Minggu, 23 Maret 2014

Pesan Kilas Balik

Bismillahirrahmanirrahim..

        "Kalau bisa mengulang, ada bagian kisahku yang ingin aku buang." Ia memulai cerita hari itu dengan tatapan yang masih tak berubah dari kemarin. Entah, mungkin sedang banyak masalah.
     "Dibuang? Kenapa harus dibuang? Diperbaiki sajakah tidak bisa?" Kini mataku tersedot oleh penampilannya hari itu. Ia tampak begitu sendu, tapi kecantikannya tak juga hilang dari wajahnya.
          "Aku harus menutupnya, melapisinya dengan berkali-kali menggali. Kemudian aku tinggalkan tanah itu. Dan, takkan kupijakkan lagi kakiku di sana." Seketika Ia picingkan mata untuk melongok ke bawah tempat tidurku, setumpuk koran tergeletak di sana. Saat itu giliran kamarku yang Ia sambangi. 
          "Kamu puitis ya? Ya, tinggalkan saja. Sekarang toh kamu sudah hidup di masa yang lain."
      "Tidak semudah itu. Kalau aku harus menggalinya dan menutupnya berulang kali, aku tetap harus menginjakkan kaki di sekitar tanah itu bukan? Itu proses yang sangat aku tidak suka." Koran di kolong tempat tidur kini berpindah ke lengannya. Ia tepuk-tepukkan koran penuh debu itu di lantai. Kini lantai kamarku jadi (semakin) berdebu.
        "Tahan sebentar, setidaknya ketika kamu sudah menutupnya, kamu tidak akan terjatuh lagi persis di lubang itu." Hampir terbatuk aku mengatakan hal itu. Baru aku sadar, ternyata kamarku begitu berantakan, dan tidak sehat.
          "Kalau aku jatuh di sana lagi, maukah kau membantuku untuk bangkit lagi?"
        "Aku tidak tahu. Karena aku tidak bisa berjuang sendiri ketika kamu jatuh di sana. Aku juga butuh bantuanmu. Aku butuh inginmu untuk bangkit, bukan semata aku yang harus berusaha." aku kembali ke posisi dudukku semula setelah sebelumnya kupaksa ia mengembalikan koran itu ke tempat semula. Ia memang tidak pernah bisa duduk tenang ketika bercerita. Matanya menjelajah ke seluruh sudut yang bisa ia lihat.
        "Kamu pelit sekali. Seharusnya kamu berusaha untuk menarikku. Karena ketika aku jatuh, aku tidak mampu mendorong tubuhku dari bawah jika aku tidak punya pegangan." Ia membuka buku yang ada di atas meja. Lalu ia tutup lagi. Tampaknya ia menyesal telah membuka buku itu. Lalu ia berlanjut meneliti barangku di meja satu persatu.
          "Ya, itulah. Berpeganglah pada sesuatu yang rigid, yang takkan berubah mengikuti nafsumu. Aku tidak bisa menjamin aku bisa menarikmu, atau malah aku yang terjatuh bersamamu ke lubang itu." aku ambil bantal di ujung tempat tidurku. Aku sudah ingin menyerah mendengar ceritanya, sebenarnya.
        "Sebenarnya, tahukah kamu apa yang terjadi sehingga aku bisa jatuh ke lubang masa laluku itu?" Ia menatapku. Setelah sekian lama Ia mengedarkan pandangan dan tak bisa diam. Lalu ia bergegas, ia rapikan kembali mejaku yang baru saja Ia acak-acak, "Aku pergi dulu, kunjunganku kali ini sudah berakhir. Lain kali aku akan berkunjung lagi. Tunggu aku!" Lalu ia beranjak, meninggalkanku yang terkantuk-kantuk. Aku memang sering tertidur akhir-akhir ini..
*to be continued*


Selasa, 11 Februari 2014

Pribadi Mimikri

Bismillahirrahmanirrahim

Manusia itu makhluk (jejaring) sosial, dan semua orang tahu itu. Tetapi, akhir-akhir ini saya diresahkan dengan beberapa problem. Sekarang ini, lebih banyak yang sibuk dengan akun pribadinya. Tidak semua sih, tetapi banyak yang begitu. Pernah saya beberapa kali agak marah dengan temen sebelah saya, “Eh, kamu! Dari tadi aku ngajakin kamu ngobrol tau. Kamu malah mainan hape. Aku kan jadi kayak orang gila.” Gimana enggak, saya ngajak ngomong sesuatu, tapi nggak dijawab-jawab, begitu dia jawab, jawabannya, “Eh, iya. Apaan tadi?” Kesel nggak sih? Keseeeeel!

Iya sih, sebenarnya saya masih bisa mengasyikkan diri saya dengan kegiatan yang sama seperti yang dia lakukan. Terkadang prinsip saya itu, jika seseorang memperlakukan saya ‘seperti itu’, berarti dia juga ingin diperlakukan ‘seperti itu.’ Permasalahannya adalah, hape saya bukanlah smartphone seperti milik teman-teman saya. Saya pun tidak menggunakan I-phone, I-pad, tablet, dan lain-lain lah. Apalagi yang sekarang bentuknya besar-besar itu. Alhasil saya nggak punya berbagai akun instant messaging seperti yang sedang marak dewasa ini. Saya cuma punya dua akun, facebook dan twitter, hehe. Lebih parahnya lagi, hape saya tiba-tiba konslet, game hilang semua dan nggak bisa buat internetan. Alhamdulillah sih, fungsi utamanya masih sanggup ia jalankan, secukupnya, seperti sms dan telepon.

Oke, cukup curhatnya. Sebenarnya di balik segala keresahan saya ini, saya masih sering kok bersosialisasi dengan teman-teman saya. Yah, cuma satu dua kok, yang suka sibuk dengan akunnya. Malah sebenarnya jarang sekali. Tapi sekalinya dicuekin, saya keselnya minta ampun hehe.

Tetapi, teman-teman saya ini memiliki beberapa perbedaan karakter dan keseharian yang berbeda pula. Saking berbedanya, saya sering bingung, karena saya jadi memiliki sikap seakan-akan mengikuti mereka. Berikut merupakan beberapa kelompok karakter yang saya temui:


credit : pixabay.com
1. Single but Slow  
Aku baik-baik saja, menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna~
I am single and very happy~

Ya, begitu kira-kira soundtrack hidup kami. Teman-teman seperti ini saya dapatkan waktu penghujung SMA. Teman keseharian saya jarang banget yang punya pacar, dan utamanya lagi, jarang yang bahas cowok. Haha, bahas cowok sih paling tetangga depan rumah temen, terus kalo ketemu sama cowok cakep aja, sama artis cakep. Kalo ngebahas, cuma buat seneng-seneng aja. Utamanya sih, karena saya temenan sama orang-orang begini, saya jadi awet single.

Sekarang juga temenan sama orang-orang single, tapi ada yang nggak slow. Kadang suka nyeletuk, “Woi, mblo.” Atau sapaan iseng lainnya. Ya nggak masalah sih, emang apa adanya begitu, haha. Yang bikin semakin nggak slow itu, kadang, karena kita jomblo-jomblo, jadi peluang mau ngejekin atau ngejodoh-jodohin sama orang makin besar. Ini yang makin bikin agak-agak eneg.

   
2. Couple group
Ini juga ada, saya sahabatan sama temen SD dan SMP sampe sekarang. Totalnya bertiga, tapi yang dua udah jadi couple. Sisanya, ya saya, masih awet single, nggak masalah sih, nggak beban. Tetapi kadang, saya yang jadi suka diledekin. “Ntar pasti kamu deh yang paling cepet nikah, percaya!” yah, diaminkan saja deh, itu kan doa. Terus kadang juga suka liat akun medsos masing-masing temen saya ini. Ada yang foto berdua bareng, ada yang laporan lewat path lagi berdua, dan lain-lain. Kadang juga suka cerita, suka dikasih hadiah sama pacarnya kalo lagi ulang tahun, atau sekedar jalan-jalan. Iri? Dikit, haha, tapi kalo pas lagi terpapar sama mereka berdua aja kok. Kasian ya saya? Haha, enggak kok, saya semangat dan tetap mengaminkan doa mereka di awal tadi.

3. Always be a good muslimah
Grup macam ini pertama kali temukan pada saat SMA. Berkat lingkungan yang baik, saya yang masih labil (dulu) jadi menemukan di koridor mana saya seharusnya berada *tsaah. Kalau lagi terpapar dengan grup ini, rasanya adem, tentram, dan menyenangkan. Sampai sekarang, alhamdulillah masih diberi kesempatan bergabung dengan teman-teman yang membuat saya jadi always be a good muslimah (aamiin). Berkat ingatan saya juga akan grup ini, ketika saya tergoda dengan couple group saya jadi sadar. Ada hal lain yang lebih menentramkan hati saya lho, obat hati, ada lima perkaranya~~ (lanjutin sendiri yak)

4. Politic Group
Jangan salah, saya juga gabung dengan grup yang begini-begini, meskipun saya nggak ngerti-ngerti amat. Saya bergabung di badan eksekutif mahasiswa, dan kata teman saya, ini adalah alat politik. Sebenarnya saya nggak ngerti banget, karena jarang baca buku tentang pergerakan atau politik. Saya dulu sempet nyeletuk, “Aku nggak suka soal politik-politik gitu.” Lalu, teman saya membalas celetukan saya, “Terus ngapain kamu ikut BEM? Mau nggak mau kamu harus ngerti politik doong.”

“Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi seorang politisi, mempunyai pandangan jauh ke depan, dan memberikan perhatian penuh kepada persoalan bangsanya. Keislaman seseorang menuntutnya untuk memberikan perhatian kepada persoalan-persoalan bangsa.”

Hal tersebut adalah pernyataan dari Hasan Al Banna. Tetapi, saya sama sekali belum mengerti dengan politik. Cuma, kalau lagi bergabung dengan orang-orang yang mengerti dengan hal ini, saya suka mendengarkan dengan semangat. Semacam menarik gitu, sih.

Ya, memang lingkungan itu sangat penting dalam membangun kepribadian dan jalan hidup seseorang. Kalau pada saat pencarian jati diri kita menemukan kawan yang tepat, pasti kita akan jadi orang baik, saya percaya itu. Banyak-banyak bergaul dengan orang baik, atau bahkan orang keren. Pasti ikutan keren deh. Yang penting bisa jaga prinsip saja, dan juga toleransi. Membaur tapi tidak melebur. Tetapi, kalau bisa sekalian memberi tahu mana yang benar mana yang salah. Sama-sama belajar, saya juga tidak sepenuhnya sempurna. Yuk, semangat!

Selasa, 21 Januari 2014

Kalau Ubah dengan Hati dulu, Boleh?

Bismillahirrahmanirrahim..

Bisa dibilang ini #latepost banget hehe.
Sebenarnya, judul ini sudah dipersiapkan dari tahun lalu untuk menjadi sebuah postingan. Tapi, GAGAL!
Seakan-akan udah setahun gitu ya nyiapin tulisan ini. Cuman kelewatan pas ganti tahun aja.

"Is, kemarin aku liat dia jalan sama seseorang. Di acara *menyebutkan suatu acara konser* berduaan coba. Nih, aku fotoin buktinya!"
"Oiya?? Emang berduaan doang? Berangkat berdua? Terus pulang berdua juga? Boncengan?!" Berapi-api saya mengomentari fakta ini. Setelah saya liat fotonya sih, emang iya. Niat gitu ya, temen saya sampe motoin gitu. Mungkin dia kesel juga kali ya.

Stop! Kalian menyukai lelaki yang sama? Apa jadinya ya, kalau sepasang orang yang berteman menyukai orang yang sama
Kalau kita menyukai orang yang sama, itu artinya kita memang berteman bukan? Saya Kokyu-Shiritsu Bakaleya Koukou
Itu kalimat yang dikatakan Saya Kokyu kepada Shingyouji Fumie hehe. Out of topic, kembali lagi ke bahasan pertama.

Yauda sih, emang kalo berangkat berdua kenapa? Pulang bareng kenapa? Kalau boncengan kenapa? Hak-hak dia kan? Toh juga mereka udah dewasa. Gitu.
Itu teriakan dari lubuk hati saya yang agak dalam. Kalau teriakan dari lubuk hati saya yang paling dalam, hal yang dilakukan itu sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran dari yang saya tahu. *kalau fakta ini dilanjutkan, postingan ini jadi postingan yang sangat tendensius. jadi saya stop ya.*

Dari Abu Sa’id AlKhudri Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu dan jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman (Dikeluarkan oleh Imam Muslim Rahimahullahu)
Mengubah dengan tangan, sebenernya saya bingung caranya gimana untuk perkara ini. Mengubah dengan lisan, sudah saya coba sih. Tapi saya nggak kuat.. Nggak kuat takut nanti malah jadi bersilat lidah terus jadi saya yang kalah, hehe.

Makanya, saya coba ubah dengan hati dulu. Tapi, wait! ....jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman. 
Saya jadi berpikir, apa saya hanya membuat-buat alasan kalau saya tidak mampu dengan dua cara sebelumnya? Wallahu'alam. Belum menemukan jawaban juga. Hanya pikiran saja sih postingan ini. Belum ada solusi.

Sabtu, 28 Desember 2013

Lain Kali, Mungkin..

Bismillahirrahmanirrahim..

Belum tidur, dan belum mau.
Intip postingan teman, terus jadi kepengin posting hal yang temanya tak beda jauh dari itu.

Ini gara-gara postingan fitriasfari sih, yang indah banget, dan saya jadi terinspirasi.
Di update-annya pula, ada sebuah komen dari anonim, sayangnya anonim, saya jadi nggak tahu harus credit ke siapa.
Intinya, rindu itu akan ada penghujungnya, dan akan tersampaikan pada waktunya.
Waah, ini komennya indah sekali yaaaaa.
Saya nggak lagi rindu sih, cuma lagi terkenang saja. Terkenang tentang masa lalu, yang pernah saya lalui. Tapi, bukan masa lalu yang pernah saya lalui dengan seseorang, bukaaaan. Sama sekali bukan.

Bukan hanya seseorang, tapi situasinya, jalan yang saya lalui, suasananya, orang-orang yang ada di sana, dan lain-lain. Keingetan doang sih, terus udah. Cuma keingetan, lho. Sekali lagi jangan dianggap serius haha. Postingan ini lagi-lagi bukan postingan serius ya.

Tuh kan, ais, galau lagi. Enggak kok, cuma terkenang, sekali lagi terkenang. Kalau rindu, berarti saya sudah pernah melewati hari yang sangaaaaaat berkesan, dan tak cuma terpapar sekali. Menurut saya, rindu itu tercipta karena memang banyak yang sudah terlewati dengan cara yang sama.

Terkenang di suasana kota yang berbeda dengan tempat saya berdiri, terkenang dengan potongan-potongan peristiwa yang terjadi saat itu. Entah, potongan-potongan yang saya ambil sepertinya begitu istimewa, sampai saya mengenangnya hingga begitu lama. 

Dan lagi pula, rindu itu sudah ada untuk peristiwa yang lain. Tentu seperti definisi saya tentang rindu yang sebelumnya. Ya, saya rindu dengan teman-teman SMA saya, dengan kisah yang saya lalui bersama mereka. Kalau terkenang, entah, potongan itu yang terkenang sampai sekarang. *jangan tanya yang dimaksud dengan 'potongan itu' yang seperti apa yaa ;)

Jumat, 27 Desember 2013

Sekedar Pengganti, atau Lebih?

Bismillahirrahmanirrahim...

"Aaargh. Kangen banget sama temen-temen SMA. Mereka memang tiada duanya. Takkan terganti lah. Rasanya pengen banget bisa bareng-bareng sama mereka lagi."

Pernah punya pikiran seperti itu? Saya sering.
Apalagi kalau lagi capek dengan urusan-urusan di luar akademik. Banyak timbul masalah pengganggu, yang membuat saya jadi gagal move on. Saya udah kuliah, tapi masih mikirin gimana seneng-seneng di SMA dulu.

Eits, tapi saya nggak semata-mata seneng-seneng doang lho, di SMA. Ada beberapa hal yang membuat saya terkenang dengan SMA. Eh, banyak ding.

Waktu kelas 1 SMA, saya satu-satunya representative dari SMP saya. Sampai kelas tiga juga sih, sebenernya, wkwk. Di awal-awal persekolahan, saya memang merasa agak minder. Sampai pas saya kelas tiga akhirnya saya tahu ada pikiran aneh dari teman saya semasa kelas X SMA.

"Tahu gak, pertama kali liat kamu aja aku udah tahu, kalo kamu bukan dari Semarang."
"Kok bisaa? Emangnya kenapa ih?"
"Soalnya wajah kamu itu agak ndeso. Hahahaha."
Jleb. Iya sih, emang saya dari desa, Semarang coret, Kendal juga coret. Tapi, temen saya yang barusan itu jujur banget ya, emang. Perkenalkan, namanya Nurul Istiqomah. Anak Komunikasi UNDIP, dan sampai sekarang dia masih suka gangguin saya, dengan dalih mau curhat.

Pas kelas X itu, serunya adalah, semua anak cewek di kelas itu saling 'tahu' satu sama lain. Maksudnya 'tahu' adalah, tahu si A lagi suka sama kakak kelas yang mana. Tahu si B lagi naksir kakak kelas yang ada di ekskul apa. Gila ya, tiap hari di kelas isinya mbribik doang. Cewek lho ini. CEWEK.

Kelas XI, ini nih. Santai bangeet. Tiada beban harus pilih jurusan IPA atau IPS karena beban itu ada di kelas X. Tiada beban harus lulus ujian nasional. Itu mah, ntar-ntaran aja dulu, kelas XII. Jadi di sini isinya maiiiiin mulu. Ke mall, ke bioskop, ke toko buku, dan tetep pake seragam kalo main. Biar ketahuan anak SMA mana, hahaha, alay. 

Yang paling bikin seru di kelas XI itu adalah karena saya ikutan ROHIS. Di subsie (dulu masih subsie, belum jadi ekskul, nggak tahu kalo sekarang) Rohis ini saya belajar banyak. Ketemu Isti Noor Masita (aktivis banget ini orang), Noor Oktova Fajriyah (huah, ini apalagi), Intan Khadijah (Ketua Annisa yang suka sama korea (dulu) dan jepang-jepangan), Intan Bias Papeke, Fitri Asfari, dan temen-temen saya yang lain. Oiya, satu lagi, ada Bagas Heradhyaksa, ketua Rohis angkatan saya yang hobi banget senyum senyum dan bilang 'Subhanallah.' Ini orang unik banget, saya inget, dulu dia pernah terlambat sekolah gegara ban motornya bocor, dan dia bilang 'Alhamdulillah.' dapet musibah tapi bersyukur, emang unik ini orang. Tapi dulu saya suka emosi kalo sama dia, habis senyum senyum melulu, jarang marah pula. 
"Eh, kerjain bagas yuk. Kita sms ke dia, isinya 'Subhanallah..' titiknya dua ya. DUA!" ini idenya si Riecho pecandu jejepangan yang sekarang beneran kuliah di sasjep. Eh, apa idenya Amri ya? Ini anak yang pas lulus SMA dan mau minta surat keterangan sehat ke rumah sakit, eh dikira lulusan SMP yang mau daftar SMK.

Kelas XI isinya main, dan cabut. Hahaha. Tapi cabutnya gegara ROHIS dan waktu itu mau ngurusin Islamic Festival, program terobosan dari divisi dakwah. Acara ini sempet hampir nggak jalan gara-gara nggak ada tempat (ga ada duit jugaaa), soalnya smaga mau dipake buat UM entah UGM atau UNDIP, lupa. Akhirnya kita pindah ke balaikota semarang, dan justru acaranya makin heboh di sana. Lain kali mungkin ya, acara I-Fest ini saya bahas di postingan khusus, abisan seru banget. Apalagi ketuanya, wooooh. Super duper kontroversial ketua I-Fest ini hahaha. Afwan akhi, soalnya dulu antum bikin panitia (lebih tepatnya bendahara aka Ishmah) geger sih hahaha.

Kelas XII. Yaaah, seru seruuuu banget. Udah sering kali ya, ngebahas temen-temen kelas XII. Reunian sama kelas ini. Udah sering lah ya. Nah, yang ingin saya bahas sekarang (ini baru mau ke postingan utama-nya nih) adalah tentang sosok-sosok yang ada di sekeliling saya sekarang. Jujur, dulu awal saya kuliah di UNSOED, saya suka membandingkan teman-teman saya di perkuliahan dengan yang di persekolahan. Saya sempet menyesal karena kelakuan pembandingan saya ini. Dasar nggak bersyukur ya.

Saya dulu sempet nangis waktu lulus SMA, cemas, saya nggak bakal dapet temen kayak temen saya yang bernama Arina Fadhilah. Beliau ini, guru spiritual saya, wkwk. Maksudnya, saya dapat pemahaman saya musti gimana dan lain-lain itu dari beliau. Urusan jilbab, urusan pertemanan, urusan cinta juga. Tapi karena saya dulu belum peduli ngurusin cinta (sekarang juga kok :p), jadi beliau belum mengambil bagian yang penting untuk urusan yang terakhir itu.

Kalau kamu cemas kamu nggak dapet temen yang bisa ngawasin kamu, ya kamu jadi pengawas untuk yang lain dong. Perhatikan teman-teman barumu nanti, kan nggak selamanya kamu harus jadi yang diawasin melulu. Jadilah penggerak buat yang lain. Jadilah pemerhati buat yang lain. 
Akhirnya sekarang saya mengerti, nggak bisa selamanya saya jadi 'adik'. Saya harus bisa jadi 'kakak' untuk yang lain. Dulu waktu SMA saya pernah ngerasa nggak enak kalau nggak melindungi salah satu ukhti saya Intan Bias Papeke. Saya menganggap, kalau saya ini harus melindungi dia, apapun yang terjadi. Semacam protector gitu. Nah, ini yang harus saya pertahankan.

 Di lingkungan baru saya ini, saya nggak bisa membanding-bandingkan diri teman saya dahulu, dengan diri teman saya yang sekarang. Pasti berbeda, dan nggak akan sama. Kalaupun saya berpikir, sosok A ada nih di sosok N, misalnya. Tentu sewaktu-waktu akan ada hal yang berbeda, yang mungkin tidak akan sesuai, jika yang melakukan itu adalah sosok A. Teman saya yang sekarang, bukan sekedar pengganti teman saya yang lalu.

Sekali lagi, mereka bukan sekedar pengganti, tetapi lebih. Ya, lebih alay, lebih dewasa, ada juga yang lebih kocak. Semuanya berbeda, dan takkan pernah bisa disamakan :).
ini teman-teman baru saya (Tekad 1 HMMK)



Rabu, 11 Desember 2013

Apa Kabar, Ais?

Bismillahirrahmanirrahim


 Eh, itu diretweet lho. Girang ya. Iya lah. Tapi yang ngeretweet adik kelas sendiri wkwk. Nggak papalah, menurut saya itu prestasi *all alone detected

Yaudah ya, tanya kabar diri sendiri dulu.
"Gimana ais kabarnya? Sehat?'

Seenggaknya sekarang saya udah bisa jawab. "Agak nggak enak badan nih. Sama agak nggak enak jiwa juga. Oh iya, sama nggak enak hati juga. Oh iya, sama nggak enak perasaan juga."

Ya, jiwa dan raga saya masih belum sepenuhnya sehat. Tetapi, kata beberapa orang sih, katanya, jangan sampe menunjukkan ketidakbahagiaanmu kepada banyak orang. Yang bilang siapa ya? Saya lupa orangnya. Kalau nggak saya sendiri ya, berarti orang lain.

Emang saya ini orangnya suka sedih tiba tiba. Suka jengkel tiba-tiba. Suka muntah tiba-tiba. Lho, apa hubungannya? Nggak tau juga deh, kalau saya lagi emosi, kalau saya lagi stress, tiba tiba pengen muntah aja, wkwk. 

Nggak enak jiwa, karena kayaknya lagi nggak rapih ini jadwal sehari-hari. Bangun telat lah, nggak bisa prioritasin aktivitas lah, dan lain-lain.

Nggak enak hati, karena lagi banyak masalah interpersonal. Ya, banyak mungkin yang sedang saya kecewakan sekarang. Maaf, maaf, maaf berjuta maaf untuk kalian semua. Kalian semua luar biasa *gaya ariel beut.

Nggak enak perasaan, karena ada aja yang bikin rasa rasa ini gelisah. Nggak tahu deh, faktor banyak urusan terbengkalai kali ya.





padahal ada ini. La tahzan, Innallaha ma'ana.
Iya deh, iya saya nggak sedih lagi. Secepat itu? Iya secepat itu saya nggak sedihnya. Semoga dengan selesainya tulisan ini, sedih saya juga selesai. Babay sediiih :)

Minggu, 24 November 2013

Masuk Neraka Siapa Takut #Banting Saja Pintunya Biar Ramai!

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini postingan giveaway pertama saya. Ingin ikut giveaway ini, karena judul giveaway-nya menarik sekali. Terkait dengan judul giveaway kali ini, memang lebih mudah melakukan amalan yang mengantarkan kita masuk neraka dibanding ke surga, Naudzubillahi min dzalik. Di postingan kali ini saya ingin membahas suatu kesalahan yang pernah saya lakukan, dan menurut saya ini adalah kesalahan yang sangat BESAAAR. Dan entah, apakah kesalahan ini bisa diampuni, wallahu’alam. Sekarang pun saya masih berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan itu, bahkan dalam bentuk yang ‘mini’ sekalipun.

Ini menyangkut dengan amarah, ya, amarah. Saya akui, satu kekurangan terbesar saya, yang masih sulit saya tangani adalah menahan amarah. Meskipun nantinya saya bisa saja minta maaf, tapi kan, orang yang saya marahi ini sempat terpapar oleh kemarahan saya. Kadang hal ini membuat saya sedih, dan menyesal, kepada begitu mudahnya saya marah. Lebih tepatnya kadang lebih mudah tersinggung, lebih peka, dan mungkin lebih mudah stres, dibanding teman-teman saya yang lain.

“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
 Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609).
Permasalahannya adalah jika amarah saya ini terkadang tumpah kepada orang yang tidak sepantasnya saya perlakukan seperti ini. Setelah saya melampiaskan amarah ini, saya menangis sejadi-jadinya. Saya benar-benar seperti telah melakukan kesalahan yang tidak akan pernah bisa ditebus oleh apapun. Yang membuat saya semakin menyesal adalah, permasalahan yang mendasari hal ini adalah permasalahan yang amat sangat sangat sepele.

Hari itu hari minggu, saat saya masih kelas dua SMA kalau tidak salah. Saat itu, saya sudah harus berpisah rumah dengan orang tua saya, karena saya bersekolah di luar kota, lebih tepatnya berbeda kabupaten dengan rumah saya tinggal. Siang itu, saya tengah mempersiapkan barang-barang, istilah kerennya packing, karena saya akan segera berangkat menuju kota tempat saya bersekolah saat itu. Seingat saya, waktu itu memang saya tengah ribet mengurusi berbagai masalah yang harusnya sudah saya persiapkan sebelum berangkat, tapi kenyataannya, belum selesai juga.

Adik pertama saya, laki-laki, saat itu membuka tempat pensil saya, karena Ia ingin meminjam pensil saya. Tetapi, karena kurang hati-hati, adik saya ini merusakkan tempat pensil saya yang memang dari sebelum dia pinjam sudah agak rusak dan saatnya diganti. Hanya, saat itu saya sangat sayang dengan tempat pensil itu, sehingga tak segera saya ganti.

“Mbak, ini tempat pensilnya.. rusak..” dia mengembalikan tempat pensil saya dengan muka memelas.

Saya diam menerima tempat pensil itu. Begitu saya melihat kondisi tempat pensil saya tidak bisa ditutup (yang rusak itu bagian resletingnya), saya langsung emosi, “Ini kok bisa begini, sih?! Ini tuh tempat pensil kesayangan mbak, tau..! Kamu emang bisa benerin resletingnya? Ini udah susah tau..” serta merta emosi saya meluap. Sepele, kan? Iya, sepele banget!

Seketika saya langsung menangis dan membanting tempat pensil saya itu ke lantai. Refleks. Dan asal tahu, tangisan saya ini tangisan yang benar-benar menyesakkan. Saya saja sampai sesak pas menangis saat itu. Perasaan saya adalah antara saya sedih, menyesal setelah saya memarahi adik saya ini. Tapi, tetap saja tempat pensil itu tidak bisa diperbaiki lagi, pikir saya saat itu.

 “Kamu tuh, kenapa marah-marahin adikmu?! Itu tempat pensilnya kan masih bisa beli lagi yang baru, nggak usah pake marahin adikmu kan bisa?” Ibu saya yang sedang menjahit celana adik saya yang robek akhirnya tidak mampu menahan emosi. Dan inilah saat paling menegangkan bagi hidup saya saat itu. Ibu saya menangis!

“Ya habis, ngapain dia ngerusakin tempat pensilku..! Itu kan.. tempat pensil kesayangan ku, ibu.. Ngga ada lagi tempat pensil yang sama kayak gitu..” sambil terengah karena saya sedang menangis dengan nada setengah membentak saya berbicara kepada ibu saya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.” (Al Isra’ : 23)
Tangisan ibu saya semakin keras. Saya pun juga semakin terisak. Jadi teringat, sebelum kejadian yang sangat menegangkan itu, sewaktu SD dan SMP saya sering marah kepada ibu saya karena hal sepele. Tidak boleh inilah, tidak boleh itulah. Dan yang saya lakukan saat itu adalah lari menuju kamar, dan segera membanting pintu kamar saya.

“Kurang keras, nduk! Kalau mau banting pintu yang keras sekalian biar tetangga bisa dengar!” Balas ibu saya. Saya belum sadar bahwa pada saat itu, ibu saya pun kecewa melihat saya bertingkah seperti itu. Apalagi saya sebagai anak pertama seharusnya memberikan contoh yang baik untuk adik-adik saya. Prosesi pembantingan pintu yang saya lakukan tidak terjadi hanya sekali dua kali. Sampai pada akhirnya saya bosan jika marah harus selalu membanting pintu. Tapi, tetap saja, ketika saya marah, saya akan menuju ke kamar, tapi tanpa membanting pintu. Konyolnya, yang saya lakukan adalah membuang barang-barang yang ada di meja ke lantai. Ya, tetap saja terdengar dari luar kamar kalau saya sedang marah.

Menyesal, menyesal sekali. Saya tega sekali kepada ibu saya saat itu. Akhirnya saya minta maaf, dan mohon ampun kepada ibu saya saat itu. Alhamdulillah saat ini saya masih berhubungan baik dengan ibu saya, dan masih berkesempatan bertemu dengan ibu saya di dunia. Ada hikmah juga dibalik kejadian ini, adik saya yang kedua, saat melihat saya marah dengan kondisi seperti itu, plus melihat ibu yang juga marah dan kecewa dengan perbuatan saya, dia jadi belajar. Apa yang tidak boleh, dan apa yang seharusnya dilakukan. Adik perempuan saya ini sangat sayang kepada ibu, dan jarang membantah ibu. Maafkan mbak ya dik, dulu belum bisa jadi contoh yang baik..

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al Isra’ : 24)
Seperti penggalan ayat Al Isra’: 23, berkata ‘ah’ saja tidak boleh, apalagi ini. Malah marah-marah kepada orang tua, apalagi seorang ibu. Saya takut sekali dibilang sebagai anak durhaka, atau apapun itu, Naudzubillah. Saya akui, saat itu perkataan saya sebagai anak sangat melukai hati orang tua. Saat ini pun saya tengah belajar menahan amarah, dan menjaga kestabilan hati untuk tidak mudah meluapkan emosi.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (An Nisa: 36).
Bahkan pada ayat tersebut, perintah berbakti kepada orang tua disandingkan dengan amal yang paling utama, yakni tauhid.

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rosululloh, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘mendirikan sholat pada waktunya,’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian apa?’ Jawab Beliau, ‘berbakti kepada orang tua,’ lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’” (HR. Al Bukhari no. 5970).
Dari hadits tersebut bahkan perintah berbakti kepada orang tua lebih didahulukan dibandingkan dengan jihad di jalan Allah. Allah begitu mencintai umat-Nya yang berbakti kepada orang tua. Semoga saya masih berkesempatan untuk menikmati cinta Allah di jalan ini.. 


Sehat, Sakit, atau Mati?

Bismillahirrahmanirrahim
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang maka dipercepat tindakan hukuman atas dosanya (di dunia) dan jika Allah menghendaki bagi hamba-Nya keburukan maka disimpan dosanya sampai dia harus menebusnya di hari kiamat.” (HR al-Tirmidzi dan al-Baihaqi)
Alhamdulillah masih bisa posting lagi, hehe. Setelah sekian lama tidak posting. Memohon maaf pada diri sendiri karena target postingan yang seharusnya seminggu sekali tidak tercapai. Ya, bismillah, postingan pertama setelah sekian lama hibernasi, insya Allah bermanfaat (pada diri sendiri dan juga) untuk orang lain.


Kali ini saya ingin memposting tentang suatu hal yang bergolak di hati saya *aseek. Ya, belakangan saya tengah diberikan petunjuk yang luar biasa berarti, menurut saya, dan Allah memberikan petunjuk ini di saat yang tepat. Hem, sebenarnya lebih tepatnya Allah sudah sekian lama memperingatkan saya, tapi bodohnya saya, saya nggak sadar akan hal itu. Mesti diperingatkan dengan hal yang berat dulu, baru saya sadar. Semoga teman-teman tidak ada yang seperti saya, aamiiin.


Sudah membaca penggalan hadits di atas kan? Hadits ini saya baca di mushaf saya, di bagian bawah, di sebelah terjemahan surat yang tengah saya baca. Saya merasa hadits ini perlu diabadikan di blog saya hehe, biar selalu ingat maksudnya. Sudah mengait-kaitkan hadits ini dengan apa yang dialami teman-teman selama ini? Ya, hal pertama yang saya lakukan setelah membaca hadits ini adalah langsung mengingat selama ini saya merasa tengah diuji. Lalu, saya kaitkan dengan hadits ini. Sudah tenangkah hati, teman-teman? Insya Allah hati kita masih belum bukan hati yang sekeras batu ya.


Berkaitan dengan hati, saya pernah mendengarkan kajian tentang klasifikasi hati. Ada 3, yakni qolbun salim, qolbun maridh, dan qolbun mayyit. 

Yang pertama qolbun salim, atau hati yang sehat, “dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (Sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan-nya” (Al-Mu’minun: 60). Kalau dari catatan saya sih, hati yang seperti ini senantiasa berdzikr kepada Allah, beristighfar, berdoa, bershalawat kepada Rasulullah, Qiyamul Lail (ibadah ini susahnya..), dan lain-lain. Saya sendiri merasa belum sepenuhnya seperti ini, astaghfirullah…


Yang kedua qolbun maridh atau hati yang sakit. Hati seorang mukmin yang seperti ini biasanya masih memegang prinsip Islam, kok. Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang terjerumus dalam keadaan hati yang seperti ini, yaitu
  1. Berlebihan dalam berbicara, bercanda (yuk, istighfar lagi, aiiss. Astaghfirullahal’adzim.)
  2. Berlebihan dalam memandang sesuatu (istighfar..)
  3. Berlebihan dalam makan (ayooo semuaa istighfaar!)
  4. Berlebihan dalam bergaul (astaghfirullahal'adziim..)

Dan masih banyak lagi berlebihan-berlebihan lainnya. Iya sih, pada dasarnya hati yang sakit ini masih memegang prinsip Islam, tapi ya masak mau kayak gitu terus, nggak sehat-sehat dong, ais.


Yang ketiga qolbun mayyit atau hati yang mati. Nah, ini nih. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan manusia yang seperti ini. Salah satu cirinya adalah melakukan dosa berkali-kali, terus makin lama makin banyak, dan nggak tobat-tobat. Huhu, naudzubillah. 
“….Katakanlah (Muhammad),”Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertobat kepada-Nya.” (Ar Ra’d: 27)
Tunggu, maksud dari ayat ini tidak sesempit itu. Maksud dari kalimat “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki..” itu tidak serta merta terjadi. Jika Allah sudah sampai menyesatkan orang tersebut, berarti memang sudah ada beberapa fase yang hamba ini lewati sebelum menjadi orang yang hatinya telah mati, dan pada akhirnya disesatkan olah Allah, ya contohnya, udah diingetin berkali-kali, teteeeeep ngga sadar, ujungnya disesatkan. Naudzubillah!
“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (An Nahl: 108)
Naudzubillah.. Jangan sampai hati kita ada di golongan hati yang mati ya, teman-teman.. Ada beberapa ciri dari orang yang hatinya sudah mati ini. Antara lain, kufur nikmat, kufur aqidah, dan kufur amal. Oya, ada satu ayat yang menarik menurut saya terkait dengan hal ini
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar dari padanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 74)
Dari tafsir yang saya cari di internet sih, tidak akan ada gunanya memiliki hati yang keras, dan bahkan lebih keras dari batu. Hati itu baru akan memiliki manfaat ketika ia diruntuhkan. Bahkan makna yang lebih dalam adalah, ketika suatu hati diberikan pengajaran yang lunak, tapi ia tak jua luluh, maka palu godam azablah yang akan meruntuhkannya. Hukuman itu pasti akan datang, entah di dunia atau di akhirat, seperti hadits yang sudah sampaikan di pembuka postingan ini :)