Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2015

Cerpen : Pertemuan

Assalamu'alaikum.
Ini adalah kelanjutan dari Cerpen : Menciptakan Kehilangan, karena ada beberapa yang minta cerita ini dilanjutkan. Entah, ini jadinya cerbung atau tetap cerpen. Masih sederhana, karena menulis cerita itu sulit. Selamat Menikmati :)

***

Mata Lesa masih saja terpaku pada naskah yang kini ia pegang. Penuh dengan coretan, tapi ia tak sepenuhnya percaya diri dengan hasil pekerjaannya. Lesa menyerah. Akhirnya Ia memutuskan beranjak dari tempat duduknya. Berjalan-jalan.

"Mbak Astri, keluar yuk." Pinta Lesa, sebagai junior, Ia memang terkenal manja. Tapi, manjanya lihat-lihat orang juga sih. Tak mungkin Ia bermanja pada pimpinan Redaksi. Kali ini Ia bermanja pada Astri, perempuan yang tengah menikmati es buah yang Ia beli di depan kantor.

"Les, aku barusan aja keluar nih. Lagian abis ini aku juga mau ketemu sama klien." Astri ini salah satu layouter di kantor tempat Lesa bekerja, "Mau ngomongin hal penting nih."

"Yaudah deh mbak. Mbak, kalo nanti chief nyariin aku, bilang ya mbak, aku lagi mau refresh otak dulu. Pening pala adek." Ia berpamitan. 

"Les, mau ke mana?" Sekali lagi, entah keberapa kali, Lesa kembali dikagetkan oleh Dika. 
"Diiiiiiik! Bikin kaget terus sih lau!"
"Hei, kamu tuh ya, sama senior bukannya menghormati malah panggil nama. Panggil kakak kek, abang, mas, apa kek gitu." Dika melirik Astri meminta persetujuan, sebenarnya lebih tepat mencari pembela. Belakangan Dika memang selalu dipanggil nama saja oleh Lesa. Tapi setiap Ia membela diri di depan Lesa, Ia selalu kalah, karena kemampuan Lesa menyerang balik melebihi kemampuannya. 

"Iya deh. Ka." Lesa menjawab protes itu dengan lesu. Dika membatin, kok begini aja sih, responnya. Tak keburu Ia membalas jawaban Lesa, gadis itu sudah berbalik menuju pintu keluar. Ia masih lesu hingga dia berpapasan dengan lelaki yang menghalangi jalannya. Ia ke kiri, lelaki itu ke arah yang sama ia minggir. Begitu berlangsung hingga dua kali.

"Eh, maaf mbak." Lelaki itu menyunggingkan senyum sambil berlalu setelah akhirnya Lesa tetap berdiri di tengah, mempersilakan lelaki itu. Lesa kemudian kembali berbalik, mengamati lelaki itu yang ternyata menyapa Astri. Oh, sepertinya lelaki itulah yang dimaksud klien oleh Astri.

Di luar kantor, Lesa tak menemukan apa-apa. Gadis berambut pendek itu pun kembali lagi menuju mejanya. Setumpuk fotokopian naskah yang harus ia periksa ejaan, bahkan susunan kalimatnya menanti. Minggu ini deadline untuk segera menyelesaikan tugas itu. Sebenarnya saat ini ia masih dalam proses belajar menyunting naskah. Toh, nanti naskah itu akan tetap diperiksa kembali oleh editor senior, apakah sudah layak terbit atau belum. Naskah itu pun akan mengalami nasib yang sama, difotokopi kembali, untuk kemudian dicoret sana-sini.

"Kamu pernah ketemu langsung sama Bung Tegar, Les? Bukannya editor itu harus ketemu sama penulisnya dan membahas perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada tulisannya?" Lamunan Lesa melayang pada percakapannya dengan Dika tiga hari lalu. Pada saat itu pula, gadis itu menyadari bahwa Ia bahkan tak tahu bagaimana wajah penulis naskah dengan genre galau itu.

"Belum, yang suka ketemu itu Teh Pipit, kan aku masih magang Dik, istilahnya. Ini masih latihan buat aku. Kata chief sih begitu. Aku juga nggak merasa perlu ketemu sama orang melankolis macam Tegar." 

"Mungkin kan, kalau kamu ketemu sama orangnya kamu jadi tahu, dia itu tipe yang seperti apa dan pengen tulisannya mengalir seperti apa.."

"Aku kan cuma ngoreksi ejaan sama struktur kalimat, Dik. Eh bukan cuma ding. Itu aja udah bikin aku pusing banget.." Kepeningan itu belum berakhir hingga kini bagi Lesa. 

Ngantuuuk. Aaaw!

"Ah, maaf mas, nggak ngeliat jalan tadi!" Lesa setengah berteriak. Bahunya menyenggol lengan seseorang. Ia bersiap untuk protes jika lelaki itu Dika. Namun, lelaki itu adalah lelaki yang ia temui sebelumnya. Ia pun harus bertatapan kembali dengan  lelaki tersebut. 
  
"Iya, nggak papa, Mbak. Saya juga tadi kurang konsentrasi. Mari, mbak.." Lalu Lesa merasa seperti terbang. Senyuman lelaki itu begitu menenangkan Lesa!

Kamis, 02 Juli 2015

Cerpen : Menciptakan Kehilangan


"Maka sesungguhnya setiap hati pasti merasakan kehilangan. Sebagaimana setiap jiwa pasti merasakan mati. Mungkin kau belum merasakannya, karena kau belum mengetahui bagaimana nikmatnya menemukan."

Berkali Lesa mengernyitkan dahi, dan berujung pada kesebalan. "Kenapa sih itu lagi! Rumit deh. Ntar juga kalau tiba saatnya ketemu!"


"Jodoh lagi ya? Memang puisi dia tak jauh dari tema itu. Puitis kan?" Celetuk Dika, lelaki jangkung yang kini duduk tepat di samping Lesa.

"Dik! Ngagetin aja. Puitis sih puitis, tapi dari 100 naskah, 87 di antaranya melulu tentang itu. Kan bosan!"

"Yaa, dia target pembaca yang dia cari, kan memang usia-usia rentan untuk menikah. Bukannya tulisan dia itu bertujuan untuk menguatkan hati-hati yang merasa kosong karena tak kunjung dapat jodoh?"

"Dika, menguatkan dari mananya? Itu justru membuat pembaca semakin menggebu memikirkan hal itu. Lalu sibuk membayangkan nanti jodohnya seperti apa. Itu justru melemahkan!"


"Tergantung pembacanya dong berarti, Les. Ada yang berusaha menguatkan diri untuk mempersiapkan kedatangan cinta, ada yang persiapannya hanya sampai pada tingkat pikiran, seperti apa yang kau bilang." Dika menyeruput minuman, yang baru Lesa sadari, itu minuman miliknya yang belum sempat Ia minum dari kemarin, "Les, kok aneh sih rasa minumannya."

"Hahaha," Lesa terbahak, "Dik, tergantung peminumnya, kok. Rasanya biasa aja kok, harusnya enak malah. Tapi karena gelas itu aku biarkan dari kemarin, dengan isi yang sama, ya jadinya mungkin seperti apa yang kau rasa."

Dika terbatuk, Ia ingin muntah, tapi belum sempat ia mengomel, Lesa menimpali, "Ya sama seperti tulisan, kalau isinya sama terus nggak ganti-ganti, lama-lama penikmatnya jadi nggak suka."

"Memangnya kamu sudah baca keseluruhan isi naskahnya? Jangan-jangan kamu baca kutipan pengantarnya aja. Kamu kan juga belum minum minuman itu, buktinya masih penuh gelasnya." 

"Dik, nanti juga sembari aku bekerja, aku juga tahu isinya. Tapi dari kutipan pembukanya aja udah begitu, bikin males tau nggak."
"Iya deh, yang udah jomblo 23 tahun, hahaha. Kamu belum pernah mengalami asam garam dunia percintaan sih."

"Dih, situ juga jomblo. Jomblo abis diputusin. Nggak usah sok ngatain deh. Gini-gini aku juga pernah kali suka sama orang, meskipun ujung-ujungnya jadi nggak suka lagi. Males lama-lama. Ohya, biasanya orang-orang kalau habis putus suka belum bisa move on ya? Kenapa sih? kan udah bertekad mau mutusin, kenapa nggak move on? Bilang masih cinta kek, padahal kan konsekuensi dari putus itu kayak..."

"Les!" Dika menepuk pahanya dan bangkit. "Aku mau keluar beli es buah. Kamu sembari mikir deh, apa jawaban dari pertanyaanmu. Okay?" Dika pergi meninggalkan meja kerja Lesa setelah sebelumnya menjentikkan jari kepada gadis yang baru bekerja di kantor itu 3 bulan. Mulutnya pahit setelah ia meminum minuman Lesa yang aneh itu. 
Karena cinta itu aneh, Ia membuat berjuta orang bahagia ketika menemukan. Tapi, ia memberi kesempatan kepada orang-orang itu untuk menciptakan kehilangan. Mereka sendiri yang memutuskan untuk tak lagi bersama, dan mereka-lah yang merelakan diri merasakan pahitnya kehilangan.

Maka, jangan biarkan kau bahagia menemukan namun dengan cara yang salah. Pun berujung pada kebahagiaan, tapi cara yang salah tak pernah dibenarkan. 


"Kenapa kata hubung ada di depan kalimat semua sih......" gerutu Lesa. Ia pun merasa harus membenahi naskah yang baru saja Ia baca.


"Makanya Les, jangan jadi copy editor terus, naik pangkat kek. Tapi tulisan Bung Tegar itu bagus lho." Lesa kaget, tiba-tiba lelaki itu sudah ada di belakangnya, "Tadi penjual es buahnya tutup, jadi ngga bisa beli deh."

"Diik! Ngagetin mulu, kau. Bagus sih, tapi tetep aja menurutku itu melemahkan. Capek aku Dik, ngomongin cinta mulu. Kenapa sih chief ngasih tulisannya yang ini? Huh! Udah ah, aku mau kerja lagi. Bisa-bisa disemprot chief kalo aku tak segera merampungkan tugasku."

Selasa, 11 November 2014

Cerpen - Pertemuan Terakhir


Sekali lagi hari ini aku dihadapkan dengan kelelahan yang luar biasa. Hari ini sudah pukul 9 malam, dan aku baru menghempaskan badanku ke kasur bersprei biru. Belum sempat bersih-bersih badan, rasa kantuk langsung menyergapku. Ingin sekali aku segera menutup mata, tanpa berpikir apa yang akan aku hadapi esok hari. Entah, tiba-tiba aku tak sampai badan melakukan semua hal yang wajib aku lakukan sebelum tidur…

“Sekarang sudah jam berapa? Kenapa yang lain belum datang?!” Adam berteriak di hadapan kami sambil memukul meja. Sudah beberapa kali dia mengucapkan dan melakukan hal itu hari ini. Hari itu jadwal kami berkumpul untuk membicarakan berbagai masalah yang kami hadapi. Mungkin jika aku berada di posisinya sebagai koordinator perkumpulan ini, aku juga akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih menakutkan.

“Adam, lebih baik kita mulai saja pembahasannya sekarang. Sudah hampir 15 menit, aku sudah tidak sabar membocorkan strategi yang sudah kupikirkan semalaman untuk masalah ini.” Todi akhirnya bersuara memecah suasana ketakutan kami di ruangan itu, yang langsung dijawab dengan anggukan Adam.

Mungkin kalian penasaran, apa perkumpulan yang kami ikuti. Biar kuberitahu dulu siapa saja yang ada di ruangan tersebut, ada Adam sang koordinator, Todi, Fian, Salbina, dan aku. Seharusnya kami berenam, tetapi, atas alasan yang tidak kami ketahui, seorang lainnya, yaitu Gisel tak kunjung datang. Tetapi tunggu, aku belum akan memberitahu jenis perkumpulan kami, yang jelas aku beritahu terlebih dahulu, bahwa perkumpulan kami adalah perkumpulan rahasia, di kampus kami.

“Aku tidak sepakat denganmu, Di. Apa-apaan, itu rencana yang tidak berkualitas!” Adam mulai menunjukkan kembali keberangannya. Apa yang terjadi padanya sebelum rapat kami tak tahu. Apakah ia sedang ada masalah keluarga, kami juga tak tahu. Setahu kami, Ia bahkan tak terlalu peduli apakah keluarganya tahu ia masih hidup atau tidak.

“Adam, sekarang bahkan kita tidak tahu Gisel ada di mana. Ia tak ikut di pertemuan penting kita hari ini.”

“Sekarang fokus kita bukan Gisel, Todi! Kenapa kau selalu membahas dia? Kau jatuh cinta padanya? Dasar lelaki!” Saat itu aku merasa Adam berbicara sangat kasar. Apakah ia tak sadar bahwa dirinya juga lelaki?

“Adam!” Salbina meninggikan suaranya. Belakangan ia memang selalu diam, aku pikir dia memang tengah tak begitu sehat, “Apa kau tak sadar Gisel sudah 3 kali tidak datang di rapat kita? Egois kamu, Dam!” sambil terbatuk Salbina berteriak ke arah Adam. Seketika Adam terdiam. Saat itu aku merasa ada yang aneh, tak biasanya Adam langsung diam ketika seseorang marah padanya. Yang ada, Adam akan selalu melawannya dengan kalimat yang lebih kejam.

Saat itu juga Salbina menawarkan agar rapat diakhiri saja. Kami semua setuju, tinggal menunggu keputusan Adam. Asal kalian tahu, rapat siang itu suasananya terasa begitu mencekam. Sebagai perkumpulan rahasia tentu kami tak bisa rapat seenaknya di tempat yang umum untuk rapat. Kami melakukan pertemuan itu di dalam rumah tak beratap, berdebu dan tak berpenghuni di area kebun dekat kampus. Ujungnya, Adam pun setuju. Ia memberikan keputusan agar rapat itu dilanjutkan esok lusa.

Keesokan harinya, aku ingin membicarakan masalah Gisel secara pribadi dengan Adam. Aku akan memohon Adam untuk mempertimbangkan usul Todi mencari Gisel. Aku putuskan menunggunya di taman kampus. Kami memang berbeda kelas, karena aku dan Adam memang berbeda jurusan. Akhirnya kulihat dia keluar dari kelasnya, dan ada yang aneh dari roman wajahnya. Ia tersenyum! Jarang sekali aku melihatnya tersenyum, dan aku akui, wajahnya yang kharismatik memang menyimpan sejuta pesona di kalangan para mahasiswi. Itulah pesona yang ia bagi saat ia mengajak beberapa dari kami untuk ikut perkumpulan rahasia yang ia bentuk. Begitu pun padaku..

Jantungku begitu cepat berdegup. Entah apakah ini takut, segan, atau perasaan yang lain. Rasanya ingin aku berlari ke arahnya dan mengajaknya ke suatu tempat untuk membicarakan masalah Gisel, atau bahkan masalah lain. Tetapi begitu aku ingin melambaikan tangan ke arah lelaki itu ia justru berbelok ke arah lain. Buru-buru aku mengikutinya, tetapi tak kusangka ia menemui seseorang. Salbina!

Aku melihat mereka bercakap-cakap. Aku mendengar suara mereka berbincang. Jarakku memang cukup dekat dengan tempat mereka bertemu, tetapi anehnya, mereka tak sadar bahwa ada aku di dekat mereka. Mereka terlihat cukup hati-hati dalam pertemuan mereka kali ini.

“Sal, aku tunggu di depan. Ingat kita bertemu di tempat yang sudah kita janjikan kemarin.” Adam berkata setengah berbisik kepada Salbina. Salbina menganggukkan kepalanya. Ternyata mereka janjian bertemu!

Tanpa sadar, aku mengikuti Adam sampai di tujuan janjian mereka. Tak jauh tempatnya dari kampus, tetapi tempat mereka bertemu memang suatu kafe yang cukup lengang. Yang aku herankan mereka memilih jalan yang berbeda untuk perjalanan menuju kafe itu. Keheranan keduaku adalah, mengapa mereka datang ke kafe yang sudah jelas tak diminati orang ini. Setahuku kafe ini sepi karena harganya mahal dan makanannya tak enak.

“Sal, sepertinya ada yang mengikuti kita lagi. Ia bagian dari perkumpulan rahasia kita. Tresa.” Aneh, aku mendengar kalimat yang dikatakan Adam. Aku mendengar Adam menyebut namaku. Jarakku kali ini padahal cukup jauh. Aku berpikir jangan-jangan aku memiliki kekuatan super, sejak aku bergabung dengan perkumpulan rahasia itu. Lalu sejak pikiranku melayang ke arah yang tak jelas, tiba-tiba aku merasa aku terjatuh di suatu jurang yang gelap, dan aku ingat, Adam dan Salbina-lah yang mendorongku….
###

“Adam! Sekarang Tresa nggak datang! Kemarin Gisel, dan sekarang Tresa. Kau tak merasa aneh?” Todi kembali berteriak ke arah Adam. Kali ini Adam terdiam. Salbina diam, Fian pun diam.

“Lalu buat apa kita berkumpul di sini? Mereka bahkan tiba-tiba menghilang, Gisel tidak ada di kosan sejak 3 hari yang lalu, dan Tresa juga tak pulang sejak kemarin.” Seketika suasana semakin mencekam.

“Aku curiga mereka ketahuan sebagai bagian dari perkumpulan rahasia kita ini dan mereka disandera lalu dibunuh!”

Tiba-tiba aku terbangun. Saat itu pula aku melihat ke arah jam dinding. Pukul 4 pagi. Aku baru sadar, aku masih memakai baju kuliah yang kupakai kemarin. Badanku terasa gatal, lengket, dan bau…

Selasa, 31 Januari 2012

Ibu, BEM, dan HIDUP MAHASISWA!

Baju putih itu baru saja aku pakai tadi pagi hingga sore. Besok pun aku harus kupakai kembali dengan padanan rok yang sama. Hitam-Putih. Perasaanku jadi semakin kelabu dengan warna yang akan kukenakan dengan intensitas yang cukup sering di 2 hari ke depan. Hari-hari di mana aku masih disebut sebagai MAHASISWA BARU. Tentu saja, bukan hanya aku yang akan mengenakan ‘kostum maba’ itu. Istilahnya, sepanjang mata memandang, hanya warna kelabu itu yang akan menjadi santapan mataku, tentu saja selain batik, pakaian khas kakak-kakak yang sudah masuk di kampus ini sebelum kami.
“HIDUP MAHASISWA!” sesekali suara itu diteriakkan saat sepanjang pagi hingga siang, ketika penjabaran materi sedang berlangsung. Aku belum paham dengan kata-kata ‘hidup mahasiswa’ itu. Kenapa, dulu waktu aku masih menjadi siswa SMA, SMP, atau SD belum ada kata-kata penyemangat seperti itu. Ada lagi yang berbeda dari semangat kemahasiswaan ini. Adanya lagu yang ‘katanya’, setiap mahasiswa dari universitas apapun hafal dengan lagu ini. TOTALITAS MAHASISWA. Mungkin harusnya dulu juga dikenalkan dengan kata-kata ‘HIDUP SISWA!’ atau ‘HIDUP MURID!’ dan dibuatkan lagu penyemangat berjudul ‘TOTALITAS SISWA’.
“Kali ini akan dibacakan tata tertib untuk pelaksanaan masa Orientasi Mahasiswa 2011.” Kata seorang kakak di depan. Dengan rapi sudah kusiapkan catatan yang sudah kuhias dengan kalimat penyemangat di sela halamannya. Tetapi, tiba-tiba suara berubah. Hawa tegang merasuk ke dalam tulang-tulangku. Tiba-tiba waktu terasa begitu lambat mengalun. Yang kudengar hanya suara derap sepatu, dan kalimat yang terucap dengan volume yang sangat keras. Aku paksakan ragaku masih ada di sana, meski jiwaku dan pikiranku, mungkin sudah melayang ke tempat antah berantah.
Kutulis semua kata-kata yang diucapkan. Kata-kata penyemangat yang ada di sela halaman sudah bertumpuk dengan tulisan semrawut. Aku tak sempat mengambil kertas lain, sedangkan kertas itu sudah penuh dengan tulisan. Yah, aku paksakan menulis, meskipun aku sendiri tak bisa membaca lagi apa yang aku tuliskan saat itu. Yah, Ais, semangatlah, “HIDUP MAHASISWA” kataku dalam hati. Meskipun keringat dingin mengalir di ujung leherku, meskipun tegang dan anganku kemana-mana, kukuatkan tanganku menulis dan kakiku berdiri menegak di sana.
###
Mahasiswa. Selepas ospek, kata tambahan ‘baru’ di belakang kata mahasiswa sudah hilang. Kini saatnya aku mencari jati diriku sebagai mahasiswa. Di berbagai materi di ospek kemarin sudah dijelaskan, bahwa organisasi itu penting. Bahwa organisasi itu sangatlah diperlukan bagi mahasiswa. Meniru kata kakak-kakak, mau jadi mahasiswa kupu-kupu, atau kura-kura?
Teman, tahu arti kupu-kupu, kan? Bukan serangga dengan sayap indah yang sering berkeliaran di taman bunga yang aku maksud. Kupu-kupu adalah kepanjangan dari kuliah pulang, kuliah pulang. Wah bahagianya aku, jika seperti itu. Dulu semasa aku masih jadi murid SMA, sulit sekali rasanya pulang sekolah langsung pulang. Ada saja kegiatan, entah itu hanya main, les, ada kegiatan kelompok belajar, atau sesekali jika ada rapat di organisasi yang aku ikuti.
“Dek, gimana jadi mahasiswa?” tanya salah seorang kakak sepupuku, sebut saja Andi, ketika aku online di salah satu situs jejaring sosial.
“Gimana apanya, kak? Ya gitu lah, so so..”
“Looh, kamu harusnya mulai mencari, dek.”
“Mencari? Mencari apa, kak?” Otakku berputar, mencari ilmu? Ya iyalah. Mencari uang? Lulus aja belum gimana bisa cari uang? Ooh, mungkin dengan berwirausaha, ya bisa kucoba mungkin kak, jika ada waktu. Oh, aku tahu, mencari jati diri mungkin. Kalo itu sih pasti kak, ini lagi processing, bingung mau jadi kupu-kupu atau kura-kura, kataku dalam hati.
“Ya mencari jodoh laaah..” APA? MENCARI J-O-D-O-H?? Mahasiswa semester 1 sudah mau mencari jodoh? Aaargh, tidak. Ada-ada saja orang itu. Buktinya, kakak sepupuku itu tak dapat juga setelah lulus dari Universitas, yang berarti dia sudah bukan mahasiswa lagi tentunya. Dan setiap kali menghubungiku, selalu pertanyaan, “Adakah temanmu yang masih single?” terlihat di monitor atau terdengar di telingaku.
“Ya, makanya jangan ulangi kesalahan yang sama.” Saat kubilang bahwa dia saja yang sudah bertahun-tahun mencari tak dapat juga.
Aduuh, kupikir-pikir lagi nasihat itu. Cari jodoh? Tidak, aku bukan penggemar Wali, kak. Aku baru saja ingin mewujudkan esensi dari kata HIDUP MAHASISWA. Kalau aku justru mencari jodoh, lalu bagaimana aku bisa menghidupkan kalimat HIDUP MAHASISWA ini pada diriku sendiri?
“Ya, entar dulu lah, kak. Masih mau jadi mahasiswa dulu.”
Hidup Mahasiswa. Jika ada kalimat seperti itu, apakah berarti aku harus jadi politisi? Tiba-tiba tersirat gagasan itu setelah aku chat dengan kakak sepupuku. Apakah mahasiswa harus selalu menjadi barisan terdepan ketika ada permasalahan di kasta tertinggi di Indonesia ini? Selama ini, aku menganggap, permasalahan negara ini hanya dapat diselesaikan oleh pihak berwenang yang duduk di gedung megah dan menumpang mobil mewah itu.
“Mahasiswa selalu begitu. Mereka memang kritis, tapi, kadang harus ada pengendali semangat mereka yang menggebu-gebu. Tidak semuanya harus dilakukan dengan berdemo. Masih ada cara lain.” Kata ibuku ketika melihat berita di tv. Kebetulan aku mendengar kalimat ampuh itu diucapkan berkali-kali dengan tangan mengepal ke atas. Hidup Mahasiswa. Hidup Mahasiswa.
Mau ikutan BEM, Isti? kutulis pesan itu kepada temanku, Isti, yang dulu semasa SMA adalah penggiat salah satu organisasi besar di SMA. Sudah kutebak jawabannya saat itu. Pasti jawabannya IYA.
Drrt..rrt..rrt. Hapeku bergetar. Tetapi, bukan SMS dari temanku yang kudapat, melainkan dari kakak tingkatku. Hidup Mahasiswa! Kami dari BEM bla bla bla… dan seterusnya. Sekali lagi, kalimat itu diawali dengan kata HIDUP MAHASISWA.
Drrt..rrt..rrt. Hapeku kembali bergetar. Dari Ibu. Nduk, kamu belajar yang bener ya di sana. Kamu kuliah buat cari ilmu, ndak usah neko-neko yang kayak di tv. Kalau bisa ya ndak usah ikut macem-macem. Ibu dan Bapak selalu mendoakanmu dari sini. Air mukaku berubah. Baru saja ingin kuputuskan menjadi mahasiswa kura-kura, yakni kuliah rapat, kuliah rapat, tetapi, ada ganjalan lain yang harus aku hadapi. Dan itu berasal dari ibuku sendiri.
“Ndak usah ikutan demo, kalau ada demo. Belajar aja, ibu takut kamu kenapa-napa.” Iya bu, kataku. Mungkin kalau demo, unjuk rasa dan sebagainya, aku tak akan ikut. Karena aku sendiri juga takut. Takut diculik, takut dibacok.
“Kalau bisa ya ndak usah ikut macem-macem.” Bagai ada petir yang menggelegar di depan mataku. Degup jantungku menaik. Ibu, ingin kuteriakkan kalimat Hidup Mahasiswa di depan beliau, tapi tersendat di kerongkongan. Kupikir itu terlalu ‘lebay’.
“Aku insya Allah ikut BEM kok, Ais.” Jawaban itu mengalir dari mulut sahabatku yang memang aktivis itu. Yah, apa aku salah tanya orang? Aku benar-benar bingung saat itu. Haruskah aku ikut organisasi eksekutif yang ada di kampusku, atau kudengarkan nasihat ibu. Tapi, sisi hatiku melakukan pembelaan, Ibu kan bilang supaya aku ngga usah ikut yang macem-macem, BEM kan ngga macem-macem, kalo yang macem-macem itu yang suka nongkrong ngga jelas di kampus tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat dan berbuat maksiat. HIDUP MAHASISWA!
“Menurutku, bergerak itu ngga harus melalui BEM, kok, Ais. Masih banyak organisasi intra kampus lain yang bisa kamu ikuti kalau kamu memang merasa belum yakin di BEM. Kalo saya sih, nggak ikutan BEM, Ais. Saya lebih memilih organisasi keagamaan saja. Tapi, kalau Ais mau di BEM, dan memang berniat bergerak dan berdakwah di sana, ya ndak papa Ais, saya dukung.” Jawab Bagas, mantan ketua ROHIS, organisasiku yang dulu aku ikuti waktu SMA ketika kutanya pendapatnya tentang kegalauanku masuk BEM atau tidak. Aku semakin bingung dengan pendapatnya.
“Udaah, nyari jodoh aja dek. Susah amaat. Sekalian cariin aku jodoh. Hahaha..” kata kak Andi, ketika kulihat namanya di situs itu mencetuskan satu percakapan. Hiih, ini lagi. Yang diributin jodoh melulu.
“Iya, kak. Ini juga udah dapet kok. Tinggal nunggu 3 tahun lagi. Weeeek.” Jawabku, tak mau lama-lama menggalau soal jodoh dengannya.
“Haii Aiiss! Gimana, udah memutuskan untuk ikut BEM? Mau ikut yang fakultas atau Universitas?” Isti, temanku yang aktivis dan kebetulan sedang online itu menanyaiku.
“Belum isti, baru mendaftar. Yah, mungkin sekarang aku berusaha yang terbaik dulu buat seleksinya. Jika memang jalanku di organisasi itu, ya insya Allah, aku jalani. Tapi, kalau memang bukan, ya berarti emang ada organisasi lain yang membutuhkanku, is.” Kataku sok bijak. Tetapi, aku baru sadar, kenapa nggak kepikiran dari kemarin, sih?!
###
Tes tertulis sudah kulewati. Tinggal wawancara. Ini dia puncak kegalauanku. Aku paling gugup menghadapi tes wawancara. Apalagi sebelum hari H wawancara, tiba-tiba badanku kurang bisa diajak kompromi. Aku jatuh sakit! Aku langsung berpikir, “Ya Allah, apakah ini bentuk pelarangan dari-Mu untukku agar aku tak usah ikut BEM?”
“Susulan aja ya, dek. Aku udah bilang sama menterinya, kok. Nanti kamu ikut susulan wawancara ini, bareng sama yang lain, yang belum bisa ikutan juga.” Kata kakak tingkatku. Baiklah, mungkin dengan susulan, aku bisa mendapatkan hasil terbaikku. Dengan kondisi fisik yang lebih baik, mungkin hasilnya juga akan lebih optimal.
Wawancara aku hadapi dengan kikuk. Berkali-kali kegugupanku membuat sang interviewer menurunkan dan menaikkan suhu AC ruangan, “Adek gugup ya? Terlalu dingin ya, dek? Santai aja ya, dek.” Tidak hanya itu kesalahan yang aku buat, tidak hanya sekali kakak-kakak itu melontarkan pertanyaan yang sama hanya agar aku paham dengan apa yang mereka maksudkan. Karena kegugupanku, otakku hampir tak bisa mencerna kalimat dari mereka yang sebenarnya, padahal jika diungkapkan dalam kondisi biasa, akan berbeda kenyataannya.
Seminggu setelahnya, pengumuman pun ditempel. Karena aku memang sedang tidak berada di kampus, jadi aku tak bisa melihat langsung. Namun, kakak kosanku sudah melihat hasilnya. Meskipun dengan berat hati ia memberi tahuku hasilnya, karena sebenarnya dia ingin aku melihat hasilnya itu dengan mata kepalaku sendiri. “Tapi, ya sudahlah, dek. Aku kasih tau aja ya. Kamu, kamu, emm, lolos kok.” Haaah? Dengan jawabanku yang begitu ngawur pada saat wawancara? Ya, baiklah, mungkin inilah saat yang tepat untukku mengatakan HIDUP MAHASISWA!