Tampilkan postingan dengan label medicallife. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medicallife. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2019

Sepertiga Setahun Kemarin "Menjelang Akhir Internship"

Assalamualaikuum!

Wah, sudah setahun saya tidak menulis blog. Sepertinya sudah semakin kaku tangan dan jiwa ini untuk menuliskan isi pikir. Salah satu revolusi (why? salah kali! bukannya resolusi?) 2019 saya adalah kembali menulis. Senangnya ketika kembali menulis adalah saat menumpahkan cerita hari ini, atau hari-hari sebelumnya, dan menjadi kenangan yang membahagiakan ketika membacanya kembali. Baik itu kenangan yang sedih atau kenangan yang menyenangkan. Eh, kenapa kenangan yang sedih malah membahagiakan? Karena hatiku senang, aku sudah pernah dan mampu melalui masa terberat dalam hidupku! 😊                                                                                                           

Oiya sekedar informasi, aisyah sudah hampir selesai melewati fase internship! Hehe, loh sudah selesai tho koasnya?! Iya dong! Kemana ajaaaa...

Iya, gara-gara nggak pernah nulis jadi begini deh. Maafkan aku blogku.. Sesungguhnya ini sedang minta maaf kepada diri sendiri, karena jadinya tidak pernah ada momen yang diingat dan direfleksikan melalui tulisan selama beberapa tahun terakhir. Bagaimana deg2annya menghadapi ujian akhir menjadi dokter, dan masa-masa menunggu sebelum akhirnya internship, dan sekarang tiba di masa internship sudah mendekati usai. 

Baiknya aku mulai dari mana dulu? Tujuannya adalah untuk mencatat memori yang lalu dan pernah dialami, jadi nggak sepi amat hidupku ini, udah ngga pernah baca, nulis pun nggak pernah πŸ˜•

Yaa di masa internship yang tadinya aku nggak berharap ini ada, lalu kini berubah menjadi rasa terimakasih, karena ternyata pengalaman yang cukup banyak muncul ketika fase ini. Menghadapi hiruk pikuk tanggung jawab dunia kerja yang mulai terasa nyata.

Jadi masa internship itu akan dijalani selama 1 tahun, dan akan dialami oleh semua dokter umum fresh graduate. Ndak tau sih kalo ada yang ndak ngalamin, tapi setahuku peraturannya kita harus melewati itu dulu untuk selanjutnya menjadi 'dokter beneran'. Loh sekarang nggak dokter beneran tho? Hmm, selama internship kita belum dapat STR (Surat Tanda Registrasi) definitif, namun dapat STR internship, yang menandakan kita masih internship. Lalu selain itu, kita baru dapat SIP (Surat Izin Praktek) di dua tempat khusus kita internship, jadi kita belum boleh praktek selain di dua tempat internship kita. Jadi menurut temen-temen gimana tuh? Dokter beneran nggak?

Nah kita dapat dua tempat praktek itu di mana saja? Jadi selama 1 tahun internship, kita akan mengalami 3 stase, yang pertama IGD, bangsal (rawat inap), dan puskesmas. Untuk urutannya bisa diputar-putar, karena tergantung dengan kelompok internship, jadi satu gelombang internship (kita singkat aja jadi iship yaa) akan dibagi 3 kelompok untuk mengisi rotasi 3 bagian tersebut. Mari kita mulai cerita dari sudut pandangku yaa.

Aku kebagian rotasi pertama di rawat inap, alias bangsal. Selama 4 bulan pertama internship, kami (aku dan rekan sekelompok) akan ditugaskan berjaga di ruangan rawat inap. Kami bertanggung jawab untuk mengatasi kegawatan atau keluhan-keluhan pasien yang sudah 'turun' ke ruangan, pasien-pasien ini bisa berasal dari mana saja. Bisa dari IGD (Instalasi Gawat Darurat) atau dari poliklinik spesialis. Nggak seperti di sinetron-sinetron atau drama 'bilang aja putus' (nama samaran) yang masuk rumah sakit tiba-tiba langsung masuk ke ruangan rawat inap, sudah diinfus dan bla-bla. Atau positive thinking aja yaa, mereka skip episode pas di IGD-nya (rata-rata karena kecelakaan atau pingsan). 

Banyak hal yang dilalui, mulai dari desas-desus kamar jaga dokter adalah bekas ruangan rawat inap yang horor. Tapi, selama di sana sih, tidak kutemui adanya kebenaran dari desas desus itu. Alhamdulillah tidur nyenyak, meskipun kadang harus siap bangun malam jika ada telepon dari ruangan rawat inap. Kalau dari segi kasus medis, yaa, banyak hal yang aku dapat selama menjalani tugas di sini. Mulai dari kegawatan karena ada pasien yang henti nafas, apalagi malam hari, dan harus siap-siap tenaga untuk resusitasi jantung dan paru, dalam rangka mengembalikan fungsi tubuh dari pasien itu agar tetap hidup. Yaa, nggak jarang juga berakhir dengan sedih, karena kehendak Allah yang kemudian terjadi. Bagaimana melatih diri memberikan "bad news" kepada pasien dengan cara yang baik, namun juga tidak menjanjikan hal yang muluk-muluk. Kita hanya menjanjikan upaya yang maksimal, sisanya, tetap Allah yang menentukan. 

Nggak cuma kasus medis sih yang menarik. Kadang ada kasus psikiatris yang memang cukup menyedihkan, dan kadang membuatku sebagai pihak ketiga merasa iba. Di tempat kami iship, istilah gangguan jiwa bagi para warga adalah istilah yang sangat tabu, dan bisa jadi membuat hilangnya trust dari keluarga kepada para tenaga medis. Keluarga pasien bisa akan sangat marah ketika tahu bahwa pasien ini direkomendasikan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater. Padahal sebenarnya pada dasarnya mungkin pasien ini butuh konseling untuk kesehatan jiwanya. Oiya, gangguan jiwa bukan semata-mata hanya berputar pada gangguan jiwa yang oleh orang awam kadang disebut sebagai 'gila', di dunia medis, bisa kita sebut skizofrenia, di mana ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mendiagnosis seseorang dengan gangguan jiwa macam ini. Gangguan kecemasan berlebih, gangguan penyesuaian diri, juga termasuk gangguan jiwa loh, eh tapi ini kita bahas di lain kesempatan aja yaah.

Yang ingin aku bahas untuk pembahasan kali ini adalah sepertiga waktu selama setahun kemarin. Menjalani hari-hari yang cukup stressful, karena pada akhirnya bruxismku kembali kambuh. Duh-duh apa itu bruxism? Bisa baca di sini yaa, belum sempat jelasin hihi.

Namun, di sini, aku ternyata belajar banyak. Menjadi dokter itu nggak semudah bayangan. Ada banyak aspek yang perlu dipelajari, yang tidak hanya berkaitan dengan ilmu saja, tapi berkaitan dengan aktualisasi diri ke masyarakat. Ada kasus lain yang menarik. Ada seorang anak usia 13 tahun, mengalami kejang. Lalu kemudian singkat cerita, aku menduga anak ini mengalami epilepsi. Namun, demi pemeriksaan lebih lanjut, pasien ini perlu dirujuk ke dokter spesialis saraf, untuk pemeriksaan penunjang, misalnya elektroensefalografi atau EEG untuk memeriksa gelombang otaknya. Namun si ibu bersikeras untuk membawa anaknya ke paranormal, karena beliau merasa anaknya ini 'ketempelan'. Dari sekian banyak pemeriksaan yang aku dapati memang ada kelainan dari segi medis, jadinya kubujuk ibu ini untuk tetap menjalani proses medis dalam mengobati anaknya. Dan pada akhirnya, ibu ini setuju untuk menjalani proses tersebut, alhamdulillah.

Belajar banyak hal untuk tetap memberi pasien informasi yang berhak pasien ketahui, agar bisa mengambil keputusan yang logis, dan sesuai dengan kebutuhan pasien, bukan kebutuhan dokter saja. Duuh acak adut ya tulisankuu... Tapi nggak papa ais, besok-besok perbaiki lagi ya. Mungkin 30 hari bercerita bisa jadi titik tolak memperbaiki blog ini. Tetap semangat menulis, Ais!                                                                                    

Selasa, 02 Januari 2018

Jangan Jadi Gendut!

Assalamualaikum!
Haiii sudah lamaaa tidak bersuaaa..

Iya nih, lagi sibuk memadatkan diri, dengan kegiatan yang cenderung memadatkan badan. Makan, tidur, nonton drama, tidur lagi, makan lagi... Muteeeer aja disitu..

Alhasil, tak disangka tak dinyana, saat iseng timbang berat badan, BB saya naik 15 kg dibandingkan saat SMA dulu.. ckckck.

Setelah saya amati, dan saya pikirkan matang-matang, kenapa hal tersebut bisa terjadi, saya mendapatkan suatu kesimpulan. Saya ini termasuk orang yang sangaaat cuek dengan penampilan, terutama dulu, waktu masih awal-awal kuliah. Karena itulah saya cuek mau makanan apa aja diembat. Pengalaman semasa SMP saya jadikan patokan, badan saya nggak bisa gemuk waktu SMP, segitu-segitu aja meskipun makannya banyak. Namun, percayalah, era sudah berubah, makanan bermutasi, kemudian badan saya ikut bermutasi. Sekarang yang terjadi kebalikannya, makan sesedikit apapun, tetap gendutlah hasil akhirnya.. 

Gendut ini ingin segera saya akhiri.. "Loooh, kenapa Is? Kok sekarang jadi pemerhati penampilan gini?"

Awalnya sih karena capek juga dibilang, "Diet Is makanya, badan udah gemuk gitu.."
"Yaampun iiiis, gendut bangeeet.." Dan emang ketika saya melakukan pengukuran Body Mass Index, body saya udah termasuk ke OBESITAS. OH MY GOD!!

Seketika saya merasa badan terasa berat, terus kepikiran, pantesan jadi sering ngantuk.. Suka males jadinya kalau mau ngapa-ngapain, pokoknya multiple banget deh keluhannya. Apalagi dengan riwayat penyakit yang saya kantongi, saya jadi takut kena diabetes, hipertensi, dislipidemia, dan puncaknya bisa sindroma metabolik*.. oh nooo!!

Apaan sih sindroma metabolik itu? Sebenarnya ada beberapa kriteria diagnosis dari pengertian si sindroma metabolik ini. Namun, kalau menurut NCEP (National Cholesterol Education Program, ini lembaga punya Amerika) sindroma metabolik ini merupakan sekelompok kelainan metabolik, baik lipid (lemak) maupun non-lipid (non-lemak) yang merupakan FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER, yang terdiri dari obesitas sentral, dislipidemia aterogenik (kadar trigliserida tinggi, tapi kadar HDL rendah), hipertensi, dan kadar glukosa darah tidak normal. Bentar-bentar, kamu abis ngomong apaaa iss??

Hehe, oke-oke, kita perjelas dulu yaa, kriteria diagnosis untuk sindroma metabolik, kalau nanti ada yang perlu diperjelas, bisa saya tambahin lagi penjelasannya. Sebenarnya untuk kriteria sindroma metabolik ini juga ada yang menurut WHO, namun hingga kini, kriteria dari NCEP-ATP III inilah yang mudah dilakukan untuk para klinisi dalam mendiagnosis sindroma metabolik. Setidaknya 3 dari 5 syarat terpenuhi dari kriteria berikut ini:

  1. Obesitas Sentral : Pria >102 cm | Wanita > 88 cm, nah, namun kriteria ini mengalami modifikasi, hal ini karena terdapat perbedaan ukuran lingkar pinggang 'normal' berdasarkan etnis. Sooo, kalau Anda orang Asia, maka lingkar pinggang yang memenuhi syarat obesitas sentral adalah > 90 cm untuk pria, dan untuk wanita > 80 cm
  2. Trigliserida :  ≥150 mg/dl
  3. Kolesterol HDL : Pria < 40 mg/dl | Wanita < 50 mg/dl (kolesterol HDL ini yang dinamakan kolesterol baik)
  4. Tekanan darah : ≥ 130 mmHg / ≥ 85 mmHg
  5. Glukosa darah puasa : > 110 mg/dl
Gimanaaa? Sudahkah teman-teman memenuhi 3 kriteriaa? Oiya, bahkan saya sempat mengikuti kuliah Dr. dr. Wara Kushartanti, M.S. dari FIK UNY, beliau mengatakan bahwa, sekarang sindroma metabolik bisa 'dilihat' hanya dari ukuran lingkar pinggang saja lho. Karena hal tersebut menggambarkan juga bagaimana gaya hidup kita yang apa-apa dimakan haha. Gimana, bahaya nggak? Langsung deh pada ngukur lingkar pinggang masing-masing yak.

Kalau ais gimana lingkar pinggangnyaa? Psssst... masih normal, kalau saya orang Amerika, buahaha. Kalau orang Asia udah lebih dooong? Yups, makanya harus mulai mengurangi ukuran lingkar pinggang nih. 

Oiyaaa, kemarin aku juga sempat cek kolesterol lewat darah yang ditusuk di jari loh. Terus hasilnya lumayan bikin kaget sih, hasilnya 225. Hayooo, itu berarti yang diukur apaa? trigliserida yaa? atau Kolesterol HDL? Nah alat itu mengukur kolesterol total teman-teman. Loh, kok beda lagi?

Trigliserida dan kolesterol itu termasuk lemak yang beredar di dalam tubuh. Dua jenis lemak ini punya fungsi yang berbeda, kalau trigliserida nanti bisa diolah jadi energi, sedangkan kolesterol yang disimpan nanti bisa jadi bahan untuk menyusun sel-sel tubuh atau hormon. 

Naah, kalau mau kadar trigliserida, bisa dilakukan dengan tes laboratorium. Jadi perlu tes lebih lanjut, apalagi kalau sudah pernah dilakukan tes dengan alat cek darah digital (yang pake jari itu) terus hasilnya lebih dari 200 mg/dl.

Trusss, katanya kan big is beautifuul? katanya ada penelitian yang menunjukkan gendut itu lebih bahagia daripada orang kurus? Hmmmm, ini baru membahas masalah gendut dari sisi kesehatan sih. Kalau masalah gendut vs kurus, nanti beda lagi ya pembahasannya. Oiya, bukan berarti kurus itu lebih sehat juga ya. Asal kebutuhan kalori sehari terpenuhi, hmm nanti lain kali kita bahas lagi.

Oiyaa, postingan ini insyaAllah masih bersambung, terutama membahas bagaimana sih supaya kita nggak kena sindroma metabolik ini. Apalagi beberapa temen saya yang sempet cek kolesterol dengan keluhan yang nggak terlalu berat, menunjukkan angka kolesterol lebih dari 200. Jadi, ternyata perlu pengawasan ekstra ketat yaa untuk masalah kolesterol ini. Ditunggu yaaa :)


Jumat, 28 Oktober 2016

Review Film: Catatan Dodol Calon Dokter

Bismillahirrahmanirrahim..

Beberapa penikmat film di Indonesia mungkin sudah mendengar akan ada film yang berjudul Catatan Dodol Calon Dokter, yang merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama. Novel ini ada 3 jilid kalau tidak salah, tapi untuk kali ini, saya nggak akan bahas bukunya. Yaaa, karena saya juga udah lupa-lupa ingat sama isinya, karena, saya baca ketiga jilid Cado-Cado ini dari dapet minjem hahaha.

Cado cado ini ditulis oleh dr. Ferdiriva Hamzah, Sp. M (sekarang udah spesialis boook) haha, dan dari sekilas baca bukunya beliau ini, orangnya kocak banget, rada sedeng buahaha. Awal baca bukunya yang pertama (waktu itu saya masih SMA kalo nggak salah) nggak nyangka kalau dokter muda itu pengalamannya lucu banget. Saya dulu dapet minjem dari kakak mentoring saya waktu SMA, mba dr. Indi Himma yang dulu kuliah di FK Undip. Berkat beliau, saya pengen masuk kedokteran Undip, meskipun jadinya nyampe ke Unsoed (wehehehe).

Isi dari buku Cado Cado ini membahas tentang berbagai pengalaman lucu dr. Riva bersama rekan seperjuangan semasa koasnya. Pengalaman-pengalaman beliau ini ternyata nggak jauh beda sama yang saya dan teman-teman alami waktu koas. Sampai ada istilah, "Koas itu masa menyenangkan, tapi tidak untuk diulang."

Adegan pembuka film ini ketika seorang ibu menangis di hadapan seorang pasien (suami-nya) yang terbatuk batuk dan menggunakan 'seikat' perban di kepalanya, yang terdapat bekas darah. Kemudian, datang seorang berjas putih (sepertinya dokter) yang berkata, "Maaf, kami sudah berbuat banyak, namun suami ibu mengalami kanker paru-paru...(abis itu saya lupa dokternya bilang apa)" sesaat kemudian muncul suara, Itu kok ada perban sampe darahnya nembus-nembus ke perban, emang nggak ada betadine (dan lagi-lagi saya lupa naratornya bilang apa -_-).

Selanjutnya ada sekumpulan koas, termasuk Riva, dan beberapa koas lain, ada Budi, Evie, Hani, Cilmil, Kresno, Uba, dan satunya lagi saya lupaa... Mereka diperkenalkan satu persatu sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Yang paling membekas di otak saya adalah Hani (dia ini cowok lhoo), karena aksen Inggrisnya yang excallent (ini cara ngomongnya begini banget deh haha) dan yang menthelnya minta ampun. Kresno your selaiva (he means saliva haha) isn't higienis. Kalau begini saya pengen baca bukunya lagi dan menceritakan gimana koplaknya karakter-karakter koas sedeng ini. 

Ceritanya di film, mereka adalah koas yang sedang menjalani stase bedah, dan berada di bawah supervisi seorang profesor yang diperankan oleh Adi Kurdi. Sebenarnya nggak niat mau spoiler, tapi yaa bisa ditebak dari trailernya bahwa, film ini memiliki nuansa romance. Dari awal saya sempat antisipatif, sepertinya film ini nggak akan sengocol bukunya alias nggak worth it buat ditonton secara khusus. Tapi, karena ditraktir yaaa mau-mau aja deh nonton haha. Yap, sesuai dengan trailer, ada kisah cinta segitiga antara Riva, Evie, dan Vena. Padahal kalau di bukunya, nggak ada tuh, drama-drama begini. Yeah, sorry to say, sebenernya saya nggak terlalu senang dengan jalan ceritanya. Harapan simple saya setelah orang nonton film ini (terutama untuk yang bukan kalangan medis) bisa tahu gimana beratnya jadi koas, meskipun yaa berat juga sih (lah gimana sih is). 

Tapi di sini ada beberapa poin yang saya bisa bilang, yaaa good joblah. Di mana ada adegan bergunanya seorang koas bedah yang mampu mendeteksi adanya kelainan di mata seorang pasien paska kecelakaan lalu lintas. Ya, inilah sebenarnya tugas seorang dokter, yang mampu mengintegrasikan ilmunya, periksa pasien itu harus head to toe, jangan mentang-mentang lagi stase tertentu, terus periksa pasiennya cuma sesuai dengan stase yang dijalani, bukan secara holistik. Kemudian ada adegan heroik juga di mana Evie mampu menyelamatkan seorang anak yang mengalami trauma inhalasi, dan harus melakukan cricoidektomi darurat (tindakan insisi kulit, fasia, dan membran krikotiroidea, lalu selanjutnya dipasang pipa di trakea, tujuannya untuk membuka jalan nafas pada pasien dengan gawat nafas).

Sejujurnya film ini dikemas dengan bentuk drama yang terlalu banyak, komedinya tidak terlalu banyak seperti di buku. Kisahnya pun dibuat berbeda dengan bukunya. Tetapi, seenggaknya tujuan untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa proses untuk menjadi dokter itu penuh dengan perjuangan dan pelajaran hidup, tercantum laah di drama ini. Ada beberapa hal yang mirip sama koas alami siih, ya antara lain seperti berikut:
1. Adegan mengikuti konsulen (dokter spesialis) saat visit (setelah sebelumnya koas melakukan pemeriksaan yang disebut sebagai follow up), terus ditanya-tanya di depan pasien tentang penyakit atau diagnosisnya. 
2. Adegan koas dimarah-marahin konsulen, karena kesalahannya. Yaaaa, kalau lihat di film ini, hal tersebut beneran kejadian loooh. Bentakan yang menggema di ruangan dan bikin keringat dingin, mulut kaku tak bergerak, kepala nunduk tak mau ngangkat, kaki pegel akibat berdiri berkepanjangan, sariawan karena kurang vitamin C, mata merah kena asap knalpot, eh kok jadi ngelantur sih.
3. Adegan jadi asisten operasi (ada yang cuma lihat operasi berlangsung, ada juga yang langsung berdiri di sebelah konsulen dan benar-benar bertindak sebagai asisten operasi, meskipun palingan cuma bantuin suction, netes-netesin air, ngelap darah yang nyemprot, but that's such a great thing when we did it!)
4. Adegan jaga IGD. Di film ini ada tokoh Kresno yang percaya sama hal klenik, dan bikin jampi-jampi, supaya pasien waktu Riva jaga rame banget. Di kalangan koas, ada sebutan koas wangi dan koas bau. Koas wangi itu, setiap dia jaga, maka pasien baru bisa dipastikan sedikit, atau bahkan ngga ada sama sekali. Kalau koas bau, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, bisa nggak tidur semaleman kalo lagi jamal (jaga malam) gegara pasiennya datang terus. Dan konon katanya, yang punya kekuatan wangi atau bau ini nggak cuma koas, bahkan residen (dokter umum yang sedang menempuh pendidikan spesialis), konsulen juga bisa saja punya predikat bau atau wangi.
5. Ada satu hal yang di film ini selalu terjadi di semua koas di seluruh Indonesia, yaitu, teriakan KOAAAAASSS! yang menggema di seantero bangsal rumah sakit. 

Meskipun di sini, nggak ada tuh koas yang harus berangkat pagiiii banget (jam 3 pagi misalnya) terus bangunin pasien pagi-pagi buat diperiksa tensi dan ditanya-tanya seputar keluhannya (ini yang namanya follow up).

Akhir kataa, buat yang penasaran sama film ini, silakan ditonton. Kalau yang penasaran banget sama gimana kehidupan koas, yaaa, bisalah tonton film ini. Ada sekelumit kisah koas malang yang memperjuangkan cita-citanya demi jadi seorang dokter. Oke deeh segini aja, ini reviewnya agak nggak niat sih yaa haha, selamat menonton! 

Selasa, 25 Oktober 2016

Ambil Sikap, Sekolah atau jadi Ibu Rumah Tangga?

Bismillahirrahmanirrahim..

Sekali lagi, kisah galau akan saya ungkapkan di sini. Jika kawan-kawan tahu, hari Senin tanggal 24 Oktober 2016 kemarin merupakan hari Dokter Nasional. Terus, kenapa?

Ya, kemarin diadakan aksi damai oleh Dokter di beberapa wilayah Indonesia, dalam rangka memperingati hari Dokter Nasional ke 66 ini. Inti dari aksi damai ini adalah menolak adanya prodi DLP (Dokter Layanan Primer).

Lalu apa sih, DLP ini? Dari penjelasan beberapa orang yang saya dengar, DLP ini adalah program pendidikan dokter berkelanjutan yang setara dengan spesialis, yang akan ditempuh selama 2 tahun, setelah seseorang lulus dari pendidikan profesi dokter umum dan sudah melalui program internship. Lalu, apakah DLP ini merupakan salah satu bentuk spesialis?

Menurut UU no 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran pasal 8 ayat 3, Program dokter layanan primer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kelanjutan dari program profesi dokter dan program internsip yang setara dengan program dokter spesialis.” 

Berdasarkan pengakuan dari Wamenkes, Prof. Dr. Dr. Ali Ghufron Mukti M.Sc.,Ph.D., hadirnya dokter spesialis layanan primer pada lini pertama BPJS Kesehatan diharap dapat mematangkan kembali para dokter umum dalam peranannya sebagai dokter keluarga. Dokter layanan primer dianggap bisa menjawab tantangan di dunia kesehatan masa mendatang sehingga proses rujukan dari dokter umum ke dokter spesialis menjadi lebih terstruktur. 

Apa sih bedanya DLP dengan dokter umum? Kompetensi DLP ini akan lebih tinggi dibandingkan dokter umum biasa. Okay, jadi seperti ini, semua dokter umum memiliki standar minimal kompetensi yang harus dikuasai, di mana standar ini tercantum di SKDI (Standar Kompetensi Dokter Indonesia), oya, ini ada beberapa perbedaan, contohnya saya ambil dari materi sosialisasi DLP

diambil dari http://www.pusat2.litbang.depkes.go.id/pusat2_v1/wp-content/uploads/2015/12/Materi-sosialisasi-DLP-Kabadan-PPSDM.pdf
Nggak ngerti ya? Saya juga haha oke, intinya, DLP harus mampu menguasai kasus-kasus tersebut, yang jika kasus ini dihadapi oleh para dokter umum, maka mereka akan merujuknya ke dokter dengan kompetensi yang lebih tinggi. 

Lalu, wajibkah semua dokter mengikuti program DLP ini? Kalau saya tidak salah dengar, tempo hari sempat ada diskusi panel dengan Prof. Dr. Dr. Ali Ghufron Mukti M.Sc.,Ph.D di kampus saya, dan beliau mengatakan bahwa, program ini tidak wajib, melainkan 'pilihan'. 
diambil dari http://www.pusat2.litbang.depkes.go.id/pusat2_v1/wp-content/uploads/2015/12/Materi-sosialisasi-DLP-Kabadan-PPSDM.pdf


Fiuuh.. Hanya pilihan saja kok, nggak wajib. Kalau wajib, bisa kewalahan kita, sekolah mulu, kapan prakteknya? Bisa dilihat dari bagan di atas ya, pada era pendidikan kedokteran saat ini, untuk jadi dokter umum saja, sudah menghabiskan waktu 7 tahun... Horor ngga seeeh? Ini lebih horor dibanding kisah dosen Gaib yang kakinya nggak napak di tanah *cry*

Daaaan, yang lebih horor lagi adalah.. Ketika era DLP ini suatu saat 'mau tidak mau' menyingkirkan para dokter-dokter umum yang sudah menghabiskan 7 tahun dalam hidupnya untuk belajar, dan masih 'dianggap' kurang kompeten. Sedih nggak sih... Apalagi, nantinya dokter yang bisa bekerja sama dengan BPJS ini adalah DLP.

Yaaa sama saja sih.. dokter umum akan tergerus zaman, dan entah bagaimana akan bertahan.. Saya sebagai koas biasa saja (yang nggak pinter2 amat, dan nggak ngerti nasib saya ketika jadi dokter nanti akan gimana) merasa sedih dengan kenyataan ini. Mau tahu yang lebih sedih lagi?

Dua hari lalu saya ngobrol dengan kakak tingkat yang sudah disumpah dokter. Beliau memulai pendidikan sarjana Kedokteran mulai tahun 2010, 4 tahun kemudian, tepatnya bulan September 2014 mulai menjalani kehidupan koas, hingga sekitar bulan Juli 2016. Oke, habis sudah 6 tahun yaa. Selanjutnya, bulan Agustus 2016, beliau mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia, di mana hasil kelulusan diumumkan satu bulan kemudian, yakni bulan September 2016. Alhamdulillah lulus one shoot, bulan Oktober beliau di sumpah sebagai seorang Dokter Umum. Waaah, udah lulus, udah bisa praktek dooong? Tunggu duluu.. Kan masih ada internship 1 tahun.. Waah, selanjutnya bisa internship terus bisa praktek dooong? Tunggu dulu.. Antrian internship itu juga lama.. Kalau di sumpah bulan Oktober, maka akan Wisuda Dokter bulan Desember, terus baru bisa internship bulan Februari. Haaaaah lama bangeeeet! Jadi jarak antara sumpah dengan internship bisa hampir setengah tahun!

Oke, jalur ini hampir mirip dengan yang akan saya lalui. Intinya, tahun Februari 2018 saya baru bisa internship, dan selesai jadi dokter umum tahun 2019. Ya Allah, merinding nggak sih.. Mending saya teriak-teriak liat brankar jalan sendiri daripada begini!

Ini kalo sekarang saya hamil, sampai nanti jadi dokter umum yang sudah dapat SIP dan STR (artinya sudah bisa praktek) anak saya udah bisa jalan, udah bisa ngapa-ngapaiin, atau mungkin udah masuks SD hiks hiks... Tapi... Ais.. kamu belum bisa beli susu buat anakmu loooh.. mau dikasih makan apaa? rumpuuut?

Tak tahulah, mau dibawa ke mana.. Ada yang mau usul? Sekolah terus atau.. Yaudah belajar dulu sana, ini tugas dari kemarin ngga jadi-jadii *crying on the shower*


Jumat, 25 September 2015

Assalamu'alaikum :)

Assalamu'alaikum!
Udah gitu aja judulnya. hehe.

Sudah hampir 3 bulan nggak nulis lagi ya, kangen nggak? Is ngomong sama sape? Kayak ada yang kangen aja.

Hehe, maaf sudah lama nggak nulis, cuma mau ngasih kabar aja di postingan ini, kalau saya masih baik-baik saja. Oh ya, sudah sebulan ini saya menjalani kehidupan saya sebagai maba lhoo. Maba profesi, hehe alhamdulillah. Dan stase pertama saya agak mengejutkan, yaitu, obsgin atau singkatan dari obstetri dan ginekologi. Di bagian ini saya menghadapi kasus-kasus yang berhubungan dengan kebidanan dan kandungan. Ketemu orang mau lahiran setiap hari. Kalau nggak, bertemu orang dengan kasus kanker di bagian alat reproduksi.

Di stase pertama ini, sering bikin saya ke'baper'an. Contohnya, dan nggak cuma satu, tapi banyak, pasien hamil itu usianya 20 tahun, 21 tahun, atau ada juga yang 19 (ada yang lebih kecil lagi sih). Kalau udah ketemu yang kayak gini, hobi banget tuh, dokter jaga igd bagian kebidanan komentar, "Tuh dek, umurmu berapa e? Kalah sama mbak-mbaknya, 22 tahun udah mbrojol 4!" (buset ini ibu-ibu, eh mbak-mbak punya anak dari umur berapa...)

Terus abis itu saya cuma bisa duduk di pojokan, sambil sesenggukan, "Ya Allah, aku tuh nggak bisa diginiin." Langsung abis itu mbak bidan teriak, "Mbak koaas, minta tolong itu pasiennya direkam jantungnya!" karena bidannya gatel, ini koas kenapa sih malah galau di pojokan deket lemari tempat selimut pasien bukannya kerja.

Banyak hal menarik di stase ini, serius. Dari mulai dimarahin konsulen gegara masih salah ngelakuin pemeriksaan fisik ibu hamil padahal udah jalan minggu ke-4, ikut jadi asisten operasi caesar tapi masih plonga plongo nggak ngerti harus ngapain, jadwal jaga malam yang bikin badan remuk, sampe nggak sadar kalau anggota gerak saya masih lengkap (mati rasa di mana-mana), menghabiskan malam ngawasin pasien di ICU sambil ngabisin pulsa buat telpon residen (dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis) setiap jam yang providernya beda sama nomer sendiri, Sampe lemes nggak makan, hampir 10 jam.. Bukan, bukan mau pamer. Cuma ingin mengenang, saya pernah kayak gini lho.. Jadi nanti pas baca-baca blog jadi inget pernah kayak gitu.

Awal minggu pertama saya sempat denial sama hal yang sedang saya hadapi sekarang. Capek, tapi bingung. Apalagi minggu pertama udah dapet jatah rolling-an jaga igd bagian kebidanan. Minggu pertama sempat nangis, karena bingung, kecapekan, badan remuk, tapi alhamdulillah, masih dikasih kesehatan sama Allah, sampe sekarang minggu ke-4. Mau ngeluh capek, bingung ke siapa, cerita capek ke orangtua, ga tega, ngeluh capek ke temen, sama aja, orang sama-sama capek -_- ya, cuma bisa cerita ke Allah sih. Halah si Ais. Bilang aja mau curhat ke siapa gitu. Woyy apasih, kan cuma mau cerita. Halah, ngomong aja kamu pengen..... STOOOP.

Yasudahlah, ini mau lanjut ngerjain tugas lagi yaaa. Bhaaaayy :)


Selasa, 19 Februari 2013

Antara Lawak dan Ujian [1] part 2



Di ruang karantina, “Aduh deg-degan nih”. “Aduh, soalnya apa ya?”. “Aduh, aku lupa obat buat penyakit X nih, apa ya?” dan berjuta aduh-aduh lainnya. Tapi seenggaknya, kalo aduhnya masih diruang karantina sih, masih bisa dicari jawabannya. Lain kalo aduhnya udah di ruang presentasi.

“Satu, dua, tiga, empat, $%^$#^^%$#^%&^%#@, sepuluh, masuk ke ruang tunggu!” tunjuk salah satu petugas ujian. Hiks, dan akhirnya aku masuk di rombongan ini, Kayak mau manasik ya, rame-rame begitu.

“Eh, tadi obat buat panu apaan?” “Aduh, lupa…”

“Kriiiiiiinggggg!!” tanda waktu dimulainya mengerjakan soal, lari ke meja soal, kerjain sepenuh hati. Dari pas lihat soal sih, kayaknya kasusnya osteoporosis primer tipe 1 (keren ya ahai)

“Kriiiiiiiinggggg!!” tanda waktu masuknya mahasiswa ke ruang presentasi. Di sana sudah disediakan OHP dan seorang penguji. Dan jangan salah, jika Anda beruntung, Anda akan melihat salah seorang teman Anda tengah memasang muka miris, di ruangan itu, di depan penguji, karena belum selesai menjawab (biasanya lebih sering bengong karena ngga tahu mau jawab apa) tapi waktu yang disediakan sudah habis, dan tibalah waktu saya untuk masuk, dan memotong pembicaraan mereka berdua –penguji dan mahasiswa, yang tengah asyik ‘bercengkrama’.

Jadi memang sistemnya giliran, sepuluh orang pertama yang dipanggil, dia akan masuk ke ruang karantina yang kedua, sebelum masuk ke medan perang, sebelumnya di medan perang sudah ada yang berjuang terlebih dahulu, jadi giliran gituu.

Tiba waktu saya masuk ke ruang presentasi, sebelumnya saya melihat seorang teman saya yang keluar dari bilik yang akan saya masuki ini sudah tersenyum riang. Apa-apaan nih maksudnya? *sigh* Tapi, saya tetap bulatkan tekad. Saya putuskan untuk masuk *yaiyalah ngga masuk ngga dapet nilai kaliik :hammer: *. Begitu masuk, penguji saya adalaah parap papapa I’m lovin it #themesongmcd. Penguji saya ini terkenal banyak meluluskan mahasiswa, tapi ya nilainya ngga maksimal *katanya*.

“Duuuh, padahal aku sama dokter ‘ini’ lhoo.. tapi masih ngga lulus jugaa huhu.” Ini komentar yang saya ingat  sering dilontarkan teman-teman tentang dosen yang satu ini. Kok beda ya sama pernyataan di atas? Tapi yasudah lah, yang penting saya percaya diri dengan apa yang saya ketahui puahahaha.

Lanjutkan. Pertanyaan pertama, sudah terjawab. Kedua sudah. Ketiga sudah. Keempat sudah. Kelima sudah. Keenam sudah. Bilang aja ya udah semua -__-. Tapi setelah itu, kami para mahasiswa punya pertanyaan wajib yang harus kami tanyakan sesudah menjawab soal. “Masih ada yang kurang, dok?” tanya saya dengan nafas megap2 karena kehabisan napas, setelah menjawab soal dengan bertubi-tubi. Tapi, mereka profesional sekali, bisa mengerti apa yang saya katakan meskipun bahasanya acak adul. Dan ada bermacam-macam jawaban biasanya.

#1 “Oke, coba nomer 1, 4, 5 dilengkapi.” Yang ini baik hati sekali ya :D

#2 “Hmmh.. *sigh* yang mana ya, kok kayaknya semuanya kurang ya dhek. Coba dilengkapi dari awal” waah, ini buaaaiiik banget, memberikan kesempatan kita punya nilai jauh lebih baik *tapi kadang jadi nangis darah*

#3 “Tadi kamu tuh ngomong apa sih dek? Saya nggak ngerti. Coba diulang dari awal. Yang runtut gitu lho *pasang muka sedih*.” Yang ini baik juga sih, mengingatkan kita, bahwa kita sedang gaje.

#4 “Menurut kamu ada yang kurang nggak?” yang ini nih, menjebak sooobb.. Kayak cowok lagi minta maaf sama pacarnya terus pacarnya bilang, “Menurut kamu, kamu salah apa hah?” kira-kira kayak gitu perasaannya.

#5 “……….” Biasanya kalo ada jawaban ini, mahasiswa cuma bisa bersuara memecah keheningan, “oh, emmh. Eerr… emmh……” akhirnya bunyi “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg” lah yang memecahkan kesunyian antara dua sejoli ini.

#6 “Ya, udah cukup.” Jangan seneng dulu meeen. Banyak suara mengatakan, ujung-ujungnya, meskipun kalimat ini diucapkan dengan enteng, bisa jadi kita akan bertemu lagi dengan ujian ini, masih dengan blok yang sama *baca: remed.

Dan nggak jarang jawaban ini muncul, biasanya karena sang penguji sudah memahami, kalo otak kami sudah mampet, ngga bisa berpikir jernih lagi
#7 “Yaudah, dilengkapinya besok lagi aja ya dhek. Besok bisa aja kita ketemu lagi.” Yang ini, udah jelas, fix, paten. Dapet remidi soobb :’(

Kebetulan, kalo pas saya sih, enak-enak aja. pertanyaan pertama. Spesifik, jelas, dan tidak dibuat-buat #apasih ais ngga jelas lagi.

Kebetulan yang harus saya tambahkan itu adalah mengenai terapi nonmedikamentosa (terapi selain obat) untuk osteoporosis.

“Emh, iya dok, mungkin ibu harus makan-makanan yang tinggi akan kalsium. Kemudian tidak boleh melompat-lompat. Melakukan gerakan yang terlalu mendadak. Melakukan aktivitas secukupnya, terutama lebih sering di luar ruangan, agar mendapat sinar matahari. Jangan berjalan terlalu melenggak lenggok.: Tapi tahukah sodara-sodara? Apa yang saya lakukan pas kalimat itu terucap? Tiba-tiba pinggul saya berlenggak lenggok secara involunter!

“Eh, bentar dhek, oh gitu ya. Berarti penderita osteoporosis ngga boleh jadi model ya? Nggak boleh kemayu ya?” sambil terkikik pelan setelah melihat gerakan involunter saya. Terus jadi mikir, ngapain ibu-ibu osteoporosis jadi model?

“Eeh, ehm.. i.. iya dok.. ngga boleh terlalu berlebihan tetapi maksudnya, misalnya gini dok..” >> dan ini saya praktekkan! Masya Allah..
Beliau terkikik lagi. Dan suasana mendadak sunyi kemudian, “Yasudah oke dhek. Sekarang ayo tambahin lagi yang lain. Ada yang belum lho..”

“Duh, apa ya dok? Ehmm.. err.. oh… eehmm..”

“Kriiinggggggg!!!!” "eh, iya makasih dok, maaf dok ngga selesai. Makasih dok, Mari.." *buru-buru ngibrit ke pintu keluar.* 7 menit yang horor itu sudah berlalu!

Beruntungnya saya kali ini adalah, ini adalah blok yang luar biasa padatnya. Dan, tentu saja ngga mau mengulang ujian lagi dong.. Semoga LULUS! Itu doa kami semua. Dan tibalah waktu pengumuman. Eh, jangan sedih, pengumuman lulus atau ngga lulus itu biasanya cuma beda beberapa jam saja dengan jam ujian remidinya. Misalkan ujian remidi hari jumat jam 8 pagi, maka pengumumannya akan dikeluarkan hari kamis, jam3 sore. Ngga tentu juga sih, tapi seringnya begitu! Hsshh..

Ya begitulah teman2 pengalaman saya dan mereka. Masih ada lagi kok, tenang aja. Tapi ini dulu deh yang dirilis yaak hahaha.

Antara Lawak dan Ujian [1] part 1


Bismillahirrahmanirrahim..

Setelah sekian lama hibernasi, akhirnya muncul lagi. Tenang, kali ini bukan mau bicara soal jodoh kok, belum ada minat lagi, tapi, ngga janji juga tema itu ngga bakal dibahas lagi keesokan bulannya hehe^^
Sekarang, mau bahas tentang ujian, bukan ujian hidup, tapi ujian beneran! *emangnya ujian idup bukan ujian beneran -_-

Hmm, jadi, perkenalkan, kami mahasiswa, pasti riweuh kalo yang namanya ketemu sama ujian. Apalagi, kami, saat saya menulis ini, sedang bertemu dengan blok yang luar biasa sibuknya, blok DMS *DermatoMusculoSceletal*

Bisa dibayangkan kah? *agak nggak kebayang* Yaudah, ngga usah dibayangin juga sih. Sekarang mau cerita soal ujiannya aja ya. Ada beberapa kekonyolan mahasiswa kedokteran waktu menjalankan pendidikan selama ini. Salah satunya kekonyolan waktu ujian, termasuk saya.

Oke, dijelaskan dulu ya, salah satu ujian yang paling bikin kita agak keringat dingin dan gemetaran sebelum masuk ruang ujian adalah ujian SOCA. Apalagi bagi yang belum pernah mengalami SOCA. Apa itu SOCA? SOCA adalah ujian yang bikin gemeteran dan keringet dingin sebelum kita masuk ruang ujian. Eh, udah dijelasin ya? Ya maap, selain itu ujian ini adalah ujian yang dianggap sebagai ujian IMAN kita sebelum masuk hari ujian. Apakah sholat kita rajin (bagi yang muslim) ataukah ibadah kita sehari-hari sudah dilakukan dengan baik (bagi yang selain muslim, ya, hehe). Kok bisa? Yah, entah, kadang meskipun udah belajar mati-matian dan yakin bakalan lulus, ternyata hasilnya…. Ya, ujian ini unpredictable sekali, TERKADANG. 

Kadang belajar cuma sedikit, tapi ternyata hasilnya, LULUS.. yah, kita pun berasumsi, teman kita yang beruntung itu, udah rajin banget berdoa, dan hasilnya, dimudahkan waktu ujiannya. Hmm, wallahu’alam.
Jadi, SOCA ini adalah ujian, di mana sistemnya adalah sistem presentasi, kepanjangannya Student Oral Case Assesment. Namanya aja udah ketebak ya, gimana ujiannya. Sistematikanya adalah 

Karantina, bersama teman-teman sejawat >> masuk ke ruang tunggu, tanda tangan, absen  >> lari ke meja soal >> kerjakan soal dengan menulis di transparansi (waktu 7 menit)>> lari ke ruang ujian >> presentasikan hasil jawaban kita (7 menit)

Gampang kan? Gampang sih, yang susah kadang soalnya (buat yang nggak belajar tentunya, tapi, lain lagi buat yang belajar, tapi ternyata soalnya yang keluar bukan yang dipelajarin -_-. Jadi, masalahnya bukan udah belajar atau belum, tapi udah berdoa dapet soal yang bisa dikerjain atau belum.
Lalu soalnya sebenarnya gimana sih? Soalnya itu dianggap seperti kita sedang dihadapkan dengan pasien. Jadi, kasusnya, contoh ya.. “Seorang pasien datang dengan keluhan bla-bla-bla, dst…. Biasanya pertanyaannya itu apakah diagnosis anda tentang penyakit tersebut, mekanisme terjadinya penyakit, satu lagi, apa obat atau terapi yang bisa diberikan. Nah, ujian di blok kemarin, saya menemukan suatu keganjalan, dengan jawaban saya waktu soal TERAPI ini. Cuplikannya seperti ini ....
[to be continued]

Sabtu, 14 April 2012

Ampun, dok.. Saya Ngantuuuk -___-

Bismillahirrahmanirrahim..
29 Maret 2012
Sudah sekian lama tidak update postingan.
Haha, di sela-sela baca-baca materi-materi (aduh, apa-apaan sih ini) yang nggak masuk-masuk buat DK besok, mending posting dulu lah ya hahaha.
Yah, hari ini alhamdulillah sudah melewati Ujian Tulis Knowledge ke-4 dan belum tahu hasilnya akan separah apa. Begitu liat soal, langsung muncul pertanyaan, "Ini REMEDNYA KAPAAAAAN.." udah ngitung-ngitung hari kapan jadwal remed, dan akankah memotong liburan untuk menutup blok BSHB ini ckckck.
Tenang AIS, blok BSHB masih 2 minggu lagi, yah, seminggu lagi lah ya. 'Tinggal' ujian identifikasi yang materinya segudang, sama skill lab kok zzzz. Oya, sama UTK ke 5. Semoga udah itu aja, gausah pake paket plusplus (baca: remed). (ini tertanggal 29 Maret 2012, wkwk)

Belakangan ini, jadwal kuliah sangat monoton. Kuliah-praktikum, DK-kuliah-praktikum, kuliah-DK-praktikum. Cuma berputar di area itu. Tapi, perputaran itu cukup bikin kita kewalahan.
Jadi suka begadang di malam hari. Paginya, mata merah, hidung penuh dengan mukus (lendir-red #gaya banget ya hahaha), tenggorokan gatel. Yah, jadi berasa mau FLU.
Kalo udah flu, mau ngapa-ngapain ngga enak. Sebenarnya flu tidak begitu menjadi masalah. Yang jadi masalah, ada suatu penyakit yang susah sekali disembuhkan. Penyakit ini baru akan muncul, ketika suasana kelas mulai hening. Ketika tangan ini baru saja menorehkan tanda tangan di lembar absen, wkwk. Ketika tatapan mata, mau tak mau harus mengarah ke depan. Ketika layar di depan sudah menunjukkan slide-slide 'menarik' yang harus kami pelototi, hmm. Penyakit itu semakin memuncak ketika, ada suara, "Assalamu'alaikum Warahmatullahi, wabarakatuh."
Tiba-tiba, bukannya menjawab salam, respon yang aku lakukan adalah, refleks mengantuk. Eyaaak..
Berbagai carapun sudah aku lakukan demi menghilangkannya.. Tapi, bukan AIS namanya jika tidak menemukan cara biar ngga ngantuk. Hahahaha. Bukan maksud sombong nih. Tapi, kreatif itu perlu supaya kita bisa bertahan wkwk. Mau tahu khaaan?? Yuk, the chap and the cuuzz... chapcuuzz (wkwk,tuh khan jadi alay)




  1. Duduk DI DEPAAAAN 

    Orang sukses duduk di depan. Itu kata-kata motivator waktu ikut ESQ jaman SMA. Ya, emang ngga ada salahnya kok. Akhirnya, aku mencoba untuk duduk di depan. Sebenarnya, aku sering di depan karena suka kesiangan. Yang kosong tinggal bangku depan, yaudah mau tak mau duduk di sana deh. Lama kelamaan, seakan-akan udah jadi kursi keramat. Orang-orang itu aja pasti yang selalu duduk di depan. Yah, biasalah, udah kultur, wkwk. Akhirnya sering duduk depan deh. Sebenarnya, duduk di depan bukan ngebikin kita nggak ngantuk, tapi, membuat kita untuk tidak boleh mengantuk! jadi, mengantuk itu tetap saja terjadi. Sebenarnya bisa dibilang, cara ini cukup gagal, hmm, belum cukup ampuh maksudnya, untuk membuat kita terhindar dari rasa kantuk.

  2. MINYAK KAYU PUTIH! 
    Yang ini terobosannya afika, bintang iklan piip. Haha, enggak ding, ini mantan temen sekamar. Hiks, ini terobosan ngga tahu maksudnya nyiksa, apa biar kita nggak ngantuk haha. Begini caranya. Ketika kita benar-benar sudah nggak kuat membuka mata dan berkonsentrasi, minyak kayu putih ini bisa menjadi andalan. Bukan hanya ketika perut kembung, mules, atau kepala sedang pusing. Jadi, buka tutup minyak kayu putih. Bolak-balik botol yang sudah dibuka, tapi bagian yang terbuka ditutup dengan jari. Nah, minyaknya kan di jari tuh, nah, oleskan minyak itu ke area sekitar mata. di bawah mata atau di atas. Tapi lebih pengaruh yang di bawah mata. Mau tahu efeknya? Pertama, mata jadi kedip-kedip ngga jelas dan ngga bisa melek. Ngga ngantuk sih, tapi ngga bisa MELEK. Haha, tapi kan berhasil ngga bikin ngantuk #ngeles aja kayak bajaj.. Kedua, temen sebelah jadi masang muka prihatin, dan cuma bisa bilang, "Kamu ngga papa kan? Emang matamu mules yah? Kok dikasih Minyak kayu putih?" #pasang muka sedih. Afikaaaa... caramu seolah membuatku menjadi seorang pesakitan huks.  
  3.  
  4. Ngeliatin temen yang lagi ngantuk juga
    Yang ini usulannya Dinda. Berasa senasib seperjuangan nih. Yah, namanya juga teman sejawat, ya nggak? Segala yang kita alami, pasti, terkadang dialami yang lain. Kalo ada yang nggak mah, itu perkara waktu #haha, nyari temen banget nih. Tapi, kadang, cara ini jadi hiburan tersendiri buat kita. Apalagi cara ini cukup ampuh, kalo di sebelah tempat dudukku itu Diyan. Wehehe, sering banget ngantuk, dan kadang pas dia yang nggak ngantuk, aku yang ngantuk, ini apesnya. Efek negatif kan, ngantuk emang selalu nular, bahkan sebelum sumbernya ngantuk duluan. Trus, jadinya abis itu aku yang nularin diyan. Haha, intinya Diyan sumber ngantuk, wkwk, ngga ding. Aku tularkan tips aneh bin ajaib dari Dinda itu ke Diyan, alhasil Diyan suka thingak-thinguk ke belakang, padahal kita sering duduk di depan. Untung, di baris kedua ada mangsa. Ngeliatin sebentar, trus liat ke depan. Ajaib, ngga ngantuk! Tapi jadi nggak konsen sama SLIDE hiks. Pas aku lagi ngantuk dan di sebelahnya pun, aku yang jadi mangsa. Selesai kuliah, dia bilang, "Makasih ya is, tadi pas kuliah aku jadi ngga ngantuk, hahahaha!" hiks, makin apes.
  5. PIJETAN
    yang ini dari Nurul. Waktu itu ngga kebagian duduk di depan #tumben. Duduk di baris nomer tiga dweh. Sebenarnya sekarang nyesel, karena materi kuliah pas itu asik banget. Tapi, apa boleh buat, kenyataannya aku sempet ketiduran 10 menitan, ngantuk banget!! Nah, habis tidur, sebenarnya, masih ngantuk banget, tiba tiba nurul nepuk nepuk pundak. "Is pegel banget nih, pijetin doong.." Yah, daripada ngga ada kerjaan mendingan aku tepuk-tepukin tuh pundaknya si Nurul. Alhasil, lumayan ngga ngantuk, tapi tangan pegel. Fiuuh..
  6. MAKAN atau MINUM SESUATU
    yang ini caraku. Haha, lebih seringnya makan permen. Lebih seringnya permen kopi. Lebih seringnya permen *piiiiiip sensor ahaha. Tapiiii, lagi-lagi ini permen efeknya cuma sementara. Cuma pas permennya lagi ada di mulut. Kalo udah abis, ngantuknya ada lagi. Alhasil, satu kali kuliah, bisa abis 5-10 permen. wkwk, yang ini lebai, palingan cuma 15 buah#glek? Boros banget ya? Ya, mau tahu caranya biar ngga boros? Minta temen sebelah. Temen sebelah ngga bawa permen? SEBARKAN TIPS INI, pasti besoknya dia bawa permen. Nah, minta deh ke dia. ahaha, jahaat. Masih nggak ngefek juga? Makan sesuatu yang lebih besar. Makan roti, atau yang lain. Makan temen sebelah juga boleh. Makan meja dosen juga boleh kalau mampu, silakan.
    1. Banyak pengorbanan ya haha. Emang sih masih belum teruji klinis tips-tips di atas. Yaa, buat lucu-lucuan aja. Mau dicoba semua silakan, ngga juga ngga papa. Silakan dipilih, yang paling ampuh gimana menurut Anda. Secara, setiap orang kan punya cara masing-masing. Tapi, kalo masih ngga ngefek juga dan memang benar-benar ngga kuat, yah, cuma ada satu cara biar ngga ngantuk yaitu
  7. TIDUR
    ini cara terakhir mengatasi ngantuk. Kalo aku, tidur lima menit di kursi, abis itu setelah bangun tiba-tiba ilang ngantuknya. Karena keinginan kita sudah terpenuhi ketika sudah tidur. Tetapi, kadang berubah juga. Kadang jadi ngga ngantuk, tapi lebih sering tambah ngantuk. Dilematis sekali.


namuun, apa daya, gaya gravitasi seakan menarik kelopak mataku untuk senantiasa mengarah ke bawah.. Ujung-ujungnya tidur juga. Yah, mau gimana udah ngantuk, ya obatnya cuma tidur. Tetapi, sekali lagi teman-teman, kalau mau mencoba silakan. Mungkin malah ada yang mau menambah tips? Silakan ditunggu tips tambahannya hehe. Semoga bermanfaat :)



Minggu, 11 Maret 2012

All day in room

Bismillahirrahmanirrahim..

Sebenarnya malam ini harusnya belajar anatomi buat praktikum besok.. Tapi, posting dulu lah yuaa. Refresh setelah seharian berkutat dengan tugas terstruktur dan materi diskusi kasus.

Yak, hari ini luar biasa sekali. Hari minggu yang membuatku benar-benar kram leher. Bangun jam setengah 5 pagi, sholat subuh, kemudian tak terasa, lihat jam udah jam 6 aja -____-. Sholat subuhnya 1 setengah jam? Enggak lah ya. Sholatnya 10 menit, trus bergeser dari sajadah ke kasur #efekkamarsempit. Wakakak, salah kamarnya dong, letak buat sholat cuma 5 senti dari kasur. #Eyaaaak, ngga boleh gitu ais!

Trus, kram lehernya kenapa? Gara-gara tidur? Enggaaaaaaaakkk!!! Kan belum selesai...
Bangun jam setengah 6 bikin sport jantung. Harusnya lebih siang, biar tidurnya agak lamaan. Zzz, gara-gara kalau udah bangun jadi inget tugas numpuk, ya gitu deh. Eyaaak, langsung geser 30 senti ke meja lipat alias meja belajar #inimejamaksabangetdeh
Berantakan banget yaah hahaha
Pake ada galonnya segala lagi. Itu sempit banget soalnya, kawan!

Setelah beralih ke posisi serius, langsung buka laptop sama BPM (Buku Panduan Mahasiswa). Ngelirik tugas terstruktur, dan segera mengerjakan. Tugas ini harus segera disetor kepada editor jam 10 pagiii!!
Hmm, jangan kira tinggal nyari bahan aja. Zzz, baca buku referensi anatomi  fisiologi berbahasa Inggris, buka BPM, baca kamus, dan cling... jam 8 tugas itu pun selesai... Yah, meskipun begitu, pekerjaan ini membuat leherku 'cleng-cleng'an. Tapi alhamdulillah, legaaaa...

Pepatah mati 1 tumbuh seribu memang berlaku di mana-mana. Begitu pula dengan tugas. Selesai satu, seribu tugas menunggu... Hahaha, semangat kaka.... Habis selesai TTK alias tugas terstruktur kelompok, ngebut mandi. Sebenarnya pagi itu sempet punya rencana mau ke GOR SATRIA ikut senam aerobik. Tapi, bayangan tugas nimpuk, eh numpuk, tekad itu tak terlaksana.
Habis mandi, selesaikan urusan, ngleseh lagi di depan meja. Ngebut nyari materi diskusi kasus. Dari jam 9 sampai jam 11 duduk di depan laptop, bikin kepalaku serasa mau lepas dari leher. Geser lagi dikit ke kasur. Nglendotin bentar itu kepala di kasur, trus bikin tugas lagi deh. Alamaak...

Perutku mengerut. Lambungku serasa mau menyusut. Tidaaak, aku kelaparan. Aduh, baru inget, belum sarapan. Dari tadi bangun pagi, cuma wara-wiri dari 'meja' ke kamar mandi. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamar. "Aiiss..." wah ada mba Indri.
"Ais, minta nomernya Luri ddoongs.."
"Oh iya mba, ada kok." aku kirimkanlah nomer luri ke beliau. Terus beliau mulai mengetik sms. Jadi Luri itu salah satu pedagang eh, warung makan yang enak. Bisa delivery lagi.
"Yah, ais, sebutin aja nomernya deh. Hehehehe" Yah embaak, oke deh..
"Eh, ternyata aku punya nomernya Luri looh.." jangan-jangan itu nomer yang aku kasih ke kamu tadi mbak -__-'
Ddrrt ddrtt... Balesan dari Luri datang.
"Maaf mbak, hari minggu Luri TUTUP.." Eyaaak, makin putus harapan nih perut. Dibilangin pesen ke Pak Yanto aja mbak..
Pesen ke Pak Yanto alhamdulillah endak tutup. Tapi, lamaaaaa banget. Pesen jam 11, makanan dateng jam setengah 1..
Makan kilat. Terus langsung sholat Dzuhur. Abis sholat ngejogrog lagi di depan meja maksa. Jam 1, kepala nggak kuat. Tidur 1 jam nggak papa kali ya.. Jam 2 bangun. Langsung buruan ke kamar mandi. Ngurusin rendaman cucian yang belum sempet disentuh dan dikucek dari tadi pagi. Makan aja kilat, nyuci juga aku bikin kilat deh. Setengah jam rampung. Tauk deh itu cucian bersih apa enggak. Tapi udah aku gosok-gosok pake sikat koookkk..
Setengah 3. Setrika. Hahaha, panas-panas gitu. Terpaksa. Besok Senin mau pake apa kalo nggak setrika. Semangat yo aiss...jam setengah 4 selesai. Mandi, siap-siap ada liqo. Apa itu? LIQO itu mentoring. Hehe, yah semacam sekumpulan anak galau ruhiyah, tapi belum tentu pas lagi galau juga sih, yang sedang mengadakan suatu kajian bab agama Islam. Lumayan lah hiburan. Akhirnya, bisa keluar dari kamar, meskipun tugas DK belum juga selesai.

Manajemen waktu memang harus diatur sedemikian rupa. Ini aja aku sempet ngeblog hihihi. Padahal belum belajar anatomi sama sekali. Yaudah deh, pamit dulu. Besok diterusin lagi kalau sudah lowong. Hikmah yang bisa diambil adalah, aturlah waktu, kalau perlu dibikin jadwal. Kalau nggak sempet, bisa pake to do list yang penting-penting aja. Itu cukup membantu mengurangi stress kok. Supaya kita nggak lupa sama apa yang sudah atau belum kita kerjakan. Jadi yang sudah dikerjakan nggak menuh-menuhin otak :) Seperti ini misalnya..
tulisannya agak lecek. Tapi yang penting manfaatnyaa hohohoho