Tampilkan postingan dengan label benci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benci. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016

All Iz Well

Assalamualaikum!

Don't you ever feel like, you have a big expectation for someone, but the person did something that makes you want to scream, "Oh my God! Shame on you!!" Yeah, this post is about "Aku membencimu dengan sepenuh hatiku" series, haha. You will see my other post about me hating someone with this kind of title.

"Hem, are you hating, or ehm loving someone?"
"I've ever heard that the distance between love and hate is just short. Even the scientist prove it!"
"Really?"

Yeah, but maybe you can read the explanation by yourself, hehe, want to explain that, but not now. Something happen with both of my heart and head. My head keep spinning and my heart keep aching.

"How could you be like that, huh?"
"When someone said that he/she was ready doing something but he/she ended up doing nothing, what do you think?"
"Hem, but I wanna ask you something before I tell my opinion about that. Are you sure that he/she really didn't do anything?" 
"Aaaaah. not really know. I'm just crying for no reason."
"Ok. Why are you crying?"
"Hm. just cry, I can't think straight right now. Just like Rachel Platten said, wrecking ball inside my brain. Many things already happened. And maybe will be happened. Worry for a future, worry if I would feel something called 'di pehapein'."
"Omoo.. I ask you once again. Are you sure that he/she really didn't do anything? Maybe he/she needs more time to do the preparation?"
"Okay, but why he/she said that he/she was ready before? What does he/she mean, haaaaaah?! Heemmm, let's end this random conversation. Keep calm, I'm ALRIGHT. Just like Ranchodas Chanchad said, All izz well. Bye."


Nb: lagi random nih, maaf ya haha. 
Someone said, "Dibalik kata haha, dalam setiap curhatan sedih atau tangis, tersimpan huhu yang mendalam."

Sabtu, 21 November 2015

Untitled



Mau yang kayak gini boleh nggak? | Ya boleh dong. Kenapa nggak boleh.. | Meskipun udah pernah aneh-aneh? | Aneh-aneh apaan? Pacaran maksudnya? | Ya gitu, aneh-aneh... Aku kan nggak sholehah bangeeet. Masak mau dapet yang sholeh. Masih nonton drama korea, masih nonton korea-koreaan. | Tobat dong tobat, haha. Yang penting istiqomah kan kamuu? | Doain makanya, huhu | Yaudah, kamunya juga jaga hati dong, jangan genit.

Terus berasa rombeng banget ini iman. Astaghfirullah. Kata Rieza dulu waktu SMA, Ais pasti bakal dapet suami ustadz. Yaampun, za. Boro-boro, tau sendiri aku pethakilannya kayak gimana. Mecicil bin metisil wa pethakilan. Enggak ngerti lah. Bodo. Udah. Tamat.

*gajelas hati, jiwa, dan raga ya begini ini. Mohon doanya mau ujian nih :)*

Rabu, 11 Desember 2013

Apa Kabar, Ais?

Bismillahirrahmanirrahim


 Eh, itu diretweet lho. Girang ya. Iya lah. Tapi yang ngeretweet adik kelas sendiri wkwk. Nggak papalah, menurut saya itu prestasi *all alone detected

Yaudah ya, tanya kabar diri sendiri dulu.
"Gimana ais kabarnya? Sehat?'

Seenggaknya sekarang saya udah bisa jawab. "Agak nggak enak badan nih. Sama agak nggak enak jiwa juga. Oh iya, sama nggak enak hati juga. Oh iya, sama nggak enak perasaan juga."

Ya, jiwa dan raga saya masih belum sepenuhnya sehat. Tetapi, kata beberapa orang sih, katanya, jangan sampe menunjukkan ketidakbahagiaanmu kepada banyak orang. Yang bilang siapa ya? Saya lupa orangnya. Kalau nggak saya sendiri ya, berarti orang lain.

Emang saya ini orangnya suka sedih tiba tiba. Suka jengkel tiba-tiba. Suka muntah tiba-tiba. Lho, apa hubungannya? Nggak tau juga deh, kalau saya lagi emosi, kalau saya lagi stress, tiba tiba pengen muntah aja, wkwk. 

Nggak enak jiwa, karena kayaknya lagi nggak rapih ini jadwal sehari-hari. Bangun telat lah, nggak bisa prioritasin aktivitas lah, dan lain-lain.

Nggak enak hati, karena lagi banyak masalah interpersonal. Ya, banyak mungkin yang sedang saya kecewakan sekarang. Maaf, maaf, maaf berjuta maaf untuk kalian semua. Kalian semua luar biasa *gaya ariel beut.

Nggak enak perasaan, karena ada aja yang bikin rasa rasa ini gelisah. Nggak tahu deh, faktor banyak urusan terbengkalai kali ya.





padahal ada ini. La tahzan, Innallaha ma'ana.
Iya deh, iya saya nggak sedih lagi. Secepat itu? Iya secepat itu saya nggak sedihnya. Semoga dengan selesainya tulisan ini, sedih saya juga selesai. Babay sediiih :)

Rabu, 11 September 2013

Cerita Misteri-Hati

Bismillahirrahmanirrahim..

Postingan ini saya buat waktu liburan, kebetulan pas lagi 'suwung'. Pengalaman ini bukan milik saya saja. Mungkin, kalau pembaca punya kisah yang sama, MUNGKIN, suatu kebetulan. Dalam postingan ini, saya akan menceritakan sesuatu misteri. Tapi bukan misteri horor atau apapun itu, tapi misteri dalam hati *stoop, jangan bilang saya galau lagi, pliiss*. Ceritanya tentang percakapan juga, yang terilhami oleh kisah lika-liku hidup manusia. Sebagian yang membaca mungkin bisa menebak saya yang mana. Sebagian lagi, mungkin tidak. Selamat menebak.

…………………………………….
“Kenapa sih, kamu benci banget sama dia? Emang dia salah apa cobaaa?”
“Kan aku nggak pernah benci sama orang, kan pi? Emang aku keliatan benci sama siapa?” protes salah satu orang yang terlibat di percakapan itu. Oiya, nama pi itu nama samaran yaa, biar nggak ketahuan :p
“Emang sih, nggak banyak yang tahu kalo kamu benci sama dia. Tapi, kamu keliatan beda kalo sama dia.”
“Beda? Beda gimana? Kamu kok sotoy gitu sih, pi.. Enggak, tauk. Biasa aja..”
“Biasa aja gimana wooy? Gini-gini aku juga pernah benci sama orang, kali. Dan aku tahu, bagaimana sikap yang ditunjukkan sama orang yang lagi kesel sama orang.”
“Alaaah, itu kan karena kamu emang jutek ke semua orang. Kamu tuh, yang mungkin benci sama dia.”
Saya jadi menyadari, kok ini isi blognya tentang benci-bencian ya? Apa saya-nya yang terlalu menyimpan kebencian juga ya? Eh, enggak kok, kebetulan aja lagi banyak postingan yang mengenai topik itu. Kan bosen kalau cinta-cintaan melulu, nanti dibilang galau…
“Kamu kok malah memutarbalikkan fakta gitu, sih? Wah, ini nih, tanda-tanda kalau kamu bener-bener kesel sama dia.” Kesimpulan ini memang agak sedikit aneh untuk disimpulkan --“
“Haaah, enggak kok. Cuma kesel sesaat aja tauk.”
“Tuuuh, kaaan! Bener. Kamu kesel kan sama dia?”
“Aduuh, pii.. Udah deh, aku kesel cuman sesaat doang. Sekarang udah enggak. Udah ah, bahas yang lain aja, kalo bahas dia jadi makin kesel niih.”
“Tuh kan bener. Tapi nih, nak. Kamu tuh awet banget sikap sebelnya sama dia. Mungkin keselmu emang udah ilang, tapi sikapmu yang keliatan bete banget kalo lagi ngomong sama dia itu masih keliataan.”
“Emang keliatan jelas banget pi? Enggak tahu juga sih, emang masih suka males gitu kalo harus berurusan panjang lebar sama dia.”
“Wah, bahaya tuh. Kayaknya kamu musti cek jiwa deh. Nggak mungkin kamu benci ke dia tanpa suatu alasan yang jelas. Kecuali kamu benci sama dia karena Allah.”
“Pii, sok religius banget dah. Emang sih, nggak ada alasan syar’i kenapa aku benci banget sama dia. Tapi, ada alasan yang mungkin bisa jadi penyebab kenapa sikapku kayak gitu. Ceritanya, aku pernah tahu gimana sikapnya pas jaman-jaman dulu. Daaan, itu bikin kesel. Bisa-bisanya kayak gitu sama oraang. Kan kesiaan.”
“Emang sikapnya gimana? Jangan bilang dia juga bersikap sama ke kamu? Yaudah benciin aja, nak.”
“Laah, gimana sih? Harusnya kamu nyaranin aku, ‘jangan dong, nak. Itu pasti ada campur tangan setan di dalamnya. Dia kan temanmu juga, kan nggak boleh benci sama teman sendiri.’, gitu lhooo. Ini malah nyuruh aku makin benci ke dia. Sebenernya enggak juga sih, kalo dia melakukan hal itu ke aku. Tapi, dia itu melakukannya ke temanku sendiri. Gimana sih, rasanya kalo temenmu digituin.. Kan..”
“Hey, bentar! ‘Digituin’nya itu di gimanain sih? Duh, yang jelas, dong, naak.”
“Jadi gini, pi. Dia itu, buka cabang di mana-mana. Macam artis itu lho, yang di ftv-ftv. Apa namanya? Playboy? Ya itulah. Buka cabang itu buka cabang indom**** kek, cabang showroom mobil kek, kredit rumah, apa salon gitu lah. Ini cabang yang begituan yang dibikin. Nggak kebayang kalo dia ngikut MLM, downlinenya udah jutaan kali.”

Ujung-ujungnya masalah kayak gitu lagi ya. Tapi, ini serius, makin saya dewasa, makin banyak pengalaman tentang hal beginian. Jujur, waktu sekolah nggak pernah nemuin orang kayak begitu. Kalopun ketemu, paling kata orang, kata orang, kata orang. Sumbernya banyak, jadi ‘nasab’nya jauuh kalo sama saya. Saya juga dari dulu jarang ngikut-ngikut masalah kayak gitu. Kalo dulu di mentoring waktu SMA ada yang suka curhat lagi disukain sama siapa, lagi suka sama siapa, saya belum pernah terlibat sampe jadi ikutan galau. Ini beneraan lhoo. Jadi yang bilang saya suka galau, haha, itu tidak benar. Itu hanya penampakan luar, tapi sebenernya, saya nggak punya cukup pengalaman tentang masalah hati. Lanjuuut

“Yaah. Jadi ini maksudnya? Oke deh. Tapi kok kamu bisa sekesel itu? Kan dia melakukannya sama orang lain, nggak ke kamu?”
“Itu dia, aku juga nggak ngerti. Udah otomatis pi. Tiba-tiba sinyal negatifnya nyala sendiri. Apa dia yang punya aura negatif, jadinya aku negatif ke dia ya?”
“Kayaknya, dari kamu sendiri udah punya kecenderungan buat kesel sama dia deh. Buktinya ada lho, yang lebih parah dari dia, tapi kamu ke dia biasa aja. Nah, ke orang ini kamu bedaa, banget. Kebalik tauk, kamu tuh udah ada aura negatif pas liat dia, terus dia jadi negatif ke kamu, terus kamu jadi negatif ke dia. Kalo sama-sama kutub negatif kan nggak bisa nyatu, nak.”
“Iya, bener pi. Terus aku musti gimana? Bahkan aku udah yakin, kalo aku nggak bakal pernah bisa berubah sikap ke dia. Sekali aku sudah merasa kecenderungan itu ada, udah susah buat diilangin pi..”
“Aku juga punya pengalaman kayak kamu sih, tapi mungkin nggak separah kamu. Sekarang malah aku temenan baik sama dia. Tapi dia cewek sih, beda juga. Mungkin jatuhnya emang kamu udah ilfeel sama dianya duluan. Tapi, dari kamu sendiri sebenernya udah punya solusi buat masalah ini. Udahlah, tanya hatimu, nak. Kan tadi kamu udah bilang ke aku, harusnya saran apa yang aku kasih ke kamu kan? Udah terapin aja ke dirimu sendiri. Yang bisa kuasai hatimu kan, kamu.”
……………………………………………….

Nah itu yang saya maksud kisah misterinya. Kompleks memang, yang terciderai hati orang lain, tapi yang kesel malah orang yang lainnya lagi. Barangkali juga ada yang bersikap seperti itu sama kita. Semakin dewasa, memang harus semakin menata hati, dan menata sikap pada orang lain.

Setiap orang itu punya kewajiban untuk memaafkan, dan juga punya hak untuk dimaafkan. Dalam hal ini, dimaafkan masa lalunya. Keduanya mesti selaras, iya kan? Kalau memang mau dimaafkan, harus tahu sikap seperti apa agar kita dimaafkan. Berkaca ketika kita harus memenuhi kewajiban untuk memaafkan. Sudah sepenuh hati kah? Sudah ikhlaskah? Sekali lagi, yang bisa kuasai hatimu, adalah kamu sendiri.

Bijak ya? Alhamdulillah.. Harusnya postingan ini masuk ke Pendewasaan Hati ya, tapi nggak papa deh, semua postingan saya kan mendewasakan hati, hihi.

Rabu, 07 Agustus 2013

Aku Membencimu Dengan Sepenuh Hatiku (3)

Bismillahhirrahmanirrahim..
"Cintailah kekasihmu dengan sederhana, boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika. Dan bencilah orang yang engkau benci dengan sederhana, boleh jadi engkau akan mengasihinya pada suatu ketika." (HR At-Turmuzi).


Maaf ya, selalu membuat postingan tentang benci-benci. Habis kalau cinta-cintaan mulu dibilang galau ._. *yang ini juga bikin galau aiiiss pfft *hammer

Sebenarnya kali ini bukan tentang benci yang jadi cinta atau cinta yang jadi benci, tolong dipisahkan, pliisss.. Untuk postingan kalii inii saja *mmm, berarti yang sebelumnya?

Ada alasan yang tidak kuketahui tentang membenci seseorang. Mengutip kata teman saya

Burung cenderung berkumpul dengan yg warna sayapnya sama. Sama seperti manusia, berkelompok sesuai ketertarikan masing2. (Yahdiyani Razanah, 2013).

Ketertarikan pada sesuatu saja ada alasannya. Tapi, rasa benci ini justru datang tanpa alasan. Benar-benar tanpa alasan. Kalau ditanya alasannya, pasti kujawab "Ya, pokoknya sebel ajaa!"

Manusia diciptakan dengan kecenderungan yang adil. Maksudnya, ketika kita cenderung pada sesuatu, hal itu memang membuat kita lebih nyaman. Kecenderungan tiap orang berbeda kan? Karena itu sesuai kebutuhan, sesuai kenyamanan.

Tapi, untuk kali ini.. I cannot handle it, really! Benar-benar sebel lho. Nggak ngerti lagi kenapa. Tetapi, setelah ini aku akan mencoba untuk tidak terlalu sebel atau terlalu benci. Haha! Semangat ais!