Tampilkan postingan dengan label lucu^^. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lucu^^. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Antara Lawak dan Ujian [1] part 2



Di ruang karantina, “Aduh deg-degan nih”. “Aduh, soalnya apa ya?”. “Aduh, aku lupa obat buat penyakit X nih, apa ya?” dan berjuta aduh-aduh lainnya. Tapi seenggaknya, kalo aduhnya masih diruang karantina sih, masih bisa dicari jawabannya. Lain kalo aduhnya udah di ruang presentasi.

“Satu, dua, tiga, empat, $%^$#^^%$#^%&^%#@, sepuluh, masuk ke ruang tunggu!” tunjuk salah satu petugas ujian. Hiks, dan akhirnya aku masuk di rombongan ini, Kayak mau manasik ya, rame-rame begitu.

“Eh, tadi obat buat panu apaan?” “Aduh, lupa…”

“Kriiiiiiinggggg!!” tanda waktu dimulainya mengerjakan soal, lari ke meja soal, kerjain sepenuh hati. Dari pas lihat soal sih, kayaknya kasusnya osteoporosis primer tipe 1 (keren ya ahai)

“Kriiiiiiiinggggg!!” tanda waktu masuknya mahasiswa ke ruang presentasi. Di sana sudah disediakan OHP dan seorang penguji. Dan jangan salah, jika Anda beruntung, Anda akan melihat salah seorang teman Anda tengah memasang muka miris, di ruangan itu, di depan penguji, karena belum selesai menjawab (biasanya lebih sering bengong karena ngga tahu mau jawab apa) tapi waktu yang disediakan sudah habis, dan tibalah waktu saya untuk masuk, dan memotong pembicaraan mereka berdua –penguji dan mahasiswa, yang tengah asyik ‘bercengkrama’.

Jadi memang sistemnya giliran, sepuluh orang pertama yang dipanggil, dia akan masuk ke ruang karantina yang kedua, sebelum masuk ke medan perang, sebelumnya di medan perang sudah ada yang berjuang terlebih dahulu, jadi giliran gituu.

Tiba waktu saya masuk ke ruang presentasi, sebelumnya saya melihat seorang teman saya yang keluar dari bilik yang akan saya masuki ini sudah tersenyum riang. Apa-apaan nih maksudnya? *sigh* Tapi, saya tetap bulatkan tekad. Saya putuskan untuk masuk *yaiyalah ngga masuk ngga dapet nilai kaliik :hammer: *. Begitu masuk, penguji saya adalaah parap papapa I’m lovin it #themesongmcd. Penguji saya ini terkenal banyak meluluskan mahasiswa, tapi ya nilainya ngga maksimal *katanya*.

Duuuh, padahal aku sama dokter ‘ini’ lhoo.. tapi masih ngga lulus jugaa huhu.” Ini komentar yang saya ingat  sering dilontarkan teman-teman tentang dosen yang satu ini. Kok beda ya sama pernyataan di atas? Tapi yasudah lah, yang penting saya percaya diri dengan apa yang saya ketahui puahahaha.

Lanjutkan. Pertanyaan pertama, sudah terjawab. Kedua sudah. Ketiga sudah. Keempat sudah. Kelima sudah. Keenam sudah. Bilang aja ya udah semua -__-. Tapi setelah itu, kami para mahasiswa punya pertanyaan wajib yang harus kami tanyakan sesudah menjawab soal. “Masih ada yang kurang, dok?” tanya saya dengan nafas megap2 karena kehabisan napas, setelah menjawab soal dengan bertubi-tubi. Tapi, mereka profesional sekali, bisa mengerti apa yang saya katakan meskipun bahasanya acak adul. Dan ada bermacam-macam jawaban biasanya.

#1 “Oke, coba nomer 1, 4, 5 dilengkapi.” Yang ini baik hati sekali ya :D

#2 “Hmmh.. *sigh* yang mana ya, kok kayaknya semuanya kurang ya dhek. Coba dilengkapi dari awal” waah, ini buaaaiiik banget, memberikan kesempatan kita punya nilai jauh lebih baik *tapi kadang jadi nangis darah*

#3 “Tadi kamu tuh ngomong apa sih dek? Saya nggak ngerti. Coba diulang dari awal. Yang runtut gitu lho *pasang muka sedih*.” Yang ini baik juga sih, mengingatkan kita, bahwa kita sedang gaje.

#4 “Menurut kamu ada yang kurang nggak?” yang ini nih, menjebak sooobb.. Kayak cowok lagi minta maaf sama pacarnya terus pacarnya bilang, “Menurut kamu, kamu salah apa hah?” kira-kira kayak gitu perasaannya.

#5 “……….” Biasanya kalo ada jawaban ini, mahasiswa cuma bisa bersuara memecah keheningan, “oh, emmh. Eerr… emmh……” akhirnya bunyi “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg” lah yang memecahkan kesunyian antara dua sejoli ini.

#6 “Ya, udah cukup.” Jangan seneng dulu meeen. Banyak suara mengatakan, ujung-ujungnya, meskipun kalimat ini diucapkan dengan enteng, bisa jadi kita akan bertemu lagi dengan ujian ini, masih dengan blok yang sama *baca: remed.

Dan nggak jarang jawaban ini muncul, biasanya karena sang penguji sudah memahami, kalo otak kami sudah mampet, ngga bisa berpikir jernih lagi
#7 “Yaudah, dilengkapinya besok lagi aja ya dhek. Besok bisa aja kita ketemu lagi.” Yang ini, udah jelas, fix, paten. Dapet remidi soobb :’(

Kebetulan, kalo pas saya sih, enak-enak aja. pertanyaan pertama. Spesifik, jelas, dan tidak dibuat-buat #apasih ais ngga jelas lagi.

Kebetulan yang harus saya tambahkan itu adalah mengenai terapi nonmedikamentosa (terapi selain obat) untuk osteoporosis.

“Emh, iya dok, mungkin ibu harus makan-makanan yang tinggi akan kalsium. Kemudian tidak boleh melompat-lompat. Melakukan gerakan yang terlalu mendadak. Melakukan aktivitas secukupnya, terutama lebih sering di luar ruangan, agar mendapat sinar matahari. Jangan berjalan terlalu melenggak lenggok.: Tapi tahukah sodara-sodara? Apa yang saya lakukan pas kalimat itu terucap? Tiba-tiba pinggul saya berlenggak lenggok secara involunter!

“Eh, bentar dhek, oh gitu ya. Berarti penderita osteoporosis ngga boleh jadi model ya? Nggak boleh kemayu ya?” sambil terkikik pelan setelah melihat gerakan involunter saya. Terus jadi mikir, ngapain ibu-ibu osteoporosis jadi model?

“Eeh, ehm.. i.. iya dok.. ngga boleh terlalu berlebihan tetapi maksudnya, misalnya gini dok..>> dan ini saya praktekkan! Masya Allah..
Beliau terkikik lagi. Dan suasana mendadak sunyi kemudian, “Yasudah oke dhek. Sekarang ayo tambahin lagi yang lain. Ada yang belum lho..”

“Duh, apa ya dok? Ehmm.. err.. oh… eehmm..”

“Kriiinggggggg!!!!” "eh, iya makasih dok, maaf dok ngga selesai. Makasih dok, Mari.." *buru-buru ngibrit ke pintu keluar.* 7 menit yang horor itu sudah berlalu!

Beruntungnya saya kali ini adalah, ini adalah blok yang luar biasa padatnya. Dan, tentu saja ngga mau mengulang ujian lagi dong.. Semoga LULUS! Itu doa kami semua. Dan tibalah waktu pengumuman. Eh, jangan sedih, pengumuman lulus atau ngga lulus itu biasanya cuma beda beberapa jam saja dengan jam ujian remidinya. Misalkan ujian remidi hari jumat jam 8 pagi, maka pengumumannya akan dikeluarkan hari kamis, jam3 sore. Ngga tentu juga sih, tapi seringnya begitu! Hsshh..

Ya begitulah teman2 pengalaman saya dan mereka. Masih ada lagi kok, tenang aja. Tapi ini dulu deh yang dirilis yaak hahaha.

Antara Lawak dan Ujian [1] part 1


Bismillahirrahmanirrahim..

Setelah sekian lama hibernasi, akhirnya muncul lagi. Tenang, kali ini bukan mau bicara soal jodoh kok, belum ada minat lagi, tapi, ngga janji juga tema itu ngga bakal dibahas lagi keesokan bulannya hehe^^
Sekarang, mau bahas tentang ujian, bukan ujian hidup, tapi ujian beneran! *emangnya ujian idup bukan ujian beneran -_-

Hmm, jadi, perkenalkan, kami mahasiswa, pasti riweuh kalo yang namanya ketemu sama ujian. Apalagi, kami, saat saya menulis ini, sedang bertemu dengan blok yang luar biasa sibuknya, blok DMS *DermatoMusculoSceletal*

Bisa dibayangkan kah? *agak nggak kebayang* Yaudah, ngga usah dibayangin juga sih. Sekarang mau cerita soal ujiannya aja ya. Ada beberapa kekonyolan mahasiswa kedokteran waktu menjalankan pendidikan selama ini. Salah satunya kekonyolan waktu ujian, termasuk saya.

Oke, dijelaskan dulu ya, salah satu ujian yang paling bikin kita agak keringat dingin dan gemetaran sebelum masuk ruang ujian adalah ujian SOCA. Apalagi bagi yang belum pernah mengalami SOCA. Apa itu SOCA? SOCA adalah ujian yang bikin gemeteran dan keringet dingin sebelum kita masuk ruang ujian. Eh, udah dijelasin ya? Ya maap, selain itu ujian ini adalah ujian yang dianggap sebagai ujian IMAN kita sebelum masuk hari ujian. Apakah sholat kita rajin (bagi yang muslim) ataukah ibadah kita sehari-hari sudah dilakukan dengan baik (bagi yang selain muslim, ya, hehe). Kok bisa? Yah, entah, kadang meskipun udah belajar mati-matian dan yakin bakalan lulus, ternyata hasilnya…. Ya, ujian ini unpredictable sekali, TERKADANG. 

Kadang belajar cuma sedikit, tapi ternyata hasilnya, LULUS.. yah, kita pun berasumsi, teman kita yang beruntung itu, udah rajin banget berdoa, dan hasilnya, dimudahkan waktu ujiannya. Hmm, wallahu’alam.
Jadi, SOCA ini adalah ujian, di mana sistemnya adalah sistem presentasi, kepanjangannya Student Oral Case Assesment. Namanya aja udah ketebak ya, gimana ujiannya. Sistematikanya adalah 

Karantina, bersama teman-teman sejawat >> masuk ke ruang tunggu, tanda tangan, absen  >> lari ke meja soal >> kerjakan soal dengan menulis di transparansi (waktu 7 menit)>> lari ke ruang ujian >> presentasikan hasil jawaban kita (7 menit)

Gampang kan? Gampang sih, yang susah kadang soalnya (buat yang nggak belajar tentunya, tapi, lain lagi buat yang belajar, tapi ternyata soalnya yang keluar bukan yang dipelajarin -_-. Jadi, masalahnya bukan udah belajar atau belum, tapi udah berdoa dapet soal yang bisa dikerjain atau belum.
Lalu soalnya sebenarnya gimana sih? Soalnya itu dianggap seperti kita sedang dihadapkan dengan pasien. Jadi, kasusnya, contoh ya.. “Seorang pasien datang dengan keluhan bla-bla-bla, dst…. Biasanya pertanyaannya itu apakah diagnosis anda tentang penyakit tersebut, mekanisme terjadinya penyakit, satu lagi, apa obat atau terapi yang bisa diberikan. Nah, ujian di blok kemarin, saya menemukan suatu keganjalan, dengan jawaban saya waktu soal TERAPI ini. Cuplikannya seperti ini ....
[to be continued]

Minggu, 04 Maret 2012

Polisi Lagi... Polisi Lagi... part 2


Siapa polisi itu??
Bukaaan, bukan Saeful Bachri, waktu itu beliau juga belum booming kok. Bapak polisi bilang, "Yaudah mbak, dianter ke rumah sakit aja, bisa ke rumah sakit Bunda atau PMI. Tapi, mbak bawa SIM dan STNK kan? Mana mbak?" Pak polisi lagi-lagi nodong SIM sama STNK, untung bawa, coba kalo ngga, alamat ditilang lagi niih.. Tiba-tiba nih, ada Bapak-Bapak nyeletuk, "Pak Polisi, mbaknya nggak salah. Yang salah Pak becaknya, mau belok kanan ngga liat belakang dulu." Tapi, tetap saja, mau yang salah aku atau siapa, harus ada yang nganter Bapak Becak ke Rumah Sakit.
Bapak Becak dianter sama temennya yang tukang becak naik becak, aku sama Dinda naik motor. Bapak korban udah jalan duluan, kami ketinggalan. Tapi, karena ngga tahu di mana itu rumah sakit, sempet nyasar. Akhirnya nanya deh, ke Bapak yang lagi kerja bangun rumah.

Sampai di rumah sakit. Bapak becak langsung dijemput perawat, dibawa ke ruang Bedah Minor. Apa banget nih. Katanya sih, karena mereka mengira ini korban kecelakaan, akhirnya, mereka meletakkan Bapak tersebut di Ruang Bedah Minor yang ada lampunya di atasnya. Aku keluar lagi, ngurus bapaknya yang ngenter tadi. Karena kasihan bapaknya juga mau cari duit, akhirnya kubiarkan pergi. Tadinya mau aku suruh nungguin sampe Bapak Korban selesai dirawat, tapi, kasihan juga. Akhirnya aku bayar deh biaya pengantaran, dan membiarkan beliau pergi.

Dinda ngurus administrasi. Bolak-balik dari Ruang Bedah Minor, ke loket administrasi.
"Ini mbak, diisi dulu. Nama Bapaknya siapa Mbak?"
"Waduh, ngga tahu Bu. Coba, saya tanya dulu." Ke ruang bedah minor, "Pak Muhardi, Bu."
"Usianya?" balik lagi ke Ruang Bedah Minor.
"Bapaknya Ngga tahu usianya berapa Bu.. Katanya 70an gitu, Bu."
"Alamatnya deh, mbak. Kalo nggak sekalian KTPnya." zz baliiik lagiii..
"Kecamatan Kembaran, Bu. Bapaknya ngga bawa KTP bu."
"Nama orang tuanya?" zzzzzzz, tuh ibu-ibu pengen aku remet-remet. Nanya kok nggak sekalian aja...
"Yaudah deh, bu. Apa aja yang perlu saya tanyain ke Bapaknya? Biar ngga usah bolak balik." -____-

Selesai urusan administrasi, ngeliatin bapaknya lagi dirawat. Lukanya ditutupin eh, diobatin sama perawat. Setelah itu, aku capek, pindah ke ruang Tunggu.
"Nih, is lecet.."
"Haaah?? Dind??? Kok nggak bilang??? Ya Allah... iya, sampai sobek celanamu.. Aku ganti deh..."
"Ngga usah is, ngga papa kok. Lagian aku beli celana ini cuma 25 ribuan." Dinda...Dinda... celana trainingnya sampai sobek di bagian dengkulnya.

Dokternya datang. Masih muda, kulitnya putih, mata sipit. Kayak anak boyband gitu. Tapi, judesnya minta ampuuun. "Mbak, itu bapaknya dibeliin minum, beliau agak dehidrasi." Mukanya datar banget, lebih tepatnya agak jutek. Yaudah deh, manut aja.Kayaknya jaman dulu Pak Dokter ngga lulus blok PDSKE (blok komunikasi efektif), makanya jutek. Setelah itu, kata perawat harus nunggu setengah jam, buat diobservasi. Apakah terjadi gegar otak ringan atau tidak. Sambil nunggu, kita ngajak bapaknya ngobrol.

"Maaf, ya pak, saya tadi juga agak bingung, soalnya bapak nggak ngeliat belakang. Saya mau berhenti, tapi di belakang saya juga ada motor.."
" Maaf juga ya mbak, saya juga salah, Maklum sudah tua." 
Bapaknya pun bercerita tentang anak-anaknya, istrinya, dan lain-lain. Yang bikin agak miris adalah, bapaknya sudah agak sepuh, dan tangannya agak tremor.

Masa observasi selesai. Alhamdulillah, bapaknya nggak kenapa-napa. Tibalah waktu pembayaran. Hmm, karena di rumah sakit swasta, biaya cukup mahal. Sekitar 150 ribuan lah, lupa tapi hehehe...
Kemudian, aku dan Dinda kembali ke pos polisi untuk mengambil SIM dan STNK. Kami sekalian nganter bapaknya ikutan. Bapaknya naik becak. Kita cariin becak lagi deh. Bukti, kalau kita sudah melaksanakan perintah pak Polisi.
"Lain kali hati-hati pak. Kalau mau nyebrang liat belakang dulu." kata pak polisi ke bapak korban
Selesai perkara. Aku ke Bapaknya tukang becak lagi. "Pak, gimana? Mau dianter sampai rumah atau ke Pasar Wage lagi aja?"
"Ke pasar wage aja mbak. Saya minta ganti rugi juga, mbak. Saya kan ngga bisa narik selama seminggu, Saya minta 200 ribu aja cukup mbak."
Waduuh. Pikir-pikir 200 ribu itu banyak lo. Mana nggak bawa uang. Uangku udah abis buat ngganti biaya perawatan. Akhirnya, bernego agak sengit dengan bapaknya. Membela diri, kalau kita itu perantau, nggak punya duit, udah mau pulang kampung, dan sebegainya.
"Maaf pak, kita nggak punya uang, saya cuma bisa ngasih segini. Lagian juag tadi saya udah ngganti biaya pengobatan. Bapak juga cuma lecat-lecet kok. Nggak sampai seminggu libur narik." DEAL. Aku cuma ngasih 50 ribu. Itu juga minjem uang PSDM. Tapi, tenang, udah aku balikin kok sekarang. Tiba-tiba...
"Mbak Aisyah, sini deh." terdengar suara memanggil dari dalem pos polisi., "Tadi mbak Aisyah ngasih bapaknya uang ya?"
"Iya pak. Bapaknya minta ganti rugi,"
"Berapa?"
"50 ribu, pak."
"Ikhlas?"
"Alhamdulillah ikhlas." Tadinya agak nggak rela. Tapi, setelah bilang kalimat itu. tiba-tiba plooong.. Makasih Pak Polisi ^^
"Yaudah, lain kali ngga perlu mbak. Toh, mbak juga udah bayar biaya perawatan rumah sakit. Lagian, mbak juga nggak salah kok."
"Oh, iya pak. Makasih.."
Cabut dari pos polisi. Yah, ada pelajaran yang bisa diambil. Jangan mau diperas siapapun. Meskipun memang bapaknya kasihan, tapi tetep aja bisa merugikan aku, sebagai pihak yang tidak terlalu bersalah, hehe.
Karena sudah siang, dan masih harus ke bank, serta mengantri dan bla-bla-bla, aku akhirnya ngga jadi pulkam hari itu. Akhirnya aku pulang kampung leesokan harinya, hiks ...

Polisi Lagi... Polisi Lagi...

Bismillahirrahmaanirrahim..

Sebenarnya ingin berbagi pengalaman. Siapa tahu bermanfaat. Kejadian ini terjadi tanggal 9 Januari 2012, pukul 10.12. Wkwk, untuk jamnya saya cuma mengira-ira, lupa tepatnya jam berapa, tapi yang jelas jam segituan lah.
TETAPIII, sebelum menceritakan kronologi kejadian, cerita kejadian sebelumnya yaaah hahaha.
Kebetulan, hari itu ulang tahunnya salah satu teman kosan, yakni Yahdiyani Razanah a.k.a Diyan. Wkwk, maaf yan, hadiahku belum nyampe ke kamu ya hahaha *belum ngado maaf ya hiks. Jadi, aku dan Fathia bermaksud memberi kejutan, tapi, sederhana aja, cuma disiram pake aer. Trus udah, abis itu, aku sekalian mandi. *maaf yan, perayaan ulang tahunmu nggak banget hahaha

Abis itu, rencana mau ke kosan Dinda, lalu pergi ke Bank. Nabungin uang PSDM yang masih di aku. Abis nabungin uang, rencana mau pulang kampung hari itu juga. Udah kangen rumah haha, maklum masih libur waktu itu. Sekarang mah, udah masuuk TT. Tetapi, rencana tinggallah rencana hiks.

Di kosan Dinda, agak lama, nungguin Dinda bukain pintu gerbang kosan 2 menit. Gara-gara hape Dinda kalo di SMS ngga bunyi, baru bunyi kalo ditelpon. Baru tau kenyataan itu pas LKMM kemarin juga zzz.
"Pantes, kalo di SMS ga bales-bales", kataku.
Kata Dinda, "Makanya telpon ajaa".
Hissh, "Mana punya pulsa akuu," protesku.
Dia jawab lagi, "Makanya beli pulsa di aku. Sekarang aku jualan pulsa lhooo..." tuh kan, ngga nyambung, malah promosi.
Abis dibukain gerbang, ngga langsung berangkat. Tapi, aku lupa ngapain dulu gitu. Pokoknya, sambil nungguin Dinda aku main The SIMS 2 yang ada di laptopnya dia. Sumpah, ini mainan nguji kesabaran banget. Loadingnya, lelet banget. Cuma mau action ngomong aja pake nunggu 15 menit biar muncul tulisannya. Zzz, pantes, orang yang punya aja gitu *wkwk, maaf dind ^.^v, tapi kan yang penting namamu udah aku cantumin di blogku huahaha.

Akhirnya Dinda selesai siap-siap. Tapi, mainan the SIMSku ngga selesai. Yang ada, aku udah pasrah banget sama kelemotan itu mainan. zz, padahal sebenernya asik lho. sik asik sik asik mainan the sims #nadanya ayu tingting. #plaaak, apasih ais ngga jelas.

Keluar dari gerbang, ngga ada masalah. Keluar dari gang, sedikit masalah. Jalannya agak curam naik, sekitar 75 derajat kemiringan kali yak. Gara-gara ngebonceng orang, jadinya harus pake gigi 1. apalagi Dinda yang aku boncengin, huahaha. Jadi begini kronologinya.
Jalanan udah mau naik, di perjalanan, jalannya berlubang penuh kerikil dan digenangi air. "Bisa kan Ais?"
"Bisa, Dind, Insya Allah. Udah kuat kok."
Pas udah hampir ke puncak, aku lupa, "Aduuh, masih gigi 2. Gimana nih?" harusnya udah gigi 1, kalo ngga, ngga bisa ke puncak zzz. Mau berhenti, ntar melorot ke belakang, tapi kalo mau ngurangin, harus nggak digas motornya.
"Aduuh, nggak kuat Dind.." aku mendesah, sambil tetep ngegas. Tapi, mungkin Dinda nggak dengeer hiks.
"Ayoo, AIS PASTI KUAAAT... AIS PASTI BISAAAA!!" Tapi, pas Dinda ngomong gitu, motorku melorot, hiks. Dan apa yang dilakukan Dinda? Bukannya turun dia malah tetep duduk nangkring di jok, padahal aku udah nggak kuaat... hosh hosh hosh. Tetapi, energi postif dari Dinda membuatku tetap bisa melangkah ke depan #glek, itu udah sekuat tenaga ngegas bentar, terus berhenti ngegas, dikurangin ke gigi 1. tapi sempet meloroot juga. Hahaha, jangan dibayangin, soalnya kalo diliat lucu banget kondisinya.

Masalah kecil, selesai. Perjalanan dilanjutkan. Masih biasa. nggak ngebut kok. tapi, pas di depan kompleks Pasar Wage.. kejadian itu terjadi.... Masalah BESAAAAR
Sebenarnya masih asik ngobrol sama Dinda, tapi aku masih fokus liat ke depan. Terus, tiba-tiba ada pak becak yang mau ke arah kanan, ke arah kompleks pasar wage gitu. Tapi, aku udah keburu di belakang bapaknya, niatku, aku mau nrabas bapaknya, biar aku aja yang lewat dulu, karena waktu itu, motorku agak ke arah tengah jalan, tetapi, aku gak sempet nglakson untuk ngasih tau bapaknya biar berhenti sebentar, buat biarin aku lewat, Alhasil, bapaknya tetep nggenjot itu becak, dan akhirnya, AKU NABRAK bapak TUKANG BECAK.

Sesaat setelah nabrak, aku menyeimbangkan motorku, Dinda, untung nggak jatuh. Motorku juga untung Alhamdulillah nggak sampe lecet-lecet. Terus, karena sadar udah stabil, maskipun masih shock, aku jalan terus. Aku jadi lupa kalo abris nabrak orang. Kirain bapaknya akan baik-baik saja, tetapi ternyata..
"Mbaaaak... Woyyy, jangan lariiii..." aku liat di spion, ada sesosok terkapar di aspal, dengan becak terbalik di sampingnya. Glek, bapaknya gemetaran di aspal. Aku langsung puter balik.

Parkir di tempat seadanya, terus ke arah bapaknya. Becaknya udah diamankan, tapi, bapak becak masih bertanya-tanya, "Becakku piye, becakku piye...(becakku gimana, becakku gimana...)". Berdiri diam, bingung mau ngapain. Speachless. Bapaknya udah tua banget. Aku liat di kaki bapaknya. Berdarah. Nggak, biasa aja, aku nggak takut sama darah kok, wkwk. Tapi, kayaknya, bapaknya cuma lecet-lecet sedikit. Mungkin beliau agak shock. Begitu pula dengan aku dan Dinda. Hiks..

Akhirnya, tanpa sadar, di sebelahku ada bapak Polisi. Apakah Saeful Bachri??
To be continued... 

Sabtu, 25 Februari 2012

MARI BELAJAR BAHASA JAWA

Bismillahirrahmanirrahim..

Yuk, lagi aktif posting nih. Hahaha, tapi, karena tidak ada inspirasi tentang apa yang akan diposting, jadi mau copas aja deeh hehe, pisss...

Tapi, maaf banget nih, saya lupa sama sumber dari postingan ini, tapi yang jelas, ini lucu sekali, meskipun kadang agak kasar.
jadi begini, saya hanya ingin menceritakan kebanggaan saya sebagai orang Jawa TULEN. Kenapa TULEN? Karena saya adalah keturunan dari seseorang yang bernama Kakek Martodhikromo. Itu nama kakek saya. Hahaha. Jawa BANGET THO? Tapi tenang, wajah saya kearab-araban kok *kabur, hampir dilempar sandaaal..
 Nah, saking bangganya saya sama JAWA, kebetulan saya mendapatkan suatu yang menarik tentang bahasa Jawa yang belum diketahui banyak orang. apa itu? Check THIS OUT!!!

copas dari sebuah grup:
School of Oriental and African Studies (SOAS) London, menetapkan bahasa Jawa sebagai bahasa wajib dipelajari mahasiswanya.

Karena berdasarkan Summer Institute for Linguistics (SIL) Ethnologue Survey 2011, penutur bahasa Jawa di dunia ternyata berjumlah 77,75 juta orang, lebih banyak daripada penutur bahasa Korea yang sebanyak 76,5 juta orang maupun bahasa Perancis yang hanya... sebanyak 76 juta orang.
...
Kemudian, berdasarkan penelitian, penggunaan bahasa Jawa lebih efektif dibandingkan bahasa Inggris sekalipun, setidaknya dalam 29 contoh berikut:
1. walk slowly on the edge (side) of the road = mlipir.
2. fall backward and then hit own head = nggeblak.
3. got hit by a truck that is moving backward = kunduran trek.
4. talk too much about unimportant thing = cangkeman.
5. smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it = mblonyo.
6. going without notice/permission = mlethas.
7. taking the longer way to get to the destination = ngalang
8. riding an old bicycle = ngonthel.
9. falling/ tripping forward (and may hit own face = kejlungup.
10. side effect after circumcision = gendhelen.
11. hot pyroclastic cloud rolling down a volcano = wedhus gembel.
12. a small, sharp thing embedded inside one's skin = susuben/ ketlusupen.
13. spending a lot of time doing nothing =mbathang.
14. feeling uncomfortable because there is something that smells bad = kambon.
15. things getting out from a container accidentally because of gravity = mbrojol.
16. get hit by thing collapsing on top of one's head/ body = kambrukan
17. drinking straight from the bottle without using glass, where whole bottle tip gets into the mouth = ngokop.
18. cannot open eyes because something is shining very bright = blereng.
29. cannot hold bowel movement = ngebrok.
20. something coming out from one's rear end little by little = keceret/ kecirit.
21. hanging on tightly to something in order to be inert = gondhelan.
22. falling/ tripping accidentally because of a hole = kejeglong.
23. doing something without thinking about the consequences = cenanangan.
24. being overly active carelessly = pecicilan.
25. feeling unwell because of cold temperature = katisen.
26. making too much noise, disturbing other people= mbribeni / mblebeki.
27. tripping over accidentally caused by wires, cloths, gowns etc. = kesrimpet.
28. being alone (or with a companion) in the corner of a place/ room doing something suspicious= mojok.
29. pretend to be homeless, no money and never take shower=nggembel

BUAT YANG MAU BELAJAR BAHASA JAWA, bisa menggunakan postingan di atas sebagai KAMUS SINGKAT. HAHAHA. Kabuuurr aah

Kamis, 09 Februari 2012

Salam PWT (Tilang yang 'Asik')


Bismillahirrahmanirrahim..
Sudah lama tidak posting mengenai kehidupan nih hehehe. Padahal sudah hampir setengah tahun mengalami perubahan hidup yang cukup signifikan. Alhamdulillah, kali ini, ingin menceritakan pengalaman, ketika sudah berganti status. Bukan status relationship yah, itu mah masih sama aja, hehe masih lajang, alhamdulillah.
Mahasiswa. Sebelumnya sudah ada posting mengenai itu, ya. Tetapi, itu bukan pengalaman pertama. Ada pengalaman yang cukup menarik. Terutama dengan kota (atau desa?) yang menjadi domisiliku saat bersatatus mahasiswa.
Menghabiskan masa SMA di kota besar, yaitu Semarang, membuatku jadi suka hidup yang simple-simple saja. Maklum, di kosanku waktu SMA dulu, sangat gampang kalau mau mengakses fasilitas yang cukup mewah (?). sebenarnya tidak bisa dibilang mewah-mewah banget juga sih. Tapi, hal ini tidak bisa ditemui di rumahku, di desa. Contohnya, mau beli buku, gampang. Tinggal keluar gang, belok kiri, sampai deh. Mau belanja kebutuhan bulanan apalagi, tinggal pilih, mau ke Hyp**mart, itu belok kanan, atau Carre***, belok kiri (tapi agak jauh, hehe). Butuh internet? GAMPANG. Tinggal nyalain laptop, terus tekan tombol wifi. Tunggu sesaat. Cari sinyal yang namanya DINBUDPAR. Tanpa password, tinggal connect. Parah bangeeet, mau download film, yang gedenya sampai 700 MB atau lebih, nggak nyampe 1 jam, ckck.
Tetapi, sekarang, kehidupan berubah. Setelah hampir 2 bulan menghabiskan waktu di rumah, tanggal 6 September 2011, aku harus ke PURWOKERTO. Sebenarnya sebelumnya sudah sempat ke sana untuk mengikuti OSPEK UNIVERSITAS, dan OSPEK FAKULTAS. Tetapi, belum ada pengalaman menarik. Jadi, skip aja ya hehehe.
Keadaan itu memaksaku untuk bertualang wkwk. Maksudnya mencari tempat belanja bulanan hahaha. Karena kebetulan kampusku ini terisolir dengan jurusan lain, jadi, fasilitas yang kami dapatkan tidak sama dengan yang didapat mahasiswa dengan universitas yang sama denganku, hiks. Jadilah aku dan teman-teman yang lain harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mendapatkan barang-barang yang kami butuhkan, hmm.
Lanjut, hari itu, sehari selepas masa ospek selesai, tanggal 11 September jam 2 siang, aku dan teman satu kos memutuskan untuk refreshing. Hahaha, kami bukan pergi ke mall, (karena tidak ada mall :3 ataupun bioskop, karena nggak bisa diandalkan nih bioskop, hiks), jadilah kami pergi ke apa ya namanya, mungkin sejenis toserba ‘like a mall’. Judulnya MORO. Kami berlima naik motor. Tapi bukan hanya 1 motor ya, ada 3 motor, aku lupa susunannya, pokoknya aku sendiri, nggak ngeboncengin siapa-siapa.
Sebelum berangkat aku sempat bilang,“Di, itu lampu motormu kok nyala sih. Hahaha, dimatiin doong.” Akhirnya Diyan mematikan lampunya. Tetapi, ternyata, hal itulah yang membuat kami semakin terperosok, eh, terjerumus, eh, apa ya, pokoknya itulah yang membuat nasib kami semakin buruk.
“Lalala…lalala..lalala..” hati-hati aku menaiki motorku. Tidak ada firasat buruk. Sampai akhirnya, di depan ada lampu merah. Tenaaaang, kami sadar kok kalau ada lampu merah. Tapi, ada hal lain yang membuat kami tertimpa nasib buruk. Oh ya, FYI, kami bertiga berhenti tepat di depan marka sebelum lampu merah secara berjejaran, tetapi ternyata, hal itulah yang membuat kami menjadi perhatian dari pihak yang memerhatikan.
“Mbak-mbak silahkan minggir ke sana ikut saya.” Seorang bapak menaiki motor gedhe tiba-tiba menghampiri kami bertiga. Waduh, kita salah apa??
“Mbak, bawa SIM dan STNK?” bla..bla..bla.. entah perasaanku kabur atau gimana tiba-tiba aku sudah berada di dalam pos polisi, hiks.
Di dalam kami dijelaskan, ternyata, kami melanggar marka yang ada di jalan. Marka yang harusnya untuk pengemudi yang mau ‘belok kiri jalan terus’ itu. Tapi, jujur, kami bertiga tidak melihat ada garisnya. Beneraaan!!! Garisnya udah BLUUR!!!
“Maaf, pak, kami minta maaf. Bener deh, pak.” kata Diyan (si protagonis).
Tapi, aku bilang, “Loh, pak, itu garisnya udah ilang. Gimana kami bisa ngeliat pak. Ya mana tahu kalau kita ngelanggar?” di satu sisi ada yang sudah mengalah, tapi, aku masih nggak terima (Jadi di sini aku jadi pemain antagonisnya). Sedangkan si Viny sama Fika yang pembonceng jadi tritagonis, yang bingung mau ngikut yang mana. Satu lagi, si Fathia, agak ngotot pengen di pihakku, tapi juga agak bingung (kayaknya).
Entah mimpi atau gimana, tiba-tiba aku bilang,“Lho pak, itu ada juga yang ngelanggar.”
Tiba-tiba bapaknya bilang,“Mbak, mencari kesalahan orang lain itu memang gampang. Mbak, saya itu bukan orang pinter yang bisa nyari kesalahan orang banyak. Tapi, justru itu, saya juga ndak mau suka nyari-nyari kesalahan orang lain mbak.”
“Laah, brarti SAYA BODOH pak??” GUBRAK!! Aku kenapa coba. Waktu itu, benar-benar terbayang kalau aku ini habis makan durian kebanyakan. Jadi mabuk durian dan ngomong jadi ngelantur nggak jelas, zzz.
“Mbak ini, masih pada kuliah ya?” sebelumnya kami sudah sempat senggol-senggolan, “Ssstt, pokoknya jangan sampai Bapaknya tahu kita ini mahasiswa jurusan ini. Bisa berabe, baru aja selesai ospek udah bikin masalah." Tetapi, ternyata pesan itu tak tersampaikan ke temanku yang duduk paling tengah. Zzzz, DIYAAAN, kamu dari MANAAAAAH?? Waktu tadi kita senggol-senggolan, kamu lagi kesenggol APAAAAH?? Memang sih, Diyan nggak sengaja di skip waktu ada senggol-senggolan. Kirain dia denger, lah, ternyata…
“Iya pak.”
“Ooooh, jurusan apa?”
“Jurusan kedokteran pak.” Dalam hati pengen tereak, Diyaaaaan!! 
Yaudah, alhasil bapaknya tahu, kita anak mana, kampusnya di mana. Tiba tiba bapaknya nyambung.
“Oh, ya, istri saya juga orang kesehatan juga. Beliau ngambil S2 di bidang kesehatan juga kok, dek. Jadi, kita masih bisa saudaraan ya.” Pak? Saudaraan cuma karena sama-sama belajar hal yang sama? Yaudah, deh, ndak apa-apa, toh kita juga sesama muslim saling bersaudara.
“Naaah, itu dia pak. Karena kita bersaudara, makanya tolonglah pak, jaga silaturahmi. Jadi tolong, Pak...” Diyan meminta belas kasihan. Aku udah nggak mood ngomong sebenernya. Udah hampir setengah jam diceramahin sama Bapaknya.
Pokoknya, hari itu, aku lupa ngomong apa aja sama Bapak Polisi itu. Tetapi, sepertinya Bapak itu paling marah sama aku. Namaku ditulis paling pertama di SLIP penilangan. “Yaudah Mbak Aisyah sidang aja ya. Ini tanggalnya, nanti STNK bisa diambil waktu sidang. Mbak Aisyah ada dua pelanggaran, yang pertama meLANGGAR GARIS, yang kedua TIDAK MENYALAKAN LAMPU.” Aku pengen teriak beneran, DIYAAAAAAAN!!!. Dan alhasil kami bertiga punya kasus penilangan yang sama. Kita dikasih surat tilang buat ngganti STNK yang disita.
Sebetulnya sebelumnya udah usaha mau titip aja, ke Bapak Polisi, nanti, bapaknya yang dateng waktu Sidang, tapi kita bayar 100 ribu dulu. Kembalinya bisa diambil waktu sidang. Tapi, sama aja, STNKnya tetap aja disita. “Titip ajalah, PAK. STNK kita yang bawa…” tapi Pak Polisi tetap tidak mau. Yasudah kami putuskan sidang.
Subhanallah yah, pak Polisi di PWT (PURWOKERTO) hebat. Yah, meskipun akhirnya sidang juga, tapi ndak papa deh, jadi pelajaran, kalau sidang itu ternyata menyenangkan. Hahaha, menyenangkan kalau datangnya pas SIDANG UDAH SELESAI, alias terlambat. Soalnya pas hari Kamis tanggal 29 September 2011 itu kita ada kuliah jadi nggak bisa bolos cuma buat sidang, nelat deh. Tapi, justru karena telat itu, urusannya jadi gampang. Hehehe, tinggal duduk, bayar denda, selesai. STNK kembali di tangan. Tapi ya kalau bisa sih, JANGAN TELAT. Oh ya, selalu pilih jalur yang jujur juga. Karena uang kita kan jadi masuk ke KAS NEGARA. Tapi, yang jelas, jangan SUKA MELANGGAR dan BIKIN PAK POLISINYA BETE. :)

Sabtu, 23 Juli 2011

Telepon Misterius [1]

Bismillahirrahmanirrahim, sudah lama tidak posting, tiba tiba pengin posting pengalaman masa SMA .. hehehehe

Sabtu 22 Januari 2011


rasanya senang sekali punya waktu luang untuk pulang setelah sekian lama tidak pulaaang :(

hari itu, sebenarnya hari yang sangat mepet untuk bisa pulang ke rumah, tapi, mau gimana lagi, udah kangeeen :)

meskipun memang masih banyak try out yang harus dijalani waktu itu, tapi, karena sudah lama tidak pulang ya sudaah hahaha :D

sebenarnya tidak ada cerita menarik sepanjang malam ada di rumah. Seperti biasa, hanya tidur, nonton tv dan ngobrol dengan ibu bapak.
Tetapi, kejadian berbeda ketika jam menunjukkan pukul 2 malam. Kami semua sudah terlelap tidur tentunya. Kejadiannya bermula ketika ada suara telepon berdering. Ternyata telepon rumahku yang menyuarakannya. Tergopoh-gopoh (karena masih ngantuk) ibuku pun menuju sumber suara.

"Assalamualaikum" ibuku mengawali pembicaraan.
"Waalaikumussalam, maaf ibu mengganggu malam-malam, betul ini dengan rumah Bapak .... (menyebut nama bapakku)? suara pria yang agak ngebass (kata ibu) terdengar di horn telepon. Heran ibuku, kenapa telepon malam-malam?
"Iya betul pak, maaf ini dengan Bapak siapa? Ada keperluan apa ya, pak? Kok telepon malam-malam begini." ibuku sudah cemas sepertinya..
"Begini bu, saya hendak menyampaikan suatu berita, saya (sebut saja) Charles (maaf sekali kalo ada yang namanya sama, tidak bermaksud..), saya dari pihak kepolisian kota... (menyebut nama kota), ada sesuatu hal yang harus disampaikan ke ibu. Sebelumnya saya ingin bertanya dulu ibu, anak ibu ada yang sekolah di luar kota ya?
Ibuku pun mengiyakannya, kok bisa tahu ya orang ini? Dalam hati ibuku pun bertanya-tanya. Apakah anaknya ini termasuk golongan orang terkenal. Saat itu sebenarnya, ibuku hanya berpikir dua hal, kalo ngga aku memang terkenal di kota itu, atau mungkin aku berbuat keonaran di kota itu.
"Begini bu, anak ibu mengalami kecelakaan bersama dengan dua orang temannya. Saat ini anak ibu dalam kondisi kritis di rumah sakit.."
"Oh begitu pak, lalu?" terdengar suara ibuku biasa saja. Tanpa nada cemas sama sekali.
"Iya bu, anak ibu dalam keadaan kritis, karena kepalanya terbentur benda tumpul. Kepala anak ibu bisa dibilang mengalami kerusakan yang cukup parah.Sedangkan salah satu teman dari anak ibu sudah meninggal."
"Oya pak, lalu saya harus bagaimana, Pak?"
"Karena anak ibu masih belum ditangani di rumah sakit, jadi ibu bisa mengirimkan uang.... (suaranya memelan, tiba tiba menghilang) tut tut tut tut" telepon terputus. Ibuku heran lagi.

"Itu orang malem-malem nelpon udah susah-susah ngangkat, eh, diputusin tiba-tiba! Mana ternyata cuma hoax!" (ga juga sih kalo ibuku bilang itu adalah sesuatu yang hoax, maklum, ibuku agak gaptek, nyambungin kabel buat connect internet aja ndak bisa, gimana mudeng hoax itu apa --") Ibuku menggerutu. Aduuh, ibu, ternyata dirimu sungguh tidak sayang anak. Anaknya dibilang kecelakaan malah biasa saja. Jadinya, sang penelepon pun putus asa, dan tidak melanjutkan pembicaraannya. Yaiyalah, orang anaknya aja lagi pulas tertidur!

Hikmah yang bisa diambil adalah, SAYANG ANAK SAYANG ANAK. hehehe, ngga ding, hikmahnya adalah "Jika ingin menipu seseorang, tidak hanya diperlukan data yang valid saja, tetapi juga waktu yang mendukung." waduh, jangan deh, masa hikmahnya begitu. mari kita ralat, "Teman, janganlah suka menipu, meskipun ada kesempatan dan data data yang mendukung." wehehe, kok hikmahnya aneh yah

akhir kata, menerima kritik dan saran untuk perbaikan terutama untuk part 'hikmah yang bisa diambil' ^^
Wassalamualaikum