Tampilkan postingan dengan label trauma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trauma. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Salam PWT (Tilang yang 'Asik')


Bismillahirrahmanirrahim..
Sudah lama tidak posting mengenai kehidupan nih hehehe. Padahal sudah hampir setengah tahun mengalami perubahan hidup yang cukup signifikan. Alhamdulillah, kali ini, ingin menceritakan pengalaman, ketika sudah berganti status. Bukan status relationship yah, itu mah masih sama aja, hehe masih lajang, alhamdulillah.
Mahasiswa. Sebelumnya sudah ada posting mengenai itu, ya. Tetapi, itu bukan pengalaman pertama. Ada pengalaman yang cukup menarik. Terutama dengan kota (atau desa?) yang menjadi domisiliku saat bersatatus mahasiswa.
Menghabiskan masa SMA di kota besar, yaitu Semarang, membuatku jadi suka hidup yang simple-simple saja. Maklum, di kosanku waktu SMA dulu, sangat gampang kalau mau mengakses fasilitas yang cukup mewah (?). sebenarnya tidak bisa dibilang mewah-mewah banget juga sih. Tapi, hal ini tidak bisa ditemui di rumahku, di desa. Contohnya, mau beli buku, gampang. Tinggal keluar gang, belok kiri, sampai deh. Mau belanja kebutuhan bulanan apalagi, tinggal pilih, mau ke Hyp**mart, itu belok kanan, atau Carre***, belok kiri (tapi agak jauh, hehe). Butuh internet? GAMPANG. Tinggal nyalain laptop, terus tekan tombol wifi. Tunggu sesaat. Cari sinyal yang namanya DINBUDPAR. Tanpa password, tinggal connect. Parah bangeeet, mau download film, yang gedenya sampai 700 MB atau lebih, nggak nyampe 1 jam, ckck.
Tetapi, sekarang, kehidupan berubah. Setelah hampir 2 bulan menghabiskan waktu di rumah, tanggal 6 September 2011, aku harus ke PURWOKERTO. Sebenarnya sebelumnya sudah sempat ke sana untuk mengikuti OSPEK UNIVERSITAS, dan OSPEK FAKULTAS. Tetapi, belum ada pengalaman menarik. Jadi, skip aja ya hehehe.
Keadaan itu memaksaku untuk bertualang wkwk. Maksudnya mencari tempat belanja bulanan hahaha. Karena kebetulan kampusku ini terisolir dengan jurusan lain, jadi, fasilitas yang kami dapatkan tidak sama dengan yang didapat mahasiswa dengan universitas yang sama denganku, hiks. Jadilah aku dan teman-teman yang lain harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mendapatkan barang-barang yang kami butuhkan, hmm.
Lanjut, hari itu, sehari selepas masa ospek selesai, tanggal 11 September jam 2 siang, aku dan teman satu kos memutuskan untuk refreshing. Hahaha, kami bukan pergi ke mall, (karena tidak ada mall :3 ataupun bioskop, karena nggak bisa diandalkan nih bioskop, hiks), jadilah kami pergi ke apa ya namanya, mungkin sejenis toserba ‘like a mall’. Judulnya MORO. Kami berlima naik motor. Tapi bukan hanya 1 motor ya, ada 3 motor, aku lupa susunannya, pokoknya aku sendiri, nggak ngeboncengin siapa-siapa.
Sebelum berangkat aku sempat bilang,“Di, itu lampu motormu kok nyala sih. Hahaha, dimatiin doong.” Akhirnya Diyan mematikan lampunya. Tetapi, ternyata, hal itulah yang membuat kami semakin terperosok, eh, terjerumus, eh, apa ya, pokoknya itulah yang membuat nasib kami semakin buruk.
“Lalala…lalala..lalala..” hati-hati aku menaiki motorku. Tidak ada firasat buruk. Sampai akhirnya, di depan ada lampu merah. Tenaaaang, kami sadar kok kalau ada lampu merah. Tapi, ada hal lain yang membuat kami tertimpa nasib buruk. Oh ya, FYI, kami bertiga berhenti tepat di depan marka sebelum lampu merah secara berjejaran, tetapi ternyata, hal itulah yang membuat kami menjadi perhatian dari pihak yang memerhatikan.
“Mbak-mbak silahkan minggir ke sana ikut saya.” Seorang bapak menaiki motor gedhe tiba-tiba menghampiri kami bertiga. Waduh, kita salah apa??
“Mbak, bawa SIM dan STNK?” bla..bla..bla.. entah perasaanku kabur atau gimana tiba-tiba aku sudah berada di dalam pos polisi, hiks.
Di dalam kami dijelaskan, ternyata, kami melanggar marka yang ada di jalan. Marka yang harusnya untuk pengemudi yang mau ‘belok kiri jalan terus’ itu. Tapi, jujur, kami bertiga tidak melihat ada garisnya. Beneraaan!!! Garisnya udah BLUUR!!!
“Maaf, pak, kami minta maaf. Bener deh, pak.” kata Diyan (si protagonis).
Tapi, aku bilang, “Loh, pak, itu garisnya udah ilang. Gimana kami bisa ngeliat pak. Ya mana tahu kalau kita ngelanggar?” di satu sisi ada yang sudah mengalah, tapi, aku masih nggak terima (Jadi di sini aku jadi pemain antagonisnya). Sedangkan si Viny sama Fika yang pembonceng jadi tritagonis, yang bingung mau ngikut yang mana. Satu lagi, si Fathia, agak ngotot pengen di pihakku, tapi juga agak bingung (kayaknya).
Entah mimpi atau gimana, tiba-tiba aku bilang,“Lho pak, itu ada juga yang ngelanggar.”
Tiba-tiba bapaknya bilang,“Mbak, mencari kesalahan orang lain itu memang gampang. Mbak, saya itu bukan orang pinter yang bisa nyari kesalahan orang banyak. Tapi, justru itu, saya juga ndak mau suka nyari-nyari kesalahan orang lain mbak.”
“Laah, brarti SAYA BODOH pak??” GUBRAK!! Aku kenapa coba. Waktu itu, benar-benar terbayang kalau aku ini habis makan durian kebanyakan. Jadi mabuk durian dan ngomong jadi ngelantur nggak jelas, zzz.
“Mbak ini, masih pada kuliah ya?” sebelumnya kami sudah sempat senggol-senggolan, “Ssstt, pokoknya jangan sampai Bapaknya tahu kita ini mahasiswa jurusan ini. Bisa berabe, baru aja selesai ospek udah bikin masalah." Tetapi, ternyata pesan itu tak tersampaikan ke temanku yang duduk paling tengah. Zzzz, DIYAAAN, kamu dari MANAAAAAH?? Waktu tadi kita senggol-senggolan, kamu lagi kesenggol APAAAAH?? Memang sih, Diyan nggak sengaja di skip waktu ada senggol-senggolan. Kirain dia denger, lah, ternyata…
“Iya pak.”
“Ooooh, jurusan apa?”
“Jurusan kedokteran pak.” Dalam hati pengen tereak, Diyaaaaan!! 
Yaudah, alhasil bapaknya tahu, kita anak mana, kampusnya di mana. Tiba tiba bapaknya nyambung.
“Oh, ya, istri saya juga orang kesehatan juga. Beliau ngambil S2 di bidang kesehatan juga kok, dek. Jadi, kita masih bisa saudaraan ya.” Pak? Saudaraan cuma karena sama-sama belajar hal yang sama? Yaudah, deh, ndak apa-apa, toh kita juga sesama muslim saling bersaudara.
“Naaah, itu dia pak. Karena kita bersaudara, makanya tolonglah pak, jaga silaturahmi. Jadi tolong, Pak...” Diyan meminta belas kasihan. Aku udah nggak mood ngomong sebenernya. Udah hampir setengah jam diceramahin sama Bapaknya.
Pokoknya, hari itu, aku lupa ngomong apa aja sama Bapak Polisi itu. Tetapi, sepertinya Bapak itu paling marah sama aku. Namaku ditulis paling pertama di SLIP penilangan. “Yaudah Mbak Aisyah sidang aja ya. Ini tanggalnya, nanti STNK bisa diambil waktu sidang. Mbak Aisyah ada dua pelanggaran, yang pertama meLANGGAR GARIS, yang kedua TIDAK MENYALAKAN LAMPU.” Aku pengen teriak beneran, DIYAAAAAAAN!!!. Dan alhasil kami bertiga punya kasus penilangan yang sama. Kita dikasih surat tilang buat ngganti STNK yang disita.
Sebetulnya sebelumnya udah usaha mau titip aja, ke Bapak Polisi, nanti, bapaknya yang dateng waktu Sidang, tapi kita bayar 100 ribu dulu. Kembalinya bisa diambil waktu sidang. Tapi, sama aja, STNKnya tetap aja disita. “Titip ajalah, PAK. STNK kita yang bawa…” tapi Pak Polisi tetap tidak mau. Yasudah kami putuskan sidang.
Subhanallah yah, pak Polisi di PWT (PURWOKERTO) hebat. Yah, meskipun akhirnya sidang juga, tapi ndak papa deh, jadi pelajaran, kalau sidang itu ternyata menyenangkan. Hahaha, menyenangkan kalau datangnya pas SIDANG UDAH SELESAI, alias terlambat. Soalnya pas hari Kamis tanggal 29 September 2011 itu kita ada kuliah jadi nggak bisa bolos cuma buat sidang, nelat deh. Tapi, justru karena telat itu, urusannya jadi gampang. Hehehe, tinggal duduk, bayar denda, selesai. STNK kembali di tangan. Tapi ya kalau bisa sih, JANGAN TELAT. Oh ya, selalu pilih jalur yang jujur juga. Karena uang kita kan jadi masuk ke KAS NEGARA. Tapi, yang jelas, jangan SUKA MELANGGAR dan BIKIN PAK POLISINYA BETE. :)

Minggu, 21 November 2010

Hari Paling Nggak Lucu :(((

hari ini, Minggu, tertanggal 21 November 2010 adalah hari paling nggak lucu sedunia !! zzz

dan, sekarang aku makin sadar, bahwa ucapan adalah DOA. ckckc. dari ucapan yang cuma keluhan "Hisssh, kenapa pagi-pagi udah ketemu 'kesialan' gini sih. hhhh, gimana nanti nanti!"
Jadi, pagi itu, aku mau ke indomar*t yang ada di pekunden. Nah, tak kirain kan tu indomar*t 24 jam, jadi, aku ke sana jam berapapun pasti masih buka. Eh, pas aku liat jam setengah 7 di indomar*t itu masih pada beres beres. Yaudah, puter balik, ke alf*mart aja deh. Ternyata sama aja. malah lebih parah, bener bener tutupan grep. Yaudah, aku putusin nyari ke Abimanyu aja deh.

Tapi, aku tengsin berat kalo lewat bedagan lagi. Hsssh, bisa ketemu rupa rupa kurang beruntung (berang-berang red) itu. Yaudah, aku lewat Thamrin. Sebelnya, harus ketemu Lampu merah 2 kali. Yaudah deh, gapapa, asal nggak ketemu berang-berang aja. (pasti bingung kan, kok di bedagan ada BERANG-BERANG?)

Sampai di Abimanyu, eh, ALHAMDULILLAH ada alf*mart yang buka. Langsung beli minuman pengganti ion tubuh, air mineral, sama SABUN. Sabunnya abis cing! Kagak mandi dong kalo nggak ada sabun. Kebetulan saya belum mandi saat itu. Oke, saya kira, kesialan #RALAT kekurangberuntungan saya akan berhenti di situ. Rencana sih, lewat SADEWA terus ke PEMUDA. Eh, ternyata, JALAN PEMUDA DITUTUP!! Karena ada jalan jalan seragam ijo yang pake topi putih, itu loh, ROMBONGAN SERIBU LANGKAH SEHARI. Sumpah! eh, nggak boleh sumpah ding, ADUH! Ni BENER BENER NGGAK LUCU BANGET NIH!

Yahh, akhirnya aku ke arah DOMSAV deh, rencana mau lewat kuburan bergota, tapi gajadi. KEBABLASAN bo'!! yaudah, lewat itu deh, gang deket LAPANGAN KALISARI. Eh, kebablasan lagii!!! TT. Yaudah, lewat bendungan itu aja deh. Tapi, di lampu merah aku tengsin lagi. Ni boleh belok kanan nggak ya? maklum nggak pernah lewat situ bos! PEDE AJA LAGI! Gitu batinku. akhirnya aku nekat belok kanan. ALHASIL, yang belok aku doang.

Selesai, eh belum, tak kirain udah selesai kekurangberuntunganku itu. JEBULANE! Ya ALLAH, masih ada PERKARA sebelum lima perkara, eh, nggak ding, maksudnya aku menemukan kekurangberuntunganku lagi. KETEMU SUTET! SIAPA SIH SUTET? Ternyata, sepanjang jalan yang kulewati itu berdiri jajaran indah SUTET SUTET yang siap ambruk kapan saja (NAUDZUBILLAH!!) inilah ketakutanku yang paling BESAR!!
Nggak tahu kenapa aku bisa takut banget sama SUTET. Yaudahlah, karena SUTET tersebut ada di kanan jalan, aku jalan pelan-pelan sambil ngeliatin depan dan arah kiri jalan, dan ternyata, di sebelah kiri jalan nggak lebih baik lagi. Banyak air bergulir gulir mana kotor lagi, ckckc. Dan aku bingung mau ngeliatin mana? Yang penting aku nggak ketemu BERANG BERANG deh, gapapalah. Sambil liatin 'OMBAK' bendungan yang aneh, aku melanjutkan perjalanan kekurangberuntunganku ini. Yaah, mimpi apa coba semalem kok jadi kayak gini. TENGSIN banget ndaa ckck.

Bismillah deh, semoga SUTET 'yang terakhir' untuk hari ini. Semoga bisa mendapat kelebihberuntungan lain kali .

Kamis, 18 November 2010

Susahnya MENJATUHKAN PILIHAN




Kalau aku bisa memilih yang lain, harusnya aku bisa memilih yang lebih baik dari ini. Satu hal aku sadar, kita semua punya hak memilih. Memilih presiden, memilih anggota legislatif, bahkan ketua RT pun, kita yang memilih. Dan ada satu kalimat yang harus kita ingat jika ingin memilih sesuatu untuk hidup kita. Pilihlah dengan hati.
Tapi, aku tak yakin apakah ini pilihanku memang dari hatiku sendiri. Pilihan yang kujatuhkan mungkin belum tepat untuk sekarang. Tetapi, Allah menjatuhkan aku untuk memilih sekarang. Masihkah aku pantas mendapatkan apa yang aku pilih? Karena yang aku pilih belum tentu juga akan memilihku sekarang ini .

Apakah yang aku pilih itu sadar kalau aku memilihnya? belum tentu juga. Bahkan mungkin tahu aku ada saja tidak. Bagaimana ia bisa tahu? Tapi aku lebih suka begini. Aku lebih suka dia tidak tahu hal ini. Entah kenapa, baru kali ini aku peduli hal ini. Baiklah, mulai sekarang harusnya aku lupakan aku pernah memilihnya untuk beberapa lama.

Selasa, 12 Oktober 2010

Bukan Rahasia Lagi

Sebenarnya judul yang harusnya kubuat adalah Sesungguhnya aku membencimu dengan sepenuh hatiku. Tapi, aku tak tega harus membuatmu seperti rendahan begitu.
Kamu tahu? Pikiranku tentangmu sudah membusuk di dalam hati dan otakku. Aku pikir, sifat baikmu kepadaku, tidak akan membekaskan kebaikan tentangmu di mataku.
Kamu tahu? Aku membencimu dengan sepenuh hatiku. Setulus hatiku yang paling dalam. Kebencianku membuncah seketika aku melihat wajahmu yang sok tak berdosa itu. Kamu senang kan? bisa membuatku tertindas dibalik kekuasaan 'bohongan' mu itu.
Kamu tahu? Aku mengutukmu dengan sekuat hatiku. Sekuat aku berdoa kepada Tuhanku, yang juga Tuhanmu. Ingin sebenarnya berdoa akan kehancuranmu. Tapi, aku tak sejahat itu.
Kamu tahu? Aku benci melihatmu dengan segala kebaikan palsumu. Bukan aku iri, dan dengki padamu. Tapi, aku tahu, kau busuk di dalam hatimu.
aku tahu apa saja yang kau lakukan. Kamu tahu kan? aku bisa membaca pikiranmu saat ini juga. pikiran busuk yang tertular juga kepadaku.

Sekali lagi, aku benar-benar membencimu dengan setulus hatiku.