Minggu, 13 Januari 2019

Bahagia - Menutup Internship


"Harap tanggal sekian - sekian - sekian pukul 14.00 seluruh peserta mengumpulkan tugas, dan absen beserta logbook berisi 400 kasus. Tanggal ....."

Baca jarkom rasanya udah deg-degan, dan kepikiran, banyak target yang belum kekejar, tapi waktu sangat sempit. Belum juga belajar buat ACLS bulan ini, emang itungannya aku nekat ikut bulan ini, mepet-mepet sekali dengan penyelesaian internship dan sangat berkaitan dengan deadline-deadline yang sudah kutunda berkali-kali (ini aja ngetiknya sambil bikin laporan, karena nyicil absen belum bisa soalnya absen ketinggalan di tempat rantau).

Tapi, kok rasanya bahagia ya? Enggak cemas? Ah karena internship mau usai kali, makanya senang?

Jujur, sebenarnya cemas juga, karena banyak target yang belum terselesaikan berkaitan dengan tugas internship. Tetapi, ada hal yang membuatku bahagia. Dua hari yang lalu, aku mendapatkan kabar yang cukup menenangkan dan menyenangkan hati. Apa sih, apa, apaaaaa.....??

Sepertinya aku belum cukup siap bercerita disini (wkwk setelah bolos 30 hari bercerita sekian hari). Aku hanya ingin mengingatkan diri, bahwa momentum itu terjadi beberapa saat sebelum tulisan ini dibuat. Rasanya bahagia, meskipun sampai ditanya berkali-kali oleh sang pemberi kabar, "Kamu seneng nggak?" Mungkin dia merasa responku tidak cukup terlihat bahagia. Tapi, sungguh, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasakan bahagia dan lega dalam 1 waktu yang sama.

Meskipun kemarin aku berbuat salah kepada sang pemberi kabar, dia tetep sabar, dan mau melanjutkan semua proses. Eh, beneran mau kan? Harus mauuuu.....


Memang benar, kata sang pemberi kabar kalau aku harus merenung. Tapi, sungguh, aku bahagia, meskipun belum terlihat cukup bagimu. "Aku seneng kok, seneeeeeeeng bangeeeeeet........ Bismillah semoga aku bisa berubah jadi lebih baik lagi."

Aamiiin. Aku lanjut ngetik laporan yah, sungguh senangnya hatikuuuuu.



Kamis, 03 Januari 2019

Day 2 - Apakah Aku Cukup Kuat?

Assalamualaikum!

Yeaah, memasuki hari kedua dalam upaya 30 hari bercerita. Hari ini mau cerita random saja ah. Sebenernya kemaren juga cerita random. Mungkin besok juga, atau bahkan besoknya lagi, hingga 30 hari tiba, wkwkw.

Di tahun 2019 ini, kehidupanku sepertinya semakin ruwet. Kurang bercanda kali, ya.

"Kadang tuh kita perlu serius dalam bercanda. Bener-bener bercanda maksudnya. Nggak ada niatan untuk bicara yang serius." Eh apa sih maksudnya?

Jujur, karena menghadapi dunia kerja (yang akhir-akhir ini terasa begitu nyata nuansanya di hati, halah) membuatku jadi punya pandangan yang berbeda dalam berbagai hal. Kemarin waktu jaga IGD shift siang, aku jaga dengan salah satu  senior yang dikenal sangat humble. Sampai aku tiba di suatu pembicaraan yang cukup serius, mengenai 'penjatuhan karir seseorang dengan sengaja'

"Saya beneran disalah-salahin. Dibilang suka terlambat, susah diajak bekerja sama dengan tim."
Waktu itu aku cuma jadi pendengar pasif, karena ada orang lain yang memang terlihat aktif mendengarkan, "Saya sampai dipanggil sama pemimpin direksi karena laporan salah seorang pekerja itu. Saya cuma mikir, wong ya dia suka kerja bareng di shift yang sama dengan saya, kok ya nggak ngerasain sendiri saya seperti itu atau tidak. Bisa dicek absennya dulu gitu, tanyain rekan kerja yang lain, apa iya saya sampai begitu."

Padahal yang aku rasakan selama bekerja dengan beliau, beliau ini orangnya ramah senyum, nggak pernah menjatuhkan orang lain, dan sangat mau membantu orang lain, kesannya tulus gitu. Itu juga bukan aku doang yang bilang, beberapa rekan kerja setim juga setuju dengan sifat beliau yang ini.

Apakah dunia kerja sekejam dan sejahat itu? Kalau kata beliau sih, kenapa sampai beliau diperlakukan seperti itu, karena pada saat itu adalah fase dimana pengejaran 'jabatan' untuk orang yang seangkatan dengan beliau. "Saya nggak pernah punya ambisi buat gimana-gimana. Ya makanya sampai sekarang di saat mereka sudah ada di jajaran direksi, ya sudah saya mah di tatanan sini-sini aja."

Hmm... apakah benar-benar akan seperti itu? Apakah aku yang polos ini bisa melaluinya? Apakah aku cukup kuat?




Rabu, 02 Januari 2019

Sepertiga Setahun Kemarin "Menjelang Akhir Internship"

Assalamualaikuum!

Wah, sudah setahun saya tidak menulis blog. Sepertinya sudah semakin kaku tangan dan jiwa ini untuk menuliskan isi pikir. Salah satu revolusi (why? salah kali! bukannya resolusi?) 2019 saya adalah kembali menulis. Senangnya ketika kembali menulis adalah saat menumpahkan cerita hari ini, atau hari-hari sebelumnya, dan menjadi kenangan yang membahagiakan ketika membacanya kembali. Baik itu kenangan yang sedih atau kenangan yang menyenangkan. Eh, kenapa kenangan yang sedih malah membahagiakan? Karena hatiku senang, aku sudah pernah dan mampu melalui masa terberat dalam hidupku! 😊                                                                                                           

Oiya sekedar informasi, aisyah sudah hampir selesai melewati fase internship! Hehe, loh sudah selesai tho koasnya?! Iya dong! Kemana ajaaaa...

Iya, gara-gara nggak pernah nulis jadi begini deh. Maafkan aku blogku.. Sesungguhnya ini sedang minta maaf kepada diri sendiri, karena jadinya tidak pernah ada momen yang diingat dan direfleksikan melalui tulisan selama beberapa tahun terakhir. Bagaimana deg2annya menghadapi ujian akhir menjadi dokter, dan masa-masa menunggu sebelum akhirnya internship, dan sekarang tiba di masa internship sudah mendekati usai. 

Baiknya aku mulai dari mana dulu? Tujuannya adalah untuk mencatat memori yang lalu dan pernah dialami, jadi nggak sepi amat hidupku ini, udah ngga pernah baca, nulis pun nggak pernah πŸ˜•

Yaa di masa internship yang tadinya aku nggak berharap ini ada, lalu kini berubah menjadi rasa terimakasih, karena ternyata pengalaman yang cukup banyak muncul ketika fase ini. Menghadapi hiruk pikuk tanggung jawab dunia kerja yang mulai terasa nyata.

Jadi masa internship itu akan dijalani selama 1 tahun, dan akan dialami oleh semua dokter umum fresh graduate. Ndak tau sih kalo ada yang ndak ngalamin, tapi setahuku peraturannya kita harus melewati itu dulu untuk selanjutnya menjadi 'dokter beneran'. Loh sekarang nggak dokter beneran tho? Hmm, selama internship kita belum dapat STR (Surat Tanda Registrasi) definitif, namun dapat STR internship, yang menandakan kita masih internship. Lalu selain itu, kita baru dapat SIP (Surat Izin Praktek) di dua tempat khusus kita internship, jadi kita belum boleh praktek selain di dua tempat internship kita. Jadi menurut temen-temen gimana tuh? Dokter beneran nggak?

Nah kita dapat dua tempat praktek itu di mana saja? Jadi selama 1 tahun internship, kita akan mengalami 3 stase, yang pertama IGD, bangsal (rawat inap), dan puskesmas. Untuk urutannya bisa diputar-putar, karena tergantung dengan kelompok internship, jadi satu gelombang internship (kita singkat aja jadi iship yaa) akan dibagi 3 kelompok untuk mengisi rotasi 3 bagian tersebut. Mari kita mulai cerita dari sudut pandangku yaa.

Aku kebagian rotasi pertama di rawat inap, alias bangsal. Selama 4 bulan pertama internship, kami (aku dan rekan sekelompok) akan ditugaskan berjaga di ruangan rawat inap. Kami bertanggung jawab untuk mengatasi kegawatan atau keluhan-keluhan pasien yang sudah 'turun' ke ruangan, pasien-pasien ini bisa berasal dari mana saja. Bisa dari IGD (Instalasi Gawat Darurat) atau dari poliklinik spesialis. Nggak seperti di sinetron-sinetron atau drama 'bilang aja putus' (nama samaran) yang masuk rumah sakit tiba-tiba langsung masuk ke ruangan rawat inap, sudah diinfus dan bla-bla. Atau positive thinking aja yaa, mereka skip episode pas di IGD-nya (rata-rata karena kecelakaan atau pingsan). 

Banyak hal yang dilalui, mulai dari desas-desus kamar jaga dokter adalah bekas ruangan rawat inap yang horor. Tapi, selama di sana sih, tidak kutemui adanya kebenaran dari desas desus itu. Alhamdulillah tidur nyenyak, meskipun kadang harus siap bangun malam jika ada telepon dari ruangan rawat inap. Kalau dari segi kasus medis, yaa, banyak hal yang aku dapat selama menjalani tugas di sini. Mulai dari kegawatan karena ada pasien yang henti nafas, apalagi malam hari, dan harus siap-siap tenaga untuk resusitasi jantung dan paru, dalam rangka mengembalikan fungsi tubuh dari pasien itu agar tetap hidup. Yaa, nggak jarang juga berakhir dengan sedih, karena kehendak Allah yang kemudian terjadi. Bagaimana melatih diri memberikan "bad news" kepada pasien dengan cara yang baik, namun juga tidak menjanjikan hal yang muluk-muluk. Kita hanya menjanjikan upaya yang maksimal, sisanya, tetap Allah yang menentukan. 

Nggak cuma kasus medis sih yang menarik. Kadang ada kasus psikiatris yang memang cukup menyedihkan, dan kadang membuatku sebagai pihak ketiga merasa iba. Di tempat kami iship, istilah gangguan jiwa bagi para warga adalah istilah yang sangat tabu, dan bisa jadi membuat hilangnya trust dari keluarga kepada para tenaga medis. Keluarga pasien bisa akan sangat marah ketika tahu bahwa pasien ini direkomendasikan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater. Padahal sebenarnya pada dasarnya mungkin pasien ini butuh konseling untuk kesehatan jiwanya. Oiya, gangguan jiwa bukan semata-mata hanya berputar pada gangguan jiwa yang oleh orang awam kadang disebut sebagai 'gila', di dunia medis, bisa kita sebut skizofrenia, di mana ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mendiagnosis seseorang dengan gangguan jiwa macam ini. Gangguan kecemasan berlebih, gangguan penyesuaian diri, juga termasuk gangguan jiwa loh, eh tapi ini kita bahas di lain kesempatan aja yaah.

Yang ingin aku bahas untuk pembahasan kali ini adalah sepertiga waktu selama setahun kemarin. Menjalani hari-hari yang cukup stressful, karena pada akhirnya bruxismku kembali kambuh. Duh-duh apa itu bruxism? Bisa baca di sini yaa, belum sempat jelasin hihi.

Namun, di sini, aku ternyata belajar banyak. Menjadi dokter itu nggak semudah bayangan. Ada banyak aspek yang perlu dipelajari, yang tidak hanya berkaitan dengan ilmu saja, tapi berkaitan dengan aktualisasi diri ke masyarakat. Ada kasus lain yang menarik. Ada seorang anak usia 13 tahun, mengalami kejang. Lalu kemudian singkat cerita, aku menduga anak ini mengalami epilepsi. Namun, demi pemeriksaan lebih lanjut, pasien ini perlu dirujuk ke dokter spesialis saraf, untuk pemeriksaan penunjang, misalnya elektroensefalografi atau EEG untuk memeriksa gelombang otaknya. Namun si ibu bersikeras untuk membawa anaknya ke paranormal, karena beliau merasa anaknya ini 'ketempelan'. Dari sekian banyak pemeriksaan yang aku dapati memang ada kelainan dari segi medis, jadinya kubujuk ibu ini untuk tetap menjalani proses medis dalam mengobati anaknya. Dan pada akhirnya, ibu ini setuju untuk menjalani proses tersebut, alhamdulillah.

Belajar banyak hal untuk tetap memberi pasien informasi yang berhak pasien ketahui, agar bisa mengambil keputusan yang logis, dan sesuai dengan kebutuhan pasien, bukan kebutuhan dokter saja. Duuh acak adut ya tulisankuu... Tapi nggak papa ais, besok-besok perbaiki lagi ya. Mungkin 30 hari bercerita bisa jadi titik tolak memperbaiki blog ini. Tetap semangat menulis, Ais!                                                                                    

Rabu, 10 Oktober 2018

Apa Maumu?

Kalau menangis tak mengeluarkan air mata, aku bisa menangis setiap saat

Ingin rasanya ku berbagi denganmu, tapi rasa-rasanya kau sudah tak ingin mendengarkanku..

Setiap aku mencoba meraba bagaimana perasaanku, hasilnya sama, tak pernah berubah..

Mengapa hati wanita bisa seperti itu?

Apakah kau pernah merasa sakit ketika aku menangis? Aku hanya ingin tahu saja, bagaimana perasaanmu.. Melihat hati orang yang kau bilang kausayang tampak membutuhkanmu, namun kau justru membiarkannya...

Selasa, 02 Januari 2018

Jangan Jadi Gendut!

Assalamualaikum!
Haiii sudah lamaaa tidak bersuaaa..

Iya nih, lagi sibuk memadatkan diri, dengan kegiatan yang cenderung memadatkan badan. Makan, tidur, nonton drama, tidur lagi, makan lagi... Muteeeer aja disitu..

Alhasil, tak disangka tak dinyana, saat iseng timbang berat badan, BB saya naik 15 kg dibandingkan saat SMA dulu.. ckckck.

Setelah saya amati, dan saya pikirkan matang-matang, kenapa hal tersebut bisa terjadi, saya mendapatkan suatu kesimpulan. Saya ini termasuk orang yang sangaaat cuek dengan penampilan, terutama dulu, waktu masih awal-awal kuliah. Karena itulah saya cuek mau makanan apa aja diembat. Pengalaman semasa SMP saya jadikan patokan, badan saya nggak bisa gemuk waktu SMP, segitu-segitu aja meskipun makannya banyak. Namun, percayalah, era sudah berubah, makanan bermutasi, kemudian badan saya ikut bermutasi. Sekarang yang terjadi kebalikannya, makan sesedikit apapun, tetap gendutlah hasil akhirnya.. 

Gendut ini ingin segera saya akhiri.. "Loooh, kenapa Is? Kok sekarang jadi pemerhati penampilan gini?"

Awalnya sih karena capek juga dibilang, "Diet Is makanya, badan udah gemuk gitu.."
"Yaampun iiiis, gendut bangeeet.." Dan emang ketika saya melakukan pengukuran Body Mass Index, body saya udah termasuk ke OBESITAS. OH MY GOD!!

Seketika saya merasa badan terasa berat, terus kepikiran, pantesan jadi sering ngantuk.. Suka males jadinya kalau mau ngapa-ngapain, pokoknya multiple banget deh keluhannya. Apalagi dengan riwayat penyakit yang saya kantongi, saya jadi takut kena diabetes, hipertensi, dislipidemia, dan puncaknya bisa sindroma metabolik*.. oh nooo!!

Apaan sih sindroma metabolik itu? Sebenarnya ada beberapa kriteria diagnosis dari pengertian si sindroma metabolik ini. Namun, kalau menurut NCEP (National Cholesterol Education Program, ini lembaga punya Amerika) sindroma metabolik ini merupakan sekelompok kelainan metabolik, baik lipid (lemak) maupun non-lipid (non-lemak) yang merupakan FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER, yang terdiri dari obesitas sentral, dislipidemia aterogenik (kadar trigliserida tinggi, tapi kadar HDL rendah), hipertensi, dan kadar glukosa darah tidak normal. Bentar-bentar, kamu abis ngomong apaaa iss??

Hehe, oke-oke, kita perjelas dulu yaa, kriteria diagnosis untuk sindroma metabolik, kalau nanti ada yang perlu diperjelas, bisa saya tambahin lagi penjelasannya. Sebenarnya untuk kriteria sindroma metabolik ini juga ada yang menurut WHO, namun hingga kini, kriteria dari NCEP-ATP III inilah yang mudah dilakukan untuk para klinisi dalam mendiagnosis sindroma metabolik. Setidaknya 3 dari 5 syarat terpenuhi dari kriteria berikut ini:

  1. Obesitas Sentral : Pria >102 cm | Wanita > 88 cm, nah, namun kriteria ini mengalami modifikasi, hal ini karena terdapat perbedaan ukuran lingkar pinggang 'normal' berdasarkan etnis. Sooo, kalau Anda orang Asia, maka lingkar pinggang yang memenuhi syarat obesitas sentral adalah > 90 cm untuk pria, dan untuk wanita > 80 cm
  2. Trigliserida :  ≥150 mg/dl
  3. Kolesterol HDL : Pria < 40 mg/dl | Wanita < 50 mg/dl (kolesterol HDL ini yang dinamakan kolesterol baik)
  4. Tekanan darah : ≥ 130 mmHg / ≥ 85 mmHg
  5. Glukosa darah puasa : > 110 mg/dl
Gimanaaa? Sudahkah teman-teman memenuhi 3 kriteriaa? Oiya, bahkan saya sempat mengikuti kuliah DrdrWara Kushartanti, M.S. dari FIK UNY, beliau mengatakan bahwa, sekarang sindroma metabolik bisa 'dilihat' hanya dari ukuran lingkar pinggang saja lho. Karena hal tersebut menggambarkan juga bagaimana gaya hidup kita yang apa-apa dimakan haha. Gimana, bahaya nggak? Langsung deh pada ngukur lingkar pinggang masing-masing yak.

Kalau ais gimana lingkar pinggangnyaa? Psssst... masih normal, kalau saya orang Amerika, buahaha. Kalau orang Asia udah lebih dooong? Yups, makanya harus mulai mengurangi ukuran lingkar pinggang nih. 

Oiyaaa, kemarin aku juga sempat cek kolesterol lewat darah yang ditusuk di jari loh. Terus hasilnya lumayan bikin kaget sih, hasilnya 225. Hayooo, itu berarti yang diukur apaa? trigliserida yaa? atau Kolesterol HDL? Nah alat itu mengukur kolesterol total teman-teman. Loh, kok beda lagi?

Trigliserida dan kolesterol itu termasuk lemak yang beredar di dalam tubuh. Dua jenis lemak ini punya fungsi yang berbeda, kalau trigliserida nanti bisa diolah jadi energi, sedangkan kolesterol yang disimpan nanti bisa jadi bahan untuk menyusun sel-sel tubuh atau hormon. 

Naah, kalau mau kadar trigliserida, bisa dilakukan dengan tes laboratorium. Jadi perlu tes lebih lanjut, apalagi kalau sudah pernah dilakukan tes dengan alat cek darah digital (yang pake jari itu) terus hasilnya lebih dari 200 mg/dl.

Trusss, katanya kan big is beautifuul? katanya ada penelitian yang menunjukkan gendut itu lebih bahagia daripada orang kurus? Hmmmm, ini baru membahas masalah gendut dari sisi kesehatan sih. Kalau masalah gendut vs kurus, nanti beda lagi ya pembahasannya. Oiya, bukan berarti kurus itu lebih sehat juga ya. Asal kebutuhan kalori sehari terpenuhi, hmm nanti lain kali kita bahas lagi.

Oiyaa, postingan ini insyaAllah masih bersambung, terutama membahas bagaimana sih supaya kita nggak kena sindroma metabolik ini. Apalagi beberapa temen saya yang sempet cek kolesterol dengan keluhan yang nggak terlalu berat, menunjukkan angka kolesterol lebih dari 200. Jadi, ternyata perlu pengawasan ekstra ketat yaa untuk masalah kolesterol ini. Ditunggu yaaa :)


Kamis, 28 Desember 2017

Akibat Kebanyakan 'Nyinyir'

Haaaai, assalamualaikum!

Udah lama nggak posting ya huhu, maapkeun. Lagi sibuk nih. Sibuk beralih profesi dari mahasiswa jadi Netijen Jaman Now! (itu terhitung profesi gak ya? wkwk)

Semenjak terombang-ambing antara status yang tidak jelas ini (mahasiswa bukan, tapi belum kerja juga), saya jadi terlalu sering beraktivitas di media sosial. Terutama semenjak mengganti akun instagram yang tadinya fake account jadi official account, jadi sering folo-foloan sama temen-temen asli di dunia nyata yang punya akun instagram. Tadinya saya emang cuman aktif sebagai kepoers (sampai sekarang juga masih kepoers sih), tapi sekarang saya sudah aktif jadi commenters (tukang komen maksudnya, mah). Ah masak sih? Nggak pernah tuh lihat ais jadi tukang komen di instagram?

Hahahaha. Komenter di sini maksudnya komentator offline gitu. Jadi nggak berbentuk ketikan nyata. Apalagi didukung dengan kelengkapan amunisi berita-berita nggak penting yang saya peroleh dari akun-akun gosip, yang memiliki berjuta nama, mulai dari lambe_sisa, lambe_pedes, dan lain-lain.

Astaghfirullah, dosa nggak sih follow-follow akun macam itu? Mendingan follow instagram @retnohening, yang isinya celotehan dedek pinter kirana. Yaaa, dibilang dosa sih iya dong, isinya ghibah semua sih. Dan inilah awal mula hobi saya yang lama-kelamaan jadi keahlian yang saya miliki, keahlian nyinyir.

Sebenarnya arti kata nyinyir apaan sih?
Ini nih, kalo menurut KBBI
sumber : kbbi.web.id
Berarti sama aja kayak cerewet doong? Yaa, istilahnya sama aja kayak kalo ada foto 'yang minta banget dikomen', terus mulut kita nggak tahan buat mengulang-ulang isi pikiran yang ada di kepala kita, "Iiiiih, kok gitu sih, masak fotonya alay gitu!"

Atau kita bisa pakai dari sumber lain, seperti di bawah ini 
yang ini sumbernya dari kbbionline.com
Nah, yang ini penggunaannya lebih cocok ya. Bakat nyinyir saya sebenarnya sudah ada dari sejak sekolah SMA. Bayangin aja, di sekolah temenannnya sama yang kalo ngomongin orang udah jago banget, ngalahin pembawa acara silet. Bakat ngomong nyelekit udah tertanam semenjak SMA. Pas SMP sih saya seringnya diem, dan manut-manut aja. Pas SMA udah semakin keliatan mbelingnya hahaha. 

Sebenarnya kebanyakan nyinyir juga negatif sih. Kalau ngeliat orang lain jadi rasanya adaaaaa aja yg bisa dikomenin. Jadi gampang iri kalo kata saya mah. Kalau udah iri sama dengki, itu mah udah ga boleh ya. Misalnya lihat orang prestasinya keren, bukannya termotivasi, malah jadinya, nyinyir, "Iiih, kayak gitu doang mah, aku juga bisa kali. Gampang!" Walhasil jadi meremehkan orang lain kan. Padahal ukuran orang lain kan belum tentu sama kayak ukuran yang kita gunakan. Bisa saja dia memulai sesuatu dari yang awalnya sangaat sulit buat dia, dan sekarang sudah bisa berhasil kan suatu kebanggaan buat dia.

Ada kalanya juga orang lain yang mengupload sesuatu di akun instagramnya tujuannya bukan buat pamer semata, tapi untuk memori dirinya sendiri. Penting lho ini. Apalagi buat orang-orang yang mudah lupa kayak saya. Salah satu tujuan saya nulis di blog itu juga karena alasan semacam ini. Ada bagian dari hidup saya yang bisa dikenang suatu saat nanti oleh diri saya sendiri. Ini looh, ais jaman masih suka nulis, tulisannya masih layak baca kok, nggak kayak sekarang.. hahaha.

Sebenarnya dari tulisan ini ada beberapa tujuan yang ingin saya capai. Yang pertama, yaaa beneran pengen tobat, nggak nyinyir-nyinyir lagi. Someone told me kalo keseringan nyinyir, nanti jadi pribadi yang nggak pedean, karena takut dinyinyirin sama orang lain, seperti halnya diri ini yang suka nyinyirin orang lain. Lagian nyinyir terus juga nggak baek kan yeee, jadi gampang iri kayak yang tadi udah saya bilang sebelumnya.

Selain itu, tulisan ini juga buat trigger saya, biar bisa nulis lagi. Hahaha, agak kejauhan ya. Ini adalah tulisan kesekian yang bridging-nya kejauhan, dari nyinyir trus bisa nulis lagi. Anyone can relate? Yaa berkaitan dengan rasa pede itu sih, pengen kayak dulu lagi, mau nulis apapun yaaa bodo amat, yang penting nulis aja. Pengen banget bikin tulisan yang bermanfaat buat diri sendiri, buat jadi reminder untuk ais di masa yang akan datang. 

Oiyaaa, pengen salam juga buat temen saya si aicah, alias Aisyah Apriliciciliana yang katanya pengeeeen jadi penulis. Da kamu mah udah bisa nulis jeung, cuma belum keliatan aja. Aku barusan aja kepo blog dia di sini atau ketik link ini https://aprili-ciciliana.blogspot.co.id/.

Udah aah, nanti ais nulis lagi yaaaa, mau nonton drakor dulu. bubyeeeee


Jumat, 28 April 2017

Tentang Komentar

Tulisan kali ini saya tujukan untuk para penulis artikel di luar sana. Yaaa, hobi saya itu baca berita di L***TODAY yang jadi headline news. Judul yang dibuat itu selalu menarik saya untuk mengklik tautan tersebut. Pokoknya sampai semua tautan saya baca!

Pekerjaan orang ga punya kerjaan ya gini ini. Haha, terus dilanjutkan ke kolom komentar. Kadang isi berita nggak penting, karena yang lucu itu komentar-komentar para pembacanya. Salah satu tipikal judul tulisan di website berita ini adalah “Upload Foto Dengan Sang Tunangan, Netizen Salfok dengan Motif Piring Di Belakangnya!” Nih ya, saya udah tau, ini berita pasti cuma memuat 1 foto yang diupload sang artis, terus dilanjutkan dengan komentar dari pengguna sosmed tentang foto itu. “Ihh, itu kok Piringnya motif kura-kura.” Sorry to say, nggak ada manfaatnya buat pembaca!

Nah, nanti akan ada komentar di website berita tersebut. Jadi intinya adalah, komentar untuk narasi yang menceritakan tentang komentar. Haha, bikin pusing deh, tapi nggak bikin pinter.

Kembalikan waktu 2 menitku!
Unfaedah

Beberapa contoh komentar yang memenuhi kolom komentar untuk berita tersebut. Lalu, nanti akan ada pembaca yang akan komentar, “Ini kan memang rubrik entertainment, ya emang begini beritanya. Kalau cari yang manfaat ya cari rubrik lain!”

Wait? Maksudnya? Laaah, menurut saya pun, berita itu nggak entertain sama sekali tuh. Isinya malah ngomongin orang. Saya sebenarnya ingin meminta tolong kepada para penulis artikel di web-web ‘gitu’ untuk menyajikan tulisan yang berbobot. Atau seenggaknya bikin pembacanya bisa mengambil manfaat gitu.

Sebenarnya kan media online itu sama saja seperti media cetak kan? Seharusnya ketika mengupload suatu tulisan, yaa, setidaknya ada riset yang dilakukan untuk menyajikan berita tersebut. Perasaan kalau saya baca tabloid isinya selalu berdasarkan wawancara atau riset-riset dulu gitu. Tetapi, belakangan tulisan-tulisan ini berkurang sih, meskipun masih ada. Tulisan macam gini sumber risetnya cuma dari instagram aja, hmm.

Saya kan juga pengen pinter kakak-kakak penulis. Tetapi saya apresiasi sih, ada beberapa tulisan (sekarang jadi lumayan banyak) yang bersumber dari website-website bermanfaat, dan ada pengetahuan baru yang akan saya dapatkan kalau baca tulisan itu. Hehe.


Oiya, ada beberapa komentar menarik yang membuat saya tergelitik, misalnya, “Tipikal orang indo sekarang gini ya, sukanya nyinyir.” Ini bukan saya yang bilang lhoo, suer! Kemudian saya menemukan kosakata baru, yakni, JULIT. Ini apa lagi artinya hahah.

kamusslang.com
Kosakata ini saya dapatkan gara-gara suka ngintip-ngintip akun gosip (astaghfirullah, istighfar ukhti. Taubatlah!). Gara-gara kurang kerjaan gini saya jadi suka melakukan suatu yang tidak bermanfaat dan cenderung dosa, ckck

Yaa, intinya cuma pengen jadi pembaca yang cerdas sih. Mungkin bisa dimulai dari pembaca ya, kurang-kuranginlah baca artikel nggak bermutu gini. Maka ketika minat baca berita sejenis itu turun, mungkin lama-lama akan hilang kebiasaan menuliskan berita sejenis ini. Sip!

Kondangan Lagi!

Assalamualaikum!

Waah sudah lama sekali nggak posting… Alasannya masih sama kok, males haha. Padahal ya sebenarnya nggak sibuk-sibuk banget kok.

Mau update dulu ah, kebetulan libur panjang kemarin saya mampir ke Rembang, kondangan ke tempat Isti Noor Masita. Istiii? Iyaaaa Isti NIKAH. Teman galau zaman SMA, tapi sebenernya Isti ga pernah galau sih. Saya aja yang galau, haha. Kaderisasi ROHIS yang merangkap anak MPK ini waktu SMA ini luar biasaaaa banget. Jadi kan temen saya ada berbagai macam jenis gitu. Temen kalo lagi ga jelas itu si Rieza, kalo lagi jelas, ya si Isti ini.

Makanya mumpung libur, saya bela-belain datang ke Rembang, perjalanan dari Semarang lumayan sih, sekitar 4 jam (Yaampun Isti, sekolahmu jauh juga ya dari rumahmu… dulu saya juga ngekos sih, tapi perjalanan ke rumah paling sekitar 2,5 jam). Karena saya bukan orang Semarang, saya naik motor dulu dari rumah ke Semarang untuk kumpul di rumah Ay. Berangkat dari rumah pagi-pagi, sekitar jam 6an. Sampai Semarang jam 8an, lalu si Ay ngambil mobil ke Banyumanik dulu, karena akhirnya kami memutuskan untuk carter mobil buat ke Rembangnya.

Di rumah Ay akhirnya saya ngobrol-ngobrol dulu sama Mamanya Ay soalnya Ay lagi ambil mobil, dan saat itu Mamanya Ay menceritakan fakta mencengangkan…. Nanti aja deh ceritanya, belum berhak ngasih tau haha. Terus datanglah Papeke ke rumah Ay. Waaaa, Papeke ini orangnya businesswoman sejati. Keren banget lah pokoknya Papeke ini. Papeke ini juga udah lamaran, tinggal nunggu tanggal. Tapi katanya masih bingung mau tahun ini atau tahun depan. Tahun ini aja Paaaaps! Ngapain lama-lama hihi. Waaah udah lama banget nggak ketemu Papeke tapi dia masih sama aja kayak dulu. Katanya saya juga masih kayak dulu waktu SMA. Iiiih bisa aja deh haha!

Oya, kembali ke nikahannya Isti. Akhirnya Ay datang juga sama sepupunya bawa mobil yang dicarter. Kami berangkat ke Rembang dari Semarang sekitar jam 10 pagi. Sampai Rembang sekitar jam 2 siang, padahal acaranya Isti cuma sampai jam 2. Walhasil sampe sana udah sepi hahaha.. Tapi kami masih ketemu penganten sih, meskipun pengantennya udah mau ganti baju wkwk. Ceritanya ketika kami sampai, kami duduk di kursi tamu depan pelaminan. Terus ada seorang laki-laki wara wiri pakai baju putih (baju penganten-kayaknya) tapi udah bersandal jepit haha. Kemudian kami berpikir, sepertinya itu suaminya Isti, deh. Lalu, lelaki ini menghampiri kami bertiga, “Temannya Isti ya?” Kami mengiyakan, “Sebentar saya panggilkan dulu ya, Istinya tadi lagi ganti baju di atas.”
Taraaaa, akhirnya Ibu Midzi alias Isti datang. Waaa, baju penganten bernuansa putih pink, cantiiiik banget. Aslinya memang sudah cantik, penyabar lagi. Isti ini kerennya luar dalam, cantik fisik dan cantik hati hihi. Emangnya kamu is… Ups, kan lagi memperbaiki diri, yaa wajar kadang kalo nggak penyabar hahaha. Terus biasa ya, ibu-ibu rempong gitu kalo ketemu, selfie dulu, baru ngobrol-ngobrol. Kami selfie di tempat yang agak gelap gitu jadi nggak keliatan ya mukanya, apalagi yang item manis kayak saya ini (narsis dulu boleh ya).

“Isti ketemu sama suaminya gimana Is?” tanya Papeke
“Ya gitu deh.. (sambil malu-malu gitu si Isti haha). Sebenernya udah lama tahu, tapi ya nggak kenal. Terus akhirnya ketemu pas lagi KKN.”
“Ooooh.. KKNnya bareng Is? Woow..”
“Iya.. KKN nya bareng..”
Terus, si Papeke nanya lagi, “Terus Isti sama suami abis KKN itu langsung suka Is? Udah tau orangnya kayak gimana nggak Is?”
“Jadi kemarin khitbahnya itu Januari.. terus April ini nikah..”
“Waah cepet ya Iss….”
“Iyaaa, makanya buru-buru banget nyiapinnya..” si Isti ini sekarang juga sedang menempuh pendidikan profesi di kedokteran gigi UGM, yaa kebayang ya gimana sibuknyaaa..
Si Papeke nanya lagi, “Terus pas abis KKN itu gimana Is? Udah tau orangnya kayak gimana? Udah tau kalau suka?”
Sampe si Isti akhirnya bilang, “Nanti Ais sama Ay jelasin ke Papeke yaaaa…” Hahaha si Isti udah pusing duluan. Papeke masih sama aja kayak dulu waktu SMA. Piissss Papps haha.

Oya, ada fakta menarik dari pernikahan Isti ini, sambil menikah, mereka juga meluncurkan Buku loooh. Ternyata memang suaminya Isti ini penulis. Di depan terlihat ada X-Banner yang menuliskan profil dari kedua mempelai, saya sempat baca yang profilnya suaminya Isti ini, ternyata sudah menerbitkan 11 buku! #prokprok

Dan di awal pengambilan souvenir, saya sempet mengenali salah satu among tamunya.. Kok kayak kenal yaa… terus akhirnya saya iseng bilang, “Ini ndak Fayla…?”

“Ehh, seeekkk… Kamu kan.. kamu kaan, Aiss thooo?” Ealaaah.. si Fayla ini gingsule ilang, jadinya saya sempat nggak mengenali haha. Si Fayla ini sahabatnya Isti masa kuliah di FKG UGM.

“Ais sudah berkeluarga atau beluum?” Ternyata, souvenirnya adalah buku tulisan sepasang suami istri ini. Kalau belum berkeluarga dapatnya yang Jombloisme, kalo yang udah berkeluarga dapat Revivalisme.

“Terus aku apa doong?” tanya Papeke, di antara dua dunia sih dia, jomblo enggak, berkeluarga juga enggak. Haha.

Terus ternyata mba Indi juga lagi di rumaah.. Mba Indi ini kakak perempuannya Isti yang jadi role model saya semasa SMA, mbak Indi ini udah lulus jadi dokter dan mantan anak FK Undip dulu. Makanya dulu saya mati-matian berjuang biar masuk FK Undip. Tapi, namanya rezeki….. Allah yang menentukan hehe. Mbak Indi lagi hamil looh, hamilnya besaaar, sampai saya kira kembar.


Kami cerita-cerita hingga sore tibaaa.. Sekitar jam 4 kami pamit dari rumah Isti dan kembali ke semarang. Karena sore, dan sampai semarang malam, akhirnya saya dan Papeke menginap di rumah Ay. Di sana kami cerita-cerita lagi sampai tengah malam. Yaaa, namanya Ibu-ibu kalau girls night ya begini. 

Ini harus banget foto aku dipasang? Taraaa inilah buku souvenir pernikahan Isti

Ini pembatas bukunya, sepertinya kalimat quotesnya beda-beda deh setiap buku. Sangar!

Sebenarnya ada cerita yang pengeeeen saya bagi. Tapii, nunggu bulan Mei deh, hehe, soalnya yang punya cerita baru mau publish bulan Mei. Oke sekian tulisan random saya kali ini, kapan kapan saya sambung lagiiiii

Jumat, 28 Oktober 2016

Review Film: Catatan Dodol Calon Dokter

Bismillahirrahmanirrahim..

Beberapa penikmat film di Indonesia mungkin sudah mendengar akan ada film yang berjudul Catatan Dodol Calon Dokter, yang merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama. Novel ini ada 3 jilid kalau tidak salah, tapi untuk kali ini, saya nggak akan bahas bukunya. Yaaa, karena saya juga udah lupa-lupa ingat sama isinya, karena, saya baca ketiga jilid Cado-Cado ini dari dapet minjem hahaha.

Cado cado ini ditulis oleh dr. Ferdiriva Hamzah, Sp. M (sekarang udah spesialis boook) haha, dan dari sekilas baca bukunya beliau ini, orangnya kocak banget, rada sedeng buahaha. Awal baca bukunya yang pertama (waktu itu saya masih SMA kalo nggak salah) nggak nyangka kalau dokter muda itu pengalamannya lucu banget. Saya dulu dapet minjem dari kakak mentoring saya waktu SMA, mba dr. Indi Himma yang dulu kuliah di FK Undip. Berkat beliau, saya pengen masuk kedokteran Undip, meskipun jadinya nyampe ke Unsoed (wehehehe).

Isi dari buku Cado Cado ini membahas tentang berbagai pengalaman lucu dr. Riva bersama rekan seperjuangan semasa koasnya. Pengalaman-pengalaman beliau ini ternyata nggak jauh beda sama yang saya dan teman-teman alami waktu koas. Sampai ada istilah, "Koas itu masa menyenangkan, tapi tidak untuk diulang."

Adegan pembuka film ini ketika seorang ibu menangis di hadapan seorang pasien (suami-nya) yang terbatuk batuk dan menggunakan 'seikat' perban di kepalanya, yang terdapat bekas darah. Kemudian, datang seorang berjas putih (sepertinya dokter) yang berkata, "Maaf, kami sudah berbuat banyak, namun suami ibu mengalami kanker paru-paru...(abis itu saya lupa dokternya bilang apa)" sesaat kemudian muncul suara, Itu kok ada perban sampe darahnya nembus-nembus ke perban, emang nggak ada betadine (dan lagi-lagi saya lupa naratornya bilang apa -_-).

Selanjutnya ada sekumpulan koas, termasuk Riva, dan beberapa koas lain, ada Budi, Evie, Hani, Cilmil, Kresno, Uba, dan satunya lagi saya lupaa... Mereka diperkenalkan satu persatu sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Yang paling membekas di otak saya adalah Hani (dia ini cowok lhoo), karena aksen Inggrisnya yang excallent (ini cara ngomongnya begini banget deh haha) dan yang menthelnya minta ampun. Kresno your selaiva (he means saliva haha) isn't higienis. Kalau begini saya pengen baca bukunya lagi dan menceritakan gimana koplaknya karakter-karakter koas sedeng ini. 

Ceritanya di film, mereka adalah koas yang sedang menjalani stase bedah, dan berada di bawah supervisi seorang profesor yang diperankan oleh Adi Kurdi. Sebenarnya nggak niat mau spoiler, tapi yaa bisa ditebak dari trailernya bahwa, film ini memiliki nuansa romance. Dari awal saya sempat antisipatif, sepertinya film ini nggak akan sengocol bukunya alias nggak worth it buat ditonton secara khusus. Tapi, karena ditraktir yaaa mau-mau aja deh nonton haha. Yap, sesuai dengan trailer, ada kisah cinta segitiga antara Riva, Evie, dan Vena. Padahal kalau di bukunya, nggak ada tuh, drama-drama begini. Yeah, sorry to say, sebenernya saya nggak terlalu senang dengan jalan ceritanya. Harapan simple saya setelah orang nonton film ini (terutama untuk yang bukan kalangan medis) bisa tahu gimana beratnya jadi koas, meskipun yaa berat juga sih (lah gimana sih is). 

Tapi di sini ada beberapa poin yang saya bisa bilang, yaaa good joblah. Di mana ada adegan bergunanya seorang koas bedah yang mampu mendeteksi adanya kelainan di mata seorang pasien paska kecelakaan lalu lintas. Ya, inilah sebenarnya tugas seorang dokter, yang mampu mengintegrasikan ilmunya, periksa pasien itu harus head to toe, jangan mentang-mentang lagi stase tertentu, terus periksa pasiennya cuma sesuai dengan stase yang dijalani, bukan secara holistik. Kemudian ada adegan heroik juga di mana Evie mampu menyelamatkan seorang anak yang mengalami trauma inhalasi, dan harus melakukan cricoidektomi darurat (tindakan insisi kulit, fasia, dan membran krikotiroidea, lalu selanjutnya dipasang pipa di trakea, tujuannya untuk membuka jalan nafas pada pasien dengan gawat nafas).

Sejujurnya film ini dikemas dengan bentuk drama yang terlalu banyak, komedinya tidak terlalu banyak seperti di buku. Kisahnya pun dibuat berbeda dengan bukunya. Tetapi, seenggaknya tujuan untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa proses untuk menjadi dokter itu penuh dengan perjuangan dan pelajaran hidup, tercantum laah di drama ini. Ada beberapa hal yang mirip sama koas alami siih, ya antara lain seperti berikut:
1. Adegan mengikuti konsulen (dokter spesialis) saat visit (setelah sebelumnya koas melakukan pemeriksaan yang disebut sebagai follow up), terus ditanya-tanya di depan pasien tentang penyakit atau diagnosisnya. 
2. Adegan koas dimarah-marahin konsulen, karena kesalahannya. Yaaaa, kalau lihat di film ini, hal tersebut beneran kejadian loooh. Bentakan yang menggema di ruangan dan bikin keringat dingin, mulut kaku tak bergerak, kepala nunduk tak mau ngangkat, kaki pegel akibat berdiri berkepanjangan, sariawan karena kurang vitamin C, mata merah kena asap knalpot, eh kok jadi ngelantur sih.
3. Adegan jadi asisten operasi (ada yang cuma lihat operasi berlangsung, ada juga yang langsung berdiri di sebelah konsulen dan benar-benar bertindak sebagai asisten operasi, meskipun palingan cuma bantuin suction, netes-netesin air, ngelap darah yang nyemprot, but that's such a great thing when we did it!)
4. Adegan jaga IGD. Di film ini ada tokoh Kresno yang percaya sama hal klenik, dan bikin jampi-jampi, supaya pasien waktu Riva jaga rame banget. Di kalangan koas, ada sebutan koas wangi dan koas bau. Koas wangi itu, setiap dia jaga, maka pasien baru bisa dipastikan sedikit, atau bahkan ngga ada sama sekali. Kalau koas bau, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, bisa nggak tidur semaleman kalo lagi jamal (jaga malam) gegara pasiennya datang terus. Dan konon katanya, yang punya kekuatan wangi atau bau ini nggak cuma koas, bahkan residen (dokter umum yang sedang menempuh pendidikan spesialis), konsulen juga bisa saja punya predikat bau atau wangi.
5. Ada satu hal yang di film ini selalu terjadi di semua koas di seluruh Indonesia, yaitu, teriakan KOAAAAASSS! yang menggema di seantero bangsal rumah sakit. 

Meskipun di sini, nggak ada tuh koas yang harus berangkat pagiiii banget (jam 3 pagi misalnya) terus bangunin pasien pagi-pagi buat diperiksa tensi dan ditanya-tanya seputar keluhannya (ini yang namanya follow up).

Akhir kataa, buat yang penasaran sama film ini, silakan ditonton. Kalau yang penasaran banget sama gimana kehidupan koas, yaaa, bisalah tonton film ini. Ada sekelumit kisah koas malang yang memperjuangkan cita-citanya demi jadi seorang dokter. Oke deeh segini aja, ini reviewnya agak nggak niat sih yaa haha, selamat menonton! 

Rabu, 26 Oktober 2016

Pertemuan Absurd Calon Pengantin

Harusnya judulnya pertemuan sama Pengantin Baru, tapi waktu kita ketemu masih jadi calon siiih... Yaudah haha. Ucapin selamat dulu ya sama Mrs. Septana, yang menikah 9 September lalu. Maapinnn zaaa nggak dateeng.. yaaaa Congratulation for your wedding!

Sudah lama nggak bersua sama Rieza alias Mrs. Septana ini selalu bikin kangen. Bahkan kalo saya nyempetin ke Semarang, cuma buat ketemu sama anak ini, doang! Ngeluyur nggak jelas, dan terakhir ketemu kemarin waktu sebelum pernikahan dia, cuma buat nganterin beli seserahan, sama belanja kardigan yang bentuknya nggak jelas.

Denger cerita Rieza dilamar itu bikin sedih, hahaha. Sedih kok si Rieza alela mini jaman SMA dapet jodoh duluan. Zaa, kita kan ke mana-mana bareng, kok kamu duluin aku siiih!!! Kalau mau tahu kisah cinta anak absurd ini mending baca blognya aja deh, aku nggak berhak cerita-cerita kan ya zaaa haha.

Awal pertemuan, janjian dulu.
"Zaa besok uwe ke Semarang, pokoknya kamu harus nemuin aku!" Ini anak kalo dichat Line nggak langsung bales, soalnya Line-nya di turn off notificationnya. Nggak kunjung bales, saya tetep nekat ke Semarang, janjian macam apa nih, sepihak gini haha.

Intinya saya udah jalan ke Semarang (situasi saya berangkat dari Boja, kurleb 45 menit kalo dari Semarang). Nekat, nggak ngerti kalo nggak ketemu dia, ya harus ketemu.

"Iiiih motor aku dipinjem sama 'dia' niih. Aku ga bisa ke mana-mana." dari dulu manjanya nggak ketulungan.
"Yaudah minta anterin aja, lagian ada BRT juga keleeeus. Biasanya juga eloh naik BRT."
Dalem hati, udah jauh-jauh saya bela-belain, dia harus mau berkorban, enak aja hahaha.

Ini sebenarnya pertemuan kedua sama Rieza sebelum rencana pernikahannya. Pertemuan pertama ini nggak kalah absurd juga. Kami janjian bertemu di Masjid Baiturrahman depan simpang 5 terus lanjut jalan-jalan ke CL, makan di Shibuya Express, dan biasa, pilih menu paling irit. Sempet selfi biar ada bukti lagi bareng, tapi gara-gara kamera kita nggak ada yang bagus, hasilnya jadi bikin enek. "Yaudah makan aja yuk za, susah banget mau poto doang." Inilah yang menjadi alasan, pertemuan kami nggak ada dokumentasi yang proper. 

Sebenarnya di pertemuan pertama ini, saya sama keluarga, tapi Bapak-Ibuk-Adek berpisah sama saya, karena saya mau main sama Rieza, wkwk, jadi keluarga jalan-jalan ke tempat lain. Setelah makan, kemudian kami ke Gramedia, mengenang masa-masa SMA wakakak. Selanjutnya sekitar jam 8 malam, kami memutuskan untuk pulang. "Pulang yuk za, aku dah dicariin sama Ibuku." Saya lupa sih siapa yang dicariin duluan,tapi intinya saya sudah mau dijemput untuk selanjutnya pulang.

"Etapi, kamu pulang sama siapa za? Dijemput sama 'itu' yaa? Namanya siapa sih zaaaa, kasih tauuu.."
"Nggak maaau.. udah yuk pulang, kita berpisah.." Selanjutnya kami berpisah di depan gerbang gramedia. Saya jalan ke luar ke arah jalan Pandanaran, karena janjiannya dijemput di jalan. Saya nyebrang, dan terus jalan ke arah simpang 5, dan akhirnya diam nunggu di depan gedung galeri Indosat kalau nggak salah. Ibu bilang sudah otewe tapi kok nggak sampe-sampe ya.. Alhasil saya nunggu di jalan kayak orang ilang. Tapi dari kejauhan, ada orang jalan kaki mendekat ke arah saya, dengan cara jalan yang familiar. 

"Aiiis!! Kok kamu nunggu di sini siiih?" Sambil badan orang ini loncat-loncat nggak jelas.
"Ehh.. Riezaaa hahaha, samaaa..." Eh iya ternyata si Rieza ini jalan sama si 'itu'nya. Akhirnya saya dan pria penjemput Rieza berkenalan, tapi saking terkesima (antara terkesima dan pengen ngekek, ngetawain si Rieza) saya nggak fokus ke pria ini. Cuma saya perhatiiin wajahnya sebentar terus lirik ke Rieza lagi.
"Yaudah, Is. Aku tungguin aja deh, kamu. Daripada kamu ntar ilang diculik orang. Gelap tauk."
Akhirnya saya dan Rieza ngekek-ngekek di pinggir jalan kayak orang gila, tapi pria penjemput Rieza ini nunggu di mobil. Di mana mobilnya parkir tepat di depan saya, wahahaha. 

"Nih makan, kamu tuh lhooo, kok nunggunya disini tooo." Sambil Rieza menyodori saya dengan sari roti pemberian dari calonnya Rieza.

"Wakakakak, gapapa deh za, aku nggak tahu namanya, tapi aku tahu mukanya weeeeek."

Pertemuan pertama berakhir bahagia buat saya ngetawain Rieza hahahaha. Dasar, sukanya rahasia-rahasia sih. Selanjutnya pertemuan absurd kedua setelah saya paksa-paksa, akhirnya dia naik BRT ke jalan pemuda. Kami bertemu di Paragon.

"Kamu jangan ke mana-mana ya, di Musholla aja."
"Iyaa, uwe udah di musholla dari lebaran tahun kemarin -_- ."
Setelah ketemu makhluk ajaib ini, saya perhatiin dari atas sampe bawah.. Baju coklat, rok coklat, kerudung ijo.. dapet inspirasi dari manaaaa ini anak.

"Apa liat-liat? Udah kayak pohon belum? Hari ini aku mengusung konsep back to nature." wakakakak geblek ini anak, gilanya nggak ilang-ilang padahal udah mau nikah. 

"Eh aku punya voucher calais beli 1 gratis 1 looh.." Si Rieza ini kalo makan di luar iritnya minta ampun, jajan yang enak dikit atau mahal nggak jauh-jauh dari kata gratisan. Ini konsep yang perlu ditiru sih emang. Dari zaman SMA kalo saya jajan gorengan hampir setiap istirahat, dia paling cuma ngikut jalan ke kantin. 

Setelah itu kami lanjut ke matahari. Belanja baju haha. Ada diskon beli 2 gratis 1 membuat saya kalap nyari 3 buah baju dengan merk sama sambil berhitung. "Zaa, tapi ini ukurannya beda-beda, di aku muat nggak ya?" Setelah ngubek-ngubek hampir 2 jam, akhirnya 3 baju itu saya kembalikan. "Yaudah lah, aku beli sweater yang abu tadi aja, baju-baju yang tadi susah nyari pasangan jilbabnya..."

Si Rieza kebingungan nyari kardigan yang oke, dan ini udah mendekati waktu sore. "Zaaa, buruan, nanti aku ga bisa pulang ngga ada BRT neeeeh.." Rencana mau pulang ke Boja naik BRT, meskipun serem juga sih, karena BRT nya itu nggak nyampe rumah mbah, tapi nanti mesti naik bis umum mini lagi. Kalau siang-siang sih oke aja, nah kalo maghrib? hiks hiks..

Akhirnya kami cau ke DP mall nyari seserahan, jalannya jauh juga sih. Tapi karena kelaperan akhirnya kami makan dulu sebelum belanja lagi. Baru kali ini diajakin beli seserahan, ternyata barangnya macem-macem juga. Si Rieza beli sisir (apaan coba sisir buat seserahan, katanya sih sisirnya sisir yang yahud gitu), sprei, parfum, sabun.. Ooooh jadi seserahan itu begini thoo..

Dan benarlah, kita selesai belanja sampai maghrib. Sampai di halte BRT, ramaaai banget. Kata bapak-bapak BRT juga sempat ada kemacetan, jadi BRT nya akan ada yang delay. Cemas banget nggak bisa pulang, si Rieza juga udah diburu-buru sama Papa Agus (ayahnya Rieza) buat cepetan pulang. BRT ke jurusan rumahnya Rieza nggak dateng-dateng padahal belum sholat maghrib juga.. Tahu gitu sholat maghrib di Ahlil Jannah-nya smaga. Akhirnya setelah sekian lama, BRTnya Rieza sampai juga, daaaan bye bye Rieza, sampai jumpa lagiiii.

Terus nasib saya gimanaa? Haha itu part yang nggak usah diceritain aaah, biar jadi rahasia saya aja :p. Tapi saya pulang dengan selamat kok, berkat seseorang, wkwk makasih yaaaaa :)


Selasa, 25 Oktober 2016

Ambil Sikap, Sekolah atau jadi Ibu Rumah Tangga?

Bismillahirrahmanirrahim..

Sekali lagi, kisah galau akan saya ungkapkan di sini. Jika kawan-kawan tahu, hari Senin tanggal 24 Oktober 2016 kemarin merupakan hari Dokter Nasional. Terus, kenapa?

Ya, kemarin diadakan aksi damai oleh Dokter di beberapa wilayah Indonesia, dalam rangka memperingati hari Dokter Nasional ke 66 ini. Inti dari aksi damai ini adalah menolak adanya prodi DLP (Dokter Layanan Primer).

Lalu apa sih, DLP ini? Dari penjelasan beberapa orang yang saya dengar, DLP ini adalah program pendidikan dokter berkelanjutan yang setara dengan spesialis, yang akan ditempuh selama 2 tahun, setelah seseorang lulus dari pendidikan profesi dokter umum dan sudah melalui program internship. Lalu, apakah DLP ini merupakan salah satu bentuk spesialis?

Menurut UU no 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran pasal 8 ayat 3, Program dokter layanan primer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kelanjutan dari program profesi dokter dan program internsip yang setara dengan program dokter spesialis.” 

Berdasarkan pengakuan dari Wamenkes, Prof. Dr. Dr. Ali Ghufron Mukti M.Sc.,Ph.D., hadirnya dokter spesialis layanan primer pada lini pertama BPJS Kesehatan diharap dapat mematangkan kembali para dokter umum dalam peranannya sebagai dokter keluarga. Dokter layanan primer dianggap bisa menjawab tantangan di dunia kesehatan masa mendatang sehingga proses rujukan dari dokter umum ke dokter spesialis menjadi lebih terstruktur. 

Apa sih bedanya DLP dengan dokter umum? Kompetensi DLP ini akan lebih tinggi dibandingkan dokter umum biasa. Okay, jadi seperti ini, semua dokter umum memiliki standar minimal kompetensi yang harus dikuasai, di mana standar ini tercantum di SKDI (Standar Kompetensi Dokter Indonesia), oya, ini ada beberapa perbedaan, contohnya saya ambil dari materi sosialisasi DLP

diambil dari http://www.pusat2.litbang.depkes.go.id/pusat2_v1/wp-content/uploads/2015/12/Materi-sosialisasi-DLP-Kabadan-PPSDM.pdf
Nggak ngerti ya? Saya juga haha oke, intinya, DLP harus mampu menguasai kasus-kasus tersebut, yang jika kasus ini dihadapi oleh para dokter umum, maka mereka akan merujuknya ke dokter dengan kompetensi yang lebih tinggi. 

Lalu, wajibkah semua dokter mengikuti program DLP ini? Kalau saya tidak salah dengar, tempo hari sempat ada diskusi panel dengan Prof. Dr. Dr. Ali Ghufron Mukti M.Sc.,Ph.D di kampus saya, dan beliau mengatakan bahwa, program ini tidak wajib, melainkan 'pilihan'. 
diambil dari http://www.pusat2.litbang.depkes.go.id/pusat2_v1/wp-content/uploads/2015/12/Materi-sosialisasi-DLP-Kabadan-PPSDM.pdf


Fiuuh.. Hanya pilihan saja kok, nggak wajib. Kalau wajib, bisa kewalahan kita, sekolah mulu, kapan prakteknya? Bisa dilihat dari bagan di atas ya, pada era pendidikan kedokteran saat ini, untuk jadi dokter umum saja, sudah menghabiskan waktu 7 tahun... Horor ngga seeeh? Ini lebih horor dibanding kisah dosen Gaib yang kakinya nggak napak di tanah *cry*

Daaaan, yang lebih horor lagi adalah.. Ketika era DLP ini suatu saat 'mau tidak mau' menyingkirkan para dokter-dokter umum yang sudah menghabiskan 7 tahun dalam hidupnya untuk belajar, dan masih 'dianggap' kurang kompeten. Sedih nggak sih... Apalagi, nantinya dokter yang bisa bekerja sama dengan BPJS ini adalah DLP.

Yaaa sama saja sih.. dokter umum akan tergerus zaman, dan entah bagaimana akan bertahan.. Saya sebagai koas biasa saja (yang nggak pinter2 amat, dan nggak ngerti nasib saya ketika jadi dokter nanti akan gimana) merasa sedih dengan kenyataan ini. Mau tahu yang lebih sedih lagi?

Dua hari lalu saya ngobrol dengan kakak tingkat yang sudah disumpah dokter. Beliau memulai pendidikan sarjana Kedokteran mulai tahun 2010, 4 tahun kemudian, tepatnya bulan September 2014 mulai menjalani kehidupan koas, hingga sekitar bulan Juli 2016. Oke, habis sudah 6 tahun yaa. Selanjutnya, bulan Agustus 2016, beliau mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia, di mana hasil kelulusan diumumkan satu bulan kemudian, yakni bulan September 2016. Alhamdulillah lulus one shoot, bulan Oktober beliau di sumpah sebagai seorang Dokter Umum. Waaah, udah lulus, udah bisa praktek dooong? Tunggu duluu.. Kan masih ada internship 1 tahun.. Waah, selanjutnya bisa internship terus bisa praktek dooong? Tunggu dulu.. Antrian internship itu juga lama.. Kalau di sumpah bulan Oktober, maka akan Wisuda Dokter bulan Desember, terus baru bisa internship bulan Februari. Haaaaah lama bangeeeet! Jadi jarak antara sumpah dengan internship bisa hampir setengah tahun!

Oke, jalur ini hampir mirip dengan yang akan saya lalui. Intinya, tahun Februari 2018 saya baru bisa internship, dan selesai jadi dokter umum tahun 2019. Ya Allah, merinding nggak sih.. Mending saya teriak-teriak liat brankar jalan sendiri daripada begini!

Ini kalo sekarang saya hamil, sampai nanti jadi dokter umum yang sudah dapat SIP dan STR (artinya sudah bisa praktek) anak saya udah bisa jalan, udah bisa ngapa-ngapaiin, atau mungkin udah masuks SD hiks hiks... Tapi... Ais.. kamu belum bisa beli susu buat anakmu loooh.. mau dikasih makan apaa? rumpuuut?

Tak tahulah, mau dibawa ke mana.. Ada yang mau usul? Sekolah terus atau.. Yaudah belajar dulu sana, ini tugas dari kemarin ngga jadi-jadii *crying on the shower*


Mencari Tahu Namamu

Mencari tahu namamu, kini tak semudah mencari peniti di tumpukan jarum pentulku.

Tampak berbeda, di antara hiasan yang sebenarnya tugas mereka sama.


Menghimpun kabar darimu, kini tak semudah menghimpun untaian kusut benang-benang jahitku.

Memusingkan memang, tapi aku tak frustasi, karena benang itu ada di genggamanku.


Memilih cerita tentangmu, kini tak semudah memilih aksesoris yang akan kugunakan hari ini.

Karena mereka selalu ada di hadapanku, membiarkan aku memilih di antaranya.


Baiknya memang kutunggu, namamu ada di tempat yang tepat

Baiknya memang kutunggu, kabarmu sampai ke telingaku

Baiknya memang kutunggu, ceritamu terkisah padaku


NB: long time no write, jadi ngepost sesuatu yang random haha. Belum produktif lagi... aduuuh aisnya lagi malees~~




Kamis, 26 Mei 2016

Bagaimana Bertahan

Assalamualaikum!!

Seperti biasa, postingan kali ini tidak jauh-jauh amat dari galau haha. 

"Nduk, kalau bapak dan ibuk sampai saat ini masih bertahan bukan karena cinta, tapi karena bagaimana bertahan saling mengalah satu sama lain."

Terus saya jadi mikir, kalau awalnya bukan karena cinta? Bisa juga nggak? Di salah satu buku yang saya baca, cinta murni itu bisa bertahan paling lama 4 bulan, sisanya ya itu tadi, bagaimana pertahanan masing-masing. Ada lagi sumber lain, kalau rumah tangga itu bisa bertahan karena kekuatan cinta masing-masing itu paling lama 4 tahun. Sisanya? Ya bagaimana si suami dan istri mempertahankan keseimbangan alias homeostasis kehidupan rumah tangganya.

"Kamu kok bisa sih pacaran 3 tahun? Nggak capek dikuntitin terus sama pacar?" Jiwa bebas (alias jomblo) saya sering bertanya-tanya. Coba saja, setiap hari pasti menghubungi (pengen juga sih ada yang ngehubungin, haha), tapi pasti ada kalanya capek juga kan? Misalnya, kamu dicemburuin atas dasar suka main sama lawan jenis, capek kan? Nggak merdeka..

"Ya kita sih prinsipnya percaya satu sama lain, karena kita LDR, pasti nggak bisa saling mengawasi. Cemburu itu pasti ada, ya tapi ditakar laah.. Jangan seenaknya juga. Kamu jangan-jangan gegara jomblo jadi suka main sama cowok yaa? Terus ngerasa ga bebas gitu kalo nanti dikekang? Haha dasar."

"Nggak juga, aku sih ga masalah kalau nanti memang harus dipantau, tapi ya jangan lebay juga. Misalnya aku nggak ngapa-ngapain tapi dicurigai ngapa-ngapain. Nggak ada toh orang yang suka dituduh? Apalagi kalau dituduh berkali-kali. Nggak suka lah."

"Kamu kan juga tukang marah-marah, haha. Jangan-jangan nanti partnermu juga ga tahan kamu marah-marahin terus tanpa alasan."

"Hmm.. ya sebisa mungkin nanti aku marah-marah tapi ada alasannya. Seremeh apapun alasannya. Haha, sama aja bikin capek ya, kalau kayak gitu."

"Iyaa.. intinya sama-sama berusaha, jangan cuma mintanya yang enak-enak aja."

Yasudahlah, masalah bertahan atau enggak nanti aja deh, memulai aja belum sanggup 



Jumat, 20 Mei 2016

Apa Kabaaaar?!

Assalamualaikum!

Hehe, cuma mau nanya kabar.
Sepertinya kita tak akan pernah bertemu lagi, sampai suatu saat nanti kalau memang harus bertemu *apasih
Untuk beberapa tulisan yang saya tujukan padamu, sepertinya sudah tidak berlaku. Sudah kadaluarsa, expired. Itu hanya berlaku selama beberapa tahun sebelum ini.

Yang jadi draft tetap akan jadi draft, nggak akan saya posting. Tetapi tetep akan saya simpen kok, kayak buku tabungan anak sd yang catetannya udah usang tapi tetap ditumpuk buat nabung. Mulai saat ini mungkin ga akan ada tulisan tentangmu lagi, saya udah tobat hehe. 

Kalaupun harus bertemu lagi, semoga kita sudah sukses yaaa! Buat yang sering saya sebut, yang ada di ujung sana.

Wassalamualaikum!

*random*

Selasa, 26 April 2016

Dahulu, Tak Begini

Assalamu'alaikum!

Kalau aktif medsos, sekarang sedang jamannya foto, "Maafkan aku yang dulu." Ada dua foto yang dijejerkan. Yang satu foto masa baheula, yang sebelahnya foto masa kini, semacam foto before and after. Tentunya, foto masa kini lebih cetaaar dibanding foto jaman dulu, yang dulunya kucel bin kumal, the current mode is trendi dan gahol. Katanya sih foto jenis ini bisa bikin orang menyesal mutusin pacarnya dulu.

Dari ig Bapak Instagram Indonesia, @ridwankamil

Foto ini mempermudah para mantan mengkepo orang yang dulu pernah dekat dengannya, hahaha. Inget jaman kuda gigit besi mukanya kayak apa, dan sekarang cantik/gantengnya bikin deg-degan *tsaah*. Random pengen ikutan bikin, tapi apa daya, nggak mampu. Kenapa nggak mampu? Pertama, nggak punya mantan, siapaaaa juga yang mau liat. Kedua, foto jaman dulu posenya nggak nguatine reeeek. Malu deh malu... Ketiga, nggak ada perubahan signifikan dari jaman dahulu dan jaman sekarang. 

Ada sih perubahan, begitu ngecek foto jaman dahulu yang didominasi penampakan wajah dari samping. The first, sebelum negara api menyerang, jerawat nggak panen kayak sekarang. Yang paling bikin shock adalah masalah chin. Dulu, jaw line-nya udah kayak orang korea *lah pede amat lu is*, sekarang? Boro-boro. Udah double chin. Yaampun cyiiiiin!!!

"Aiss, kok kamu melebar sih sekarang?" komentar salah satu temen SMA dengan muka kaget. Entah kaget, entah puas ngeledekin, hahaha. 
"Iya, stress nih, kebanyakan makan, kebanyakan tidur. Jarang pulang, Kurang kasih sayang. Sering dicampakkan, terlampau lama sendirian." hiyaaaa pen pulaang salim bapak ibuk adek!

Kembali ke bahasan pertama, mengenai foto before and after yang ngehits ini. Manfaat dari adanya foto ini adalah bikin susah move on orang-orang yang terlanjur lihat penampakan rekan yang dulu mungkin, ehem, digebet. Dulu kan waktu SMP dia gendut. Ih kok sekarang kekar dan tinggi gitu siiih! Atau pernyataan lain yang bikin gagal move on, Loh, dulu kan dia dekil, sekarang beauty banget, liat tuh, alisnyaaa!!

Yaa, namanya juga manusia, manusia itu adalah makhluk dinamis. Dinamis dari segi fisik, apalagi masalah hati. Makanya hati manusia itu sangat mudah dibolak-balik, dan terombang-ambing, ceileh. Ini postingan random banget, bridging-nya agak kejauhan, antara masalah foto dan hati. Yaudah sih gapapa ya, namanya juga manusia.

Hai hati, kalau bingung, tanyalah, tanya kepada sang Pemilik Hidupmu. Dia tak pernah meninggalkanmu, sedetik pun. Kalau kau merasa ditinggalkan, sebenarnya bukan Dia yang pergi, tapi kamulah yang bergerak pelan, menjauh.

Semoga minggu ini berlalu dengan indah yaa, mau ujian nih, mohon doanya!
Teruntuk kamu yang saya hubungi cuma pas mau ujian aja, maaf yaaaaa. Nanti aku sering-sering ngehubungin kamu kok, my honey, Rieza Amalia :p

Minggu, 24 April 2016

Bertaruh Rasa Malu

Jika rasa malu itu kukumpulkan
mungkin ia sudah sebentuk bukit
Jika rasa malu itu kujabarkan
mungkin ia sudah seluas langit

Sudah lama aku tak berurusan dengan malu
Malu sejenis ini
Apa kau tahu maksudnya?
Malu itu ada banyak rupa

Malu terlihat aneh
Malu terdengar tak merdu

Selasa, 01 Maret 2016

All Iz Well

Assalamualaikum!

Don't you ever feel like, you have a big expectation for someone, but the person did something that makes you want to scream, "Oh my God! Shame on you!!" Yeah, this post is about "Aku membencimu dengan sepenuh hatiku" series, haha. You will see my other post about me hating someone with this kind of title.

"Hem, are you hating, or ehm loving someone?"
"I've ever heard that the distance between love and hate is just short. Even the scientist prove it!"
"Really?"

Yeah, but maybe you can read the explanation by yourself, hehe, want to explain that, but not now. Something happen with both of my heart and head. My head keep spinning and my heart keep aching.

"How could you be like that, huh?"
"When someone said that he/she was ready doing something but he/she ended up doing nothing, what do you think?"
"Hem, but I wanna ask you something before I tell my opinion about that. Are you sure that he/she really didn't do anything?" 
"Aaaaah. not really know. I'm just crying for no reason."
"Ok. Why are you crying?"
"Hm. just cry, I can't think straight right now. Just like Rachel Platten said, wrecking ball inside my brain. Many things already happened. And maybe will be happened. Worry for a future, worry if I would feel something called 'di pehapein'."
"Omoo.. I ask you once again. Are you sure that he/she really didn't do anything? Maybe he/she needs more time to do the preparation?"
"Okay, but why he/she said that he/she was ready before? What does he/she mean, haaaaaah?! Heemmm, let's end this random conversation. Keep calm, I'm ALRIGHT. Just like Ranchodas Chanchad said, All izz well. Bye."


Nb: lagi random nih, maaf ya haha. 
Someone said, "Dibalik kata haha, dalam setiap curhatan sedih atau tangis, tersimpan huhu yang mendalam."

Rabu, 24 Februari 2016

Tentang Menikah

Assalamualaikum!

Mumpung libur saatnya galau. Beberapa orang terdekat saya udah banyak yang persiapan menikah dan sudah menikah. Teman seangkatan saya sudah banyak yang menikah. SAHABAT saya, bentar lagi juga menikah. Sahabat yang mana? Tunggu tanggal mainnya.

Menikah itu bukan balapan, siapa cepat di dapat. Bukan gitu. 
Nanti kalo udah ada jodohnya juga dateng sendiri.
Yaa, kan dia sudah dipertemukan dengan jodohnya, tunggu waktu aja.

Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang selalu diucapkan setiap ada kawan yang menikah. Menghibur sih, tapi rasa geregetan tetap ada. Haha, nggak ikhlas banget ya kalau begini.

Seperti percakapan saya dengan seseorang yang hampir menikah berikut ini.
A (aisyah) dan S (Seseorang)
A : lihat ada chat baru di line. Dikirimin foto. FOTO rangkaian pernak-pernik semacam sovenir. 
      IIIH APAAN TUH? SOVENIR?!
S : Cuma ini yang bisa aku lakukan..
A : dalam hati langsung tertekan. 
Pas ketemu langsung, seseorang ini nggak mau ngenalin calonnya ke saya. Gaya emang. "Yaa, semoga dilancarin sampe hari H ya. Nggak nyangka ya, ternyata kamu ngeduluin aku."
Sambil gaya-gaya manis manja agak malesin gitu dia teriak, "Iiih jangan sampai Hari H doang dooong.. Sampe selamanya gituu.." Sumpah ini bocah pengen banget dikuncir mulutnya pake karet nasi goreng.
Sebenarnya sudah ada sahabat saya yang lain yang udah menikah, di awal tahun ini. Namanya Diah Ayu Kurniasari, tim 'kemenyek' jaman SMA. Maafin aku nyuu, ga dateng di nikahanmu hiks hiks. Sedih rasanya. 

Ada lagi, dua teman sekelompok koas saya sudah tunangan, alias taken, dan salah satu diantaranya akan menikah dalam rentang waktu tahun ini. Ya, menikah muda itu nggak salah sih. 
source : temanbercerita.tumblr.com

Begitu mengingat persiapan yang masih kurang sampai saat ini, saya jadi mundur lagi. Kepikiran kalau misal suatu saat nanti saya sudah punya anak, terus anak saya menanyakan beberapa hal. Tapi saya nggak bisa menjawab dengan baik. Kyaaaa. jadi ibu itu susah lho.. *udah cari imam dulu sana.

Selasa, 23 Februari 2016

Cerita Koas #1

Assalamualaikum!

Sudah lamaaaaaaa ya tiada posting. Ehm mau cerita lagi tentang pengalaman yang 'menyenangkan' beberapa bulan belakangan. Terakhir posting Desember, sudah 3 bulan ya belum posting, si Azka juga rekues minta dipostingin cerita hantu di rumah sakit, ada-ada aja. 

Tapi saya nggak mau cerita hantu ah, belum pernah ngalamin hehe. Kalo horor bikin jantung deg2an, hati ini tak karuan ya sering. Contohnya waktu saya lagi stase kebidanan. Saya (A), dan salah seorang ibu pejuang jihad yang mau melahirkan normal atau nama kerennya partus pervaginam, sebut saja Ny S. Ceritanya, ibu ini masih belum masuk fase untuk mengejan, jadi masih kenceng-kenceng dulu sambil menunggu pembukaan lengkap. Aturannya, jika belum pembukaan lengkap, seharusnya sang ibu jangan mengejan terlebih dahulu. Alangkah lebih baik sang ibu menarik nafas panjang, karena konon katanya fase menunggu pembukaan lengkap itu sakitnya ruaaar biasa~. Kenapa jangan mengejan jika belum pembukaan lengkap? Karena nanti bisa menekan kepala bayi yang sebenarnya belum saatnya untuk dikeluarkan. Nanti kepala bayinya bisa panjul :(. Nah selain itu kepala bayi panjul juga bisa terjadi kalau sudah lengkap pembukaannya, namun bayinya tak kunjung keluar. Intinya penyebabnya karena bayi terlalu lama ditekan ibu. Penyebab lain juga kalau bayinya disedot pakai vakum, kenapa disedot pakai vakum? Biasanya karena waktu persalinan terlalu lama, sedangkan ibu sudah tidak kuat untuk mengejan. Makanya para calon ibu, siapkan nutrisi sebelum mendekati hari H persalinan, siapkan tenaga juga. Katanya sih, persalinan normal itu sebenarnya perpaduan kerja sama antara ibu dan anak :) *tuh is, siap-siap. Olahraga banyakin, jangan ngemil mulu. Oke, kembali lagi ke ibu itu.

Ny. S: (teriak-teriak kesakitan, narik-narik sprei bed rumah sakit. Untung nggak sampai ngejambak mbak koas) Mbaaaaak! Sakit mbaaaak! Huh huh huh. Ini sakit banget mbaaaak!!!
A : Iya ibu, tahan ya bu yaa... Ibu tarik nafas panjang ibu.. Tadi pembukaannya masih 7 ibu, jangan ngeden dulu ya ibu... (nb : pembukaan lengkap = 10) 
Ny. S: Mbak sakit mbaak... Mas sakit maaaas iniii (noleh ke suaminya)
A : Iya ibuu.. ditahan dulu yaa, kalo sakit tarik nafas panjang. Kan ibu udah pernah melahirkan sebelumnya tho? (nb : ibu ini statusnya ibu dengan 2 anak dan selalu melahirkan secara normal dari kehamilan sebelumnya)
Ny. S: Iya mbaak tapi ini anak pertama dari suami ini mbaaak. Ini sakit banget mbaak lebih sakit dari yang sebelumnyaaa!! (Loh ibunya jadi curhat. Terus melirik ke suaminya, sambil nahan pedihnya kenceng-kenceng)
A : Iya buu.. tapi kan ya sama aja tho bu melahirkannya. Rasanya juga sama kayak dulu.. (sambil megangin tangan ibunya yang berontak udah kayak mau ambruk dari bed. Ibu ini cukup gemuk, karena sebelum hamil juga udah obesitas sepertinya)
Ny. S: Alaah mbak kan nggak pernah ngerasain tho gimana RASANYA MELAHIRKAN? SAKIT MBAAAAAK!!"
A : seketika mbak koas serasa pengen pingsan terus pas bangun langsung nulis diary. Ya Allah pedih banget... Ambrukin saya bu, ambrukin aja...   

Tetapi saya meskipun dikatain kayak gitu sama ibunya, tetap berjuang menyemangati ibu-ibu ini sampai akhirnya bayinya lahir dengan selamat. 

Ny. S : Sus (suster maksudnya) makasih ya.. maaf tadi udah narik-narik sambil marah-marah. Maaf ya sus ya...
A : oh iya ibu.. nggak papa hehe. selamat ya bu, anaknya laki-laki.. Anak pertama dan keduanya jenis kelaminnya apa bu?
Ny. S: Perempuan mbak Sus.. semoga mbak juga segera bisa merasakan jadi ibu ya mbak..
A : ayo mbak koas bilang apaaaaa? Aaamiiin....

Ada juga momen lain yang bikin saya deg-degan setengah mati. Beneran, ini deg-degan rasanya kayak jantung mau copot. Waktu itu saya lagi jaga malam, karena ada pasien yang mau dioperasi caesar dan butuh untuk segera dibawa ke ruang operasi karena janinnya sudah menunjukkan tanda-tanda gawat janin, saya lari sambil dorong-dorong brankar (bed). Alhamdulillah selamat sampai tujuan, nah, pas balik ke tempat jaga, saya sendirian, karena bidannya menyelesaikan masalah berkas-berkas catatan medis dulu. Saya jalan pelan-pelan, waktu itu jam 2 pagi, tiba-tiba dari arah depan ada suara brankar. Dari arah depan itu ada tikungan, jadi saya menunggu-nunggu kapan ini brankarnya mau lewat. Pas muncul brankarnya, ternyata brankarnya kosong dan yang bikin saya deg-degan brankarnya jalan sendiri... Sampai akhirnya saya menyadari, ada mas-mas transporter yang di belakang brankar, gegara jalannya turunan jadi masnya yang megang agak jauh sambil narik, dan saya telat melihat tangan mas-masnya. Kalau diceritain kayak ga serem ya? tapi pas kejadian itu saya langsung lemes dan deg-degannya minta ampun...