atau yang lebih tua dari anak-anak itu, sebaiknya tidak langsung mengejudge atau bahkan memarahi anak itu. Tanyakan dulu, ada masalah apa, dan apa yang menyebabkan itu terjadi. 

"Nah iya tuh, mungkin seseorang yang dulunya nakal, dia punya alasan kenapa dia jadi anak nakal."
"Iya sih, nah aku kan tidak mengejudge apapun. Tetap dimaafkan kok. Dan berteman sama dia juga ga ada masalahnya."

Kembali lagi ke status yang saya capture di atas. Setiap orang memiliki masa lalu, entah baik atau entah buruk. Pun juga saya, masa lalu saya mah, udah acak adut, alay, galau (sampe sekarang ini mah), kucel, dekil, eh kok jadi fisik sih. Emang sekarang gak kucel? Ya tetep kucel sih, apalagi kalo abis jaga malem buehehe.

Tuh kan, yang penting jadilah baik, takdir baik juga akan mengikuti. 

Wassalamualaikum! :)




Minggu, 27 September 2015

Pendewasaan Hati - Merapikan Perasaan

Assalamu'alaikum!

Seharusnya tulisan ini sudah dipublish dari bulan Ramadhan hari kelima. Tapi baru berani saya publish sekarang hehehe. Sebenarnya sudah ada banyak draft dari tahun kemarin dan belum sempat terpublish karena beberapa hal.

Sempat mau posting di tumblr, tapi sekali lagi, blog ini lebih menarik daripada tumblr. Sebenarnya ada beberapa alasan, yang pertama karena theme di tumblr masih jadul dan belum diganti, tapi belum menemukan pengganti template yang bagus. Kedua, browser saya agak rempong gitu kalau buka tumblr, banyak loadingnya, jadi lama nunggu, malah nggak nulis-nulis, jadi ya, kembali lagi ke blog. Padahal ada beberapa orang-orang penulis yang saya kagumi tulisannya ada di tumblr, misalnya kak Kurniawan Gunadi, kak Kuntowiaji, kak Faldo Maldini (sekarang sudah alih ke web dengan nama domain sendiri), loh-loh kok cowok semua? Iya yang di tumblr taunya cowok semua hehe.

Ya, ini episode kesekian tentang pendewasaan hati. Semoga semakin dewasa ya, aisyaaaah~
Mengapa judulnya merapikan perasaan? Emang perasaanmu kenapa ais? Meminjam istilah kak Azhar Nurun Ala di personal blognya, Menulis adalah merapikan kenangan (ini linknya), di sini saya mau ikut-ikutan merapikan apa yang sedang berantakan. Kalau kenangan sih, hmm, saya sudah terlalu sering nulis hal-hal yang membuat terkenang, tapi kata Rieza Amalia, ST., tulisan saya jadi beraroma galau gitu.

Jujur salah satu inspirasi menulis saya sampai saat ini adalah teman saya si arsitek blogger Rieza Amalia, S.T. Beberapa tulisan saya, bisa dikatakan hampir semua, serupa dengan tulisan teman saya yang itu (ini blognya). Tapi, da aku mah apa atuh, dibandingkan dia, tulisan saya mah ngga seberapa kekiniannya haha. Kenapa dia inspirasi? Soalnya dialah yang sering komentar di tulisan saya hahahaha (hei kamu ayo komentar dooong). Selain itu ada juga si Azka yang udah sarjana, yang tulisannya super duper mengesankan (baca blognya di sini). Pengalaman si Nadia Azka ini keren-keren dan saya juga menikmati beberapa buku yang dia sarankan lewat goodreads-nya dia.

Oke, prolognya selesai, sekarang masuk ke masalah hal yang harus dirapikan. Masalah perasaan, sebenarnya sedang tidak berantakan sih, tapi agak tidak menentu pengaturannya. Misalnya, setiap kamar kan pasti ada spot tertentu untuk barang tertentu seperti rak buku untuk buku, lemari untuk baju, dan lain-lain. Nah, ibarat itulah perasaan, ada yang tidak pada tempatnya. Sebagai perempuan (gini-gini saya masih perempuan, meskipun kalau jalan kaki udah nggak peduli pake rok tetep aja ngangkang kayak cowok) sebagian besar pemikiran kami memang kontribusinya oleh perasaan. Yaaa, misalnya seharusnya perasaan ini fokus ke skripsi, malah jadi fokus ke yang lain. Aneh ya, fokus ke skripsi kok yang main perasaan. Haha, sebenarnya ini masalah penguasaan diri sih, mana yang lebih banyak menyita pikiran, kali ini saya jawab, perasaan (saat tulisan ini dibuat, skripsi belum rampung, sekarang, sudaaaaah~~)

Perasaan saya tak menentu, kenapa? Oke, jawabannya karena masalah hati. Berkali saya bilang, saya tak punya pengalaman cukup tentang masalah hati. Selama 22 tahun ini, belum pernah pacaran, ataupun dekat yang serupa pacaran. Orang tua saya, terutama ibu, sangat ketat tentang ini. Pernah sewaktu SMP, ibu saya curiga karena telepon rumah sering ditelepon orang tak dikenal. Ini orang jahil banget. Kalau saya yang ngangkat, bisa ngobrol sampai berjam-jam (lebay ah). Tapi, kalo yang angkat orang rumah, pasti dia diem aja, ckck. Ibu pun akhirnya tahu kalau orang iseng penelepon rumah itu lelaki teman sekolah saya. Langsung, suatu ketika dia telepon, dan ibu yang ngangkat, ibu bilang, "Kamu tuh ya, iseng sekali. Saya laporin polisi loh nomer ini, saya tahu ini nomernya berapa, keliatan di telepon saya!" Haha serem ya, pantesan saya nggak ditelepon-telepon lagi sama orang itu.

Dulu temen saya bilang itu namanya cinta pertama. Saya nggak ngerti apa bedanya, katanya sih yang paling berkesan, karena kamu pertama kali merasakan hal itu. Emang sih, berkesan, soalnya lucu kalau mengingat itu, tapi tidak terlalu membekas di hati, tuh. Biasa aja, hehe. Sampai saya duduk di bangku SMA pun, ngga ada yang benar-benar membekas. Kalaupun pernah suka, yang saya nikmati hanyalah bagaimana bahagianya 'menyukai'. Semata saya fokus pada kata kerja, bukan pada objeknya (baca Mencintai Harapan untuk lebih jelasnya).

"Aiiis, kamu tuh cuek banget thooo." kata temen KKN saya beberapa bulan lalu. Kalimat ini bermula karena mereka nggak nyangka saya nggak pernah pacaran sama sekali. "Kalau ada yang ndeketin itu ya jangan diacuhkan gitu. Nanti kamu nggak nemu jodoh, lho."

Serem banget ancamannya. Karena yang bicara laki-laki saya jadi cukup paham, berarti dia sering dicuekin sama cewek yang dia deketin haha. Sehingga, saat itu ia berpikir bahwa saya merupakan bagian dari perempuan-perempuan cuek. "Alaah bro, bukan aku nya yang cuek, emang nggak ada yang deketin tauk." Jawab saya membela diri. Emang bener koooook -__-

Semakin ke sini, saya semakin sadar, hidup itu bukan cuma soal perasaan. Tapi bagaimana cara diri untuk bertahan. Sekarang ini saya sedang proses bertahan, dengan merapikan perasaan, karena banyak kejadian di luar kendali . Yaaah, berusaha meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Ya, ini postingan pendewasaan hati, tapi fase ais masih labil. Maaf ya, sekali lagi ketahuan labil..... AIS STAY STRONG :)

Selasa, 30 Juni 2015

Dandan dong, biar Cantik!

Assalamu'alaikum!

Alhamdulillah sudah menginjak tanggal 13 Ramadhan. Ukhti-ukhti masih puasaaa? Alhamdulillah.. Kalau ada yang bolong, hmm, ya wajar sih, namanya juga perempuan hehe. Kali ini saya mau membahas mengenai permasalahan perempuan pada umumnya. Masalah penampilan, ya, bisa diliat dari judulnya kaan? Tulisan ini merupakan hasil refleksi diri saya beberapa waktu yang lalu, sampai sekarang juga sih.  
                                                 
"Ciyee, pake lipstik tuuuh."
"Ciyeee, pake eyeliner coooy."
"Ciyeee, itu pensil alisnya warna coklat yaa?"
"Ciyee, hijabers ciyeee."

Ini adalah celetukan khas yang akan diucapkan atau didengar oleh sekerumunan mahasiswi tingkat akhir. Percaya nggak? Udah percaya aja. Tapi sebenarnya ada sih sekelompok mahassiswi yang sudah memakai ubarampe ini dari tingkat awal. Namun peningkatan kuantitas akan terjadi secara pesat saat menginjak semester-semester akhir. Pun kalau nggak dandan, biasanya para mahasiswi akan terlihat lebih menawan (baca: lebih bersih, lebih wangi) saat tingkat akhir. Ini sih yang saya amati di angkatan saya, angkatan 2011, yang mungkin sedikit berbeda dengan angkatan lain.

Terus, sebenarnya boleh nggak sih kita dandan? Muslimah kan nggak boleh tabarruj? Eh, tabarruj apa sih? Mungkin banyak yang sudah pernah baca, tapi diulang lagi ngga papa lah ya, mengingatkan *note to myself*
Tabarruj menurut bahasa berarti menampakka perhiasan dan anggota tubuh untuk menarik perhatian laki-laki. Dari berbagai sumber, saya rangkum:
1. Menampakkan aurat. Tampil cantik boleh, apalagi kalo aslinya udah cantik, tapi jangan menampakkan aurat. Ayo yang muslim, mumpung Ramadhan, sila buka Al-Quran surah An-Nur: 31, Al Ahzab: 59, dan masih banyak lagi ayat yang mewajibkan kita menutup aurat.
2. Meliuk-liukkan anggota tubuh, menggoyangkan kepala. Mungkin maksudnya adalah menggoyangkan kepala atau anggota tubuh lain dengan genit, dan membuat laki-laki tergoda. Kalo kata murobbi-nya Dinda, wanita itu jangan lemah lembut, tapi Kuat-Lembut atau Kuat-Tegas, biar laki-laki nggak main-main!
3.  Memakai pakaian tipis dan ketat
4. Memakai wewangian yang mencolok. Ada beberapa orang teman yang memiliki prinsip untuk nggak memakai parfum atau wewangian sama sekali, nggak masalah sih, asal kebersihan badannya terjaga, jadi nggak bau. Tapi, bagi orang seperti saya yang suka hiperhidrosis, alias keringat berlebih, jadi potensi bau badan sangat besar, saya minimalisir dengan pakai splash cologne atau deodoran. Cologne ini adalah tingkatan terendah dari wewangian, kalo kata Diyan, ada banyak kelas, ada eau de cologne, eau de toillete, eau de perfume, sampai perfume. Kelas ini berdasarkan campuran dan ketahanan wangi dari wewangian tersebut. Tetapi kalo tetep pengen ngga pake wewangian, jangan mencederai hak orang lain ya, mandi yang bersiiih!
5. Menyambung rambut, mentato, mencabut rambut dahi, menjarangkan gigi. Masalah meencabut rambut dahi atau aktivitas sejenis seperti mencukur alis ini sudah lumayan sering dilakukan oleh beberapa teman. Tapi saya pernah diduga oleh seseorang kalau saya mencukur alis. Kania bilang, "Kalo liat alisnya Ais kayak dicukur gimana gitu ya." Yaampun Kaniii... ini emang alis aku kayak gini dari lahiiiirr -_-

"Aiss, kamu nggak matching banget baju ama kerudungnyaa!" Ini adalah komentar yang sering saya hadapi waktu jadi mahasiswi tingkat awal. Bodo amat! Haha, saya menyadari selain suka nggak matching, saya juga kucel gitu waktu masih jaman nggak enak. Sekarang juga sih.... 

"Nduk, kamu tuh kok bajunya warnanya gitu, tho. Kayak ibu-ibu." Ini yang komentar ibu saya. Ibu saya ini cukup modis, saking modisnya, banyak baju-baju beliau yang warnanya, modelnya, kayak anak muda banget. Jadi saya suka malu kalo jalan sama ibu, stock baju ngga ada yang trendi, hiks (ntar ketuker mana ibu mana anak). Tapi, baiknya adalah, baju-baju ibu yang suka kekecilan itu dikasih ke saya minta. Dan saya selalu mempercayakan pilihan model baju ke ibu saya. Tapi, kalo teman-teman melihat baju saya masih rada-rada ketuaan, berarti itu bajunya kebanyakan pilihan saya -_-.  

"Kamu tuh pake baju yang bener milihnya, harus sesuai sama usia kamu. Sekarang belajar jadi wanita anggun, biar nanti suamimu nggak malu kalo jalan sama kamu, Nduk." Kalau nasihatnya udah begini apa mau dikata.............
"Ais, nanti itu kita kan lahannya jual jasa, jadi harus tampil kece. Seenggaknya enak dilihat lah." Itu kata teman saya yang saya komentari, "Tambah ayu ya saiki kowee!" (tambah cantik ya kamu sekarang).

Ya saya sih memilih untuk jadi yang pertengahan saja, nggak berlebihan dalam berdandan, dan nggak kucel-kucel banget sampai dibilang pelit. Yang penting jangan malu-maluin.........

Sabtu, 30 Mei 2015

Membersamai Kesendirian


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Saya akan mulai topik ini dari rasa lapar. Rasa lapar adalah suatu nikmat, nikmat ketika kita bisa menghabiskan waktu bersama sahabat sambil bercengkrama saat makanan tengah tersaji. Rasa lapar adalah suatu nikmat, ketika kita bisa bersama dengan keluarga, menghabiskan menu sarapan, sembari bercerita rencana indah hari ini.

Ada suatu kisah menarik tentang rasa lapar, yang pernah saya alami. Lalu apa hubungannya lapar dengan kesendirian?
“Eh, makan yuk? Aku belum makan dari pagi… Kamu kosong kan?” Kebiasaan anak kos-kosan yang malas sarapan, dan sering membuat perut harus menahan lapar hingga siang.
“Duh, aku mau ketemu sama dosen, nih, jam 1. Kayaknya ngga cukup waktu deh, kalo makan dulu. Sama yang lain aja yaaa. Maafin.” Sesaat kemudian saya mencari orang lain yang bisa saya ajak. Belum lapar lah, baru saja makanlah, ngantuklah, dan lain-lain. Jawaban dengan alasan yang bervariasi  –namun merujuk pada satu konklusi yang sama, tak ada teman makan- membuat saya harus berpikir siapa lagi yang akan saya ajak. Alhasil, hari itu, karena rasa lapar yang amat sangat, saya putuskan untuk makan sendiri.

Di sinilah letak hubungan rasa lapar dengan kesendirian. Ya,  yang lapar kan perut saya sendiri, lalu kenapa saya harus bergantung dengan perut orang lain untuk memuaskan nafsu makan saya? Ya, kalaupun ada yang sama-sama lapar, tentu tak masalah. Saya tentu beruntung ada yang bersedia menemani.

Saya tambahin plot twist deh, biar agak rame hehe. Saya ini kalo lapar punya kecenderungan untuk vertigo, atau perasaan pusing berputar-putar. Kalo sudah berputar, mata pun ikut berkunang-kunang. Nah, ketika sampai di tempat makan, saya langsung memanggil mas-mas karyawan. Khawatir saya dilewatin, dan nggak segera dikasih menu. Oya, karyawan di situ ada yang statusnya masih trainee, ada yang sudah tetap. Karyawan tetap memakai baju ijo, seragam khas tempat makan itu, sedangkan karyawan trainee memakai baju putih bawahan hitam.

“Mas.. Mas? Mas..?”  Saya panggil salah satu mas-mas yang lewat. Masnya memang menggunakan kostum  yang sama dengan karyawan trainee di sana, padanan kemeja putih dan celana hitam. tetapi, anehnya, mas=mas tersebut tidak segera menanggapi saya, sampai saat masnya sudah mau naik ke tangga menuju lantai 2, saya teriak. “Masss!” Saat itu masnya terbengong-bengong melihat saya.
“I..i..iya, kenapa mbak?” Masnya berhenti sejenak.
“Saya belum pesen!” agak saya kerasin suaranya, karena masnya sudah ditengah-tengah tangga, khawatir nggak denger.
“Sa..sa..saya juga lagi makan di sini, mbak…” DEG! Maluuuuu. Saat itu seakan semua pengunjung melihat ke arah saya, dan di dalam hatinya sedang tertawa terbahak. “Cieeh, malu nih, ye.”
Saat itu, saya belum pesan, dan tentu belum selesai makan. Nggak mungkin kan saya pulang meninggalkan tempat itu, tetapi perut saya belum terisi? Mungkin, jika saat itu saya nggak sendiri, rasa malu yang saya rasakan nggak akan begitu besar. Tapi, saat itu… Muka saya langsung panas, gerah, dan tetiba vertigo saya hilang…..
Oke, saat itu ego saya bilang, bodo amat. Setiap orang pernah merasa malu di dalam hidupnya, setidaknya sekali seumur hidup. Saya sering kok melakukan hal-hal yang memalukan. Saat ini, yang cukup membedakan adalah mengenai momen kesendirian saya saat itu, yang terekspos oleh banyak orang.
“Waah, malu, tuh. Mana sendirian lagi makannya. Kesian”; “Yaampun, aku mending pulang deh kalo jadi mbaknya itu.” Sepertinya itu kalimat-kalimat yang akan berputar di kepala mereka. Yaudah gapapa aiiisss~~. Ya, kesendirian bagi beberapa orang membuat tidak nyaman. Eh, maksud saya, terlihat sendiri. Makan siang di tempat umum sendiri, berkunjung ke book fair sendiri, atau belanja bulanan sendiri, kadang terlihat begitu menyesakkan bagi orang yang ‘menyaksikan’.

Kata Dinda, 
“Jangan mengukur kebahagiaan seseorang dengan ukuran yang kita miliki. Setiap orang punya ukuran yang berbeda.” 
Ya, menurut saya, sendiri ketika di tempat umum, tidak masalah. Kadang yang tersirat, di kepala orang lain adalah, “Emang dia nggak punya temen, apa? Sampe ke sini aja sendirian.” Yaa, jangan ukur mereka seperti kau mengukur dirimu sendiri sih. Barangkali mereka memang nyaman, dan bahagia ketika sendiri. Pun mungkin mereka punya alasan, kadang sih alasan saya adalah takut teman saya ada urusan lagi setelah kita pergi bersama, sedangkan saya masih ingin berlama-lama di tempat itu, ataupun sebaliknya.
Banyak hal yang berkontribusi dalam mindset, ‘jangan ke mana-mana sendiri’ ini. Misalnyaa…
  1. Dibilang jomblo ngenes. Ya, sedih sih kalo dibilang jomblo ngenes. Loh, is, katanya kita harus bangga kalo jomblo. Iya sih, jomblo, tapi nggak ngenes juga kali. Saya mah bahagia bahagia aja.
  2. Dibilang ngga punya temen. Nah ini, yang kadang menyesakkan. Kadang kita dianggap weird  kalau ke mana-mana sendiri. Ya, tanpa banyak kasih contoh, tentu kalian sudah pernah menge-judge orang yang kayak gini, meskipun tanpa sengaja.

Ada yang mau nambahin? Ini sih beberapa yang saya rangkum (tapi cuma 2, hahaha) dari pendapat teman-teman.
Masalah kesendirian ini juga terkait dengan hubungan, ataupun persahabatan. Kalo kata Pak Paulo Coelho, “When you say yes to others, make sure you are not saying no to yourself.” Oke, di sini saya tidak menekankan bahwa setiap manusia butuh waktu untuk sendiri. Semua orang sudah tahu akan hal itu. Sekarang saya ingin menghubungkan ini dengan permasalahan pertemanan. Terkadang, pertemanan atau persahabatan (selanjutnya saya sebut sebagai persahabatan) memang mengizinkan kita untuk memiliki waktu untuk kita sendiri. Tetapi, apakah semua persahabatan sudah menyiapkan kita untuk bisa hidup sendiri?

Persahabatan yang baik adalah persahabatan yang tidak membuatmu bergantung pada sahabat-sahabatmu pada setiap waktu. Jika kamu selalu membutuhkan mereka setiap saat, barangkali persahabatanmu sudah tidak sehat. Memang, sahabat yang baik, adalah sahabat yang selalu ada setiap kita butuh. Tetapi, apakah mereka sudah pasti akan selalu ada sampai kita mati? Tidak mungkin kan mereka memiliki nasib yang sama persis seperti kita?

Siapkan sahabatmu untuk menjadi kuat, bukan menjadi pribadi yang dependen akan keberadaan orang lain. Menurut saya (dan Dinda selepas diskusi masalah ini), menjadi sahabat yang baik adalah sahabat yang menyiapkan sahabatnya untuk mampu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan tangannya sendiri. Sahabatnya yang menyenangkan adalah yang sudah mempersiapkan sahabatnya untuk membersamai kesendirian. Selamat malaaaam, eh pagiii :)

Eh, saya masih hutang postingan bersambung yaa. Hehehe :D

Senin, 18 Mei 2015

Mencintai Harapan

Gadis itu datang lagi, menawarkan sekilas cerita.
Ia mengawali ceritanya dengan senyum di wajah, lalu berkata, "Aku mengaguminya!"
Aku tak menjawab, hanya mengernyit tanda aku bertanya, "Bagaimana bisa?"

Aku heran dengan gadis ini, tak pernah sekalipun ia bertegur sapa dengan lelaki itu, tapi dengan semangat Ia selalu menceritakan lelaki itu. Itu cukup membuatku menyimpulkan, bahwa Ia tengah jatuh cinta.

"Bukan, ini bukan cinta. Kamu tahu, kan, aku belum pernah mencintai siapapun. Aku hanya kagum saja." Lalu ia kembali tersenyum. Tapi, sungguh, senyumnya kali ini begitu terlihat bahagia.

"Kan kamu selalu bilang, jangan lupa bahagia ya. Sekarang aku bahagia, hanya dengan mengaguminya."

Lelaki itu bukan kerabat, bukan sahabat, bukan pula teman sejawat. Sama sekali tak ada akses antara dia dengan sosok yang Ia ceritakan. 

"Dia bukan artis korea, kan?" Iseng aku mencubit lengannya sambil bertanya hal konyol itu.
"Bukaaaaanlah. Nggak mungkin aku sekagum ini sama artis korea. Kelasnya beda. Dia itu kalem, dan nggak pernah senyum."

"Terus? Kamu suka karena dia nggak pernah senyum?"
"Iiiiih, ya gitu deh pokoknya."

Sebulan kemudian Ia datang, namun ceritanya berubah.
"Kamu masih senyum-senyum sama lelaki dingin itu?" Aku menyebutnya dingin karena Ia bilang lelaki itu tak pernah tersenyum. 
"Nggaaaaak. Dia mah buang ke laut aja kaliiii."
"Kenapa?"
"Dia udah pindah, jadi aku ngga bisa ketemu lagi. Hahaha." Ia masih tertawa bahagia. Aku berasumsi, Ia pasti punya sosok lain.
"Jadi, sekarang sama siapa?"
"Sama yang suka duduk di bangku kayu di depan taman kampus. Setahu aku dia single, hehe."

***

Kisah tadi hanya kiasan. Betapa ketika harapan masih ada, begitulah hati sangat terbuka untuk mengharapkannya. Terkadang, cinta, suka, atau apapun itu (yang sejenisnya, hehe) bisa terus tumbuh seiring terbukanya harapan. Lain cerita jika harapan itu hilang, cinta, suka atau apapun itu, bisa hilang perlahan. Saya garis bawahi, hilang perlahan, tidak secepat ketika rasa itu datang. 

Terkadang, kami hanya menikmati masa-masa kami mencintai seseorang, atau katakanlah mengagumi. Kami (atau cuma beberapa orang saja) baru menyadari ketika rasa itu hilang. Karena, ketika kita mencintai (atau menyukai) bukan seseorang itu yang membuat hati ini begitu bahagia. Tetapi, rasa bahagia dari diri sendiri, yang muncul ketika kita menyukai seseorang. Ya, kita bahagia bukan hanya karena kita menyukai orang itu, tetapi kita bahagia karena kita memiliki rasa suka pada seseorang. *paham nggaaak?*



Minggu, 10 Mei 2015

Jangan Terlalu


X : Lah, katanya kamu udah ikhlas siapapun itu, kok hatinya tetep menjurus sih?
Y : Yaa, gimana ya. Kan tetep aku punya bayangan ke seseorang...
X : Bayangan sih bayangan. Tapi kayaknya kamu deket sama dia juga ya? Hati-hati, fitnah yang kayak gitu bahaya lho kalo ngga ada yang ngendaliin.
Y : Tahu darimana aku deket? Ngga ada buktinya.
X : Yaa, interaksimu ke dia yang tahu kan cuma kamu, Allah sama dia.
Y : Tuh kan suudzon.
X : Aku cuma mencoba memberi pandangan dari orang yang mungkin nggak deket sama kamu. Barangkali mereka berasumsi kayak gitu. Soalnya kan kamu pamer2 gitu kalo ada bayangan ke seseorang.
Y : Mereka ngeliat dari mana?
X : Status medsosmu, berita2 yang kamu share. Banyaklah. Asumsi orang kan lain-lain.
Y : Ya, kan ingin berbagi.
X : Tapi itu memperlihatkan penjurusan hatimuuuu. Biar apa? Biar orang tahu terus mikir aneh-aneh? Ya semoga beneran deh kamu pilih jurusan yang bener. Kalo salah, kasian jurusan hatimu yang sebenernya, nanti. Semoga nantinya aku nggak jadi korban salah jurusan. Kamu juga deh, aku doain.
Y : .......
X : Kalau ingin berbagi, jangan terlalu tunjukkan kecenderungan hati. Itu sih pesenku.

Another Daughter's First Love

Assalamu'alaikum!

Setelah sekian lama berkutat dengan kegiatan offline, sekian lama itu pula blog ini tidak berisi tulisan baru. Hmm, selain itu karena baru dapat inspirasi juga untuk menulis. Semoga tulisan ini cukup mengharukan deh, hehe.

Bapaaaaak, kangeeen.
Bapak adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Apalagi untuk saya. Apalagi untuk anak pertama seperti saya. Saya tak punya kakak yang bisa melindungi saya, jadi ya, barikade perlindungan saya yang pertama adalah Bapak. Bapak itu orangnya melankoliiis sekali, pernah saya mengalami kecelakaan sepeda motor sampai kepala saya harus dijahit dan ketika sadar saya mati-matian minta maaf karena nggak patuh sama orang tua hingga jadilah kejadian itu terjadi, tapi Bapak saya hanya menangis, tanpa bilang apa-apa. Justru ibu saya lah yang keliatan tegar, dan nggak menangis sama sekali. Sifat dari bapak inilah yang saya warisi. Saya sangat sensitif dan gampang nangis :'''.

Inilah yang terjadi tadi pagi. Saya menangis setelah bangun tidur. Hmm, mungkin lebih tepatnya saat saya tidur. Mengapa? Karena tahu-tahu saat bangun mata saya basah. Kepala saya pun masih mengingat dengan jelas ketika saya bangun, mengapa saya bisa menangis. Penyebab saya menangis ini tak lain dan tak bukan adalah seseorang yang menjadi cinta pertama saya, yakni lelaki selain bapak.

Beliau adalah kakak pertama Bapak saya, atau saya menyebutnya sebagai PakDhe. Beliau ini sayaaaaang banget sama saya. Beliau seorang suami dengan satu istri, namun tidak memiliki rezeki yang dimiliki oleh ayah saya dan adik-adik beliau yang lain. Jadilah beliau sangat menyayangi saya dan menganggap saya sebagai anak sendiri. Saat saya SMA, rasa sayang itu benar-benar beliau tunjukkan. Sewaktu SMA, saya bersekolah di luar kota, dan harus ngekos. Saat itulah beliau bertindak sebagai orangtua wali saya, dan itu tercatat di buku Rapor saya, kalau beliau adalah orang tua Wali saya.  

Pernah, ketika saya harus berangkat dari rumah nenek, setiap hari senin pagi (setiap akhir pekan atau libur saya selalu pulang ke rumah nenek -rumah pakdhe saya satu kota dengan rumah nenek-, karena jaraknya lebih dekat daripada rumah saya dengan sekolah) Pakdhe selalu mengantarkan saya sampai saya naik angkutan. Kalau saya terlambat, atau angkutan langganan saya tidak berangkat, pakdhe selalu siap mengantar saya ke sekolah, pagi itu juga dengan mobil biru beliau. *mulai berkaca-kaca*

Ohya, beliau itu selalu 'nyangoni' saya setiap mau berangkat ke sekolah dari rumah nenek. Padahal saya selalu dapet sangu juga dari Bapak. Hal ini terus berlangsung sampai saya masih bersama beliau. Bapak baru saya ceritakan hal ini setelah saya lulus SMA, hehe. Nakal ya.

Hal yang membuat saya menangis adalah, di mimpi itu, saya bertemu dengan seseorang yang sangaaaat mirip dengan Pakdhe. Di mimpi itu juga ada Bapak. Saya senggol Bapak dan tanya, "Bapak, itu Pakdhe bukan?". Bapak saya menjawab, "Bukan, sekedar mirip itu. Pakdhe kan sudah nggak ada." Setelah saya bangun, antara sadar nggak sadar, saya lanjutin nangisnya sampai mata jadi bengkak.

Kenyataan kalau Pakdhe sudah meninggal itu yang membuat saya agak kaget melihat seseorang yang sangat mirip dengan beliau di mimpi. Saya langsung sedih, karena saya merasa belum berbakti sama beliau. Beliau pengeeen sekali saya jadi dokter. Tapi, saya belum bisa mewujudkan itu ketika beliau meninggal. Beliau meninggal ketika saya baru mau naik ke kelas 12 SMA. Beliau berpesan, kalo bisa saya masuk ke jurusan kedokteran biar bisa mengobati sakit beliau. Saat itu beliau didiagnosis mengalami sirosis hepatis atau penyakit pengerasan hati. Beliau sering sekali menginap di rumah sakit untuk mengurangi cairan yang terus menerus ada di perutnya. 

Selain saya ada juga sepupu saya yang diberikan 'amanah' oleh beliau. Sepupu saya ini diamanahi untuk masuk sekolah kepolisian. Kebetulan cita-cita sepupu saya ini juga jadi Polwan. Saat ini sepupu saya sudah berprofesi sebagai polisi, karena pendidikannya sudah selesai. Tinggal saya yang masih berjuang untuk menyelesaikan studi sayaaaaa :''' *udah basah banget ini pipi*

Pesan Pakdhe yang selalu saya ingat
"Nduk, kalo sholat wajib itu yang tepat waktu ya. Supaya rezekinya juga tepat waktu."
 Simple, tapi terkadang sulit untuk dijalani. Pakdhe, insyaAllah segera terwujud keinginan Pakdhe supaya Ais jadi dokter. Terimakasih atas segala dukungan pakdhe dan motivasi pakdhe yang terus membekas sampai sekarang. Al-Fatihah....


Rabu, 03 September 2014

Bejana Hati

Bismillahirrahmanirrahim

Dalam setiap hati, kita dibekali setengah bejana air. Air ini akan berkurang ketika hati kita berhenti pada suatu hati yang lain. Tidak, bukan berkurang, tetapi bisa saja bertambah, terisi oleh air dari hati yang kita hampiri.

Tetapi, pilihan untuk mengisi atau mengurangi isi bejana air ini terserah engkau, teman. Ketika hati berhenti menghampiri suatu hati yang lain, biasanya ia akan lebih memilih untuk menuangkan airnya ke bejana hati yang ia hampiri. Jika hati yang lain juga menyambut dengan perasaan yang sama, maka air pun hanya akan bertukar tempat, dan saling mengisi satu sama lain.

Katakan, jika warna pada hatimu dan hati yang engkau hampiri adalah berbeda, tetapi bentuk bejananya sama. Maka, campuran air dari sepasang bejana ini akan tetap indah. Seindah warna asli sebelum warna itu bercampur. Jika campuran air ini seimbang satu sama lain, kecocokan-lah yang akan kalian dapat.

Tetapi, mari kita ambil lain cerita, sepakat kan, denganku? Seandainya hati yang kau hampiri tak miliki perasaan yang sama, maka airmu akan berkurang, dan takkan ada yang menyambut. Terlebih jika bentuk dan kapasitas bejana kalian satu sama lain berbeda. Air yang kau tuangkan ke hati itu akan memenuhi bejananya, dan sulit membuatnya untuk menerima air dari hati yang lain. Lalu kalian menjauh sebelum kondisi itu berubah, maka kau akan tetap membuat bejana hatimu tak berisi apa-apa, lalu kau penuhi bejana hatinya dalam keadaan tumpah ruah.

Garisbawahilah satu hal, kapasitas bejana. Jika kapasitas bejana kalian berbeda, bahkan sangat berbeda, barangkali kalian ‘belum’ cocok. Masihkah bisa dicocokkan? Ya, usahakanlah, agar kapasitas bejanamu sama dengannya. Caranya? Belajarlah memantaskan diri, jika kau ingin mendapatkan seseorang dengan kapasitas bejana 10 liter, maka setidaknya kau harus mampu menyamai kapasitas ini, bukan? Tentu kuharap kau mengerti maksud perumpamaan ini.


Sebelum kau tuangkan isi bejanamu itu, perhatikan dengan baik, apakah hati itu adalah hati yang tepat, kau tuangkan pada saat yang tepat, dan apakah kapasitas bejana kalian sama, atau setidaknya seimbang? Jangan sampai kau menguras isi bejanamu, sebelum pasangan bejanamu hadir. Jangan sampai juga bejanamu terlalu penuh karena tuangan air dari hati-hati yang sebenarnya bukanlah takdirmu. Hingga akhirnya, kau sulit menerima air dari hati yang sebenarnya sudah menunggumu. Berhati-hatilah dalam mengatur isi bejana hatimu... 

Selasa, 21 Januari 2014

Kalau Ubah dengan Hati dulu, Boleh?

Bismillahirrahmanirrahim..

Bisa dibilang ini #latepost banget hehe.
Sebenarnya, judul ini sudah dipersiapkan dari tahun lalu untuk menjadi sebuah postingan. Tapi, GAGAL!
Seakan-akan udah setahun gitu ya nyiapin tulisan ini. Cuman kelewatan pas ganti tahun aja.

"Is, kemarin aku liat dia jalan sama seseorang. Di acara *menyebutkan suatu acara konser* berduaan coba. Nih, aku fotoin buktinya!"
"Oiya?? Emang berduaan doang? Berangkat berdua? Terus pulang berdua juga? Boncengan?!" Berapi-api saya mengomentari fakta ini. Setelah saya liat fotonya sih, emang iya. Niat gitu ya, temen saya sampe motoin gitu. Mungkin dia kesel juga kali ya.

Stop! Kalian menyukai lelaki yang sama? Apa jadinya ya, kalau sepasang orang yang berteman menyukai orang yang sama
Kalau kita menyukai orang yang sama, itu artinya kita memang berteman bukan? Saya Kokyu-Shiritsu Bakaleya Koukou
Itu kalimat yang dikatakan Saya Kokyu kepada Shingyouji Fumie hehe. Out of topic, kembali lagi ke bahasan pertama.

Yauda sih, emang kalo berangkat berdua kenapa? Pulang bareng kenapa? Kalau boncengan kenapa? Hak-hak dia kan? Toh juga mereka udah dewasa. Gitu.
Itu teriakan dari lubuk hati saya yang agak dalam. Kalau teriakan dari lubuk hati saya yang paling dalam, hal yang dilakukan itu sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran dari yang saya tahu. *kalau fakta ini dilanjutkan, postingan ini jadi postingan yang sangat tendensius. jadi saya stop ya.*

Dari Abu Sa’id AlKhudri Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu dan jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman (Dikeluarkan oleh Imam Muslim Rahimahullahu)
Mengubah dengan tangan, sebenernya saya bingung caranya gimana untuk perkara ini. Mengubah dengan lisan, sudah saya coba sih. Tapi saya nggak kuat.. Nggak kuat takut nanti malah jadi bersilat lidah terus jadi saya yang kalah, hehe.

Makanya, saya coba ubah dengan hati dulu. Tapi, wait! ....jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman. 
Saya jadi berpikir, apa saya hanya membuat-buat alasan kalau saya tidak mampu dengan dua cara sebelumnya? Wallahu'alam. Belum menemukan jawaban juga. Hanya pikiran saja sih postingan ini. Belum ada solusi.

Jumat, 27 Desember 2013

Sekedar Pengganti, atau Lebih?

Bismillahirrahmanirrahim...

"Aaargh. Kangen banget sama temen-temen SMA. Mereka memang tiada duanya. Takkan terganti lah. Rasanya pengen banget bisa bareng-bareng sama mereka lagi."

Pernah punya pikiran seperti itu? Saya sering.
Apalagi kalau lagi capek dengan urusan-urusan di luar akademik. Banyak timbul masalah pengganggu, yang membuat saya jadi gagal move on. Saya udah kuliah, tapi masih mikirin gimana seneng-seneng di SMA dulu.

Eits, tapi saya nggak semata-mata seneng-seneng doang lho, di SMA. Ada beberapa hal yang membuat saya terkenang dengan SMA. Eh, banyak ding.

Waktu kelas 1 SMA, saya satu-satunya representative dari SMP saya. Sampai kelas tiga juga sih, sebenernya, wkwk. Di awal-awal persekolahan, saya memang merasa agak minder. Sampai pas saya kelas tiga akhirnya saya tahu ada pikiran aneh dari teman saya semasa kelas X SMA.

"Tahu gak, pertama kali liat kamu aja aku udah tahu, kalo kamu bukan dari Semarang."
"Kok bisaa? Emangnya kenapa ih?"
"Soalnya wajah kamu itu agak ndeso. Hahahaha."
Jleb. Iya sih, emang saya dari desa, Semarang coret, Kendal juga coret. Tapi, temen saya yang barusan itu jujur banget ya, emang. Perkenalkan, namanya Nurul Istiqomah. Anak Komunikasi UNDIP, dan sampai sekarang dia masih suka gangguin saya, dengan dalih mau curhat.

Pas kelas X itu, serunya adalah, semua anak cewek di kelas itu saling 'tahu' satu sama lain. Maksudnya 'tahu' adalah, tahu si A lagi suka sama kakak kelas yang mana. Tahu si B lagi naksir kakak kelas yang ada di ekskul apa. Gila ya, tiap hari di kelas isinya mbribik doang. Cewek lho ini. CEWEK.

Kelas XI, ini nih. Santai bangeet. Tiada beban harus pilih jurusan IPA atau IPS karena beban itu ada di kelas X. Tiada beban harus lulus ujian nasional. Itu mah, ntar-ntaran aja dulu, kelas XII. Jadi di sini isinya maiiiiin mulu. Ke mall, ke bioskop, ke toko buku, dan tetep pake seragam kalo main. Biar ketahuan anak SMA mana, hahaha, alay. 

Yang paling bikin seru di kelas XI itu adalah karena saya ikutan ROHIS. Di subsie (dulu masih subsie, belum jadi ekskul, nggak tahu kalo sekarang) Rohis ini saya belajar banyak. Ketemu Isti Noor Masita (aktivis banget ini orang), Noor Oktova Fajriyah (huah, ini apalagi), Intan Khadijah (Ketua Annisa yang suka sama korea (dulu) dan jepang-jepangan), Intan Bias Papeke, Fitri Asfari, dan temen-temen saya yang lain. Oiya, satu lagi, ada Bagas Heradhyaksa, ketua Rohis angkatan saya yang hobi banget senyum senyum dan bilang 'Subhanallah.' Ini orang unik banget, saya inget, dulu dia pernah terlambat sekolah gegara ban motornya bocor, dan dia bilang 'Alhamdulillah.' dapet musibah tapi bersyukur, emang unik ini orang. Tapi dulu saya suka emosi kalo sama dia, habis senyum senyum melulu, jarang marah pula. 
"Eh, kerjain bagas yuk. Kita sms ke dia, isinya 'Subhanallah..' titiknya dua ya. DUA!" ini idenya si Riecho pecandu jejepangan yang sekarang beneran kuliah di sasjep. Eh, apa idenya Amri ya? Ini anak yang pas lulus SMA dan mau minta surat keterangan sehat ke rumah sakit, eh dikira lulusan SMP yang mau daftar SMK.

Kelas XI isinya main, dan cabut. Hahaha. Tapi cabutnya gegara ROHIS dan waktu itu mau ngurusin Islamic Festival, program terobosan dari divisi dakwah. Acara ini sempet hampir nggak jalan gara-gara nggak ada tempat (ga ada duit jugaaa), soalnya smaga mau dipake buat UM entah UGM atau UNDIP, lupa. Akhirnya kita pindah ke balaikota semarang, dan justru acaranya makin heboh di sana. Lain kali mungkin ya, acara I-Fest ini saya bahas di postingan khusus, abisan seru banget. Apalagi ketuanya, wooooh. Super duper kontroversial ketua I-Fest ini hahaha. Afwan akhi, soalnya dulu antum bikin panitia (lebih tepatnya bendahara aka Ishmah) geger sih hahaha.

Kelas XII. Yaaah, seru seruuuu banget. Udah sering kali ya, ngebahas temen-temen kelas XII. Reunian sama kelas ini. Udah sering lah ya. Nah, yang ingin saya bahas sekarang (ini baru mau ke postingan utama-nya nih) adalah tentang sosok-sosok yang ada di sekeliling saya sekarang. Jujur, dulu awal saya kuliah di UNSOED, saya suka membandingkan teman-teman saya di perkuliahan dengan yang di persekolahan. Saya sempet menyesal karena kelakuan pembandingan saya ini. Dasar nggak bersyukur ya.

Saya dulu sempet nangis waktu lulus SMA, cemas, saya nggak bakal dapet temen kayak temen saya yang bernama Arina Fadhilah. Beliau ini, guru spiritual saya, wkwk. Maksudnya, saya dapat pemahaman saya musti gimana dan lain-lain itu dari beliau. Urusan jilbab, urusan pertemanan, urusan cinta juga. Tapi karena saya dulu belum peduli ngurusin cinta (sekarang juga kok :p), jadi beliau belum mengambil bagian yang penting untuk urusan yang terakhir itu.

Kalau kamu cemas kamu nggak dapet temen yang bisa ngawasin kamu, ya kamu jadi pengawas untuk yang lain dong. Perhatikan teman-teman barumu nanti, kan nggak selamanya kamu harus jadi yang diawasin melulu. Jadilah penggerak buat yang lain. Jadilah pemerhati buat yang lain. 
Akhirnya sekarang saya mengerti, nggak bisa selamanya saya jadi 'adik'. Saya harus bisa jadi 'kakak' untuk yang lain. Dulu waktu SMA saya pernah ngerasa nggak enak kalau nggak melindungi salah satu ukhti saya Intan Bias Papeke. Saya menganggap, kalau saya ini harus melindungi dia, apapun yang terjadi. Semacam protector gitu. Nah, ini yang harus saya pertahankan.

 Di lingkungan baru saya ini, saya nggak bisa membanding-bandingkan diri teman saya dahulu, dengan diri teman saya yang sekarang. Pasti berbeda, dan nggak akan sama. Kalaupun saya berpikir, sosok A ada nih di sosok N, misalnya. Tentu sewaktu-waktu akan ada hal yang berbeda, yang mungkin tidak akan sesuai, jika yang melakukan itu adalah sosok A. Teman saya yang sekarang, bukan sekedar pengganti teman saya yang lalu.

Sekali lagi, mereka bukan sekedar pengganti, tetapi lebih. Ya, lebih alay, lebih dewasa, ada juga yang lebih kocak. Semuanya berbeda, dan takkan pernah bisa disamakan :).
ini teman-teman baru saya (Tekad 1 HMMK)



Rabu, 11 Desember 2013

Apa Kabar, Ais?

Bismillahirrahmanirrahim


 Eh, itu diretweet lho. Girang ya. Iya lah. Tapi yang ngeretweet adik kelas sendiri wkwk. Nggak papalah, menurut saya itu prestasi *all alone detected

Yaudah ya, tanya kabar diri sendiri dulu.
"Gimana ais kabarnya? Sehat?'

Seenggaknya sekarang saya udah bisa jawab. "Agak nggak enak badan nih. Sama agak nggak enak jiwa juga. Oh iya, sama nggak enak hati juga. Oh iya, sama nggak enak perasaan juga."

Ya, jiwa dan raga saya masih belum sepenuhnya sehat. Tetapi, kata beberapa orang sih, katanya, jangan sampe menunjukkan ketidakbahagiaanmu kepada banyak orang. Yang bilang siapa ya? Saya lupa orangnya. Kalau nggak saya sendiri ya, berarti orang lain.

Emang saya ini orangnya suka sedih tiba tiba. Suka jengkel tiba-tiba. Suka muntah tiba-tiba. Lho, apa hubungannya? Nggak tau juga deh, kalau saya lagi emosi, kalau saya lagi stress, tiba tiba pengen muntah aja, wkwk. 

Nggak enak jiwa, karena kayaknya lagi nggak rapih ini jadwal sehari-hari. Bangun telat lah, nggak bisa prioritasin aktivitas lah, dan lain-lain.

Nggak enak hati, karena lagi banyak masalah interpersonal. Ya, banyak mungkin yang sedang saya kecewakan sekarang. Maaf, maaf, maaf berjuta maaf untuk kalian semua. Kalian semua luar biasa *gaya ariel beut.

Nggak enak perasaan, karena ada aja yang bikin rasa rasa ini gelisah. Nggak tahu deh, faktor banyak urusan terbengkalai kali ya.





padahal ada ini. La tahzan, Innallaha ma'ana.
Iya deh, iya saya nggak sedih lagi. Secepat itu? Iya secepat itu saya nggak sedihnya. Semoga dengan selesainya tulisan ini, sedih saya juga selesai. Babay sediiih :)