Selasa, 30 Juni 2015

Dandan dong, biar Cantik!

Assalamu'alaikum!

Alhamdulillah sudah menginjak tanggal 13 Ramadhan. Ukhti-ukhti masih puasaaa? Alhamdulillah.. Kalau ada yang bolong, hmm, ya wajar sih, namanya juga perempuan hehe. Kali ini saya mau membahas mengenai permasalahan perempuan pada umumnya. Masalah penampilan, ya, bisa diliat dari judulnya kaan? Tulisan ini merupakan hasil refleksi diri saya beberapa waktu yang lalu, sampai sekarang juga sih.  
                                                 
"Ciyee, pake lipstik tuuuh."
"Ciyeee, pake eyeliner coooy."
"Ciyeee, itu pensil alisnya warna coklat yaa?"
"Ciyee, hijabers ciyeee."

Ini adalah celetukan khas yang akan diucapkan atau didengar oleh sekerumunan mahasiswi tingkat akhir. Percaya nggak? Udah percaya aja. Tapi sebenarnya ada sih sekelompok mahassiswi yang sudah memakai ubarampe ini dari tingkat awal. Namun peningkatan kuantitas akan terjadi secara pesat saat menginjak semester-semester akhir. Pun kalau nggak dandan, biasanya para mahasiswi akan terlihat lebih menawan (baca: lebih bersih, lebih wangi) saat tingkat akhir. Ini sih yang saya amati di angkatan saya, angkatan 2011, yang mungkin sedikit berbeda dengan angkatan lain.

Terus, sebenarnya boleh nggak sih kita dandan? Muslimah kan nggak boleh tabarruj? Eh, tabarruj apa sih? Mungkin banyak yang sudah pernah baca, tapi diulang lagi ngga papa lah ya, mengingatkan *note to myself*
Tabarruj menurut bahasa berarti menampakka perhiasan dan anggota tubuh untuk menarik perhatian laki-laki. Dari berbagai sumber, saya rangkum:
1. Menampakkan aurat. Tampil cantik boleh, apalagi kalo aslinya udah cantik, tapi jangan menampakkan aurat. Ayo yang muslim, mumpung Ramadhan, sila buka Al-Quran surah An-Nur: 31, Al Ahzab: 59, dan masih banyak lagi ayat yang mewajibkan kita menutup aurat.
2. Meliuk-liukkan anggota tubuh, menggoyangkan kepala. Mungkin maksudnya adalah menggoyangkan kepala atau anggota tubuh lain dengan genit, dan membuat laki-laki tergoda. Kalo kata murobbi-nya Dinda, wanita itu jangan lemah lembut, tapi Kuat-Lembut atau Kuat-Tegas, biar laki-laki nggak main-main!
3.  Memakai pakaian tipis dan ketat
4. Memakai wewangian yang mencolok. Ada beberapa orang teman yang memiliki prinsip untuk nggak memakai parfum atau wewangian sama sekali, nggak masalah sih, asal kebersihan badannya terjaga, jadi nggak bau. Tapi, bagi orang seperti saya yang suka hiperhidrosis, alias keringat berlebih, jadi potensi bau badan sangat besar, saya minimalisir dengan pakai splash cologne atau deodoran. Cologne ini adalah tingkatan terendah dari wewangian, kalo kata Diyan, ada banyak kelas, ada eau de cologne, eau de toillete, eau de perfume, sampai perfume. Kelas ini berdasarkan campuran dan ketahanan wangi dari wewangian tersebut. Tetapi kalo tetep pengen ngga pake wewangian, jangan mencederai hak orang lain ya, mandi yang bersiiih!
5. Menyambung rambut, mentato, mencabut rambut dahi, menjarangkan gigi. Masalah meencabut rambut dahi atau aktivitas sejenis seperti mencukur alis ini sudah lumayan sering dilakukan oleh beberapa teman. Tapi saya pernah diduga oleh seseorang kalau saya mencukur alis. Kania bilang, "Kalo liat alisnya Ais kayak dicukur gimana gitu ya." Yaampun Kaniii... ini emang alis aku kayak gini dari lahiiiirr -_-

"Aiss, kamu nggak matching banget baju ama kerudungnyaa!" Ini adalah komentar yang sering saya hadapi waktu jadi mahasiswi tingkat awal. Bodo amat! Haha, saya menyadari selain suka nggak matching, saya juga kucel gitu waktu masih jaman nggak enak. Sekarang juga sih.... 

"Nduk, kamu tuh kok bajunya warnanya gitu, tho. Kayak ibu-ibu." Ini yang komentar ibu saya. Ibu saya ini cukup modis, saking modisnya, banyak baju-baju beliau yang warnanya, modelnya, kayak anak muda banget. Jadi saya suka malu kalo jalan sama ibu, stock baju ngga ada yang trendi, hiks (ntar ketuker mana ibu mana anak). Tapi, baiknya adalah, baju-baju ibu yang suka kekecilan itu dikasih ke saya minta. Dan saya selalu mempercayakan pilihan model baju ke ibu saya. Tapi, kalo teman-teman melihat baju saya masih rada-rada ketuaan, berarti itu bajunya kebanyakan pilihan saya -_-.  

"Kamu tuh pake baju yang bener milihnya, harus sesuai sama usia kamu. Sekarang belajar jadi wanita anggun, biar nanti suamimu nggak malu kalo jalan sama kamu, Nduk." Kalau nasihatnya udah begini apa mau dikata.............
"Ais, nanti itu kita kan lahannya jual jasa, jadi harus tampil kece. Seenggaknya enak dilihat lah." Itu kata teman saya yang saya komentari, "Tambah ayu ya saiki kowee!" (tambah cantik ya kamu sekarang).

Ya saya sih memilih untuk jadi yang pertengahan saja, nggak berlebihan dalam berdandan, dan nggak kucel-kucel banget sampai dibilang pelit. Yang penting jangan malu-maluin.........

Senin, 29 Juni 2015

Naik-Naik ke Puncaak (2)

Assalamu'alaikum!

Alhamdulillah sudah ramadhan lagi, tapi sayang, ramadhan kali ini (lagi-lagi) pupus sudah cita-cita saya untuk membuat satu tulisan sehari. Ini sudah hari ke 12 Ramadhan, dan belum satupun tulisan terposting. Ini bentuk kemalasan yang luar biasa, sudah masih hutang satu postingan bersambung, dan berpuluh-puluh draft nggak jadi diposting. Oya, sebenarnya ada beberapa alasan kenapa nggak saya posting, soalnya bahaya. Bisa dilihat di postingan ini kalau mau tahu alasannya.

Oke, kali ini saya lanjutkan perjalanan saya naik ke Puncak Sikunir, Dieng. Setelah bersusah payah mengumpulkan tenaga untuk naik, akhirnya sampai juga di tengah-tengah perjalanan. Nafas sudah terengah-engah, dan kami bertiga (saya, Nurul, Fathia) sudah terlalu sering berhenti, akhirnya kami putuskan untuk tidak menyerah. Ini memang bukit pertama saya melakukan pendakian. Capeknyoooo. Sampai di puncak, Previ, Mayubu, Agus dan yang lainnya sudah bersiap untuk berfoto. Saya? Saking terengah-engah dan sesak yang semakin dalam, akhirnya saya memutuskan untuk meminta oksigen punya Fathia. Alhamdulillah, sudah mendingan, Kalau Fathia sih, karena dia kelaparan, langsung beli popmie (waktu kami mendaki belum memasuki bulan Ramadhan)

Sayang sekali, saat sampai di sana, sunrise-nya tertutup awan mendung gitu, jadi nggak begitu terlihat golden sunrise-nya.

Tuh kan, nggak keliataaaan *cry*

Oleh karena tas saya dibawa oleh suporter, jadi saya nggak bisa mengambil hape saya yang segede talenan buat foto-foto. Jadi saya nggak punya dokumentasi cukup banyak dari sunrise Sikunir ini. Sisanya adalah foto-foto yang ada orangnyaaa hiks. Pas foto-foto kami dilihat-lihat lagi, pemandangannya cuma 20%, 80%-nya muka-muka orang alay narsis rebutan biar bisa nampang di foto. Oya sekilas info, Bukit Sikunir ini memiliki ketinggian 2.263 mdpl. Tinggi juga ya, tapi kok nggak capek-capek amat? Mungkin karena separuhnya sudah kita tempuh dengan kendaraan hahaha. Kalau mau lihat foto-foto yang lebih cakep, bisa diintip di sini.

Saatnya turuuun. Ya, track untuk naik bukit ini sebenarnya cukup enak kok, tapi ada beberapa yang mirip rawa-rawa gitu, jadi mbak-mbak yang ngaku sebagai Hayati dan pengen ke rawa-rawa, bisa ke sini ya, daripada galau mulu. Ohya, saat kami turun, kondisi langit sudah cukup cerah, jadi keliatan tuh, samping, depan, belakang, mukanya siapa. Saat itu, pas saya lagi susah payah mau turun karena jalannya terjal, ada bapak-bapak iseng tanya, "Mbak, itu nggak dicopot aja roknya, dalemnya ada celananya toh?" Jangan ngereeees, maksudnya bapak ini adalah celana panjang, alias celana training. Jadi waktu saya nyincing-nyincing (uopoo iki bahasa Indonesia ne, rek) rok, celana training saya yang balapan keliatan. Jadi bapaknya kasihan sama saya, gitu. Jangan ngeres sodara-sodara. "Hehe, iya pak, nggak papa, biar anget soalnya dingin, pak." Emang susah ndaki-ndaki gitu pakai rok, tapi, insya Allah nggak kapok kook haha.
Ini salah satu track yang masih nyaman *makasih fathia udah fotoin aku, btw ini beneran candid looh*

Hayoo siapa yang mau diajakin sama mbak Previ? Kalo nggak ada, sama aku ntar Prev :"
Setelah turun, ada wisata lain yang mengharuskan kami naik-naik ke puncak. Yaitu bukit ratapan angin. Mengapa ratapan angin? Soalnya kata bapak-bapak losmen nanti kita bakal meratap di sana :". Jalur pendakiannya ya mirip-mirip sama Sikunir, tapi ternyata tetap saja saya kelelahan. Di Bukit ini, kita bisa melihat telaga warna dari atas. 

Jjaaaaang. Inilah bukit ratapan angin. Taken by Reza

Inilah Telaga Warna

Sebenarnya masih ada trip lain yang menyenangkan setelah kami menyelesaikan pendakian di Bukit Sikunir dan Ratapan Angin ini, ada Candi Arjuna, terus ketemu Teletubbies, dan Kawah Sikidang. Nanti ya, lain kali. Kalau enggak, silakan yang belum ke sini bisa ke sini dan rasakan nikmat Allah yang tidak mungkin kalian dustakan :)

Sabtu, 30 Mei 2015

Membersamai Kesendirian


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Saya akan mulai topik ini dari rasa lapar. Rasa lapar adalah suatu nikmat, nikmat ketika kita bisa menghabiskan waktu bersama sahabat sambil bercengkrama saat makanan tengah tersaji. Rasa lapar adalah suatu nikmat, ketika kita bisa bersama dengan keluarga, menghabiskan menu sarapan, sembari bercerita rencana indah hari ini.

Ada suatu kisah menarik tentang rasa lapar, yang pernah saya alami. Lalu apa hubungannya lapar dengan kesendirian?
“Eh, makan yuk? Aku belum makan dari pagi… Kamu kosong kan?” Kebiasaan anak kos-kosan yang malas sarapan, dan sering membuat perut harus menahan lapar hingga siang.
“Duh, aku mau ketemu sama dosen, nih, jam 1. Kayaknya ngga cukup waktu deh, kalo makan dulu. Sama yang lain aja yaaa. Maafin.” Sesaat kemudian saya mencari orang lain yang bisa saya ajak. Belum lapar lah, baru saja makanlah, ngantuklah, dan lain-lain. Jawaban dengan alasan yang bervariasi  –namun merujuk pada satu konklusi yang sama, tak ada teman makan- membuat saya harus berpikir siapa lagi yang akan saya ajak. Alhasil, hari itu, karena rasa lapar yang amat sangat, saya putuskan untuk makan sendiri.

Di sinilah letak hubungan rasa lapar dengan kesendirian. Ya,  yang lapar kan perut saya sendiri, lalu kenapa saya harus bergantung dengan perut orang lain untuk memuaskan nafsu makan saya? Ya, kalaupun ada yang sama-sama lapar, tentu tak masalah. Saya tentu beruntung ada yang bersedia menemani.

Saya tambahin plot twist deh, biar agak rame hehe. Saya ini kalo lapar punya kecenderungan untuk vertigo, atau perasaan pusing berputar-putar. Kalo sudah berputar, mata pun ikut berkunang-kunang. Nah, ketika sampai di tempat makan, saya langsung memanggil mas-mas karyawan. Khawatir saya dilewatin, dan nggak segera dikasih menu. Oya, karyawan di situ ada yang statusnya masih trainee, ada yang sudah tetap. Karyawan tetap memakai baju ijo, seragam khas tempat makan itu, sedangkan karyawan trainee memakai baju putih bawahan hitam.

“Mas.. Mas? Mas..?”  Saya panggil salah satu mas-mas yang lewat. Masnya memang menggunakan kostum  yang sama dengan karyawan trainee di sana, padanan kemeja putih dan celana hitam. tetapi, anehnya, mas=mas tersebut tidak segera menanggapi saya, sampai saat masnya sudah mau naik ke tangga menuju lantai 2, saya teriak. “Masss!” Saat itu masnya terbengong-bengong melihat saya.
“I..i..iya, kenapa mbak?” Masnya berhenti sejenak.
“Saya belum pesen!” agak saya kerasin suaranya, karena masnya sudah ditengah-tengah tangga, khawatir nggak denger.
“Sa..sa..saya juga lagi makan di sini, mbak…” DEG! Maluuuuu. Saat itu seakan semua pengunjung melihat ke arah saya, dan di dalam hatinya sedang tertawa terbahak. “Cieeh, malu nih, ye.”
Saat itu, saya belum pesan, dan tentu belum selesai makan. Nggak mungkin kan saya pulang meninggalkan tempat itu, tetapi perut saya belum terisi? Mungkin, jika saat itu saya nggak sendiri, rasa malu yang saya rasakan nggak akan begitu besar. Tapi, saat itu… Muka saya langsung panas, gerah, dan tetiba vertigo saya hilang…..
Oke, saat itu ego saya bilang, bodo amat. Setiap orang pernah merasa malu di dalam hidupnya, setidaknya sekali seumur hidup. Saya sering kok melakukan hal-hal yang memalukan. Saat ini, yang cukup membedakan adalah mengenai momen kesendirian saya saat itu, yang terekspos oleh banyak orang.
“Waah, malu, tuh. Mana sendirian lagi makannya. Kesian”; “Yaampun, aku mending pulang deh kalo jadi mbaknya itu.” Sepertinya itu kalimat-kalimat yang akan berputar di kepala mereka. Yaudah gapapa aiiisss~~. Ya, kesendirian bagi beberapa orang membuat tidak nyaman. Eh, maksud saya, terlihat sendiri. Makan siang di tempat umum sendiri, berkunjung ke book fair sendiri, atau belanja bulanan sendiri, kadang terlihat begitu menyesakkan bagi orang yang ‘menyaksikan’.

Kata Dinda, 
“Jangan mengukur kebahagiaan seseorang dengan ukuran yang kita miliki. Setiap orang punya ukuran yang berbeda.” 
Ya, menurut saya, sendiri ketika di tempat umum, tidak masalah. Kadang yang tersirat, di kepala orang lain adalah, “Emang dia nggak punya temen, apa? Sampe ke sini aja sendirian.” Yaa, jangan ukur mereka seperti kau mengukur dirimu sendiri sih. Barangkali mereka memang nyaman, dan bahagia ketika sendiri. Pun mungkin mereka punya alasan, kadang sih alasan saya adalah takut teman saya ada urusan lagi setelah kita pergi bersama, sedangkan saya masih ingin berlama-lama di tempat itu, ataupun sebaliknya.
Banyak hal yang berkontribusi dalam mindset, ‘jangan ke mana-mana sendiri’ ini. Misalnyaa…
  1. Dibilang jomblo ngenes. Ya, sedih sih kalo dibilang jomblo ngenes. Loh, is, katanya kita harus bangga kalo jomblo. Iya sih, jomblo, tapi nggak ngenes juga kali. Saya mah bahagia bahagia aja.
  2. Dibilang ngga punya temen. Nah ini, yang kadang menyesakkan. Kadang kita dianggap weird  kalau ke mana-mana sendiri. Ya, tanpa banyak kasih contoh, tentu kalian sudah pernah menge-judge orang yang kayak gini, meskipun tanpa sengaja.

Ada yang mau nambahin? Ini sih beberapa yang saya rangkum (tapi cuma 2, hahaha) dari pendapat teman-teman.
Masalah kesendirian ini juga terkait dengan hubungan, ataupun persahabatan. Kalo kata Pak Paulo Coelho, “When you say yes to others, make sure you are not saying no to yourself.” Oke, di sini saya tidak menekankan bahwa setiap manusia butuh waktu untuk sendiri. Semua orang sudah tahu akan hal itu. Sekarang saya ingin menghubungkan ini dengan permasalahan pertemanan. Terkadang, pertemanan atau persahabatan (selanjutnya saya sebut sebagai persahabatan) memang mengizinkan kita untuk memiliki waktu untuk kita sendiri. Tetapi, apakah semua persahabatan sudah menyiapkan kita untuk bisa hidup sendiri?

Persahabatan yang baik adalah persahabatan yang tidak membuatmu bergantung pada sahabat-sahabatmu pada setiap waktu. Jika kamu selalu membutuhkan mereka setiap saat, barangkali persahabatanmu sudah tidak sehat. Memang, sahabat yang baik, adalah sahabat yang selalu ada setiap kita butuh. Tetapi, apakah mereka sudah pasti akan selalu ada sampai kita mati? Tidak mungkin kan mereka memiliki nasib yang sama persis seperti kita?

Siapkan sahabatmu untuk menjadi kuat, bukan menjadi pribadi yang dependen akan keberadaan orang lain. Menurut saya (dan Dinda selepas diskusi masalah ini), menjadi sahabat yang baik adalah sahabat yang menyiapkan sahabatnya untuk mampu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan tangannya sendiri. Sahabatnya yang menyenangkan adalah yang sudah mempersiapkan sahabatnya untuk membersamai kesendirian. Selamat malaaaam, eh pagiii :)

Eh, saya masih hutang postingan bersambung yaa. Hehehe :D

Rabu, 27 Mei 2015

Seperti Hujan (lagi)

Tadi aku kehujanan. Deras sekali.

Tahu, kan? Belakangan kau tak membasahi bumi kami, lalu, seketika kau turun.
Sekali lagi, di saat aku melaju.

Hujaaaaaaaan.
Teriakku. Aku ingat, memang tak boleh mencela hujan.
Maafkanku jika sebelumnya aku sempat protes padamu.
Maafkan aku hujan.

Tapi, tadi kau turun sangat sebentar. 
Tahukah kau? Kau turun di saat aku melaju, dan itu hujan terderas yang pernah aku lalui, tanpa atap.
Aku tak berpelindung selain mantelku yang sudah sobek di bagian lengan.
Tak ayal, kaosku, jilbabku, bahkan rokku ikut-ikutan basah, dan hanya dalam waktu sebentar, aku harus menggantinya semua.

Hujan, aku tak bermaksud mencelamu.
Aku hanya rindu, ketika kau datang, dan beritahu aku sebelumnya.
Rinai kecil yang turun bersama-sama, sebelum kau memaksa kami untuk berlindung.
Kata temanku, kau indah karena kau tak pernah turun sendirian.

Tapi, tadi deras sekali. 
Tapi, kau turun sangat sebentar.
Tapi, kau membuatku harus mengubah semuanya, mengulang semua dari awal.
Tapi, aku suka aroma tanah setelah kau hilang. Petrichor.
Setidaknya, setelah kau hilang, aku masih bisa berharap, kau akan hadir kembali membasahi bumi kami.

Hujan, semoga kita bertemu lagi yaaa. Ya, kau yang seperti hujan.

PS: postingan ini saya tulis karena saya begitu menyukai hujan dan beberapa hal yang menyertainya. Plus, hari ini saya benar-benar kehujanan. Oya, saya masih hutang postingan bersambung, lain kali ya. Sampai jumpa! Selamat Malam :)

Senin, 25 Mei 2015

Naik Naik, ke Puncaak (1)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Postingan kali ini saya akan bercerita pengalaman [pertama] saya naik gunung eh bukit Sikunir di Dieng, Wonosobo. Tadinya saya dan teman-teman yang mau naik itu cuma tiga orang, dan itu perempuan semua, canggih kan, dan rencana yang hanya direncanakan dalam waktu seminggu itu tetiba banyak peminat, jadilah kita beramai-ramai berangkat ke Sikunir Dieng. Sebelumnya saya mau menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya pendaki asal Yogyakarta beberapa waktu lalu, semoga khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, aamiin..

Ya, lanjut, pada beberapa hari sebelumnya, saya sudah berencana memang pengin naik ke Sikunir, tapi bareng adik laki-laki saya yang konon katanya anak pencinta alam. Tapi karena dia tahu saya ringkih, kayaknya dia berusaha untuk menolak ajakan saya, trauma kayaknya. Dulu (waktu SD) saya pernah diajak naik sepeda sampe sekitar 2 kilo aja saya nyerah *maapin dhek*. Tapi saya tetep nekat, dan nanya. “Kalo ke Sikunir persiapan apa aja yang harus mbak lakuin? Perlu lari ampe 3 bulan nggak?” Gokil kan saya, soalnya katanya emang naik gunung itu susah dan capek.. Mana saya ngga begitu kuat kalo latihan berbau kardio gitu..

“Hmm, ngga usah ngapa-ngapain kalo ke Sikunir doang mah kuat. Ayo mbak kalo mau ke Prau aja. Eh, tapi aku udah ke Prau ding. Ke Slamet aja mbak, deket Purwokerto, kan.” Buseeeet, da aku mah apa atuh dhek, kapasitasku mah belum kayak kamu yang udah kuat jalan kaki naik-naik ampe beberapa jam buat ngejar sunrise di puncak. Apalagi Gunung Slamet kan tertinggi kedua di Pulau Jawa….

Ternyata rencana saya ini mendapat sambutan dari kawan karib saya, Fathia, sehingga terwujudlah rencana ini. Wanita yang sangat suka mbolang baik ke dalam maupun luar negeri ini ngajakin saya ke Sikunir, yeeaay! Tadinya saya sempet mikir ngga bisa ikut gegara mau ambil data penelitian, tapi setelah cek jadwal, ternyata bisa haha, sama Ukhti Mayubu akhirnya kita kepikiran berangkat, Senin, 27 April 2015. Awalnya saya pikir, fix bertiga dan kita tinggal cari cara gimana nyampe ke Wonosobo, selain motor. Wonosobo-Purwokerto gempor lah ya kalo ukhti-ukhti seperti kami naik motor. Risiko kehujanan, kedinginan, ban bocor, bahkan isu begal di mana mana jadi ancaman. Akhirnya kita berencana mengajak kawanan kos-kosan putri lain yang free dan bisa ikut, jadi kita bisa nyewa mobil gitu nyampe wonosobo. Lumayan biar mahal dikit, tapi kan aman. Temen saya yang lain, si Reza ngotot naik motor. “Udah biasa aku mah, bolak-balik purwokerto-kebumen naik motor.” Bro, ini Wonosobo Brooooo! BEDA!

Saya sebagai rider putri yang sudah terdidik dengan jalur purwokerto-kebumen (baca Ku Lari Ke Bukit, Ada Pantai Menganti!) berulangkali ngotot kalo naik motor itu risiko-nya banyak. Tetep aja rencana itu dia sikapi dengan yakin. Apalagi dia rencana mau nginep di tenda. Pasukan kita kebanyakan putri, brooo. Dieng dingin lagi… Mana kita amatir semua hiks..

Rencana naik motor ternyata tidak terealisasi, karena kita buat pasukan gabungan dan bisa naik mobil. Alhamdulillah mobilnya punya temen sendiri ngga jadi nyewa, jadi lebih irit. Supir juga pake tenaga sendiri, jadi lebih irit lagiiii. Rencana nginep di tenda juga nggak jadi haha, nginep di penginapan lebih nyaman ternyata. Kita menginap di losmen Bu Djono yang ada fotonya di internet, haha. Ada bulenya juga di sana *terus kenapa is, buset*.

Perjalanan ke wonosobo terdiri dari dua mobil, yang satu mobil city car yang muat untuk 5 orang, alhamdulillah, yang satunya semi minibus gitu (soalnya kursinya cuma dua baris), dan dimuat-muatin buat bawa 6 orang. Nasib saya sebagai orang yang kurus-kurus gembrot ini naik barengan sama 3 orang ukhti yang lain empet-empetan di mobil semi minibus. Nasib, gantian gitu, kalau saya nyender, Fathia maju, kalo saya maju, Fathia yang nyender. Gituuuu terus, dan perjalanan berangkat ini kami ngikut di belakang mobil Daniel, yang di dalamnya ada Reza, Mayubu, Agus, sama Tipung. Awalnya agak bingung, kok jalannya beda sama jalan yang biasa saya lalui kalo ke wonosobo. Ternyata kita lewat KARANGKOBAR, yakni tempat longsor Banjarnegara Desember lalu. Di sana masih ada bekas longsor beserta garis polisinya, jalan yang tinggal separuh dan langsung ke jurang, apalagi jalannya naik-naik. Agak mual, mual, vertigo gitu saya. Dari mobil Daniel, si Agus pake akun Reza nanya di grup, “Ais aman?” khawatirnya saya muntah. Haha, karena saya terkenal gampang mual kalo grogi mau ujian jadi  gini nih.   

Jalur panjang yang kami lewati gegara GPS hape barunya Reza, membuat kami baru sampai di penginapan jam 6 sore. Padahal berangkat jam 2 siang dari purwokerto *cry*. Nyampe di sana dingin-ngantuk-laper. Nggak mandi, langsung sholat, beberes, makan, foto-foto, dengerin rute wisata buat besok dari pengurus losmen, tidur. Di sana kita sewa 3 kamar, per kamar 75 ribu, dan kalau per kamar lebih dari dua orang, kita harus pakai extrabed dengan biaya tambahan 50 ribu. Tapi kita bisa lobi lagi jadi cuma pesen 2 kamar extrabed plus 1 kamar biasa.

Di Losmen Bu Djono ini lumayan enak, makanannya. Saya pesen soto di sana, dan enak bangeet. Porsinya banyak juga kok, lumayan dingin-dingin jadi anget. Hehe. Di sana kita juga dapet tips buat trip wisata keliling dieng. Sebenarnya kita dikasih peta sama pengurusnya, tapi nggak sempet saya potoin. Jadi tripnya itu dari losmen kita berangkat pagi jam 4 ke Sikunir. Sholat Subuh di masjid menuju destinasi, bisa jamaah juga. Tapi ya air wudhunya dingin-dingin es gitu. Setelah itu kita lanjut perjalanan dan parkir di parkiran deket tulisan Sikunir. Setelah itu perjalanan naik bukit itu dimulai. Lumayan masih agak gelap langitnya. 5 menit pertama naik, ngos-ngosan. Tipung (anak pencinta alam yang tentu sudah terbiasa) dan Daniel ngikutin saya sama Nurul dan Fathia yang udah agak ngos2an di belakang. Dorongan dari (ayahanda) Reza kepada kami bertiga yang ngos-ngosan ini membuat kami semakin ngos-ngosan (?). Beberapa menit selanjutnya makin ngos-ngosan. Akhirnya saya putuskan, "Udah laah, aku liat sunrisenya dari sini ajaaaaa..." *tears*

foto ini didapat dari perjalanan ke Puncak Sikunir *taken by Fathia*
Haruskah lanjuut ke ataaas? Udah pegel ini napas, eh kaki....

Senin, 18 Mei 2015

Mencintai Harapan

Gadis itu datang lagi, menawarkan sekilas cerita.
Ia mengawali ceritanya dengan senyum di wajah, lalu berkata, "Aku mengaguminya!"
Aku tak menjawab, hanya mengernyit tanda aku bertanya, "Bagaimana bisa?"

Aku heran dengan gadis ini, tak pernah sekalipun ia bertegur sapa dengan lelaki itu, tapi dengan semangat Ia selalu menceritakan lelaki itu. Itu cukup membuatku menyimpulkan, bahwa Ia tengah jatuh cinta.

"Bukan, ini bukan cinta. Kamu tahu, kan, aku belum pernah mencintai siapapun. Aku hanya kagum saja." Lalu ia kembali tersenyum. Tapi, sungguh, senyumnya kali ini begitu terlihat bahagia.

"Kan kamu selalu bilang, jangan lupa bahagia ya. Sekarang aku bahagia, hanya dengan mengaguminya."

Lelaki itu bukan kerabat, bukan sahabat, bukan pula teman sejawat. Sama sekali tak ada akses antara dia dengan sosok yang Ia ceritakan. 

"Dia bukan artis korea, kan?" Iseng aku mencubit lengannya sambil bertanya hal konyol itu.
"Bukaaaaanlah. Nggak mungkin aku sekagum ini sama artis korea. Kelasnya beda. Dia itu kalem, dan nggak pernah senyum."

"Terus? Kamu suka karena dia nggak pernah senyum?"
"Iiiiih, ya gitu deh pokoknya."

Sebulan kemudian Ia datang, namun ceritanya berubah.
"Kamu masih senyum-senyum sama lelaki dingin itu?" Aku menyebutnya dingin karena Ia bilang lelaki itu tak pernah tersenyum. 
"Nggaaaaak. Dia mah buang ke laut aja kaliiii."
"Kenapa?"
"Dia udah pindah, jadi aku ngga bisa ketemu lagi. Hahaha." Ia masih tertawa bahagia. Aku berasumsi, Ia pasti punya sosok lain.
"Jadi, sekarang sama siapa?"
"Sama yang suka duduk di bangku kayu di depan taman kampus. Setahu aku dia single, hehe."

***

Kisah tadi hanya kiasan. Betapa ketika harapan masih ada, begitulah hati sangat terbuka untuk mengharapkannya. Terkadang, cinta, suka, atau apapun itu (yang sejenisnya, hehe) bisa terus tumbuh seiring terbukanya harapan. Lain cerita jika harapan itu hilang, cinta, suka atau apapun itu, bisa hilang perlahan. Saya garis bawahi, hilang perlahan, tidak secepat ketika rasa itu datang. 

Terkadang, kami hanya menikmati masa-masa kami mencintai seseorang, atau katakanlah mengagumi. Kami (atau cuma beberapa orang saja) baru menyadari ketika rasa itu hilang. Karena, ketika kita mencintai (atau menyukai) bukan seseorang itu yang membuat hati ini begitu bahagia. Tetapi, rasa bahagia dari diri sendiri, yang muncul ketika kita menyukai seseorang. Ya, kita bahagia bukan hanya karena kita menyukai orang itu, tetapi kita bahagia karena kita memiliki rasa suka pada seseorang. *paham nggaaak?*



Kamis, 14 Mei 2015

Ku Lari Ke Bukit, Ada Pantai Menganti!



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh :)

Kali ini saya mau berbagi cerita pengalaman luar biasa, ini agak latepost banget sebenernya. (sudah 3 bulan berlalu). Pengalaman ini adalah pengalaman yang sudah mendidik saya menjadi rider sejati *hahahaha*. Ya sebenarnya kisah ini bermula dari KKN yang wajb dijalani oleh mahasiswa dan mahasiswi Unsoed sebagai syarat pengabdian ke masyarakat *ceileh*. Awalnya, saya pengin banget daftar KKN di wilayah yang dekat dengan Purwokerto, tempat saya bernaung selama ini. Udah nunggu pendaftaran sampe kuota untuk daerah Purbalingga bisa dibuka, nggak dapet juga. Sampe saya pantengin SIA biar dapet momen-momen emas dibukanya kuota Purbalingga yang kadang cuma nambah 1 orang. Lagi asik-asiknya pantengin SIA saya kebelet buang air kecil. Ditinggal pipis sebentar, beneran ini sebentar banget, tahu-tahu kuota nambah 1, dan itu artinya kuota nambah dan langsung ada yang daftar. Ibuuuuk *tepok jidat*. Oke, saat itu saya putuskan untuk nggak kebelet lagi. Eh, maksudnya saya nggak akan milih Purbalingga. Kelamaan, keburu pendaftaran KKN ditutup.

Begitulah prolog cerita ini, dan akhirnya saya membuat keputusan untuk KKN di Kebumen aja. Jalur Purwokerto-Kebumen cukup membuat saya jadi rider sejati, wkwk. Motor supra saya emang tahan banting berkat jalur ini. Naik, turun, balapan sama kendaraan berat nan besar (karena jalur ini merupakan jalur yang rutin ditempuh untuk perjalanan Pwt-Jogja). Pernah, di hari pertama KKN saya harus ke Purwokerto-Kebumen Kota (ini memakan waktu 2 jam) terus balik lagi ke Kecamatan Ayah, untuk memenuhi undangan pembukaan di Kabupaten, lanjut pembukaan lagi di kecamatan Ayah. *ternyata ini masih prolog*. Ini jalur yang kami tempuh, puter2, kaaaan? Gimana nggak jadi rider.

Perjalanan Mengelilingi Kebumen, ini judulnya.


Ya, saya KKN tepatnya di desa Demangsari, kecamatan Ayah, yang lebih deket dibanding kecamatan Buayan, Kecamatan Ayah ini dikenal dengan banyak Pantai, ada Pantai Logending/Ayah, Pantai Menganti, Pantai Pecaron, Pantai Srathi, Pantai Karang Agung, waaaaaah banyaaaaak. Tapi saya cuma sempat ke salah dua dari sekian banyak pantai itu. Sekian banyak pantai itu punya medan yang sulit. Ada yang harus naik bukit terus ketemu pantai, ada yang harus jalan kaki dengan track yang nggak gampang dan tantangan lain. Tapi pemandangannya cakeeep :)

Di hari kesekian KKN, saya dan teman-teman memutuskan untuk jalan-jalan liat sunrise ke Pantai Menganti. Dasar saya nggak mau subuhan di jalan, takut jadinya malah nggak sholat subuh, kita baru berangkat jam setengah lima. Itu pun setelah saya ngotot dulu sama temen KKN karena nggak mau dibonceng laki-laki. "Pokoknya yang bawa harus cowok. Jalurnya serem, aiiiss." Saya tetep ngotot, hehe, saya ngaku pernah ke menganti dan tau jalurnya kayak gimana. Memang dulu pernah ke sana waktu rihlah Rohis, tapi naik angkot. Toh saya nggak boong kalo tau jalurnya kayak gimana. Mereka menyerah dan membiarkan saya bawa motor sendiri, tapi agak-agak gimana gitu.

Ini perjalanan kedua yang memaksa saya jadi rider sejati. Jalurnya, masya Allah. Untung saya nggak ngebonceng orang jadi masih bisa menguasai jalan. Tapi di perjalanan saya ke menganti untuk kedua kalinya saya mboncengin ukhti Nidi, dan lumayan kuat ternyata motor saya. Meskipun harus pakai gigi 1 terus. Jalur menganti ini, kita harus naik-naik ke bukit, dan baru setelah itu kita bisa liat pantai. Ohiya, ada biaya kalau mau masuk ke sini, sebenarnya per orang 5 ribu. Tetapi pada saat kami datang ke sana, masih sangat pagi, plus bukan hari libur. Jadi kami bebas melenggang masuk, karena ngga ada yang jaga pintu masuk. Di perjalanan ke Menganti saya yang kedua dengan motor *karena waktu itu hari minggu, dan sudah sangat siang*, barulah peristiwa 'ditarikin' biaya masuk itu ada.
ini Pantai Menganti di lihat dari atas, ini bisa kita liat saat perjalanan.

Setelah kita turun di dekat pantai, yang ada di foto di atas, ternyata kita naik lagi ke bukit yang lain. Pemandangan di sana lebih indah katanya.Tetapi, karena kita kesiangan, jadi sunrisenya agak-agak gimana gitu hehe. Foto-foto yang saya punya cuma sedikit, tapi ini ada salah satu pano yang diambil bersama rekan satu kelompok KKN yang berbahagia :)
dari kiri: Radit, Hanif, Zulfan (Pak Kormades), Aisyah Apriliciciliana, Gestari, Aisyah Aulia (saya), Hesti, Nurlyta, Yosua, Rilo
evakuasi
Perhatikan!
Ohiya, tambahan, sekitar 2 hari sebelum kami KKN di Kebumen, ada berita duka terkait dengan Pantai Menganti ini. Ada Mahasiswa KKN dari kampus lain yang juga KKN di Kebumen hilang di Pantai Menganti. Beritanya bisa dicek di sini. Hilangnya juga di bawah bukit kami berdiri ini lho. Jadi, teman-teman yang mau ke sini hati-hati. Perhatikan setiap larangan yang ada, dan patuhi yaa :)

Minggu, 10 Mei 2015

Jangan Terlalu


X : Lah, katanya kamu udah ikhlas siapapun itu, kok hatinya tetep menjurus sih?
Y : Yaa, gimana ya. Kan tetep aku punya bayangan ke seseorang...
X : Bayangan sih bayangan. Tapi kayaknya kamu deket sama dia juga ya? Hati-hati, fitnah yang kayak gitu bahaya lho kalo ngga ada yang ngendaliin.
Y : Tahu darimana aku deket? Ngga ada buktinya.
X : Yaa, interaksimu ke dia yang tahu kan cuma kamu, Allah sama dia.
Y : Tuh kan suudzon.
X : Aku cuma mencoba memberi pandangan dari orang yang mungkin nggak deket sama kamu. Barangkali mereka berasumsi kayak gitu. Soalnya kan kamu pamer2 gitu kalo ada bayangan ke seseorang.
Y : Mereka ngeliat dari mana?
X : Status medsosmu, berita2 yang kamu share. Banyaklah. Asumsi orang kan lain-lain.
Y : Ya, kan ingin berbagi.
X : Tapi itu memperlihatkan penjurusan hatimuuuu. Biar apa? Biar orang tahu terus mikir aneh-aneh? Ya semoga beneran deh kamu pilih jurusan yang bener. Kalo salah, kasian jurusan hatimu yang sebenernya, nanti. Semoga nantinya aku nggak jadi korban salah jurusan. Kamu juga deh, aku doain.
Y : .......
X : Kalau ingin berbagi, jangan terlalu tunjukkan kecenderungan hati. Itu sih pesenku.

Another Daughter's First Love

Assalamu'alaikum!

Setelah sekian lama berkutat dengan kegiatan offline, sekian lama itu pula blog ini tidak berisi tulisan baru. Hmm, selain itu karena baru dapat inspirasi juga untuk menulis. Semoga tulisan ini cukup mengharukan deh, hehe.

Bapaaaaak, kangeeen.
Bapak adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Apalagi untuk saya. Apalagi untuk anak pertama seperti saya. Saya tak punya kakak yang bisa melindungi saya, jadi ya, barikade perlindungan saya yang pertama adalah Bapak. Bapak itu orangnya melankoliiis sekali, pernah saya mengalami kecelakaan sepeda motor sampai kepala saya harus dijahit dan ketika sadar saya mati-matian minta maaf karena nggak patuh sama orang tua hingga jadilah kejadian itu terjadi, tapi Bapak saya hanya menangis, tanpa bilang apa-apa. Justru ibu saya lah yang keliatan tegar, dan nggak menangis sama sekali. Sifat dari bapak inilah yang saya warisi. Saya sangat sensitif dan gampang nangis :'''.

Inilah yang terjadi tadi pagi. Saya menangis setelah bangun tidur. Hmm, mungkin lebih tepatnya saat saya tidur. Mengapa? Karena tahu-tahu saat bangun mata saya basah. Kepala saya pun masih mengingat dengan jelas ketika saya bangun, mengapa saya bisa menangis. Penyebab saya menangis ini tak lain dan tak bukan adalah seseorang yang menjadi cinta pertama saya, yakni lelaki selain bapak.

Beliau adalah kakak pertama Bapak saya, atau saya menyebutnya sebagai PakDhe. Beliau ini sayaaaaang banget sama saya. Beliau seorang suami dengan satu istri, namun tidak memiliki rezeki yang dimiliki oleh ayah saya dan adik-adik beliau yang lain. Jadilah beliau sangat menyayangi saya dan menganggap saya sebagai anak sendiri. Saat saya SMA, rasa sayang itu benar-benar beliau tunjukkan. Sewaktu SMA, saya bersekolah di luar kota, dan harus ngekos. Saat itulah beliau bertindak sebagai orangtua wali saya, dan itu tercatat di buku Rapor saya, kalau beliau adalah orang tua Wali saya.  

Pernah, ketika saya harus berangkat dari rumah nenek, setiap hari senin pagi (setiap akhir pekan atau libur saya selalu pulang ke rumah nenek -rumah pakdhe saya satu kota dengan rumah nenek-, karena jaraknya lebih dekat daripada rumah saya dengan sekolah) Pakdhe selalu mengantarkan saya sampai saya naik angkutan. Kalau saya terlambat, atau angkutan langganan saya tidak berangkat, pakdhe selalu siap mengantar saya ke sekolah, pagi itu juga dengan mobil biru beliau. *mulai berkaca-kaca*

Ohya, beliau itu selalu 'nyangoni' saya setiap mau berangkat ke sekolah dari rumah nenek. Padahal saya selalu dapet sangu juga dari Bapak. Hal ini terus berlangsung sampai saya masih bersama beliau. Bapak baru saya ceritakan hal ini setelah saya lulus SMA, hehe. Nakal ya.

Hal yang membuat saya menangis adalah, di mimpi itu, saya bertemu dengan seseorang yang sangaaaat mirip dengan Pakdhe. Di mimpi itu juga ada Bapak. Saya senggol Bapak dan tanya, "Bapak, itu Pakdhe bukan?". Bapak saya menjawab, "Bukan, sekedar mirip itu. Pakdhe kan sudah nggak ada." Setelah saya bangun, antara sadar nggak sadar, saya lanjutin nangisnya sampai mata jadi bengkak.

Kenyataan kalau Pakdhe sudah meninggal itu yang membuat saya agak kaget melihat seseorang yang sangat mirip dengan beliau di mimpi. Saya langsung sedih, karena saya merasa belum berbakti sama beliau. Beliau pengeeen sekali saya jadi dokter. Tapi, saya belum bisa mewujudkan itu ketika beliau meninggal. Beliau meninggal ketika saya baru mau naik ke kelas 12 SMA. Beliau berpesan, kalo bisa saya masuk ke jurusan kedokteran biar bisa mengobati sakit beliau. Saat itu beliau didiagnosis mengalami sirosis hepatis atau penyakit pengerasan hati. Beliau sering sekali menginap di rumah sakit untuk mengurangi cairan yang terus menerus ada di perutnya. 

Selain saya ada juga sepupu saya yang diberikan 'amanah' oleh beliau. Sepupu saya ini diamanahi untuk masuk sekolah kepolisian. Kebetulan cita-cita sepupu saya ini juga jadi Polwan. Saat ini sepupu saya sudah berprofesi sebagai polisi, karena pendidikannya sudah selesai. Tinggal saya yang masih berjuang untuk menyelesaikan studi sayaaaaa :''' *udah basah banget ini pipi*

Pesan Pakdhe yang selalu saya ingat
"Nduk, kalo sholat wajib itu yang tepat waktu ya. Supaya rezekinya juga tepat waktu."
 Simple, tapi terkadang sulit untuk dijalani. Pakdhe, insyaAllah segera terwujud keinginan Pakdhe supaya Ais jadi dokter. Terimakasih atas segala dukungan pakdhe dan motivasi pakdhe yang terus membekas sampai sekarang. Al-Fatihah....


Sabtu, 21 Maret 2015

[GiveAway] Pemenang Hijab Syar'i Story Giveaway!

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebelumnya saya memohon maaf karena keterlambatan pengumuman pemenang giveaway kali ini. Maaaaf :'(

Sejujurnya saya sangat bingung dalam menentukan pemenang untuk giveaway kali ini. Tulisan teman-teman sangat unik dan punya tantangan tersendiri. Saya jadi belajar, tidak semua orang diberi jalan yang mudah dalam mempertahankan jilbabnya, Salute! :)

Pengakuan saya yang lain untuk giveaway kali ini adalah sebenarnya saya sangat ingin memberikan semua peserta apresiasi dalam bentuk hadiah. Tapi apa daya, keterbatasan di sana sini membuat saya mengurungkan hal itu, hehe.

Tanpa berlama lama, ini dia pemenang Hijab Syar'i Story Giveaway 2015 :)


Juara 1 Fee – [Hijab Syar'i or Hijab Model?] Sebuah Analisa
Juara 2 Diah Dwi Arti -  [Suka-Duka Hijabku] Pengalaman Unik Gara-Gara 
Juara 3 Tetty Hermawati – [Suka-Duka Hijabku] Teror Jilbab Aliran Sesat
Juara Favorit Dwi Puspita – [Hijabku Karena] perintah dalam Al Qur'an

Oya, kriteria penilaian pemenang berdasarkan beberapa hal, yakni konten, pemilihan diksi, kemenarikan isi, plot cerita, serta ketepatan tema dengan isi. 


Bagi para pemenang bisa mengirimkan identitas beserta alamatnya dengan format sebagai berikut:
Nama :
No HP :
Alamat lengkap : 
Motif atau warna yang diinginkan (bisa sebut kode jilbabnya), dengan jumlah hadiah seperti pada postingan pertama mengenai Hijab GiveAway ini yaa.

dikirim ke email aisyahauliaw@gmail.com, dan konfirm ke twitter saya @aisyaulia jika sudah mengirimkan emailnya yaaa :)

 SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG :) 

Jumat, 20 Maret 2015

Ini Dia Peserta GiveAway HIjab Syar'i Story!

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Seharusnya hari ini pengumuman pemenang untuk giveaway yang saya adakan sebulan lalu, sebelum pengumuman yuk, direkap dulu yaaa, mungkin pengunjung ada yang bersedia untuk mengunjungi tulisan-tulisan luar biasa dari para muslimah yang juga luar biasa

Oya, jika peserta GiveAway ini ada yang merasa belum tercantum sebagai peserta bisa komentar di postingan ini yaa, sehingga bisa segera diproses. Pengumuman pemenang insyaAllah tetap hari ini, namun saat ini masih dalam proses kompilasi penilaian hehehe, ditunggu yaaa :)


Rekapitulasi Peserta lomba Giveaway Hijab Syari Story

  1. Rekapitulasi Peserta lomba Giveaway Hijab Syari Story
  2. Tyaseta Rabita Nugraeni Sardjono -  [Cerita Hijab Pertamaku] Hijab First Story
  3. Diah Dwi Arti -  [Suka-Duka Hijabku] Pengalaman Unik Gara-Gara Berhijab
  4. Yuni Andriyani - [Cerita Hijab Pertamaku]: Karena Mimpi ini Saya Berhijab
  5. Leyla Imtichanah -  [Hijab Syar'i or Hijab Model] Yang Mana Saja Boleh Asal Sesuai Syariat
  6. Lina Lina – [Cerita Hijab Pertamaku] Allah Memudahkan Jalannya
  7. Idha Nurhamida – [Cerita Hijab Pertamaku] Pertanyaan-pertanyaan Itu Menggangguku
  8. Reni Judhanto - [Cerita Hijab Pertamaku] Ternyata tak sesulit yang kubayangkan
  9. Kaka Akin - [Cerita Hijab Pertamaku] Just Do It!
  10. Winny Widyawati - [Hijabku Karena…] Cinta
  11. Ade Delina Putri - [Hijab Syar'i or Hijab Model] Kewajiban yang Utama
  12. Mei Dianita - [Hijab Syar'i or Hijab Model] Your Choice is Your Identity
  13. Ninik Setyarini - [Suka-Duka Hijabku] Ketika Harus Bekerja di Pulau Bali
  14. muna madrah – [cerita hijab pertamaku] rindu seragam abu-abu
  15. Lucky Eno Marchelin -  [Hijab Syar'i or Hijab Model?] Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih
  16. Susanti Dewi -  [Hijabku Karena....] Wajib
  17. Indah Sulistyowati - [Hijabku karena...] Hijabku (awalnya) karena tangisnya
  18. Ulfa -  [hijab syar'i or hijab model?] sederhanakan hijab model supaya syar'i
  19. Dian Maretha - [Suka Duka Hijabku] Jilbabmu Mempesonaku
  20. Fitri3boys – [Cerita Hijab Pertamaku]: - karena Sinetron Mutiara Hati
  21. Avizena Zen – [Suka-Duka Hijabku] Tak Perlu Melepas Jilbab demi Mendapat Pekerjaan
  22. Dwi Puspita – [Hijabku Karena] perintah dalam Al Qur'an
  23. Enny Law – [Cerita Hijab Pertamaku] From Nothing To Something
  24. Ika Mahardika Ningtiyas – [Hijabku karena...] Jilbab I'm in love
  25. Julia – [Hijabku Karena...] Berjilbablah Agar Disayang Allah
  26. Neti Suriana – [Hijabku Karena....] Transformasi Motivasiku Berhijab
  27. Ceria Wisga – [Cerita Hijab Pertamaku] Ketika Ceria Berhijab
  28. Rosa Alrosyid – [Hijab Syar'i or Hijab Model?] Merasa Menjadi Diri Sendiri Dengan Jilbab Sederhana
  29. Tetty Hermawati – [Suka-Duka Hijabku] Teror Jilbab Aliran Sesat
  30. Athiah Listyowati – [Hijab Syari atau Hijab Model ] : Hijab adalah Gaya Berbusana Sesuai Syariat
  31. Kanianingsih – [Hijabku Karena] Melaksanakan Perintah-Nya
  32. Fee – [Hijab Syar'i or Hijab Model?] Sebuah Analisa
  33. Misbachul Chasanah – [Cerita Hijab Pertamaku]Rambut awut-awutan? Pakai Jilbab saja!
  34. Lia Nurmalasari – [Cerita Hijab Pertamaku] Hijabku Karena Asalku?
  35. Intan Novriza Kamala Sari – [Suka Duka Hijabku] Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian
  36. Ria M Fasha – [Cerita Hijab Pertamaku] Menjemput Pelangi Hidayah
  37. Eva Purbayanti – [Hijabku Karena....] Inspirasi Hijabku


Jumat, 13 Februari 2015

Hijab Syar'i Story Giveaway

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)


Akhirnya setelah sekian lama ngeblog dengan isi tulisan yg kadang bermutu kadang enggak (lebih sering yang enggak) kali ini saya ingin membuat sesuatu yang baru. Ya, GIVEAWAY!

Menyambut #harimenutupaurat  pada tanggal 14 Februari 2015 ini saya ingin mengajak para blogger untuk bercerita tentang asyiknya berhijab, atau apapun berkaitan dengan pengalaman berhijab (kalau ada yang belum berhijab). Ada beberapa subtema yang bisa teman-teman ikuti, berikut ini:
1. Cerita Hijab Pertamaku, tentang pengalaman teman-teman berhijab untuk pertama kalinya.
2. Suka - Duka Hijabku, tentang pengalaman teman-teman berhijab, baik suka maupun duka, kalau bisa sih dua-duanya yaa hehe.
3. Hijabku Karena...., bercerita tentang motivasi teman-teman berhijab dan bagaimana teman-teman mempertahankan hijab itu masih teman-teman gunakan sampai saat ini :)
4. Hijab Syar'i or Hijab Model? tentang opini teman-teman mengenai tren berjilbab saat ini.

Semuanyaaa boleh ikut tapi untuk episode give away kali ini yang boleh ikutan para wanita aja yaaa hehe, khususnya para muslimah. Insya Allah untuk giveaway berikutnya akan saya buat agar semuanya bisa ikut :)

Oke silakan menulis! Eh, tunggu dulu, aturannya belum ya? Hehe, these are the rules:
  1. Peserta merupakan blogger Indonesia atau berdomisili di Indonesia untuk mempermudah pengiriman hadiah jika menang.
  2. Follow blog aisyahauliawahida.blogspot.com
  3. Peserta diperbolehkan menggunakan platform apapun, baik blogdetik,blogspot,wordpress, atau website pribadi.
  4. Panjang tulisan tidak dibatasi, gaya penulisan bebas, serta tidak terdapat unsur SARA di dalam tulisan.
  5. Judul tulisan diawali dengan subtema, dan diikuti dengan tulisan kamu, contohnya [Cerita Hijab Pertamaku] Hijab First Story.
  6. Di akhir tulisan cantumkan, Artikel ini diikutsertakan  dalam "Hijab Syar'i Story Giveaway" dengan link hidup ke postingan ini. Jangan lupa pasang banner dibawah tulisan.
  7. Daftarkan tulisan di kolom komentar postingan ini dengan format nama, akun twitter, judul dan link tulisan
  8. Jika kamu memiliki akun twitter, follow akun @aisyaulia dan share tulisan di twitter ke akun @aisyaulia cantumkan hastag #SyariStory
  9. Masa posting di blog 14 Februari 2015-13 Maret 2015
  10. Pengumuman 20 Maret 2015 di blog ini.

Pada kompetisi ini, ada beberapa kategori pemenang, antara lain:
  1. Juara 1 mendapatkan jilbab Scarfmu model thistle 2 buah
  2. Juara 2 mendapatkan jilbab Scarfmu model thistle 1 buah
  3. Juara 3 mendapatkan jilbab Scarfmu model polos 1 buah
  4. Juara favorit dengan ketentuan komentar terbanyak pada postingannya mendapatkan jilbab Scarfmu model thistle 1 buah 
Ditunggu partisipasinya! :) 




Nb: Jika ingin turut membeli kerudung Scarfmu juga bisa lhoo, silakan hubungi melalui BBM dengan pin 7CC7BB50 atau sms ke nomer 081228034322. 

Selasa, 11 November 2014

Cerpen - Pertemuan Terakhir


Sekali lagi hari ini aku dihadapkan dengan kelelahan yang luar biasa. Hari ini sudah pukul 9 malam, dan aku baru menghempaskan badanku ke kasur bersprei biru. Belum sempat bersih-bersih badan, rasa kantuk langsung menyergapku. Ingin sekali aku segera menutup mata, tanpa berpikir apa yang akan aku hadapi esok hari. Entah, tiba-tiba aku tak sampai badan melakukan semua hal yang wajib aku lakukan sebelum tidur…

“Sekarang sudah jam berapa? Kenapa yang lain belum datang?!” Adam berteriak di hadapan kami sambil memukul meja. Sudah beberapa kali dia mengucapkan dan melakukan hal itu hari ini. Hari itu jadwal kami berkumpul untuk membicarakan berbagai masalah yang kami hadapi. Mungkin jika aku berada di posisinya sebagai koordinator perkumpulan ini, aku juga akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih menakutkan.

“Adam, lebih baik kita mulai saja pembahasannya sekarang. Sudah hampir 15 menit, aku sudah tidak sabar membocorkan strategi yang sudah kupikirkan semalaman untuk masalah ini.” Todi akhirnya bersuara memecah suasana ketakutan kami di ruangan itu, yang langsung dijawab dengan anggukan Adam.

Mungkin kalian penasaran, apa perkumpulan yang kami ikuti. Biar kuberitahu dulu siapa saja yang ada di ruangan tersebut, ada Adam sang koordinator, Todi, Fian, Salbina, dan aku. Seharusnya kami berenam, tetapi, atas alasan yang tidak kami ketahui, seorang lainnya, yaitu Gisel tak kunjung datang. Tetapi tunggu, aku belum akan memberitahu jenis perkumpulan kami, yang jelas aku beritahu terlebih dahulu, bahwa perkumpulan kami adalah perkumpulan rahasia, di kampus kami.

“Aku tidak sepakat denganmu, Di. Apa-apaan, itu rencana yang tidak berkualitas!” Adam mulai menunjukkan kembali keberangannya. Apa yang terjadi padanya sebelum rapat kami tak tahu. Apakah ia sedang ada masalah keluarga, kami juga tak tahu. Setahu kami, Ia bahkan tak terlalu peduli apakah keluarganya tahu ia masih hidup atau tidak.

“Adam, sekarang bahkan kita tidak tahu Gisel ada di mana. Ia tak ikut di pertemuan penting kita hari ini.”

“Sekarang fokus kita bukan Gisel, Todi! Kenapa kau selalu membahas dia? Kau jatuh cinta padanya? Dasar lelaki!” Saat itu aku merasa Adam berbicara sangat kasar. Apakah ia tak sadar bahwa dirinya juga lelaki?

“Adam!” Salbina meninggikan suaranya. Belakangan ia memang selalu diam, aku pikir dia memang tengah tak begitu sehat, “Apa kau tak sadar Gisel sudah 3 kali tidak datang di rapat kita? Egois kamu, Dam!” sambil terbatuk Salbina berteriak ke arah Adam. Seketika Adam terdiam. Saat itu aku merasa ada yang aneh, tak biasanya Adam langsung diam ketika seseorang marah padanya. Yang ada, Adam akan selalu melawannya dengan kalimat yang lebih kejam.

Saat itu juga Salbina menawarkan agar rapat diakhiri saja. Kami semua setuju, tinggal menunggu keputusan Adam. Asal kalian tahu, rapat siang itu suasananya terasa begitu mencekam. Sebagai perkumpulan rahasia tentu kami tak bisa rapat seenaknya di tempat yang umum untuk rapat. Kami melakukan pertemuan itu di dalam rumah tak beratap, berdebu dan tak berpenghuni di area kebun dekat kampus. Ujungnya, Adam pun setuju. Ia memberikan keputusan agar rapat itu dilanjutkan esok lusa.

Keesokan harinya, aku ingin membicarakan masalah Gisel secara pribadi dengan Adam. Aku akan memohon Adam untuk mempertimbangkan usul Todi mencari Gisel. Aku putuskan menunggunya di taman kampus. Kami memang berbeda kelas, karena aku dan Adam memang berbeda jurusan. Akhirnya kulihat dia keluar dari kelasnya, dan ada yang aneh dari roman wajahnya. Ia tersenyum! Jarang sekali aku melihatnya tersenyum, dan aku akui, wajahnya yang kharismatik memang menyimpan sejuta pesona di kalangan para mahasiswi. Itulah pesona yang ia bagi saat ia mengajak beberapa dari kami untuk ikut perkumpulan rahasia yang ia bentuk. Begitu pun padaku..

Jantungku begitu cepat berdegup. Entah apakah ini takut, segan, atau perasaan yang lain. Rasanya ingin aku berlari ke arahnya dan mengajaknya ke suatu tempat untuk membicarakan masalah Gisel, atau bahkan masalah lain. Tetapi begitu aku ingin melambaikan tangan ke arah lelaki itu ia justru berbelok ke arah lain. Buru-buru aku mengikutinya, tetapi tak kusangka ia menemui seseorang. Salbina!

Aku melihat mereka bercakap-cakap. Aku mendengar suara mereka berbincang. Jarakku memang cukup dekat dengan tempat mereka bertemu, tetapi anehnya, mereka tak sadar bahwa ada aku di dekat mereka. Mereka terlihat cukup hati-hati dalam pertemuan mereka kali ini.

“Sal, aku tunggu di depan. Ingat kita bertemu di tempat yang sudah kita janjikan kemarin.” Adam berkata setengah berbisik kepada Salbina. Salbina menganggukkan kepalanya. Ternyata mereka janjian bertemu!

Tanpa sadar, aku mengikuti Adam sampai di tujuan janjian mereka. Tak jauh tempatnya dari kampus, tetapi tempat mereka bertemu memang suatu kafe yang cukup lengang. Yang aku herankan mereka memilih jalan yang berbeda untuk perjalanan menuju kafe itu. Keheranan keduaku adalah, mengapa mereka datang ke kafe yang sudah jelas tak diminati orang ini. Setahuku kafe ini sepi karena harganya mahal dan makanannya tak enak.

“Sal, sepertinya ada yang mengikuti kita lagi. Ia bagian dari perkumpulan rahasia kita. Tresa.” Aneh, aku mendengar kalimat yang dikatakan Adam. Aku mendengar Adam menyebut namaku. Jarakku kali ini padahal cukup jauh. Aku berpikir jangan-jangan aku memiliki kekuatan super, sejak aku bergabung dengan perkumpulan rahasia itu. Lalu sejak pikiranku melayang ke arah yang tak jelas, tiba-tiba aku merasa aku terjatuh di suatu jurang yang gelap, dan aku ingat, Adam dan Salbina-lah yang mendorongku….
###

“Adam! Sekarang Tresa nggak datang! Kemarin Gisel, dan sekarang Tresa. Kau tak merasa aneh?” Todi kembali berteriak ke arah Adam. Kali ini Adam terdiam. Salbina diam, Fian pun diam.

“Lalu buat apa kita berkumpul di sini? Mereka bahkan tiba-tiba menghilang, Gisel tidak ada di kosan sejak 3 hari yang lalu, dan Tresa juga tak pulang sejak kemarin.” Seketika suasana semakin mencekam.

“Aku curiga mereka ketahuan sebagai bagian dari perkumpulan rahasia kita ini dan mereka disandera lalu dibunuh!”

Tiba-tiba aku terbangun. Saat itu pula aku melihat ke arah jam dinding. Pukul 4 pagi. Aku baru sadar, aku masih memakai baju kuliah yang kupakai kemarin. Badanku terasa gatal, lengket, dan bau…